Mencintai Ibu Angkatku

Mencintai Ibu Angkatku
Tak berharga


__ADS_3

"Pemuda itu sangat baik ya, Yah. Semoga kelak Fatma mendapatkan jodoh yang baik seperti dia." Bu Wati mulai mengagumi Arya sebagai pria baik dan bersahaja.


"Ayah punya rencana, Bu. Dan Ayah rasa Ibu pasti setuju dan Fatma pun tak akan menolak. Sebab Ayah yakin kalau pilihan Ayah adalah yang terbaik."


"Rencana apa, Ayah? Ibu jadi penasaran." Bu Wati sangat antusias mendengar rencana sang suami.


"Kalau Fatma sudah bercerai minimal secara agama kalau seandainya secara pengadilan butuh proses. Ayah akan melamar kan Arya buat menikahi Fatma," ujar pak Wijaya dengan begitu yakin.


"Ayah! serius?" Bu Wati terkejut sekaligus senang. Namun seketika senyum yang mengembang manjadi memudar. "Gimana kalau Arya nya sudah punya istri, atau? dulu juga Aldian pilihan putri kita sendiri ternyata lama ketahuan belangnya." Bu Wati cemas.


"KTP nya masih singel, Bu. kecuali tunangan. Mungkin saja."


"Terus, kalau memang seperti itu? gimana, Yah?" selidik Bu Wati menatap ragu.


"Kalau cuma tunangan mah, kan tidak tahu Bu ... siapa tahu bukan jodohnya. Yang jelas Ayah punya keyakinan sendiri, Ayah gak mau Fatma shock terlalu lama. Dia butuh pendamping yang baik yang menyayanginya dan Rania," ungkap pak Rusadi kembali.


"Setuju sih, cuma ... Ibu takut. Dianya punya tunangan, kan gak enak kalau kita memaksakan kehendak."


"Sudah, kit berdoa saja. Meminta yang terbaik untuk putri kita. Jangan sampai dia mengalami sesuatu yang tidak kita inginkan lagi," sambung pak Wijaya.


...****...


Suatu malam Indah mendatangi Doni ke Villa nya. Kebetulan Doni berada di sana dari pulang kerja Doni ke Villa bersama kawan-kawannya biasa untuk bersenang-senang. Minum-minum.


"Ada apa menyusul ku ke sini? barang yang kemarin apa sudah habis?" ucap Doni menatap tajam ke arah Indah.


"Ada," balas Indah sambil mengalihkan posisi duduknya ke dekat Doni.

__ADS_1


"Pulang lah. Di sini gak ada cewek nya, takutnya anak-anak iseng sama kamu. Kasian! kamu nanti makin tak berharga." Ketusnya Doni.


Indah menatap tajam ke arah Doni. "Ngomong apa sih lu? bacot lho, sok suci."


"Bukan sok suci, Indah ... dengar ya. Cewek kalau sudah cinta sama cowok! seburuk apapun masa lalunya bisa aja terima apa adanya, tapi cowok sama cewek nakal untuk main-main sih ia oke. Happy-happy saja tapi untuk menjadikannya istri berpikir sampai ... berulang kali dan itu fakta," ungkap Doni sambil membuang asap rokoknya ke udara.


"Lu, sadar kalau lu pernah nikmatin tubuh gue di mobil? oke gue sadar lu juga cuma main-main karena cinta lu ... cuma buat Renata. Oke, tapi Renata sebentar lagi tentunya akan menikah dengan tunangannya. Arya, lu sadar kalau lu akan ditinggalkan. Dan lu bangsat! sudah tiduri gue." Mata Indah melotot dengan sangat sempurna pada Doni.


Doni berdiri dan melipat tangannya sambil berjalan selangkah dan balik lagi. "Iya, gue menikmati tubuh lu, karena lu juga memberikannya dengan sangat suka rela, kan? dan gue. Bukan yang pertama! mungkin yang kesekian orang yang sudah menikmatinya, ha ha ha ... ke dua tiga empat--"


Plak!


"Bangsat lu, lu pikir pe-la-cur ha?" Indah menampar pipi Doni dengan emosi.


