Mencintai Ibu Angkatku

Mencintai Ibu Angkatku
Pengen adek


__ADS_3

Di hari ketiga, barulah Arya dan Fatma berjalan-jalan bergabung dengan yang lain namun tidak dengan Sultan.


Kalau ni mereka cuma berenam saja sebab Sultan sudah pulang duluan dikarenakan tugasnya yang mengharuskan meninggalkan tempat liburannya itu.


"Hayo ... melamun. Baru hari ini di tinggal ayang sudah melamun saja?" suara Susi yang mengagetkan Dewi yang tengah melamu.


Sebenarnya bukan melamun sih tapi menikmati suasana senja yang indah ini. Dihiasi kicauan burung dan bernyanyi seolah memberi salam perpisahan kalau siang akan segera berganti malam.


"Siapa yang melamun? nggak kak Susu. Gak melamun cuman menikmati keindahan alam ini saja." Jawabnya Dewi dengan senyuman yang menghiasi di bibirnya.


"Iya, ya? rasanya tenang ... nyaman ... jauh dari hiruk pikuknya kota besar yang bikin panas." Susi mengangkat wajahnya ke langit bibinya pun menunjukan sekilas senyuman.


Fatma yang berdiri di bibir pantai, turut menikmati sunset dan melihat Rania, Arya berlarian main kejar-kejaran.


"Aduh, kepala ku pusing." jemari Fatma memegangi keningnya, lalu meminum air mineral yang berada di tangan.


Fatma berjalan menjauhi bibir pantai dan sebelumnya memanggil Rania dan papanya.


"Sayang? sore nih bentar lagi Maghrib nih." Pekik Fatma.


Susi, Dewi mm mereka berdua berjalan menghampiri Fatma.


"Zayn mana?" tanya Fatma ketika melihat Dewi dan Susi menghampirinya.


"Tuh? sedang bersantai ria minum air kelapa." Susi menunjuk suaminya yang tengah menikmati air kelapa hijau.


Netra nya Fatma mengikuti arah yang Susi tunjuk. Kebetulan Zayn pun menoleh seraya mengangkat kelapa di udara.


"Mam, Rania masih betah bermain sama papa! jangan pulang dulu!" rengek Rania sesampainya berada dengan sang bunda.


"Lho ... sudah sore sayang. bentar lagi Maghrib loh," sahut Fatma sambil mengusap kepala anak itu.


"Iya nih, Rania menggerutu terus sama Papa. Gimana sih?" Arya menimpali.


"Hem ... Rania kok gitu sih? Mama gak suka ah. Rania seperti itu." Fatma menggeleng.


"Maaf, Mama? habis Rania keasyikan mainnya." Rania menunduk.


"Oke, kita pulang ke hotel. Besok main lagi ya?" Fatma menuntun tangan Rania.


Namun sebelum berjalan, Fatma menoleh ke arah Arya. "Sayang, tolong beliin kelapa ijo ya? kayanya segar deh."

__ADS_1


Arya mengedarkan pandangannya ke arah yang mm menjual kelapa degan yang berada beberapa meter dari tempat tersebut. "Tuh Zayn masih di sana suruh dia belikan saja."


"Em ... gak bisa kalau belikan untuk ku?" Fatma menatap datar.


Arya terdiam. Lalu mengangguk sembari membawa langkah lebarnya ke tempat penjual degan yang Fatma maksud.


Tidak lama kemudian Arya membawa dua degan ijo dan langsung menyusul sang istri yang sudah jauh bersama yang lainnya menuju hotel.


Saat ini mereka sudah berada di kamar hotelnya masing-masing. Karena sudah terdengar sayup-sayup suara adzan. Kereta khususnya Arya dan anak istrinya menunaikan salat berjamaah.


Selepas salat dan Arya menuntun membaca doa. kini giliran Rania yang membaca doa.


"Ya Allah, Rania mau adik laki-laki yang lucu ya Allah. Adik yang gendut lucu, pipinya cabi. biar kalau Rania cubit gak kesakitan. Rania ingin segera mengasuh Dede baby yang lucu. Seperti kawan Rania suka mengasuhnya bila mamanya sedang sibuk. Aamiin." Anak itu menurunkan kepalanya.


Arya dan Fatma saling bersitatap dengan bibir tersenyum. Namun tak lupa juga mengaminkan doa anak tersebut.


"Sayang, Mama mau tanya. Kok Rania maunya adik laki-laki sih? gak minta anak perempuan seperti Rania gitu? biar main boneka-bonekaan." Tanya Fatma sembari duduk bersila menghadap Rania.


