Mencintai Ibu Angkatku

Mencintai Ibu Angkatku
ikatan batin


__ADS_3

Suasana begitu hening, malam semakin larut. Manik mata Fatma gelisah melihat jarum yang terus berputar. Sementara Arya belum juga pulang dan ponselnya tidak bisa dihubungi.


Keadaan ini bikin Fatma semakin khawatir. Berdiri di dekat jendela mengintip keluar, suasana yang begitu gelap. Bulan pun tidak nampak bersinar di malam ini.


Dirinya begitu gelisah memikirkan sang suami yang belum juga kunjung datang. Yang Fatma lakukan hanya mondar-mandir, tangan melipat di dada. Mengatupkan bibirnya seraya berpikir.


"Apa pulang ke apartemen? kok belum pulang juga sih? aku susul aja kali ya?" gumam Fatma sambil tatap mondar-mandir.


"Oh iya, Sultan. Aku hubungi Sultan aja." Fatma gegas mengambil ponsel lantas DM Sultan untuk menanyakan keberadaan Arya.


Ting ....


Pesan dari Sultan dengan cepat membalas Fatma.


Sultan: "Sudah pulang dengan motornya. Paling masih di jalan."


Fatma kembali mengetik, namun terdengar suara motor Arya memasuki pekarangan. Membuat bibir Fatma tertarik ke samping dan buru-buru mengintip dari jendela.


Benar saja. Arya baru sampai di rumah Fatma setelah perjalananya hari ini. Dia turun dengan gontai membawa bag nya memasuki rumah tersebut.


"Biar saya yang bawa, Tuan?" Bi Ina langsung mengambil satu bag Arya untuk ia Antarkan ke kamar sang majikan.


Arya mengangguk, lantas melanjutkan langkahnya menuju lantai atas, yaitu kamar Fatma.


Dengan langkah yang teratur membawa Arya sampai di depan pintu kamar Fatma. BI Ina menyimpan bag Arya tepat di depan pintu tersebut.


"Makasih, Bi?" ucap Arya dibarengi dengan senyuman ramahnya.


"Sama-sama, Tuan." Bi Ina mengangguk hormat. Kemudian memutar badan kembali ke bawah.


Arya berdiri di depan pintu, mau mengetuk namun ia urung. pandangannya tertuju ke daun pintu itu, mengingat sang istri pasti sudah tidur nyenyak saat ini.


Mencoba mendorong handle pintu yang langsung terbuka. Senyum Arya mengembang sambil membawa langkah masuk ke dalam dengan tangan menarik koper kecil.


Tampak Fatma tengah duduk di atas tempat tidur dengan senyuman termanisnya menyambut kedatangan sang suami.


Arya tersenyum sembari mengucap salam. "Assalamu'alaikum ... belum bobo sayang?"


Tidak lupa Arya mengunci pintu dan menyimpan bag di dekat lemari.


"Wa'alaikum salam, belum nih nunggu, Aa. pulang," sahut Fatma sambil menurunkan kakinya.


Arya langsung membuka jaketnya dan pakaian lain. Dan bergegas ke kamar mandi. "Aa mandi dulu ya?"


Fatma mengangguk, lalu mendekati lemari besar untuk mengambil pakaian Arya.


Setelah sekitar 15 menit kemudian, Arya baru muncul dengan handuk yang melilit di pinggang. Membuat perutnya yang rata terekspos dengan sangat sempurna, tanya kanan mengusap-usap rambut yang basah dengan handuk kecil.


Netra mata Fatma memandangi ke arah suaminya. Menggigit bibir bawahnya, gemas ingin menyentuh perut yang bak roti sobek tersebut.

__ADS_1


"Aku kira, Aa. Pulang ke apartemen?" tanya Fatma menatap sang suami.


Arya yang kini sedang mengenakan sebagian pakaiannya di hadapan sang istri, menoleh. "Iya, Aa pulang ke sana sebentar."


"Tadinya, aku mau jemput ke bandara. Tetapi ada halangan dengan kedatangan Aldian." Lirih Fatma sembari turun mendekati sang suami yang masih mengeringkan rambutnya.


Arya terkesiap mendengar nama Aldian datang. "Aldian datang? apa dia sudah bebas?"


"Iya, entah! aku gak tahu. Di sini lama kok dengan penampilan rapi, masalahnya Rania manja gak mau aku tinggalin." Kata Fatma, tangannya merangkul tubuh Arya dari depan, ingin menumpahkan rasa rindu.


Cuph! kening Fatma, Arya kecup penuh kasih sayang. "Terus, Rania gimana?"


"Mulanya anak itu ngambek, nangis dipangkuan ku di sentuh Aldian pun gak mau. Tapi lama-lama mau juga lalu mengobrol," jawab Fatma, pipinya menempel di dada sang suami yang bertelanjang dada tersebut.


"Bagaimanapun mereka punya ikatan batin, sayang. Biarlah mereka dekat," sambung Arya sembari membelai rambut Fatma dengan lembut.


"Aa, gak marah kan? bila Aldian datang menemui Rania?" tanya Fatma sekilas mendongak, lalu menenggelamkan kembali wajahnya di dada Arya.


Bibir Arya membentuk senyum dan jari telunjuknya mengangkat dagu Fatma supaya mendongak.


