
"Tolong, Bun. Tinggalkan aku sendiri." Renata memohon dengan tatapan mata yang berembun.
"Jangan, menangis terus sayang, sudah malam. Istirahat dan jangan banyak pikiran sebab kamu juga akan mendapatkan kebahagiaan," ungkap bunda Tita sambil melangkah mundur mendekati pintu dan akhirnya keluar dari kamar Renata. Meninggalkannya sendiri dalam keadaan sedih.
Sepeninggalnya sang bunda, Rena mengunci pintu rapat-rapat. Membereskan kembali bantal guling yang berserakan di lantai, tangannya memukul-mukul kasur sebagai luapan kekecewaannya.
"Mungkin bunda benar, kalau aku gak main api? gak mungkin aku terbakar sendiri, tapi buktinya Arya juga bermain di belakang ku." Gumam Rena sambil menyeka kasar air matanya kasar.
"Aku harus mencari tahu siapa wanita itu yang sebenarnya?" ucap Renata bermonolog sendiri, kemudian Renata mengambil laptop dan mencari data wanita yang bersama Arya itu, yang Doni bilang seorang pengusaha atau rekan bisnis orang tua nya Doni.
Dengan mudahnya Renata temukan data-data seorang CEO wanita yang sukses bernama Fatmala yang kini berstatus janda dan dikarenakan penganiayaan dari suami yang punya penyakit psikopat.
"Oh, janda? pantas saja mereka ... lengket macam itu dasar janda gatal. Haus sentuhan rupanya? hem," bibir Rania sedikit mencibir.
Renata menutup laptopnya ia simpan di atas meja. "Aku tidak mau disalahkan, sementara Arya berlaku yang sama."
Keesokan harinya. Renata menghubungi Sultan dengan tujuan minta tolong untuk dipertemukan dengan Arya, sebab nomor Renata tidak pernah Arya tanggapi sama sekali.
Dan apa yang terjadi? Sultan menolak mentah-mentah permintaan Renata dengan alasan sibuk dan Arya sendiri untuk saat ini tidak ingin di ganggu oleh kehadiran Renata.
__ADS_1
"Argh ... susah amat sih? padahal aku cuma mau minta maaf." Gumaman Renata kesal dengan nada menggerutu.
"Kenapa sayang? pagi-pagi dah menggerutu aja, pagi-pagi itu sarapan!" suara bunda nya Renata yang ditanggapi dengan lirikan oleh putrinya itu.
Bunda Tita memandangi wajah sang putri yang sembab akibat menangis semalam. "Lihat dirimu, mata mu sembab gitu! buat apa ditangisi? toh semua sudah terjadi. Kamu juga mau menikah dengan Doni."
"Bun, ini bukan salah aku sepenuhnya. Emang dasarnya Arya juga yang salah, Bun. Dia lagi dekat dengan janda anak satu itu," sahut Renata dengan nada sinis.
"Lho, bukankah mereka memang sudah saling mengenal dari lama?" selidik sang bunda.
"Iya, tapi makin ke sini makin dekat nan mesra. Ada kok beritanya di medsos, wanita itu kan CEO muda yang sukses. Kaya raya dan suaminya psikopat, istrinya di aniaya. Makanya si wanita itu menggugat cerai, atau mungkin memang mereka selingkuh kali ya dari lama? atau si suaminya curiga kalau istrinya ada main sama arya?" ujar Renata berspekulasi sendiri.
"Tapi, Rena cuma ingin minta maaf Bun. Minta maaf," ucap Renata sambil memasukan roti ke dalam mulutnya.
"Untuk itu, nanti saja. Mungkin sekarang dia butuh waktu," lirih bunda lalu memulai sarapannya.
Selesai sarapan, Renata masuk ke kamarnya untuk mengambil tas, dia masih penasaran. Renata mau menjumpai Arya di apartemennya. Atau bila perlu datangi saja kantor Fatmala dan temui dia.
Kebetulan sang bunda sudah berangkat ke toko nya. Renata menjadi lebih leluasa untuk pergi. Ia masuk ke dalam taksi online yang dia pesan sebelumnya.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan. Renata terus saja berspekulasi sendiri tentang Arya dan Fatma, menurutnya mereka ada main jauh sebelum memutuskan pertunangannya. Dalam hati kecil, Renata pun menyadari kalau dirinya salah sudah mengkhianati Arya, dengan Doni tapi tidak terbesit sama sekali untuk meninggalkan Arya. Malah yang akan dia tinggalkan justru Doni sebagai selingkuhannya! bukan Arya.
Renata menghela napas panjang, lantas mengusap air matanya yang tidak terasa mengalir membasahi pipi. Setibanya di area apartemen Arya, Renata berpesan pada supir untuk menunggunya sebentar. Gadis yang memiliki body goals berjalan memasuki gedung tersebut menuju unit Arya.
Setelah sekian waktu berjalan akhirnya Renata sampai di depan unit milik Arya. Kebetulan bertemu dengan tetangga unitnya Arya.
Renata tersenyum ramah. "Arya nya ada gak?"
"Sepertinya kosong, Mbak." jawabnya tak kalah ramah.
"Ooh, makasih ya?" Renata mengangguk hormat. Kemudian menatap daun pintu tersebut dan coba membukanya karena biasanya juga dia tau kode aksesnya. Namun beberapa kali pun tidak terbuka sepertinya Arya sudah mengubah kode nya.
Plak!
Telapak tangan Renata memukul daun pintu. "Rupanya kamu benar-benar sudah menutup semua pintu buat aku, orang yang telah lama bersama mu. Orang yang mencintai mu." Lagi-lagi netra mata Renata berembun. Linangan air mata yang membasahi pipi luapan rasa sakit yang menyesakan dada ....
****
Jangan lupa dukungannya. Makasih banyak semua reader ku🙏
__ADS_1