Mencintai Ibu Angkatku

Mencintai Ibu Angkatku
Gak percaya banget


__ADS_3

"Ada apa, Bu?" tanya pak Wijaya dengan suar parau ketika melihat sang istri tampak shock setelah kembali dari luar.


Bu Wati duduk di tepi tempat tidur dengan napas naik turun, rasanya tak percaya dengan yang ia dengar namun itu benar-benar nyata. Kemudian melirik sang suami yang menatapnya dari balik selimut. "Ayah, Ibu mau cerita."


"Cerita apa, Bu ...."


Bu Wati menghela napas dalam-dalam sebelum melanjutkan ceritanya. "Barusan Ibu kan melihat Rania di kamarnya. Takut dia bangun, tapi untungnya ada Mia di sana--"


"Terus?" tanya pak Wijaya memotong perkataan sang istri.


"Ibu merasa penasaran dengan kamar pribadi Aldian. Kemudian Ibu mendekati dan apa coba yang Ibu dengar dari dalam?"


"Apa?" pak Wijaya menatap lekat.


"Ada suara orang bercinta, Yah. Jelas-jelas Fatma belum pulang tapi Aldian di kamarnya dengan perempuan," balas bu Wati.


"Ah, Ibu ada-ada saja mana mungkin. Lagian ... itu dari suara televisi kali, Bu ... jangan suudzon ah." pak Wijaya terbangun menurunkan selimutnya.


"Ayah ... Ibu yakin kalau itu bukan dari suara televisi atau semacamnya. Itu asli Yah." Bu Wati kekeh dengan pendapatnya.


"Tapi itu, kan tidak mungkin istriku ... tak mungkin itu wanita lain kecuali istrinya, yaitu Fatma. Sudah jangan berpikir yang tak masuk akal, sudah malam nih tidur besok mau ngantar Rania sekolah, kan?" tangannya menarik bahu sang istri tuk berbaring di dekatnya.


"Ih, Ayah. Gak percaya banget sama Ibu!" Bu Wati kecewa suaminya tak mempercayai dirinya.


"Sudah, tidurlah ... besok kita bicarakan lagi," Sambung pak Wijaya sambil memejamkan matanya kembali.


Sang Surya sudah menampakkan sinarnya dari barat, cahayanya selalu setia menyinari muka bumi. Mengiringi hiruk pikuknya mahluk yang ada di dunia ini yang sifatnya cuma sementara.


Suara burung berkicau merdu menyambut bahagia datangnya pagi setelah perginya sang kegelapan yaitu sang malam. Dimana waktu itu adalah waktu yang tepat tuk beristirahat bagi manusia yang sepanjang hari beraktifitas mencari rejeki untuk berjalannya kehidupan mereka.


Bu Wati sudah memandikan Rania dan mempersiapkan nya untuk berangkat sekolah. Dan kini Rania sedang di suapi Mia sebelum pergi.


"Aldian mana, kok gak sarapan, apa belum bangun?" Bu Wati bertanya pada kepala asisten rumah tangga di sana yang bernama Ina.

__ADS_1


"Tuan Al sudah berangkat, Nyonya, setengah jam yang lalu." Jawabnya Ina.


Bu Wati mengernyitkan keningnya dan menoleh pada sang suami yang sedang sarapan. "Tidak sarapan dulu?"


"Tidak, dia sering tak sarapan di rumah dan sering pergi pagi-pagi sekali atau siang banget dan itu sudah biasa," sambung Ina sambil menunduk. Menggigit bibir bawahnya takut kepeleset ngomong. Mengenai semalam ada wanita asing datang ke Mension tersebut dan bermalam dengan Aldian.


"Ooo ... seperti sudah biasa?" selidik Bu Wati lalu tertegun. Sebab merasa penasaran. Dengan kejadian semalam, Bu Wati bergegas meninggalkan sarapannya untuk mendatangi kamar Aldian.


"Mau kemana, Bu? meninggalkan sarapan!" tanya pak Wijaya ketika melihat sang istri yang pergi.


Rett ....


Bu Wati memasuki kamar pribadi Aldian yang tampak rapi. Tak ada hal yang patut dicurigai semua tampak rapi dan bersih semua barang tertata dengan rapi. Tempat tidur juga bersih tak sedikitpun ada kusut-kusut. Hati bu Wati bertanya-tanya suara siapa semalam yang bersama Aldian.


