
Semua pasang mata memandang ke arah sumber suara yang datangnya dari pintu utama.
Seorang pria tinggi tampan dan manis, yang menggandeng seorang wanita muda nan cantik. Berjalan dan tersenyum ke arah orang-orang yang berada di sana.
"Om, apa kabar?" sapa pria itu kepada pak Wijaya.
Tiada lain dan tiada bukan, dia adalah Zayn bersama Susi, istrinya. Membawa satu parsel buah.
"Hi ... Zayn. Baik, apa kabar juga? punya keponakan pelupa kalau punya Om," sambut pak Wijaya, dengan ramahnya menyambut kedatangan Zayn dan istri.
"Ha ha ha Maaf, Om. Sibuk, lagian kan aku kerja dengan anak Om juga." Balas Zayn sambil tertawa, lalu menyalami yang lainnya.
"Apa kabar? Abang ku?" tanya Zayn pada Arya yang langsung menyambut dengan senyuman.
"Gimana benihnya sudah tumbuh apa belum? ha ha ha ..." Arya tergelak.
"Ha ha ha ... belum, bandel nih." Balas Zayn juga tergelak tawa.
"Apa kabar Om?" Susi meraih tangan pak Wijaya lantas mencium punggungnya.
"Baik, mana buntut nya? Om pengen timang cucu nih dari Zayn." pak Wijaya menanyakan buntut.
"Nah, itu. Om, Belum juga nih. mohon doa nya ya? aku juga pengen cepat." Jawab Susi.
"Yang jadi pertanyaannya! bikinnya rajin gak?" tanya Arya sambil mendudukkan dirinya di sofa, dengan bibir menyungging.
"Bikinnya? Rajin kok. Tiap hari malah, sehari bisa 3-5x." Susi mengangkat tangan, menunjukan lima jarinya.
"Walah, itu bikin anak atau minum obat? lahap benar ya?" tanya Sultan yang nyambung dengan obrolan Arya dan Susi.
"Bikin anak lah, minum obat ada bosannya, yang ini mah gas terus ... ha ha ha ..." sahut Zayn.
"Bener-bener, tapi belum ada hasilnya? akh ... cemen. Mbak Susi ganti saja suaminya? pasti cepat punya momongan," Sultan nyeleneh dengan tujuannya bercanda.
Membuat semua pria di saya pun ikut tertawa.
"Emang kalau ganti, akan cepat dapat anak?" tanya Susi sembari mengarahkan pandangannya ke Sultan.
"Oo! dapat dong. Bukan cuma dapat enak tapi dapat anak juga. Apalagi suaminya seperti saya, ha ha ha ..." lagi-lagi Sultan tertawa lepas.
"Akh, dasar. Kurang ajar, nggak usah di dengerin. Ini orang gila."Zayn melempar bantal sofa ke arah Sultan yang kini menyeringai.
Susi celingak-celinguk seperti orang kebingungan.
Abah yang sedari tadi hanya tertawa terkekeh, mendengar obrolan anak-anak muda ini. Apalagi pak Wijaya tak berhenti tertawa.
"Tante mana, Om?" pada akhirnya Susi bertanya yang ia tujukan pada pak Wijaya.
"Ih, tadi sih ... katanya ku e salon, yang ada di lantai atas." balas pak Wijaya sambil menunjuk ke lantai atas.
Netra mata Susi mengarah ke atas, lalu kembali ke arah pak Wijaya. "Ooh."
"Papa, boleh gak?" suara Rania ketika masih berada di tangga.
Semua mata menoleh ke arah Rania yang menuruni anak tangga, di susul oleh sang Mama.
Lalu Arya menoleh ke arah Sultan. Dengan mata di mainkan. "Kau serius? mau ngajak jalan adek aku dan anak ku?"
"Ya, iyalah, kalau di ijinkan! Kalau gak di ijinkan ya ... tak paksa," Sultan nyengir.
"Paksa kepala mu, tidak. Jangan dulu jauh-jauh. Kecuali ke Mall yang terdekat." Jelas Arya.
Sultan terperanjat. "Beneran bro? gak main-main kan, serius kan?"
"Nggak, awas lho ya? nyakitin adek gue tunggu pembalasan nya! sedikit aja ada yang luka, aku potong-potong burung mu Tan. Jangan coba-coba kau." Tambah Arya dengan tatapan yang tajam ke arah Sultan.
"Waduh, jangan dong! nanti saya tidak bisa memproduksi anak dong, boro-boro enak. Asal ya kalau ngomong." Sultan dengan refleks memegang barangnya. Tangan yang satunya menunjuk ke arah Arya yang menyeringai.
"Puas, makan tuh burung pipit! potong habis ..." Zayn mengibaskan tangannya seakan puas dengan omongan Arya yang di arahkan pada Sultan.
