Mencintai Ibu Angkatku

Mencintai Ibu Angkatku
Maafkan aku


__ADS_3

"Iya, Umi. Rania harus sekolah, mantu Umi ini juga harus ngantor. Jadinya harus segera pulang." Arya mengangguk dan menarik bahu Fatma.


"Nggak bisa tinggal lebih lama lagi guru?" tanya umi kembali.


"Aa juga lusa ada tugas, umi. Lain kali saja kita ke sini lagi atau Umi ke Jakarta saja," sambung Arya.


"Oya, Umi. Kami harus segera pulang." Fatma menggenggam tangan umi Santi.


"Saya juga Minggu ini mau berangkat lagi ke luar Negeri. Sudah terlalu lama meninggalkan tempat tinggal kami di sana. Padahal saya juga betah lho tinggal di Bandung ini apalagi di dekat rumah Umi," ujar Bu Wati.


"Hem, kalian mau meninggalkan kami lagi," umi tampak sedih. "Tapi memang ada pertemuan pasti ada juga perpisahan, dan semoga kita semua bisa berkumpul kembali ya?" Umi merubah wajahnya menjadi sumringah.


"Aamiin. Semoga seperti itu. Dan saya titip Fatma dan Rania ya Umi? secara Jakarta Bandung kan lebih dekat. Sementara saya jauh," sambung Bu Wati.


"Insya Allah, jadi sedih ah. Bicaranya seperti gimana gitu?" Umi senyum getir. Lantas berpelukan dengan Bu Wati.


Fatma melempar pandangan pada Arya setelah melihat ibu mertua dan Ibunda berpelukan.


"Aunty juga nanti main ke rumah Rania ya? di sana lu ...as sekali. Ada kolam renangnya. Taman bermainnya juga terus taman bunga juga ada." Ajak Rania pada Dewi yang berdiri memandangi kebun bunga anggrek putih.


"Em, iya. Kapan-kapan aunty main ke sana!" balas Dewi menoleh pada Rania. "Tapi ... kalau aunty ke sana Rania senang gak?"


"Seneng dong. Jadi Rania tambah teman lah," akunya Rania.


"Sudah ah, yu pulang. Kaya mau ujian nih." Fatma menuntun Rania berjalan. Keluar area.


"Kalian di mobil pak Harlan ya pulangnya, seperti tadi." Arya menyusul Fatma dan Rania.


Dewi, umi dan Bu Wati perlahan merayap juga keluarga dari area tempat wisata itu. Dan meninggalkan orang-orang yang masih banyak menikmati tempat tersebut.


Kini Arya sedang menikmati secangkir teh hangat buatan Fatma dan sekaligus di temani sang istri di sampingnya, sementara Rania sudah tidur pulas.


"Aa?"

__ADS_1


"Hem, ada apa?" sahut Arya sambil memeluk bahu Fatma berada dalam pelukannya.


"Aku, sudah pikirkan matang-matang, kalau aku akan berhentikan Mia."


Sejenak Arya terdiam. Seakan sedang memikirkan sesuatu. "Aa, jadi gak enak nih, gara-gara Aa dia sampai di pecat, Aa minta maaf sayang." Arya jadi merasa bersalah.


"Aku gak mau ada pengganggu dalam rumah tangga kita yang baru di mulai ini." Kepala Fatma menggeleng.


Mendengar itu, Arya semakin merasa bersalah. Kenapa dulu sebelum menikah bisa menjaga jarak dengan wanita lain apalagi bukan muhrim, namun sekarang ia malah terjebak dengan sesuatu yang gak penting. Arya mengusap kasar wajahnya dan terlihat frustasi.


Dia jadi bingung harus menjelaskan gimana lagi dengan kesalahan yang ia perbuat kali ini, berasa inilah kesalahan terbesar dalam sejarah percintaan dalam hidupnya. Arya benar-benar menyesal, kegusarannya begitu nampak di wajah Arya.


Tangan Fatma bergerak mengarah menyentuh leher Arya. "Aa kenapa gelisah begitu?" dengan suara sangat lembut.


"Ha? Aa menyesal. Sangat menyesal, aku merasa bersalah. Bersalah pada istri Aa ini. Maafkan aku!" meraih tangan Fatma ia cium berkali-kali sebagai permintaan maafnya.