Kemudian Bu Wati kembali menuruni anak tangga dan kembali duduk di tempat semula, di telinganya terngiang-ngiang suara itu. De-sa-han dan raungan nikmat suara Aldian, yang jelas dan menempel di telinganya Bu Wati.


"Kenapa sih, Bu?" tanya pak Wijaya menatap heran.


"Oma sakit bukan? kalau sakit, Rania sekolahnya sama aunty saja, Oma istirahat saja di rumah." Suara Rania yang menatap lekat Omanya.


"Ooo kirain Rania Oma sakit, bengong terus sih," ungkap anak itu sambil mengunyah makannya.


"Nggak sayang, ayo habiskan sarapannya. Kita berangkat!" sambung Bu Wati.


...****...


Di apartemen, pagi-pagi Arya mengisi waktunya untuk nge-gym di atau berolah raga di ruangan khusus. Sebelah kamarnya. Seketika terbayang wajah Fatmala, senyumnya yang meneduhkan, tenang. Raut wajahnya yang anggun dan bercahaya menari-nari di kelopak matanya.


Arya menghela napasnya di sela kegiatan yang ia lakukan. menggelengkan kepalanya menepis bayangan itu. Kemudian terbayang diingatan semua kelakuan Aldian yang ia temukan. Dalam hati berargumen teganya Aldian mengkhianati istrinya yang cantik yang seharusnya beruntung mendapatkan wanita seperti Fatmala. Wanita cantik, pintar. Smart, CEO dan tentunya kaya raya. Sosok wanita yang banyak diidamkan para pria di luar sana.


"Dasar pria tak tau di untung. Bodoh, bego, tak tahu mana emas dan mana perak. Bodoh sangat bodoh menyia-nyiakan berlian cuma untuk mendapat tembaga yang tak berharga." Arya menggerutu dan geram sendiri. Menyayangkan sikap Aldian yang menurutnya menyia-nyiakan istrinya, Fatmala.


Kemudian Arya berjalan membawa langkah lebarnya ke dekat lemari pendingin mengambil minuman kaleng yang langsung ia teguk. Berdiri di dekat jendela memandang jauh menatap kosong. Di benaknya ada sekelumit rasa rindu pada sosok wanita yang selama ini ia hormati itu.

__ADS_1


Ada rasa sesak di dada ketika mengingat kalau wanita itu tersakiti. Tanpa sadar tangan Arya mengepal tak rela bila sosok wanita yang ia sayangi mendapat perlakuan yang tidak pantas,


"Oya apa kabarnya Renata ya?" tiba-tiba Arya teringat pada Renata, seorang wanita sebagai tunangannya itu.


Tingtong.


Tingtong.


Tingtong.


Suara bell membuyarkan lamunannya Arya, dengan segera ia mengayunkan langkah lebarnya mendekati pintu.


Blak!


Pintu yang Arya tarik handle nya terbuka dan berdiri seorang gadis cantik, tinggi semampai berambut sebahu. Mengenakan dress selutut membawa kantong berisi makanan, tersenyum manis padanya.


"Sofi?" lalu mata Arya melihat ke lain arah kanan dan kiri. "Dengan siapa?"


Mata Sofi menatap intens ke arah Arya yang hanya mengenakan setelan olah raga yang pendek. "Em, pagi ... aku sendiri aja kok." Jawabnya.


"Pagi juga. Yu masuk?" Arya membuka pintu lebar-lebar dan duluan masuk diikuti oleh Sofi.


"Duduk!" Arya juga duduk di sofa seberang Sofi.


"Ini, aku bawakan buat sarapan untukmu." Menyimpan kantong tersebut di meja.


Arya merasa risih, tidak nyaman. "Aduh, jangan repot-repot lah Sofi. Bawa makanan segala, jadi nggak enak hati."


"Eh, nggak kok. Tidak repot, kamu pasti belum sarapan ya? aku ambilkan piring ya!" Sofi berdiri.


"Ja-jangan, aku bisa ambil sendiri Sofi, gak usah." Tolak Arya namun Sofi malah pergi ke dapur tak mengindahkan ucapan Arya ....


****

__ADS_1


Setelah membaca jangan lupa tinggalkan jejaknya? sebab jejak kalian menjadi penyemangat aku dalam berkarya.


__ADS_2