"Emang, om Tatan punya burung? burung apa?" tanya Rania penasaran.
Heningh!
Semua orang terdiam. Mendengar pertanyaan anak kecil itu. Dan matanya menatap ke arah Rania yang tampak penasaran.
Membuat Fatma yang kini duduk di sebelah Arya, menyenggol tangan Arya seraya berbisik. "Aa kalau ngomong, lihat-lihat dulu, di atas juga aku di bikin kebingungan dengan pertanyaan yang bukan kapasitasnya."
"Em, em ... punya, om Tatan punya burung di rumahnya, dan Papa mau potong buat di goreng, iya." Ralat Arya sambil mengusap kepala Rania yang berada di sampingnya.
"I-iya, Om Tatan punya burung di rumah, iya. Enak aja si papa mau potong! di pasar juga banyak ya?" sambung Sultan.
Zayn nyengir seraya memberi isyarat dengan jarinya yang memotong lehernya sendiri. Sultan membalas dengan melotot.
"Iya, tapi mau dong. Daging burung, enak gak?" tanya Rania kembali.
"Oh, enak banget. Apalagi burung yang tidak bersayap, wieh enak sekali." Jawab Zayn yang tambah ngelantur.
"Kok gak bersayap sih? kan semua burung ada sayapnya." Rania heran.
"Ada, burung papa gak ada sayapnya, cuma berbulu dan bertelur dua." Sultan apalagi tambah gila.
__ADS_1
Bugh!
Bantal sofa bersarang ke pangkuannya Sultan. "Ngelantur aja ngomong!" Arya melotot dengan sempurna.
Membuat Sultan tambah terkekeh begitupun dengan yang lain.
"Aku gak tahu kalau Papa punya burung, di apartemen juga ga ada tuh. Di mana sih?" Rania makin penasaran.
Arya meraih tangan Rania sembari berkata. "Sayang, sebaiknya Rania siap-siap dan bilangin sama aunty. Mau ikut jalan gak sama om Tatan? sana bilangin!"
"Oke, Papa." Anak itu berlari ke arah tangga.
"Rania sayang, jangan lari-lari lho," pinta Fatma ketika melihat putrinya berlarian.
Anak itu cuma menoleh dan mengangguk, menunjukan giginya yang berbaris putih.
"Emang, Nak Sultan mau mau ajak mereka ke mana?" selidik abah memandangi ke arah Sultan.
"Wah ... anak muda mau PDKT nih?" tambah pak Wijaya.
"Ya paling ke Mall terdekat, kata Abang juga," balas sultan sembari melirik ke arah Arya yang kebetulan sedang berbincang dengan istrinya dan Susi.
Dari lantai atas terlihat Bu Wati, umi Santi dan Dewi juga Rania. Berjalan menuruni anak tangga.
Gadis berkerudung hitam pasmina itu tampak anggun. Walaupun penampilannya terbilang sederhana, namun terlihat tetap terlihat cantik, tidak kalah dengan gadis yang berpenampilan modis.
"Eeh, ada Sultan. Sudah lama?" sapa umi Santi setelah berada di sana.
Sultan langsung sungkeman pada umi Santi dengan hormatnya. "Apa kabar umi?"
"Baik, Alhamdulillah. Oya ini siapa meni kasep dan cantik." Umi Santi mengedarkan netra nya ke arah Zayn dan Susi yang mengangguk.
"Kalau ini, ponakan saya+asistennya Fatma. namanya Zayn dan dia istrinya." Bu Fatma perkenalkan mereka berdua.
"Ooh, kenalkan atuh ya? Umi ini uminya, Aa." Seraya menoleh ke arah Arya.
"Saya Zayn dan ini istri saya Susi." Mereka pun berjabat tangan.
Sultan langsung pamitan dan mengajak Dewi dan Rania untuk jalan-jalan.
"Oma, Umi. Mama, Rania pergi dulu ya? mau jalan-jalan sama Om Tatan dan aunty. Mau di bawakan oleh-oleh apa? nanti Rania belanjakan yang buanyak ... deh." Dengan anak-anak nya.
"Umi, nggak minta apa-apa, kecuali minta cucu umi ini pulang dengan selamat." Kata umi.
"Iya, Oma juga gak mau apa-apa ya Umi. Pengennya Rania cepat pulang aja." Bu Wati menoleh ke arah umi dan Rania bergantian. Lalu mencium kening Rania.
Rania berjalan mendekati opanya. "Opa, Abah. Om ... sapa?" menunjuk Zayn.
"Iya, Om Zayn. Maaf ya Rania lupa dikit ... Rania pergi dulu ya?" bersalaman dengan semuanya.
"Iya. Hati-hati ya anak manis." Semua melambaikan tangan.
