Mencintai Ibu Angkatku

Mencintai Ibu Angkatku
Menikmati malam


__ADS_3

Arya tumbang, kelelahan dengan olahraga yang mereka lakukan.


Fatma pun merasa capek. Tubuhnya berasa sakit-sakit di setiap persendian. Namun ada kepuasan yang tiada tara nya, membuat senyumnya terus mengambang melihat sang suami yang tampak lelah.


Namun wajah Arya tampak lebih segar. Mereka berbaring di sofa panjang, biarpun berdempetan atau berdesakan untuk berdua, tidak lupa membentangkan selimutnya. Seusai olahraga berakhir tadi, Arya langsung menyalakan lampu yang temaram.


Khawatir, Rania terbangun dan kaget. Bila mendapati suasana yang gelap gulita, Arya dan Fatma sangat beruntung bisa menikmati malam ini. Bisa melakukan olahraga dengan puas tanpa gangguan apa pun.


Fatma beranjak dari pelukan sang suami. Mau mengambil bajunya.


"Mau kemana?" tanya Arya sangat pelan sambil memegang tangan Fatma.


"Mau pakai baju. Nggak enak kaya gini!" jawabnya Fatma sambil menjepit selimut di bawah ketiaknya.


"Nanti saja, sudah begini saja kita bobo nya biar enak pelukan," ucap Arya, tangannya menarik bahu sang istri ke dalam pelukannya.


"Tapi, nanti Rania bangun lihat aku begini gimana?" Fatma menggerakkan jemarinya di dada Arya yang bidang dan empuk itu.


Lalu jari Fatma turun ke perut yang sixpack itu menari-nari di sana. Lalu turun lagi dan lagi.


"Nah-nah. Nah ... tangannya mau kemana tuh? mulai nakal ya?" gumamnya Arya menggerakkan matanya melihat ke arah tangan Fatma yang entah mau kemana?


"Mam ... Mama?" suara itu mengagetkan antara Arya dan Fatma yang baru saja mau terpejam.


Keduanya, terutama Fatma celingukan mencari pakaiannya. "Baju ku? mana baju ku?" suaranya sangat pelan. dan terdengar panik. Takut ketahuan, sementara mereka masih bertubuh polos. "Gimana ini?"


Arya yang melonjak. Mengintip ke arah tempat tidur yang ada Rania nya, namun anak itu masih berbaring kok. Menoleh ke arah jam, menunjukan pukul 00.20 wib.


"Ngigau sayang!" ucap Arya pada Fatma yang mengenakan pakaiannya.


"Ha? ngigau?" gumamnya Fatma buru-buru mengikatkan bajunya.


"Iya, tuh masih baring dan hanya bergumam saja." Tambah Arya meyakinkan.


Fatma berdiri lalu berjalan mendekati. Benar saja kalau Rania masih tidur nyenyak, kemudian Fatma merangkak naik untuk berbaring di samping anak itu.


"Bobo yang nyenyak sayang!" cuph! kecupan penuh kasih seorang ibu mendarat di pipi dan kening Rania.


Arya beranjak sambil memakai pakaiannya, lalu menghampiri dan berbaring di sisi Fatma yang sudah berbaring duluan. Menarik selimut agar menutupi tubuh mereka.


Arya memeluk sang istri dari belakang. Dengan waktu yang singkat, Arya pun tertidur dengan pulas nya sementara Fatma merubah posisi tidurnya menghadap sang suami yang terpejam.


"Baru saja nempel ke bantal tuh kepala sudah tidur saja. Hem-hem, suami ku ini." Gumam Fatma sambil mengusap punggungnya lembut.


"Jadikan aku wanita satu-satunya dalam hatimu, tidak ada yang lain selain diriku!" bisik Fatma dengan senyuman yang merekah.


Selang beberapa waktu. Kantuk pun mulai menyerang Fatma sehingga dalam hitungan detik kedua matanya terpejam.


Seiring malam yang terus beranjak. Membawa semua orang istirahat ke dalam alam mimpi.

__ADS_1


Waktu yang terus berputar, membawa suasana ke sebuah pagi yang indah. Sebelum Rania bangun! Arya sudah bangun duluan dan membangunkan sang istri untuk membersihkan diri bareng-bareng.


"Hem ... apa?" suara Fatma parau khas bangun tidur.


"Kita mandi bersama yu? sebelum Rania bangun!" bisik Arya yang nyaris tak terdengar saking suaranya pelan dan berat.


"Masih ngantuk." gumam Fatma kembali sambil merangkul pundak Arya.


"Nanti scurity kecil bangun dan mengganggu kita berdua sayang." Bisik Arya kembali sembari sedikit menggigit dan kuping Fatma.


Mau mengibaskan selimut. Namun malah gak sengaja menggenggam puncak dada Fatma membuat ia tertegun, merasakan aliran darah yang serasa mengalir deras ke sekujur tubuhnya.


Arya menatap lekat ke arah wajah istrinya yang memerah. Lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Fatma, tinggal lima Senti lagi. Fatma menghindar buru-buru turun ngeloyor ke kamar mandi dengan menjulurkan lidah ke arah Arya, membuat Arya lekas turun mengejar Fatma.


Arya mengejar Fatma ke kamar mandi. "Awas ya? aku kejar dan akan ku tangkap."


"Hi hi hi ..." Fatma menutup pintu namun keburu Arya dorong dan masuk.


