
Ini kali pertama Abah dan umi mengunjungi apartemen Arya, sebab dulu terakhir ke Jakarta Arya masih di kontrakan.
"Masya Allah ... tinggi banget, AA tinggal di sini? apa tidak takut jatuh?" tanya sang bunda yang mendongak melihat bangunan yang tinggi menjulang tersebut.
"Iya, tapi bukan semua bangunannya Umi ... tapi di salah satu unitnya." Arya turun dan membukakan buat kedua orang tua nya.
Semua nya berjalan ke lobby dan mendekati lift. "Yu Abah, Umi?" ajak Arya memasuki lift. Memijat tombol lantai sekian.
"Apa ini namanya A? ngapain kita diem di sini? apa gak pengap di sini. Umi mah engap kalau lama-lama di sini kayanya." Umi Santi terus berbicara.
"Buat naik dan turun, sekarang ini kita naik ke lantai 17 iya A?" Abah mengedarkan pandangannya pada Arya yang tersenyum dan mengangguk.
"Iya, betul sekali." Lirih Arya.
"Eleuh-eleuh ... meni enaken nya?" gumamnya umi. Lantas lift terhenti dan ting! pintu terbuka. Arya menuntun tangan uminya dan Abah mengikuti dari belakang.
"Sudah, ini teh?" tanya umi matanya bergerak dan menoleh ke belakang melihat pintu lift yang kembali tertutup.
"Sudah, tinggal jalan sedikit dan itu pintu unit kamar AA." Arya mengayunkan langkahnya lalu berdiri depan pintu mengeluarkan sebuah kartu.
"Kartu apa itu A? ATM bukan? lho ... kok pintu bisa terbuka hanya karena kartu ATM itu di dekatkan!" uminya terheran-heran dan keningnya mengernyit.
Bibir Arya tersenyum manis lalu menoleh sang bunda sambil memegang handle pintu. "Ini bukan ATM Umi ... tapi kartu akses ya ... semacam kunci. Jadi tanpa kartu ini kita tidak bisa membuka kamar ini apalagi masuk."
__ADS_1
"Wah ... canggih euy ... kartu sekecil itu fungsinya hebat." Abah menggeleng.
"Yu masuk, Abah Umi. Kalian istirahat dulu. Nanti malam kita berangkat ke rumah Renata, sekarang nanggung. Maghrib." Arya duluan masuk menunjukan. Unitnya pada Abah dan umi.
Dari ruang tamu, ruang keluarga. dapur. Dua kamar yang besar- besar lengkap dengan kamar mandinya. Membuat umi dan Abah berdecak kagum.
"Masya Allah ... bagus banget ini mah. Kamar mandinya luas-luas, tempat tidurnya besar-besar ya Allah ... Umi mau coba ah," umi Santi rebahan di tempat tidur yang besar dan empuk itu.
Abah juga duduk di tepian sesekali di tepuk-tepuk mencoba empuknya.
Arya yang berdiri nyender ke dinding dengan kedua tangan dimasukan ke saku celana panjang hitamnya, tersenyum manis ke arah kedua orang tua nya yang tampak bahagia. "Abah dan Umi istirahat di sini."
Sayup-sayup terdengar suara adzan Maghrib yang terdengar mengalun begitu merdu.
"Iya, Abah duluan ambil wudu nya. Nanti Umi menyusul," lirihnya sambil membuka kerudungnya yang hanya menyisakan ciputnya saja yang berwarna hitam.
Arya membawa langkahnya ke kamar untuk mengambil air wudu. Dan akan berjamaah Maghrib.
"Sok AA yang di depan. Biar Abah yang jadi makmumnya sama umi." Abah langsung mengumandangkan takbir. Diawali dengan melakukan salat sunat dua rakaat.
Arya berdiri di depan sebagai imam. Ketiganya melaksanakan salat dengan sangat khusuk.
Dan selepas membaca doa, mereka beranjak merapikan bekasnya salat, yang tadinya mau istirahat akhirnya tidak sempat beristirahat. Sebab waktu yang terus bergulir dan menjadikan mereka bergegas siap-siap untuk pergi ke rumah Renata. Seperti yang sudah direncanakan.
__ADS_1
"Apa sudah diberi kabar, kalau kita akan ke sana A?" tanya sang ayah melirik Arya yang sedang mengenakan jam tangannya.
"Sudah, Abah. AA sudah bilang mau ke sana sama Abah dan Umi." Arya seraya mengangguk.
"Umi gak bisa bayangkan gimana perasaan mereka khususnya Renata, A ... Umi rasa, AA. Tega." Lirihnya Umi Santi.
Arya sejenak terdiam, mencerna ucapan sang bunda namun keputusannya sudah bulat bahwa tak ada maaf untuk sebuah pengkhianatan. Ia menghela napas dalam-dalam lalu ia hembuskan dengan sangat kasar.
"Mungkin. AA yang lebih tau alasannya, Umi ... jadi kita cukup ikutin saja keputusan AA.'' Abah lebih pengertian akan putranya.
"Memang benar Abah, tapi Umi itu ingatnya gini. Kalau seandainya pihak wanitanya ada di posisi kita gimana, abah?"
"Seandainya ada di posisi kita? ya mungkin anak kitanya yang melakukan kesalahan atau mungkin memang bukan jodoh, kita gak bisa memaksakan kehendak Allah, Umi."
"Sebenarnya apa sih alasan AA sehingga membatalkan pertunangan hem?" lirih uminya.
Arya cuma menoleh tanpa mengeluarkan suara sepatah pun. Sementara sang bunda dan sang ayah menatap menunggu sebuah jawaban.
Abah menghela napas setelah di persekian detik tidak mendapatkan jawaban apapun. "Sudahlah, Umi ... AA mungkin butuh waktu atau nanti saja bicaranya sekalian. Dihadapan keluarga Renata." Abah mengakhiri perdebatan kecilnya dengan sang istri dengan cara berjalan mendekati pintu utama.
"Yu kita jalan, apa Abah dan Umi sudah siap? pada akhirnya Arya mengeluarkan suara dari mulutnya. Kedua orang tua nya mengangguk dan kemudian tangan arya meraih kunci mobil lantas berjalan membukakan pintu, mempersilakan Abah dan Umi keluar duluan ....
****
__ADS_1
Apa kabar reader ku semua?semoga kabar kalian baik semuanya ya, jangan lupa dukungannya🙏