
Zayn: "Tenang, Bos. bentar lagi saya sampai."
Sambungan telepon pun di tutup. Zayn melajukan mobilnya lebih cepat lagi agar segera sampai di tempat tujuan.
Selang beberapa lama, akhirnya Zayn tiba di kantor Fatma dan langsung menghampiri ruangan sang bos yang juga sepupunya itu.
"Pagi, Ibu Bos?" ucap Zayn setelah mengetuk terlebih dahulu.
"Jelang siang! tumben sekali kau terlambat?" ungkap Fatma yang duduk di kursi kebesarannya, menatap tajam pada sepupunya itu.
"Sorry? biasa ada kendala sedikit," ucap Zayn sambil memberi kode dengan jarinya.
"Oke, aku harap jangan terulang lagi bila itu tidak mendesak--"
"Kalau di anggap mendesak sih, mendesak! sebab berkaitan dengan penyemangat lah ... dan anggap aja seperti itu," ucap Zayn sembari menggaruk tengkuknya yang tidak terasa gatal. Rasanya sulit untuk di ungkapkan dengan kata-kata kata.
Fatma memutar bola matanya. Setidaknya dia sudah bisa membaca yang Zayn maksudkan. "Baiklah ... kita akan membahas soal meeting itu, gimana tempatnya sudah siap?" tanya Fatma sembari membuka berkas.
"Sudah dong, jangan khawatir. Semua pekerjaan beres," sahut zayn.sambil mendudukkan dirinya di kursi depan Fatma.
"Bagus, jangan lupa makanan ketering nya yang enak-enak." Tambah Fatma.
"Semuanya beres." Zayn mengangguk lalu memberikan sebuah berkas pada Fatma.
Setelah itu mereka pun melanjutkan kesibukannya masing-masing. Sebelum mengadakan meeting nanti siang.
...--...
Di sebuah tempat da sepasang pria dan wanita yang tampak bersitegang. Obrolannya jenuh dari kata tenang ataupun santai.
Mereka adalah Doni dan Indah. Indah sengaja mendatangi Doni
"Saya sudah jelaskan. Kita melakukan itu sama-sama menginginkannya, dan harus ingat! Saya bukan pria pertama yang meniduri mu." Doni menatap dingin.
Indah hanya diam, dalam hati kecilnya mengakui kalau itu benar.
"Dan saya tahu, kalau kamu hanya ingin menghancurkan rumah tangga saya dan Renata, sahabat mu sendiri. Tega ya kamu?" Lanjut Doni dengan nada tinggi.
"Hei, kamu bilang aku tega? kamu apa ha? merebut Renata dari Arya, seharusnya kau ngaca pula." Suara Indah tak kalah tingginya.
"Kau, tak perlu mengingatkan ku tentang itu." Elak Doni.
"Kenapa tidak? kamu yang terus menggoda Renata yang awalnya hanya sebagai teman sampai akhirnya menjadi pacar! iya kan? padahal kamu, Arya dan Renata berteman juga."
"Cukup! sebenarnya mau lu apa dari gue ha?" tanya Doni yang amarah nya semakin tersulut dari sejak di mobil tadi.
Indah mengangguk pelan. "Nikahin gue!" suaranya jelas, lantang. Tidak sedikitpun ada keraguan.
Mata Doni melotot dengan sangat sempurna. Tangannya mengepal. "Jika, setelah menikah! kamu mau apa? emangnya mau? kalau saya telantarkan kamu ha?"
Doni membentak membuat Indah terkesiap, kaget. Saya tidak akan pernah menikahi lu ataupun menjadi suami yang baik untuk lu?" jari Doni menunjuk batang hidung Indah.
"Ooh! gitu? bagaimana kalau Renata tau dengan apa yang kita lakukan? kalau Renata tau bahwa suaminya adalah pengedar dan pemakai obat!" ancam Indah dengan menyunggingkan senyuman.
"Kurang ajar, tidak akan gue biarkan itu terjadi. Karena itu cuma masa lalu, gak lebih." tangan Doni mencengkram leher Indah dan sedikit menyeretnya.
"Ohok-ohok, lep-lepas. Sa-sakit." Suara Indah bergetar dan terbata-bata, matanya melotot.
"Jangan pernah mengancam gue, Sebab kau gak akan dapat apa-apa dari gue! camkan itu? sergah Doni sembari melepas cengkeramannya. Dan beranjak pergi, meninggalkan Indah yang meringis.