Rania berjalan duluan dengan Dewi ke depan.
"Jangan lama-lama 30 menit saja. Pokoknya cepat pulang," jelas Arya ke Sultan.
"Masa 30 menit yang bener saja?" protes Sultan kepada Arya.
"Titip Rania ya Tan?" kata Fatma menatap Sultan yang langsung mengangguk.
Arya cuma mengibaskan tangannya di udara. Kemudian Sultan pun berlalu menyusul Dewi dan Rania yang sudah berada di teras.
"Wa'alaikum salam." Arya seiring kepergian Sultan.
Sultan menoleh dan lantas ucapkan salam. "Assalamu'alikum?"
"Wa'alaikum salam." Jawab semuanya dengan serempak.
"Oya Sus. Menginap aja di sini ya biar rame, lagian acaranya dua hari lagi." Pinta Fatma sembari menatap Susi.
Susi melirik sang suami. "Boleh, Susi juga mau menginap di sini. Tempatnya tidak jauh beda dengan mension tuan Ibra ya?" maniknya mendongak melihat suasana Mension tersebut.
"Yu, ikut aku ke atas?" ajak Fatma seraya berdiri.
"Ayo," Susi juga berdiri dan mengikuti langkah Fatma.
"Aa, aku ke atas dulu. Bentar lagi Maghrib," Fatma menoleh ke arah suaminya.
Arya mengangguk. Lalu melanjutkan obrolan dengan orang tuanya dan juga Zayn.
"Semalam Umi, bermimpi lho, mimpi menimang baby perempuan. Tapi anak itu malah menghilang begitu saja, Umi memanggil-manggil histeris. Tapi anak itu tetap hilang, sampai Umi terbangun mendengar suara ngorok nya Abah." Umi bercerita tentang mimpinya semalam.
Fatma yang baru beberapa langkahnya terhenti dan mendengarkan cerita umi Santi. Begitupun Susi berdiri dan melihat ke arah perempuan paruh baya yang berkerudung tersebut.
Degh!
Tiba-tiba hati Fatma menjadi was-was, dag-dig-dug tidak karuan khawatir akan mengalami sesuatu pada dirinya walau entah apa itu.
Semua yang mendengar saling lempar pandangan. Dalam hati mereka bertanya-tanya apa itu, apakah cuma mimpi atau memang mengandung arti?
Heningh!
__ADS_1
Arya mendongak melihat sang istri yang berdiri di tengah-tengah tangga dengan wajah mengarah ke lantai bawah, tepatnya ke arah mereka semua.
Abah mengerutkan keningnya seraya berkata dengan lirih. "Itu cuma mimpi. Dan tidak perlu kalian semua pikirkan itu, cuma bunga mimpi Umi saja."
"Sebenarnya. Saya juga pernah bermimpi, Cuma dalam mimpi saya itu, Rania ngamuk meminta adek baby. Tetapi ... bahunya di bawa nyak orang ke tempat peristirahatan terakhir gitu, saya langsung terbangun dan terbengong-bengong. Walau itu cuma mimpi, tapi bikin hati ini terhiris, sedih." Lirih Bu Wati.
Lagi-lagi semua dibuat terdiam tak berkata-kata, apalagi Arya dan Zayn yang tidak tahu harus berkata apa?
"Sudah-sudah, baiknya kita menunaikan Maghrib dulu, Tuh sudah terdengar suara adzan memanggil kita." Pak Wijaya menyudahi obrolan mereka dengan cara berdiri.
Fatma pun bergerak melihat ke arah Susi yang masih berdiri di dekatnya sambil bengong. Memorinya berputar, mengingat tentang baby. Dia pun ingin sekali punya baby.
"Yu, Sus. Aku antar ke kamar mu aja dulu! sudah Maghrib soalnya. Nanti saja kita jalan-jalan nya ya?" ungkap Fatma.
"Oh, iya. Oya, Kak. Emang umi berapa anaknya?" tanya Susi, kalau orang tua Fatma tentu ia tahu anaknya cuma Fatma seorang.
"Umi, anaknya itu, Aa. Dewi terus yang bungsu di kampung, ada tiga. Iya," sahut Fatma sambil jalan.
"Yang sudah menikah berarti Aa ya?" selidik Susi. "Aa itu tampak sangat sayang sama Kak Fatma dan Rania ya? sudah tampan, baik, penyayang lagi."
Fatma tersenyum simpul. "Hem ...Zayn juga baik, tampan dan sayang sama kamu. Iya sih dulunya playboy. Tahu dong?"
"Tahu, Kak. Ceweknya ganti-ganti Mulu. Pada akhirnya tuan Ibra dan nyonya Laras menjodohkan kami berdua deh." Kenang Susi.
