Mencintai Ibu Angkatku

Mencintai Ibu Angkatku
Mengeluarkan taringnya


__ADS_3

Doni menyingsingkan lengan bajunya, gegas mengambil dongkrak dan ban serep.


"Hem, kayanya ada yang iseng nih." Gumamnya Doni.


"Kenapa Doni? mobilnya kenapa?" tanya bunda Tita sembari melihat jam tangannya.


Doni menoleh ke arah sumber suara. "Ini, Bun. Kempes."


"Lho, emang dari semalam atau gimana nih?" selidik bunda Tita lagi penasaran.


"Maaf, Bu. Tadi Non Renata yang berjongkok di sini." Timpal bibi yang baru datang membawa sapu.


"Ha? apa Bi? Istri saya yang tadi kempesin?" Doni mendongak pada bibi.


"Masa sih?" selidik bunda Tita, rasanya tidak percaya.


"Em, kalau soal itu sih bibi gak tau, Den. Yang jelas memang tadi Non diem di sini." Tambah bibi.


Wajah Doni, memerah. Menahan amarah yang berusaha ia bendung apalagi orangnya pun tidak da di situ. Mana sudah siang. Doni tidak berkata sepatah pun saking kesalnya.


Bunda Tita menggeleng. Kesal pada Renata dan kasihan pada mantunya, Doni. Helaan napas yang berat terlihat dari bunda Tita.


Hatinya kecewa dengan tingkah lakunya Renata sekarang ini. netra mata bunda Tita menatap ke arah Doni yang menahan amarah. Kemudian bunda Tita pun pergi meninggalkan tempat tersebut, pergi untuk bekerja.


...---...


"Papa mau nunggu atau ... mau pulang dulu?" Rania mendongak dan setelah mencium punggung tangan Arya.


"Papa mau pulang dulu. Nanti saja waktu pulang Papa jemput lagi. Jangan nakal dan belajar yang pinter ya?" tangan Arya mengusap kepala Rania.


"Iya, Pah, Rania masuk dulu ya?" anak itu berlari bersama yang lain memasuki ruang belajarnya.


"Dah ..." gumam Arya sambil melambaikan tangannya ke arah Rania yang juga melambaikan tangan.


Kemudian Arya gegas menaiki sepeda motornya. Melajukan dengan cepat menuju kantor Fatma, rencana nya hari ini mau ke tempat WO untuk membicarakan persiapan nanti resepsi.


Terus mau lanjut ke butik, tuk fitting baju pengantin yang katanya sudah siap. Arya terus melajukan si roda duanya menuju kantor Fatma.


Tidak selang lama. Motor Arya pun berhenti di area gedung pencakar langit tersebut, berjalan cepat memasuki gedung tersebut.


Scurity yang berada di depan mengangguk hormat pada Arya yang duluan menganggukkan kepalanya. Lalu terus melangkah menuju ruangan Fatma.


Di sana ada Zayn sedang menyerahkan beberapa berkas yang yang harus di tandatangani oleh Fatma.


"Selamat menjelang siang, Bang?" Zayn mengangguk hormat.

__ADS_1


"Hi ... apa kabar Zayn?" Arya mengulurkan tangan mengajak bersalaman.


"Baik. Tumben ke sini?" tanya Zayn menatap ke arah Arya.


"Zayn, emangnya suami ku gak boleh datang menemui istrinya gitu?" Timpal Fatma sembari menghampiri keduanya yang masih berdiri tidak jauh dari pintu.


"Oo! Ibu negara memperlihatkan taringnya. Ha ha ha ... boleh sih!" Zayn nyengir dan menganggukkan kepalanya.


Arya ikut tersenyum melihat ke arah Zayn.


"Sudah, silakan pergi? Oya saya sebentar lagi akan pergi," sambung Fatma sambil berdiri menatap Zayn.


"Oke, selamat jalan dan bersenang-senang?" Zayn menggerakkan tangan mengarah ke pintu. "Saya juga mau keluar! barang kali pengantin baru mau ehem-ehem dulu di dalam? ha ha ha ...."


"Dasar!" gumam fatma, menunjukan senyumnya yang simpul.


Begitupun dengan Arya yang mesem-mesem melihat kepergian Zayn.


Fatma meraih tas nya dan ponsel dari meja. "Pergi sekarang yu?"


"Yu?" balas Arya. Menarik tangan Fatma menggenggam nya erat. Berjalan berdua.


Banyak pasang mata yang menatap iri pada pasangan baru ini. Banyak yang dibikin patah hati dibuatnya.