Kedua Matanya berair. Permintaan maaf dari Arya begitu tulus dari lubuk hati yang paling dalam, benar-benar menyesali apa yang sudah ia perbuat di hari ini, merasa sangat berdosa. Dan tak ingin mengulang lagi.


"Harus dengan cara apa Aa untuk menebus kesalahan yang sudah ku perbuat ini? Aku gak mau sayang marah sama Aa. Gak mau!" Arya menggelengkan kepalanya pelan.


"Mana ada sayang, cuma ... entah kenapa aku merasa sangat bersalah saja dan merasa sangat berdosa dan entah kenapa juga ini sangat-sangat mengganggu hati dan pikiran Aa." Keluh Arya.


"Ya, sudah. Jangan di pikirkan, aku gak marah kok sama kamu. Cuma aku gak mau lagi ngasih celah buat wanita penggoda suami orang--"


Cuph! Arya mendaratkan kecupan lembutnya di kening Fatma.


"Dan aku mendoakan semoga dia segera mendapatkan pria yang baik dan pantas menjadi jodohnya. Suami ku yang satu ini harus benar-benar menjadi suami ku seutuhnya," sambung Fatma.


"Aku menyesal, sayang. Aku menyesal." Ulang Arya seraya menempelkan dagunya di pucuk kepala Fatma yang dengan betahnya berada dalam pelukan sang suami.


"Seperti yang Aa bilang, Aa gak bisa janjikan sesuatu. Tetapi akan berusaha untuk membuatku bahagia dan juga Rania."


"Iya sayang, aku akan berusaha membuat kalian bahagia." Bisik Arya sembari menghela napas panjang. Melirik ke arah Rania yang tampak nyenyak.

__ADS_1


"Makanya. Aku akan berhentikan Mia, aku gak suka ada orang lain mendekati milik ku lagi. Walaupun Aa tidak merasakan apa-apa ataupun tidak merespon sekalipun. Aku gak mau!" ujar Fatma kembali.


"Iya sayang. Lakukanlah bila itu dirasa baik untuk kita bersama." Arya semakin merekatkan pelukannya ke tubuh sang istri yang kali ini mengenakan piyama motif bunga.


"Aku percaya kok, kalau kamu itu punya batasan dan tadi juga gak menyentuhnya langsung, kan?" kepala Fatma mendongak.


"Nggak sayang ... gak menyentuh kulitnya langsung, nggak. Allah saksinya. Kalau dulu sih waktu hubungan sama matan! ya ... wajarlah kalau peluk dan cium pipi?" akunya Arya di tambahi dengan menggoda Fatma. "Ya ... seperti yang sayang tahu lah."


"Ah ... peluk cium dia! aku cemburu! iih ..." Fatma menegakkan duduknya dan tangan Fatma beberapa kali memukul dada Arya.


Arya menangkap kedua tangan Fatma. "Itu kan dulu sayang ... ketika masih tunangan. Lagian sebatas pipi dan kening kok gak lebih," bela Arya kembali mendekap tubuh Fatma sangat erat.


"Em ... tapi aku cemburu!" Fatma berontak.


"Sett ... jangan berisik? nanti Rania bangun dan orang yang gak suka akan kebahagiaan kita akan merasa senang." Arya menempelkan telunjuknya di bibir Fatma.


Setalah melirik ke arah Rania, Fatma mencibirkan bibirnya dan berniat menggigit jari Arya gemas. "Terus, ciuman pertama kamu sama siapa?" selidik Fatma penasaran.


"Em ... siapa ya?" Arya mengetuk-ngetukkan jari ke dagunya.


Fatma menatap penuh penasaran, hatinya berasa panas membayangkan Arya bersentuhan dengan wanita lain meskipun itu tunangannya dulu.


"Iih! gak jawab?" kesal.


"Harus, gitu?" goda Arya sambil mencolek dagunya Fatmala.


"Nggak usah, jangan di jawab." Fatma beranjak dari duduknya.


Namun Arya tarik tangannya dan ia dudukan Fatma di pangkuannya Arya. Fatma menatap heran dengan refleks tangannya melingkar di pundak Arya.


"Katanya mau tahu!" bisik Arya tepat di telinga Fatma dan seakan menghembuskan napasnya di sana membuat perasaan Fatma seketika dag-dig-dug tidak karuan ....


****

__ADS_1


Apa kabar reader ku semua, semoga yang sedang sakit segera sembuh. Yang sedang merasa sulit segera dilapangkan. Aamiin.


__ADS_2