"Oya, aku pernah beberapa kali bertemu mereka, semuanya baik, Oya dulunya itu, kan Ibra itu istrinya banyak ya?" kata Fatma.
"Oya, 3 eh 4. Tapi yang bener sih dua aja cuma istri pertama gak kunjung memberikan keturunan. Nikah lagi, nikah lagi. Hingga akhirnya istri pertama menikahkan tuan dengan nyonya Laras. Punya anak deh, tatapi setelah bercerai dan menikah lagi. Si istri pertama punya anak juga dari suami barunya," ujar Susi panjang lebar. Cerita tentang majikannya dulu.
"Oya? berarti belum rejeki saja Susi," sambung Fatma sembari menyampingkan rambutnya.
"Mungkin Susi juga harus ganti suami kali ya? kali aja nanti punya anak, he he he ..." ucap Susi ngelantur.
"Huus! belum saja. Lagian kalian masih baru juga. Banyak kok berumah tangga sudah belasan bahkan puluhan, tapi baru dikarunia anak. Sabar dan usaha." Fatma mengusap bahu Susi.
"Usaha, sudah, tiap hari malah, kata orang hubungannya ketika masa subur. Sudah sering aku lakukan juga, masih belum juga ada hasilnya." Susi menghela napas dalam-dalam.
"Sabar, usaha terus dan berdoa. Siapa tau Allah cuma menundanya. Menunggu waktu yang lebih tepat." Fatma memberi dukungan pada Susi yang tampak berputus asa.
"Iya, Kak. Semoga kak Fatma juga segera punya momongan ya?" Susi berusaha tersenyum di hadapan Fatma.
Fatma mengangguk. "Oya. Ini kamar mu, nanti kita bertemu lagi di meja makan, makan malam."
Pandangan Susi menyapu seluruh kamar tersebut setelah pintu tersebut Fatma buka. "Terus suami ku tidur di mana?"
Fatma mengerutkan keningnya. "Ya, di sini bareng kamu."
"He he he ... Kirain di pisah." Susi menunjukan gigi putihnya.
"Ya sudah. Aku tinggal dulu ya?" Fatma membawa langkah nya menuju kamar pribadinya.
Di kamar sudah ada Arya yang sudah siap dengan sarung dan pecinya. Fatma bergegas ke kamar mandi, tidak kamu kemudian Fatma kembali dan Arya menyodorkan mukena buat Fatma. Ikut memakaikannya, keduanya menunaikan magrib dengan khusu.
Di kamar Susi. Kini sedang melipat bekas salatnya, melirik ke arah sang suami yang berada di sofa duduk berbaring. Sambil sibuk dengan ponselnya entah sedang apa dengan ponsel itu.
Susi mendekati lantas duduk di atas paha Zayn yang langsung menoleh. Susi makin menggeser pantatnya di atas paha tersebut.
"Jangan duduk di situ dong, Markonah ... nanti ada yang bangun! mau bertanggung jawab?" Zayn dengan nada datar.
Susi mengerucutkan bibirnya ke depan, tangan nya meraba perut Zayn dengan gerakan lembut.
"Diam Markonah, tau kan? suami mu ini paling gak tahan bila sudah kena sentuhan perempuan--"
"Oo! paling gak tahan bila kena sentuhan perempuan, termasuk perempuan lain? iya?" Susi langsung memotong perkataan Zayn, tidak segan menepuk si pisang cinta milik Zayn.
"Iya, makanya aku sering cepat pulang dan memintanya padamu." Jawab Zayn jujur, menangkupkan tangannya di pisang cinta yang terasa ngilu dan dengan refleks bangun.
"Alasan!" Susi cemberut.
"Alasan apaan? memang begitu kok," Zayn mengangkat tubuhnya untuk duduk tegak. Dan mendekatkan wajahnya ke wajah Susi yang jutek itu.
Tok ....
Tok ....
Tok ....
Suara ketukan pintu dari luar. Membuat keduanya menoleh ke arah pintu. Yang terjadi hanyalah tabrakan hidung ketika sama-sama melihat ke arah pintu.
"Tuan. Di tunggu di ruang makan?" suara asisten rumah tangga.
"Ck, Iya. Tunggu saja sebentar." Sedikit berdecak kesal.
Terdengar suara derap langkah yang menjauhi pintu.
"Makanya jangan suka mancing-mancing, gimana kalau sudah bangun gini?" Zayn kesal sembari mengangkat tubuh mungil Susi dai pahanya.
"Bodo amat. Aku gak perduli." Susi ketus sambil lagi-lagi menepuk barang yang tadi sembari menjauh.
"Wih ... dasar Markonah!" Zayn mendelik ke arah sang istri ....
****
__ADS_1
Mohon dukungannya ya reader ku semua🙏 kok sepi sih?