Mencintai Ibu Angkatku

Mencintai Ibu Angkatku
Kulitku gosong


__ADS_3

Di bawah kolong langit yang membentang dan warnanya biru cerah serta berarak awan putih, burung-burung menari-nari dan bernyanyi menambah indahnya suasana. Di kursi panjang Arya masih betah memandangi langit dan cukup menghanyutkan jiwa.


Di sebelahnya Fatma yang terpaku, merenung dan berpikir akan masa depannya. Dengan mata yang memandang lepas Hati dan pikirannya sibuk dengan beribu rencana hidup bersama sang putri tercintanya.


Arya tersadar kalau sinar matahari semakin tinggi dan hangatnya semakin menyengat. Ia menoleh pada Fatma yang tak bergeming seakan menunggu pergerakan dirinya sebagai pengemudi. "Huuh ... aku rasa sudah cukup berjemur nya ya? kita masuk sekarang."


Netra mata Fatma seketika melihat ke arah Arya. "Aku kira kau akan terus menjemur ku sampai kulitku gosong."


"Upss. Sorry-sorry, kalau kulit mu sudah merasa terbakar! sorry." Arya segera memegang pegangan kursi roda Fatma dan menariknya untuk masuk dan mendorongnya di koridor menuju kamar inapnya.


Fatma mengusap tangannya bergantian yang setelah dibawa Ake tempat teduh terasa panasnya.


Membuat Arya tak enak hati, karena ulahnya yang anteng melamun. "Sekali lagi maaf ya kak, Nanti aku belikan body lotion deh."


"Nggak usah, biar nanti Mia bawakan dari rumah saja," jawabnya dengan nada dingin.


Setibanya di ruang inap, Fatma langsung Arya pindahkan ke ranjang pasien. Fatma minta agar tidurannya agak naik.


Selepas itu, Arya bergegas pergi sebelumnya pamit sebentar. "Tunggu sebentar ya? sebentar ...."


Arya pergi tanpa menunggu jawaban dari Fatma. Dia langsung bergegas meninggalkan dirinya. Namun pintu langsung terbuka kembali dengan datangnya suster membawa bunga-bunga dan di belakangnya beberapa klien dan pengacaranya.


"Kamu turut prihatin dengan kejadian yang menimpa anda," ungkap salah satu klien Fatma yang merupakan orang penting di dunia perbisnisan.


"Semoga anda segera pulih dan beraktifitas seperti biasa lagi," ucap klien yang lainnya seorang wanita karier seperti Fatma.


"Terima kasih banyak atas kedatangan anda semua yang sudah menyempatkan datang dan memberi support pada ku." Fatma mengangguk dan berterimakasih banyak.


Netra mata Fatma menangkap sosok Arya berdiri di balik pintu, mungkin dia merasa sungkan tuk masuk takut mengganggu.


Arya yang kembali dari membeli body lotion untuk Fatma, melihat di dalam banyak tamu dan tampak Fatma tengah berbincang dengan tamunya. Arya mengurungkan niatnya untuk masuk dan memilih duduk di luar saja.


Drttt ....


Drttt ....


Derttt ....


Ponselnya bergetar, setelah dilihat ternyata Sultan yang menelepon.


^^^Arya: "Ada apa bro?"^^^

__ADS_1


^^^Sultan: "Ada apa? kau yang ada apa mangkir dari tugas, aku datangi unit mu gak ada yang menyambut kedatangan ku, kau itu tidur? pingsan atau di mana sih?"^^^


Rentetan kalimat yang Sultan ajukan bikin sakit telinga Arya. Membuat Arya mengusap kupingnya.


^^^Arya: "Mau disambut pake apa Bos?"^^^


^^^Sultan: "Nyanyian kek, saweran kek atau sambut dengan wanita cantik atau juga apa gitu, bukan hening. Sepi kaya gini, lama-lama kaya horor bro!"^^^


^^^Arya: "Lah, ada-ada saja kamu ini. Aku sedang di Rumah Sakit."^^^


^^^Sultan: "Apa? kau beneran sakit, sakit apa bro?"^^^


Sultan terdengar melonjak kaget mendengar Arya di Rumah Sakit.


^^^Sultan: "Kau benar-benar tak menganggap ku kawan. Kalau aku tahu ya ... langsung ke sana saja, bawa lontong kek. Bawa nasi sama ayam goreng gitu buat jenguk sahabat terbaik ku."^^^


^^^Arya: "Kau mau jenguk orang sakit atau mau berkemah tuk makan-makan? ada-ada saja."^^^


^^^Sultan: "Jangan salah bro, kita menjenguk orang sakit butuh tenaga juga. Rumah Sakit mana? aku meluncur ke sana sekarang."^^^


^^^Arya: "Oh, gak usah! aku gak pa-pa, yang sakit keluarga ku. Jadi gak usah repot-repot deh."^^^


^^^Sultan: "Ooh. Bukan kamu bro? yakin? jangan-jangan alasan saja agar aku gak ke sana"^^^


^^^Sultan: "Tapi, sebentar. Sejak kapan keluarga mu ada di sini? bukannya di Bandung ya?"^^^


Sikatan merasa heran, sebab yang dia tahu, keluarga Arya di Bandung semua tapi kenapa sekarang bilang keluarganya ada yang sakit.