"Naik motor saja ya?" Arya melirik ke arah sang istri.


"Boleh, apa aja asal jangan jalan kaki saja. Nggak kebayang sampainya kapan!" sahutnya Fatma sambil terus berjalan menuju parkiran. Dimana moge Arya diparkir.


"Oke lah kalau begitu!" Arya mengenakan helm nya. Dia sengaja membawa helm cadangan untuk Fatma.


"Ini pake helm nya sayang?" Arya memakaikan helm ke kepala Fatma.


"Berarti kita gak bisa lama-lama ya Aa?" tanya fatma sembari naik ke atas motor Arya.


"Iya, Aa harus jemput Rania. Kasian kalau harus supir yang jemput! nanti marah sama, Aa." Sambung Arya.


"Hem, ya udah jalan sekarang?" Fatma menepuk bahu Arya.


Arya menyalakan mesin dan langsung melajukan sepeda motornya. Dengan cepat, tangan Fatma merangkul perut Arya sangat erat.


Kebetulan Fatma saat ini mengenakan setelan panjang. Celana panjang hitam dan blazer biru Dongker, dalaman berwarna putih.


Setibanya di tempat WO Arya dan Fatma langsung masuk dan di sambut oleh pihak wedding organizer. Mereka lanjut berbincang mengenai persiapan resepsi nanti, termasuk makanan kesukaan Arya dan Fatma yang wajib ada.


"Baiklah, terima kasih? atas kerja sama nya? semoga memuaskan." Fatma berjabat tangan dengan pihak wedding organizer tersebut.

__ADS_1


"Iya. Pasti kami akan membuat konsumen kami merasa puas dengan layanan kami." Balasnya.


Arya pun berdiri dan mengulurkan tangan pada orang-orang di sana. Dengan senyuman yang manis bikin para pekerja yang banyak wanita mudanya itu klepek-klepek.


"Aduh terlalu manis, berasa madu." Gumam salah satu wanita muda tersebut.


"Iya, bener. Dijadikan yang kedua aja gak bakalan nolak aku, Mana pilot lagi. akh ... gak akan ada yang nolak deh." Timpal temannya berambut pirang tersebut.


Dan sayup-sayup itu sampai ke telinga Fatma, sehingga dia langsung menoleh pada dua wanita muda tersebut dengan menunjukan senyum nya dan mengangguk.


"Alah, suara kita terdengar sama wanitanya," mereka saling berbisik.


Arya menunduk bukan tak mendengar namun buat apa ia menoleh nya, nanti dikira tebar pesona dan bikin salah paham nantinya.


Setalah berpamitan, Arya memegang tangan Fatma berjalan keluar meninggalkan tempat tersebut.


"Em ... mudah sekali yang untuk mendapatkan pengagum?" gumamnya Fatma sambil berjalan.


"Maksudnya?" tanya Arya pura-pura gak tau.


"Ya ... banyaknya pengagum suami ku ini. Bikin panas-panas!" ucap Fatma sembari mengibaskan tangannya.


"Hem, cemburu?" Arya berbalik berhadapan dengan Fatma.


"Ha? cemburu? nggak sih! ngapain cemburu. Ma-maksud aku cuaca panas, tuh lihat matahari menyengat bumi." Elak Fatma seraya menghindari kontak mata dengan Arya.


Arya tersenyum memandangi Fatma yang mengalihkan pandangan ke sekeliling. "Oya? berati istri aku gak sayang dong sama Aa?"


Fatma yang menyembunyikan senyumnya langsung menoleh. "Udah ah, jalan? keburu siang jemput Rania."


"Em ... baiklah." Arya segera naik motor setelah mengenakan helmnya.


Fatma pun langsung nemplok di belakang Arya. "Jalan Bang? ke jalan xx ya!" goda Fatma pada sang suami.


"Ya ampun ... berasa tukang ojek!" keluh Arya sambil tersenyum.


"Emang ada gitu? penumpang yang mesra kaya gini?" tanya Fatma sambil memeluk Arya dari belakang, menempelkan dagunya di pundak sang suami.


"Ada, ada aja yang kaya gini. Yang takut jatuh," ucap Arya sambil mengencangkan laju motornya membuat Fatma kaget.


"Ah ... pelanin?" pekik nya mengeratkan pelukannya. Takut terjatuh atau terpeleset sementara laju motor dengan kecepatan sangat tinggi ....


****


Mohon dukungannya ya reader ku, like komen dan vote nya.

__ADS_1


__ADS_2