Indah menghela napas panjang seraya memegangi lehernya yang terasa sakit, ketika di lihat melalui layar ponselnya tampak merah bekas tangan Doni.
"Sialan. Lihat saja pembahasan ku, Doni. Kau harus jatuh ke pelukan ku!" Gumamnya Indah. Menatap tajam ke arah punggung Doni.
Doni terus membawa langkah nya menuju mobil, mau kembali ke kantor yang dia tinggalkan. Doni melaju dengan sangat cepat. Bagai anak panah terlepas dari busurnya.
"Arggh! enak saja mengancam ku, aku harus cari cara agar dia tidak menggangu ku lagi!" Doni memukul-mukul kan tangannya ke setir. Hatinya saat ini sangat marah dan otak nya berputar mencari cara agar bisa lepas dari bayang-bayang Indah lagi.
Setelah menikah dengan Renata, kebiasaan buruk Doni berangsur berkurang, dan mulai meninggalkannya. Yang dulu sering mengedarkan obat-obatan kini ia hentikan, begitupun memakai. Doni kurangi.
Kebetulan dia terlalu candu dalam hal memakai. Makanya tidak terlalu susah untuk meninggalkannya, minum pun jarang ia lakukan apalagi jarang kumpul juga sama teman-teman. Dia sudah bertekad untuk hidup lebih baik demi Renata.
Sekilas matanya melihat toko bunga. Dan langsung menghentikan mobilnya itu, Memesan buket bunga untuk sang istri.
__ADS_1
Tengah berjalan. berapa dan dengan Arya yang juga membeli sebuket bunga mawar dan tulip. Sejenak mereka mematung, saling pandang dengan pikirannya masing-masing, tidak sepatah pun yang keluar dari mulut keduanya. Semua membisu bagai bertemu dengan orang asing saja.
Namun pada akhirnya Doni mengulurkan tangan dan seraya berkata. "Selamat? rupanya kau sudah menikahi rekan bisnis ku. Hebat, lepas ikan teri, dapatnya ikan kakap."
Sejenak netra nya Arya menatapi tangan Doni, yang tidak segera ia sambut. "Kau pikir wanita itu barang, atau hewan? dia manusia yang punya hati nurani dan harus kita hargai. Aku titip Renata! jaga dia dan cintai dia, sebab sekarang kami sudah berbeda sama-sama mempunyai pasangan seperti yang kau tau."
Arya berlalu begitu saja membawa buket bunganya, tanpa menyambut uluran tangan dari Doni.
Doni melongo lalu mengibaskan tangan yang tadi ia ulurkan. Kemudian bibirnya menyungging. "Hem, sombong juga."
Doni pun beranjak setelah membayar bunga dan memberi alamat untuk pengirimannya. "Kau pikir siapa? titip segala, gue suaminya."
Doni tak sedikitpun merasa bersalah ataupun berdosa telah merebut Renata dari Arya. Ia merasa santai aja tanpa merasa dosa sedikitpun.
Arya yang meninggalkan Doni begitu saja dan uluran tangannya pun tak ia balas. Dalam hati yang paling kecil ada rasa sakit yang mendalam, tegas-teganya Doni sebagai temannya merebut tunangan yang sebentar lagi ia nikahi.
Dan setelahnya pun tanpa dosa atau bersalah, wajahnya datar begitu saja bagai tak pernah melakukan sesuatu yang tidak merugikan orang lain.
Sesungguhnya Arya mengikhlaskan kalau Renata bukanlah jodohnya. Selingkuh atau tidak, tetap saja kalau bukan jodoh. Mereka tak akan bisa menikah juga.
"Sudah aku ikhlaskan kalau kita memang tak berjodoh. Dan Allah sudah menyiapkan pasangan buat masing-masing, yaitu jodoh terbaik." Gumamnya Arya.
Lalu kepala Arya menggeleng. Kemudian menaiki motornya, melaju dengan cepat menuju kantor Fatma tuk memberikan kejutan dengan sebuket bunga kesukaannya.
Si roda dua milik Arya terus melaju dengan cepat sehingga selang beberapa waktu tibalah di depan gedung yang menjulang tinggi. Gegas memasuki dengan gedung tersebut dengan tujuan ruangan Fatma.
Scurity yang berpapasan dengan Arya mengangguk hormat pada Arya. Arya pun membalas dengan ramah dan terus berjalan menuju ruangan sang istri.
