Mencintai Ibu Angkatku

Mencintai Ibu Angkatku
Pamit


__ADS_3

"Kalau soal Dewi. Nanti saja kalau dia sudah sehat benar-benar hatinya baru ajak ke sana." Lanjut umi dengan lirih.


"Besan, maaf ya? kami sudah merepotkan kalian di sini?" ucap Bu Wati yang ditujukan pada umi dan suami.


"Merepotkan apa, gak ada yang direpotkan. Malah kami senang dapat berkumpul dengan kalian semua," timpal umi Santi memegangi tangan Bu Wati.


"Abah, bukannya saya tidak betah di sini. Tapi kamu sudah terlalu lama meninggalkan rumah." Sambung pak Wijaya.


"Iya, nih padahal kami sangat bahagia kalau kita sering berkumpul seperti beberapa hari ini."Balas Abah.


"Semoga lain kali kita dapat berkumpul lagi ya?" kata pak Wijaya sambil tersenyum.


Setelah pamitan. Mereka mendekati kendaraannya masing-masing, Arya dengan motor besarnya sementara Fatma dan keluarga masuk ke dalam mobil.


Umi, Abah. Dewi dan sang adik bungsu melambaikan tangan berdiri di teras. Arya mengangguk lalu mengenakan helm nya.


Sesaat kemudian Fatma menghampiri Arya. "Aku ikut kamu."


"Lho, panas sayang kalau mengenakan motor. Ini jarak jauh." Arya mengusap pipi Fatma.


"Nggak mau ah, pokoknya pengen ikut kamu aja." Fatma mengambil helem yang akhirnya Arya bantu pakaikan.


"Rania gimana sayang?"


"Rania gak mau ikut, mau di mobil saja sambil tiduran katanya. Nanti juga kalau mau pasti bilang," ungkap Fatma sambil naik yang kebetulan mengenakan celana panjang.


"Yakin?" tanya Arya sambil pegang setang.


"Yakin Rania gak mau ikut? kita hitung dari satu sampai lima ya? satu, dua. Tiga em--"


"Papa, Mama. Ikut?" anak itu muncul di jendela mobil minta ikut di motor.


"Terus gimana?" tanya Fatma gegas turun.


"Ya ajak. Pake jaket, angin!" balas Arya sambil menghidupkan mesinnya.


Rania Mia turunkan dari mobil. Lalu Fatma meminta jaketnya, lalu di tuntun nya menaiki moge milik Arya.


"Ayo, Pah ... jalan?" pinta Rania setelah sudah berada duduk di depan.


"Oke, siap ... kita meluncur. Mama siap belum?" melirik ke belakang.


"Sudah." Fatma mengangguk, tangannya merangkul pinggang Arya.

__ADS_1


Mobil yang di kemudikan pak Harlan sudah duluan melaju dengan cepat dan meninggalkan halaman rumah Abah dan umi.


Selang beberapa detik kemudian motor Arya pun mengejar mobil tersebut. Melaju dengan cepat.


Rania pun memekik. "Papa, jangan ngebut dong. Rania takut."


Arya pun segera memelankan laju motornya. Tak berani terlalu ngebut apalagi kalau Rania takut kecepatan.


"Pelan juga gak harus. Pokoknya sedang-sedang saja!" pinta Rania.


"Oke, oke. Papa percepat lagi ya? pegangan yang kuat." titah Arya sambil tersenyum.


"Aa ... apaan sih? jangan ngebut! Fatma menepuk pundak Arya.


Arya tidak menjawab, namun memfokuskan pandangannya ke depan. Jalanan yang ramai dengan pengandara lainnya.


Kini Rania tidak protes lagi melainkan bernyanyi riang seperti biasa. Membuat Arya tersenyum mendengarnya.


Sementara di mobil Mia mencoba membuka pembicaraan. "Nyonya besar. Mia mohon maaf bila saya banyak salah sama keluarga Nyonya."


"Kenapa kamu bicara seperti itu? kaya mau kemana saja." Pak Wijaya tidak mengerti.


"Mia itu, Fatma pindahkan kerjanya ke Bekasi Yah. Tidak sama Fatma lagi." Bu Wati menjawab kan.


"Ooh ... ha! dipindahkan? kok bisa?" Pak Wijaya sedikit kaget.


Pak Wijaya terbengong sambil melihat keluar jendela. "Kenapa Fatma begitu? kan Rania butuh mengasuh." Bermonolog dalam hati.