Terdengar sayup-sayup suara Fatma dan Arya ketawa di dalam kamar mandi.


Sekitar 20 menit kemudian Fatma dan Arya keluar dengan sangat segar. Fatma gegas mengambil pakaian untuk mereka berdua. Matanya melihat ke arah Rania yang masih tertidur lelap.


Setelah Arya berpakaian rapi. Lantas mendekati anak itu untuk di bangunkan. "Rania sayang ... bangun? katanya mau berjamaah. Bangun!"


Rania bergerak menggeliat, lalu kembali memeluk guling. Dengan mata masih terpejam.


Rania berusaha melek, membuka matanya perlahan. "Em ... Papa. Masih ngantuk!"


"Yu? cuci muka dan ambil air wudu." Arya langsung menggendong Rania ke kamar mandi agar mengambil air wudu.


"Mama. Siapkan mukena Rania ya?" pinta Arya pada Fatma ketika mau masuk kamar mandi.


Fatma tersenyum melihat suaminya berlaku seperti itu pada Rania sambil mengangguk, lantas menyiapkan mukena milik Rania.


Rania, Arya dudukan di bibir bathub dan mengambil air wudu di sana dan yang pertama kali Arya lakukan adalah membasuh atau mencuci muka Rania agar membuka matanya lebar-lebar.


Lalu mengajarkan Rania cara mengambil air wudu. Sebenarnya Rania bisa, cuman Arya mengingatkan saja.


"Masya Allah ... putri Papa sudah pintar, mengambil air wudu nya sudah pintar. Hebat! Papa bangga sama Rania." Puji Arya lalu menggiring Rania keluar dari kamar mandi.


"Mam, pakaikan mukenanya. Wah ... Papa bangga deh, Rania sudah pandai ambil air wudu nya." Arya tersenyum bangga.


"Oya? hebat dong. Mama juga bangga dong Pah." Timpal Fatma sambil memakaikan mukena.


"Iya dong, kan siapa dulu Mama dan papanya?" akhirnya anak itu menyahut.


Kemudian mereka berjamaah bertiga, dan dengan khusuk pula Arya menjadi iman buat Fatma dan Rania.


Tidak lupa di akhiri dengan membaca doa yang mereka panjatkan pada sang maha pencipta.

__ADS_1


...---...


Aldian yang tinggal di rumahnya ketika bersama sang istri, Suci. Tinggal sendirian dan hanya di temani bibi.


"Bi? siapkan saya kopi!" pinta Aldian sambil duduk di sofa ruang tengah. Di pangkuannya sebuah laptop buat bekerja online.


"Baik, Tuan." Bibi mengangguk lalu ngeloyor ke dapur untuk membuatkan secangkir kopi.


"Hem, pisah gue bangun! sial, mengganggu konsentrasi ku saja," ucap Aldian kesal, merasakan ada yang menyeruak bangun dan meminta diperhatikan.


Seketika menutup laptopnya. Melihat bibi datang dengan sebuah nampan di tangan berisi secangkir kopi permintaannya.


Wanita paruh baya itu berjongkok menyimpan secangkir kopi di meja. "Silakan, Tuan kopinya?"


"Ya!" gumam Aldian singkat.


Tangan Aldian mengarah ke cangkir tersebut dan dengan perlahan nyeruput kopi tersebut.


Semakin lama, miliknya semakin menegang. Dan rasanya sulit untuk di tahan dan solusinya adalah mencari teman sebagai pelampiasan.


Aldian beranjak dan berlari ke kamarnya untuk mengambil kunci mobil. Sesat kemudian kembali dan gegas menuju mobil melewati pintu utama.


Bibi dari dapur bergegas ke pintu depan yang Aldian biarkan terbuka begitu saja.


"Ya ampun ... kumat lagi kayanya nih, Tuan-Tuan." Gumam bibi sambil melihat mobil Aldian keluar halaman.


Aldian meluncurkan mobilnya menuju rumah bordil langganannya, Kepalanya semakin pusing menahan hasratnya kali ini.


Selang beberapa puluh menit, mobil Aldian tiba di depan rumah bordil dan dengan cahaya yang remang. Terlihat beberapa tamu sedang melakukan transaksi.


Langkah Aldian gegas masuk dan langsung menemui madam di sana. Yang kebetulan sedang santai sesekali mengusap sebatang rokok di sela jarinya.


Selamat malam, Tuan? ada yang bisa saya bantu?" sapa madam itu dengan sangat ramah.


Aldian duduk tidak jauh dari madam tersebut. "Saya butuh seseorang yang masih muda dan enerjik?"


Madam tersenyum menggoda. "Apa saya kelihatan tua? apa saya kurang enerjik? oh ... Tuan, kelihatannya saja saya kurang enerjik, padahal kalau sudah di dalam bilik saya sangat liar Tuan."


"Jangan bercanda, saya butuh sekarang juga." Jelas Aldian menatap tajam, lalu mengedarkan pandangan pada kupu-kupu malam yang sedang menemani minum pelanggannya.


Madam, menatap lekat tamu langganannya itu, dari ujung kaki sampai ujung kepala dan berakhir tengah-tengah yang tampak hidup.


Wanita sekitar usia lima puluh tahun itu, tampak melepas pandangan liarnya pada Aldian. Ingin rasanya mencicipi pria itu ....


.


.


Ayok dukungan nya ku tunggu nih, di setiap karya ku🙏

__ADS_1


__ADS_2