"Nggak mau anak perempuan. Maunya anak laki-laki, bosan main boneka terus. Kan nanti bisa rebutan mainan mobil-mobilan sama adek Rania." jawabnya masih masuk akal.


"Iya, nanti Papa kasih adek laki-laki yang lucu yang gendut. Oke?" Arya memberi harapan pada anak kecil itu.


"Insya Allah, bila Allah meridhoi. Tapi kalau seandainya Allah ngasihnya perempuan, Rania harus terima ya? harus sayang ya?" harap Arya pada Rania.


Anak itu sejenak tidak bergeming. Mata beningnya menatap lekat ke arah Arya dan Fatma bergantian.


"Tapi, Rania mau adik laki-laki. Tapi ... kalau memang Allah ngasih nya seperti itu. Rania akan sayang juga sih." Rania berucap lirih.


"Anak pinter ..." ucap Arya dan Fatma bebarengan.


Kemudian mereka keluar mencari makan malam di luar, di sekitaran hotel.


Kini mereka hanya berempat saja, Arya, Fatma. Rania dan Dewi. Sambil mencari angin di luar, Rania pun sangat happy.


Saat ini. Semuanya sudah duduk meja bundar dan menikmati makan malamnya dengan sangat lahap.


"Wi, pulang dari sini. Kakak mau ke luar Negeri ada urusan di sana, titip Rania ya?" Fatma membuka pembicaraan sambil makan.


"Ooh, iya Dewi pasti akan menjaga Rania dengan sangat baik," jawab Dewi setelah menelan makannya itu.


"Mama mau ke luar Negeri? lama ya Ma?" Rania menatap penasaran pada sang bunda.

__ADS_1


"Iya, sayang. Jangan nakal ya sama aunty dan opa juga Oma." Pesan Fatma sambil mengusap pipi Rania yang gembul ditambah ada isinya.


"Papa kan ada?" kata Rania.


"Kadang Papa kan ada tugas sayang. Kalau saja gak ada tugas kita ikut saja sama Mama." Lirihnya Arya, tangannya meraih gelas yang berisi Ais jus.


"Iya, Pah ikut saja sama mama sambil jalan-jalan. Rania mau ikut, Rania mau ikut, ikut Mama sama Papa." Rengek Rania.


"Kan kata Papa juga kalau Papa gak tugas sayang. Insya Allah kita akan menyusul mama," sambung Arya seraya melirik sang istri yang menatap ke arahnya.


Rania langsung bertepuk tangan dengan senang. "Hore ... Rania mau di ajak jalan-jalan ke luar Negeri hore ...."


"Sekarang, Rania habiskan makannya ya? kita jalan-jalan lagi." Fatma lirih dengan senyuman manisnya di bibir.


"Rania mau ayam?" menunjuk ayam goreng kesukaannya.


Arya langsung ambilkan, dan dimasukan ke dalam piringnya Rania.


Dewi yang gagal fokus makannya, hanya mengaduk-aduk sambil bengong.


Arya dan Fatma bersamaan menoleh ke arah Dewi.


"Kenapa Dewi? di aduk-aduk terus, makan. Nggak baik makanan cuman dilihatin, dimakalah?" ucap Arya.


"Em ... nggak ke-napa. Dewi langsung menyuapkan makanan ke mulutnya.


"Tidak memikirkan sesuatu mungkin?" selidik Fatma.


Dewi menggeleng. Beberapa saat Dewi terdiam seakan berpikir. "Sebenarnya ... aku dan Abang Sultan sudah berencana menikah secepatnya, kata Abang. Aa ingin kami segera menikah, apa benar?" pada akhirnya Dewi mengungkapkan isi hatinya.


Arya yang sedang mengunyah terhenti sesaat. Tatapannya mengarah pada Dewi yang menatap pada sang kakak.


"Apa Dewi sudah yakin? maksud, Aa. Dewi sudah siap belum? kalau sudah siap, Aa nikahkan kalian kapanpun. Sebab menikah lebih baik ketimbang pacaran." Arya berujar panjang lebar.


Dewi terdiam dan manaut kan kedua tangannya. Sesekali mengedarkan pandangan ke sembarang tempat.


"Mungkin maksud, Aa. Dewi sudah siap belum menikahnya? sebab pernikahan bukanlah main-main." Fatma turut menyempurnakan pertanyaan dari sang suami, Arya ....


.


.

__ADS_1


__ADS_2