Rahang Doni mengeras dan tangannya mengusap pipinya yang terasa panas. "Terus kalau bukan pe-la-cur apa namanya Non, ha? memang seperti itu nyatanya. Kau bisa tidur dengan pria siapa saja, tapi lu ... gak mau di sebut pa-la-cur ha ha ha ..." Doni kembali tertawa lepas.


"Apa? minta tanggung jawab dari gue? gak salah lu ... ha? sementara setelah gue masih banyak pria yang meniduri lu, gak sadar hem?" tangan Doni mencengkram dagu Indah. "Sadar gak? gue hanya segelintir saja! apa akan semua pria akan kau mintai pertanggung jawaban?" tatapan Doni begitu tajam, setajam elang yang hendak memangsa korbannya lalu menghempaskan dagu Indah.


Indah meringis dan tak bisa berkutik atau mengelak lagi, sebab yang Doni katakan semuanya adalah benar. "Gue akan bilang sama Renata kalau lu, sering meniduri gue--"


"Pernah, bukan sering. Dan gue tidak takut sama sekali sebab lu juga dengan suka rela memberikannya. Dan kita, apa bedanya? satu lagi, gue cinta sama dia, gue akan perjuangkan cinta gue dengan cara apapun untuk mendapatkan Renata."


"Gue pastikan, Renata akan ilpil sama lu, sebab lu tukang mabuk, suka ngobat dan main perempuan--"


"Heh! sebejat-bejatnya gue, yang akan gue nikahin itu pasti satu dan tentunya wanita dengan background atau latar belakang yang baik--"


"Ha ha ha ... mana ada, orang tua yang mau menikahkan putrinya dengan lu? pria tukang mabuk, main cewek dan--"

__ADS_1


"Mengobat seperti dirimu. Iya? ha ha ha ... gue bilang lu pergi sekarang juga, jangan sampai lu jadi santapan temen-temen gue dengan gratis." Bentak Doni sambil menunjuk teman-temannya yang agak jauh namun matanya memandangi ke arah Indah dengan tatapan lapar.


Indah melihat ke arah yang Doni tunjukan, lalu menyambar tasnya bergegas pergi dari situ, langkahnya kian lebar menuju jalan raya untuk mencari taksi. Tak terasa air matanya menetes, sakit hatinya saat ini. Menyeka air matanya kasar. "Sesungguhnya gue cinta sama lu, Doni." Gumamnya.


Indah menghentikan sebuah taksi. Lalu masuk dengan membawa hati yang patah. Indah menyadari mempunyai rasa setelah Doni dekat dengan Renata ditambah lagi kejadian itu yang sulit ia lupakan.


Di dalam taksi, Indah melamun ada sedikit niatan untuk membongkar bobroknya Doni pada Renata. Namun apa untungnya. Toh Renata akan menikah dengan Arya dan hubungan Doni dan Renata cuma sementara saja. Buat apa turun tangan? percuma.


Doni yang masih berdiri dan memegangi pipi kemudian ke kamarnya mengambil salep dari laci langsung dioleskan ke pipinya biar cepat sembuh dan setidaknya menyamarkan memar di pipi.


Suara langkah kaki terdengar semakin mendekat dan muncul kepala seorang temannya dari balik pintu.


"Yu, bro. Kita senang-senang. mumpung besok libur kerja bro?" ajaknya pada Doni.


"Duluan, duluan saja. Nanti gue nyusul." Doni jadi malas ngapa-ngapain mengingat ucapan Indah tentang Renata yang akan menikahi tunangannya.


"Ah, gak asik nih kalau lu, gak ikutan." Jawab pria itu.


"Iya, nanti gue nyusul tenang saja," sambung Doni.


Setelah itu temannya Doni menghampiri yang lain dan meninggalkan Doni di kamarnya yang merebahkan diri di atas tempat tidur.


"Gue pastikan. Kalau kamu akan menjadi milik gue yang seutuhnya, ya ... seutuhnya. Hanya gue yang akan memiliki kamu Renata. Tidak si Arya apalagi yang lain, tunggu gerakan ku." Seringai Doni penuh obsesi terhadap Renata ....


****


Ayo ... siapa yang suka dengan Arya dan fatma? mana dukungannya.

__ADS_1


__ADS_2