"Buat apa Aa marah sayang? Aldian itu papanya Rania. Wajar dong kalau dia ingin bertemu anak kandungnya. Kecuali ... kalau seandainya dia ingin mengambil istri ku ini. Baru, Aa. Akan marah."


Fatma mendongak. Mengedipkan mata dengan teratur, menatap lekat ke arah sang suami. "Itu, gak mungkin terjadi." Mengalihkan kedua tangan ke pundak sang suami.


Sementara waktu mereka bersitatap, menyelami perasaan masing-masing merasakan gelora rasa rindu yang sama.


Tatapan yang mesra dari kedua pasang mata membawa keheningan suasana, wajah Arya perlahan mendekat ke bibir Fatma yang sedang ranum natural. Mulanya hanya menempel, lama-lama menyapu semua permukaan dan me***** mesra.


"Tadi kenapa nangis? cerita dong. Sekarang cerita sama, Aa." Pinta Arya dengan tatapan lembut.


Fatma terdiam tidak segera menjawab. Hanya matanya saja yang bergerak menatap ke arah Arya.


"Kenapa? cerita yang ... kenapa menangis?" desak Arya kembali.


Fatma melangkah ke tepi tempat tidur sambil menyampingkan rambutnya, duduk di sana. Begitupun Arya mengikuti sang istri dan duduk di sisinya.


"Tadi, aku ..." pada akhirnya Fatma bercerita tentang waktu itu dia menangis. Dari Rania menanyakan bapaknya sampai ia tak bisa menahan tangis."


Tangan Arya mengusap bahu Fatma dengan lembut nan mesra. "Sekarang Aldian sudah datang menemui putrinya. Jadi istri, Aa. Tidak boleh sedih lagi."


"Aku tidak sedih, cuman terharu saja, hi hi hi ..." ucap Fatma ujung-ujungnya tertawa kecil.


"Sama saja sayang!" suara Arya begitu lirih dan mendorong bahu Fatma ke belakang.


Fatma menatap sendu, dengan mengalungkan tangan di leher sang suami.


"Sekarang kita bisa memulai permainan favorit kita?" ajak Arya sambil berbisik.


"Favorit, Aa. Iya kan?" Fatma tersenyum menggoda.

__ADS_1


"Emang, sayang tidak suka?" tanya Arya sembari menyusuri jalan-jalan yang dia sukai.


"Tidak, hi hi hi ..." akunya Fatma sambil menggelinjang merasa geli.


"Bener tidak suka? ha benarkan tidak suka?" tanya Arya seraya menggelitik pinggang Fatma.


"Ampun-ampun, iya suka. Iya." Fatma meminta ampun, tidak kuat menerima gelitik kan dari Arya, membuat dirinya mengguling-guling.


Namun Arya malah semakin menjadi dan terus menggelitik bagian-bagian tubuh Fatma termasuk telapak kaki.


"Ha ha ha ... ampun yang ... ampun?" ucap Fatma.


"Bilang dulu, kalau sayang suka dan pengen! baru Aa, akan berhenti menggelitik sayang." Arya berhenti sesaat lalu kembali menggelitik lagi.


Fatma terus menggelinjang geli. "Iya-iya suka, udah-udah aku geli yang ... nanti aku ngompol, ha ha ha ...."


"Bilang dulu kalau sayang pengen?" Arya setengah berbisik dan menempelkan bibirnya di pipi Fatma.


"Iya-iya ...."


"Nggak, harus bilang pengen dulu baru. Baru aku berhenti!" Arya kekeh.


"Iya, pengen. Puas?" kata Fatma yang akhirnya menuruti kemauan Arya, mana perut sudah tidak tahan ingin buang air kecil.


"Nah ... gitu dong. Jangan Aa aja yang pengen, sayang juga harus lah. Biar sama-sama enak." Arya menghentikan tangannya.


Namun Arya malah membungkam mulut Fatma dengan lembut. Sampai-sampai Fatma kehabisan napas. Tangan Fatma memukul dada Arya agar melepas pagutannya.


Tetapi Arya tidak mengindahkannya terus saja menyesal nya penuh ga-ira-h, tangan pun tidak luput traveling ke mana-mana. Tidak membiarkan sang istri tenang.


Fatma sudah tidak tahan lagi untuk membuang air kecil bercampur keinginan untuk bermain. Lagi-lagi tangan Fatma mendorong dada Arya sehingga Arya melepaskan dan memberi jarak di antara keduanya.


"Aku pengen pipis." Fatma melonjak sambil memegangi bawah perutnya.


Arya memegangi tangan Fatma kuat. "Bukan pengen pipis sayang itu. Biarkan saja."


"Nggak, ini beneran pengen pipis." Fatma menepis tangan Arya lalu menurunkan kedua kakinya ke lantai.


Fatma berlari ke kamar mandi, tampak berat sekali menahan rasa ingin pipis. Sehingga pintu pun ia lupa menutupnya.


Di tengah asik berada di toilet. Tiba-tiba Arya berdiri di belakang Fatma yang baru berdiri.


Fatma terkesiap. "Aa, bikin kaget saja! ngapain sih masuk?"


"Aa juga pengen pipis dulu." Arya menurunkan celananya sambil bergidik.


Bibir Fatma tersenyum lucu dan buru-buru keluar dari kamar mandi ....


.

__ADS_1


.


__ADS_2