"Padahal Rania masih membutuhkan pengasuh," keluh Bu Wati.


"Mungkin nyonya muda cemburu sama saya, Nyonya. ketakutan kalau suami barunya macam-macam sama saya." Mia berusaha meracuni pemikiran pak Wijaya dan istri.


"Ah, masih mending kamu di pindahkan, dari pada dipecat sekaligus kamu kehilangan pekerjaan sekaligus! kali aja di sana kamu lebih cocok dan bayarannya pun besar," ujar pak Wijaya.


"Iya sih, Ayah. Benar juga, semoga kamu Mia lebih nyaman di sana." Bu Wati mengusap bahunya. Tak ingin. mendengar ekspetasi Mia yang hanya akan menghantui pikiran.


"Sebenarnya saya sudah nyaman mengasuh Rania, anak itu pinter dan baik selain cantik." Kenang Mia.


"Pasti, secara kamu sudah lama bekerja sama Fatma." Timpal Bu Wati mengangguk pelan.


Pak Harlan yang sejak tadi mendengarkan dan sesekali melihat dari kaca spion akhirnya membuka suara juga. "Ibu pasti punya alasan yang tepat dan lagian Mbak Mia bukan di pecat cuma di pindahkan kerja. Jadi gak perlu bersedih."


"Iya, benar pak Harlan. Saya pikir juga kaya gitu," sambung pak Wijaya.

__ADS_1


Hening!


Semua memilih terdiam dan sibuk dengan pikirannya masing-masing. Tanpa beradu argumen lagi. Hanya suara mesin yang menghiasi dan terdengar halus.


Motor Arya kini berada di depan mobil alphard milik Fatma. Membonceng Fatma dan Rania yang tampak bahagia.


Mata Mia terus memandangi ke arah Arya, bibirnya menyunggingkan senyuman yang sulit di artikan.


Bu Wati sekilas melirik ekspresi wajah Mia yang aneh melihat Arya. Begitupun pak Wijaya yang merasa aneh. Namun ia tetap diam dan tak perlu untuk di bahas.


"Mau jajan apa sayang?" tanya Arya setelah menepikan motornya untuk istirahat sebentar.


"Beli minuman dulu deh, tuh Alfamart. Aku mau beli minuman dulu ya?" ucap Fatma bersiap mendekati Alfamart.


"Hati-hati sayang?" ucap Arya sembari menunjukan senyumnya sambil mengusap rambut Rania.


"Haus!" keluh anak itu.


"Iya, sebentar lagi minum, kan mama beli dulu sayang." Arya memeluk bahu anak itu.


Setelah beberapa detik lamanya, Fatma kembali menenteng kantong belanjaan khususnya minuman dan makanan buat Rania ngemil.


"Ini minumnya." Fatma memberikan Air mineral pada Rania dan untuk Arya minuman kaleng.


"Aku juga air mineral saja sayang, jangan minuman kaleng. Biar lebih sehat." Pinta Arya yang langsung fatma sodorkan sebotol air mineral.


Sebelum kembali melaju, Arya meneguk minumnya tuk menghilangkan rasa dahaga di tenggorokannya. Setelah itu bersiap kembali untuk melajukan motor kesayangan tersebut.


...---...


Pada hari yang sama, bulan yang sama juga dan tangga yang sama juga, hari itu Renata dan Doni melangsungkan sebuah pernikahan dan begitu sakral.


Setelah resepsi selesai, Doni mengajak Renata ke rumahnya. Dan tidak ingin tinggal bersama orang tua. Rumah itu sudah dipersiapkan untuk Doni dengan Renata setelah menikah.


"Cinta. Aku mandi dulu ya?" Doni meninggalkan Renata yang terduduk di tepi tempat tidur.


Netra mata Renata melihat ke arah punggung Doni yang memasuki kamar mandi. Dadanya naik turun dan berdebar tidak karuan. Ini malam pertama untuk Renata.


Tangannya Fatma menjangkau atas kepala membuka sanggulnya. Renata berpindah duduk ke depan cermin, membuka semua aksesoris yang melekat di tubuhnya.


Tidak lama kemudian Doni keluar dari kamar mandi dengan menggunakan handuk yang berada melingkar di pinggangnya.


Netra nya langsung mendapati sang istri yang sedang kesusahan membuka gaun pengantinnya ....

__ADS_1


****


Terus dukung aku ya reader ku semua🙏


__ADS_2