Namun setibanya di sana. Ruangan itu kosong dan Fatma entah kemana?
"Kok, kosong? kemana ya?" gumamnya Arya, mengedarkan pandangan pada ke seluruh ruangan tersebut.
Namun setelah beberapa detik kemudian, Fatma muncul dari ruang sebelah. Begitu kaget melihat Arya berada di sana. Gak bilang-bilang lagi.
"Lho, Aa ada di sini? kapan datang! sambut hangat Fatma. Langkahnya mendekati di mna Arya berdiri.
Melihat Fatma muncul, Arya buru-buru menyembunyikan bunga di balik punggungnya. "Em, baru datang. Belum sempat duduk." Arya tersenyum.
"Apa itu di belakang? aku ingin lihat." Fatma maju dan ingin melihat yang Arya sembunyikan.
"Bohong ah ... sayang bohong." Fatma merangkul leher Arya, lantas mencium pipinya Kana dan kiri.
Kedua netra nya saling pandang sejenak. Tatapan yang penuh rasa cinta.
"Tunjukan padaku?" lanjut Fatma sembari mengusap pipi Arya sangat lembut.
Senyum Arya merekah. Dan mengeluarkan tangannya dari belakang. "Aku bawakan bunga untuk Ibu Negara ku."
Fatma mundur beberapa langkah kebaya manik matanya mengarah pada bunga tersebut yang masih di tangan Arya. Bibirnya begitu mengembang, sebelum mengambil bunga dari tangan Arya.
Netra nya bergerak melihat ke arah Arya dan bunga tersebut bergantian. "Ini buat aku?"
"Tentu dong sayang." Arya meyakinkan.
"Terima kasih sayang?" cuph mengecup singkat bibir Arya.
Fatma memeluk dan mencium baunya campuran bunga mawar dan tulip. "Kenapa gak bilang kalau mau ke sini sih?"
"Kalau bilang, tentunya bukan kejutan dong sayang ..." Arya sambil memeluk bahu Fatma. "Suka gak?"
"Hem ..." gumam Fatma tidak hentinya mencium wanginya bunga yang berada dalam pelukan.
"Suka gak?" tanya Arya menatap ke arah sang istri.
"Suka banget," sahut Fatma dengan senyuman yang terus mengembang dari bibirnya.
"Em ... gak sibuk, kan? aku masih ada waktu satu jam untuk menjemput Rania," ucap Arya sambil melirik jam yang ada di tangannya.
"Sibuk sih, nggak. Siang aku akan pulang ke apartemen dan mau meeting di sana." Balas Fatma.
"Ooh. Nanti siang aku mau siap-siap untuk kerja." Arya mendekatkan bibirnya ke pucuk kepala Fatma.
Fatma menyimpan bung Adi atas meja. Lalu kembali merangkul tubuh kekar itu di peluknya sangat erat. "Aku akan merindukan mu!"
__ADS_1
"Aa juga." Balas Arya seraya membalas pelukan tersebut.
Keduanya saling peluk sementara waktu. Kemudian tangan Fatma memudar lalu menuntun tangan Arya ke dalam sebuah ruangan yang sepertinya buat istirahat sejenak kala melepas penat.
Temat tidur yang cukuplah untuk berdua. Bertilam kain putih bermotif batik. Netra mata Arya menyapu ruangan tersebut.
Fatma mengunci pintu. Agar tak ada yang sekiranya masuk. Kemudian langkah Fatma kembali menghampiri Arya. Menggenggam kedua tangan nya.
"Eeh ... kalau kamu sibuk, aku gak papa bisa duduk santai kok, sambil menunggu jam sekolah Rania pulang." Arya menjadi gak enak bila mengganggu aktivitas sang istri.
"Nggak pa-pa, aku gak sibuk kok, kebetulan santai aja." Fatma meyakinkan.
"Kedua tangan Arya bergerak naik ke wajah Fatma lantas membingkainya. Jari bergerak mengelus pipi Fatma dengan lembut.
Pandangan keduanya terkunci pada suatu sisi. Lalu wajah Arya mendekat wajah Fatma hingga napasnya menyapu kulit Fatma yang halus tersebut.
Kemudian kecupan singkat mendarat di bibir Fatma. Keduanya saling melempar senyum. Namun kecupan barisan menjadi candu buat Arya dan Fatma. Sehingga kecupan itu berulang dan semakin menuntut.