^^^Arya: "Kak Fatma."^^^


^^^Sultan: "Fatma ... ooh ... Fatma yang itu, wanita cantik yang bodynya persis gitar Spanyol? kulitnya putih, pipinya ke merah-merahan? yang membantu kau biaya kuliah! sakit apa dia?"^^^


Arya menggeleng pelan dan bibir tertarik senyum tipis. Mendengar kalimat-kalimat yang Sultan ucapkan.


^^^Arya: "Iya dia, kecelakaan."^^^


^^^"Sultan: "Kecelakaan? ya dah, aku cabut ke sana sekarang juga."^^^


^^^Arya: "Eh, sebentar? jangan di tutup dulu bro."^^^


^^^Sultan: "Apalagi? mau larang lagi?"^^^

__ADS_1


^^^Arya: "Bukan, kalau mau nolong! jangan tanggung-tanggung ya? Ambilkan motor ku di jalan xx, jangan lupa permisi dulu pada yang punya Rumah."^^^


^^^Sultan: "Huuh ... ribet! ngapain sih ditinggal di sana?"^^^


^^^Arya: "Mau nolong nggak? kalau nggak, gak usah!"^^^


^^^Sultan: "Iya mau, sabar ... napa? ini langsung cabut nih!"^^^


^^^Arya: "Cabut apaan? cabut bulu ketek atau ...."^^^


^^^Sultan: "Bulu yang kriting, aku cabut satu-satu sampai sundul, ha ha ha ...."^^^


Sultan menutup teleponnya. Arya langsung menyimpan ponsel menyelipkannya di saku. Kepalanya menoleh ke arah pintu. Kemudian melihat barang yang ada di tangannya, sebuah botol body lotion yang wanginya semerbak dan menenangkan.


Satu demi satu klien Fatma berangsur pulang, tinggallah seorang yaitu pengacaranya. Dan dia mulai membuka obrolan yang serius, dia mengatakan kalau saat ini Aldian sudah mendekam di penjara. Gegara penganiayaan terhadap Fatma yang menjadikannya harus dirawat.


Tubuh Fatma terpaku, bibirnya terdiam seribu bahasa. Memorinya memutar kembali pada setiap kejadian Aldian menganiayanya dan berujung di Rumah Sakit, sekarang ini.


"Ini, akan membuat kita lebih mudah dalam pengajuan cerai anda. Nyonya Fatma?" panggil pria bongsor itu, ketika melihat Fatma bengong.


"Ha? iya-iya. Saya minta anda urus saja semuanya sampai selesai. Aku enggan berhadapan dengan pria tersebut. Pastikan dai tak dapat apa-apa dari perceraian ini, apalagi hak asuh ank. Tidak sama sekali, bila perlu ... bertemu pun jangan," ujar Fatma, kebencian nya teramat dalam.


"Baik, anda akan segera terima hasil yang memuaskan. Tunggu saja waktunya," balas pengacaranya tersebut dengan senyuman penuh keyakinan.


Setelah merasa cukup dengan obrolannya, pria bongsor tersebut berpamitan pada Fatma. "Oke, semoga anda cepat sembuh."


"Terima kasih Pak." Fatma mengangguk, seraya berjabat tangan.


Pria tersebut keluar dan di depan pintu dia berdiri merapikan jasnya, dan tidak sengaja melihat Arya sedang duduk santai di depan ruangan tersebut. "Anda? yang menunggui Nyonya Fatma?" telunjuknya menunjuk ke dalam.


Arya berdiri tegak dan mengangguk pelan. Matanya menatap pria tersebut.


"Ooh, jaga dia ya?" tangan pria itu menepuk bahu Arya sambil berjalan pergi.


Arya memandangi langkahnya sampai hilang dari tangkapan mata. Lalu kemudian melangkahkan kakinya masuk ke ruangan Fatma yang menyambut dengan tatapan sendu dan penuh pertanyaan.


"Kok lama sekali?" tanya Fatma, manik matanya tertuju pada yang Arya bawa.


"Em ... sebentar, tapi ... karena banyak tamu ... jadi menunggu saja di luar." Balas Arya sembari mendekati ranjang pasien.


"Awas ..." teriak Fatma yang membuat Arya kaget bukan main ....

__ADS_1


****


Ayolah 🙏 tinggalkan jejaknya ya? like, komen beserta vote napa? pengen gitu dapat rangking apa gitu. 🤭 ngarep!


__ADS_2