Setiap sentuhan Arya bagaikan sengatan listrik yang menyengat ke seluruh tubuh Fatma. Sehingga tubuhnya itu terasa bergetar dan kaku.
Arya mendorong tubuh Fatma ke tempat tidur. Sementara waktu mereka bercumbu di sana dengan asyiknya. Memadu kasih tanpa ada siapapun yang menggangu.
"Siap belum?" tanya Arya menggoda sang istri.
"Ha? apanya?" Fatma balik tanya menatap sang suami yang tersenyum menggoda.
"Kok, balik tanya sih?" Arya kembali memeluk dan melucuti pakaian formal Fatma.
Membuat jantung Fatma berdegup kencang. Dag-dig-dug tak menentu. Keduanya terbawa suasana sehingga tak cukup cuma kalau bercumbu saja.
Sebelum melanjutkan ke sesuatu yang lebih intim. Arya menatap wajah cantik sang istri yang menatap sayu. "Berikan aku bekal ya?" setengah berbisik.
Fatma mengangguk pelan dan mengeratkan pelukan di Unggung Arya yang mengungkung nya.
Arya tersenyum senang kemudian melanjutkan untuk mendaki menara gading. Bermimpi sampai ke puncak yang akan menimbulkan rasa puas nan bahagia.
Sekitar 40 menit kemudian, Arya menyudahi ritualnya dan buru-buru masuk kamar mandi yang tadinya cuma mau membasuh pada akhirnya membersihkan diri.
Fatma pun masuk dan memeluk tubuh Arya dari belakang. Masuk ke dalam guyuran air shower. Karena Arya khawatir kesiangan untuk menjemput Rania, dengan berat hati melepas pelukan sang istri yang kalau dibiarkan bisa-bisa menuntut lebih.
"Lepaskan sayang? aku harus buru-buru nih. Nanti kesiangan menjemput Rania. Kasihan."
Tatapan Fatma sedikit kecewa. Padahal ia masih menginginkan, mendambakan sang suami. Namun apa boleh buat? demi putrinya yang tidak ada yang jemput sebab memang sudah kesanggupan Arya mengantar-jemput bila sedang tidak bertugas.
"Jangan cemberut dong sayang? jadi tambah gemes deh." Cuph! mengecup pipi, kening dan bibir Fatma yang monyong.
Arya buru-buru menyudahi ritual mandinya. Kemudian kembali merapikan dirinya, Ketika sudah selesai dan meraih kunci dari atas nakas. Fatma dengan mengenakan jubahnya. Muncul dari balik pintu kamar mandi, berdiri memandangi Arya.
"Hati-hati ya sayang?" gumam Fatma seraya melambaikan tangan. "Terima kasih atas semuanya?"
Arya mengayunkan langkah nya mendekati sang istri. "Terima kasih Buat?"
"Em ... buat semuanya. Bunganya dan barusan," ucap Fatma sedikit malu-malu.
Arya menunjukan bibir yang tersenyum. "Sama-sama sayang," lagi-lagi Arya mendaratkan kecupan mesra di kening sang istri. Fatma.
Langkah kaki Arya yang lebar, bergegas meninggalkan Fatma yang masih mematung. Tujuannya jelas adalah menjemput sang putri kecil dari sekolahnya.
"Akh ... bisa-bisa terlambat nih. Untung aku sudah titipkan ke wali muridnya Rania." monolog Arya dalam hati.
Motor Arya melesat membelah jalanan. Menuju arah sekolahan Rania yang pasti sudah menunggu di sana.
Benar saja, Rania sudah menunggu kedatangan Arya di dekat pagar sekolahan. Arya yang terburu-buru pun, turun menghampiri Rania yang agak cemberut.
"Papa? dari mana dulu sih? Rania bosan menunggu terus." Sambut Rania dengan nada sedih.
"Assalamu'alaikum ...maaf sayang, papa sibuk, " ucapnya Arya sambil berjongkok di hadapan Rania.
"Rania bosan," sahutnya Rania. "Temen-temen sudah pada pulang."
"Iya-iya, yu? langsung pulang?" lalu Arya berpamitan pada ibu guru. "Makasih Bu. Dan kami berdua pamit."
Rania memegangi jarinya Arya, lalu menariknya, seperti sudah tak sabar untuk segera pulang. Setelah sebelumnya Rania mencium tangan Bu guru ....
__ADS_1
****
Jangan lupa dukungannya. Like, komen dan jangan lupa juga, jangan lewatkan tonton iklannya🙏