
"Iya, Wi. Aa mau berangkat nanti sore, Oya sayang, sekarang boleh main aja dulu. Perginya sore kok," ucap Arya sambil melihat jam tangan.
"Ooh ... oke. Rania main dulu ya?" Rania kembali ke tempat bermain.
"Iya. Main aja dulu. Papa mau istirahat juga. Dewi, titip Rania ya? Aa, mau istirahat."
"Iya, Aa." Dewi mengangguk.
Arya membawa langkahnya menyusuri jalan menuju kamarnya itu. Namun ketika mau masuk kamar, terdengar suara Sultan di bawah.
Membuat Arya berbalik mendekati tangga mengintip ke bawah yang benar saja. Di sana ada Sultan dan pak Wijaya. Bu Wati, tengah berbincang.
Sultan menoleh ke atas. Melihat Arya sedang melihat ke arah dirinya. "Bro?" Mengangkat tangan.
"Hi." Arya mengayunkan langkahnya menuruni anak tangga.
"Ada apa ke sini?" tanya Arya setelah berada dekat dan duduk di dekat Sultan.
"Gitu amat nanya nya? gak boleh apa ke sini?" Sultan menautkan alisnya.
"Boleh. Oya, aku jadi, nanti sore berangkat. Paling beberapa hari sih di sana!" Kata Arya.
"Ya udah kita juga sekalian aja Yah berangkat nanti sore sama Arya, biar mampir dulu ke tempat ke tempat Fatma ya, Yah?" Bu Wati berucap pada sang suami.
"Boleh. Tapi kita belum beli tiket nya, Bu?" balas pak Wijaya, menatap ke arah suaminya itu.
"Ayah ini gimana sih? kan tinggal klik saja di ponsel. Cepetan sapa tau dapat." Pinta Bu Wati.
"Iya, Yah ... online saja." Arya mengangguk.
"Iya-iya. Sebentar." Pak Wijaya mengambil ponselnya.
"Jadi ceritanya om dan Tante mau hanymoon nih?" tanya Sultan menatap pasangan pasutri ini.
"Bukan hanymoon. Nak Sultan, mau kunjungi rumah di Belanda, sekalian aja mampir ke tempat Fatma, nanti Rania kalau mau Ibu ajak ya, Aa?" ujar Bu Wati.
"Itu, soal nanti saja, Bu. Kalau Rania mau, silakan ajak ke sana. Kalau gak mau berarti Aa ajak pulang ke indo lagi. Lagian harus sekolah, kan?" Arya pelan.
"Iya juga sih. Tapi Ayah sama Ibu paling satu hari saja di tempat Fatma, takut ganggu! jangan lama-lama, Bu. Di sana. Mereka pasti punya privasi lho." pak Wijaya melirik sang istri seolah memberi kode.
"Oh, iya. Ibu lupa! hi hi hi ..." Bu Wati senyum simpul.
"Ah, Tante. Ini gimana sih? dah tau ke sana itu bukan cuma temu muka tapi temu kangen yang itu tuh ..." Sultan nimbrung.
Plak!
"Bicara apa sih lu?" Arya mesem-mesem. "Sok tau lu."
"Emang, terus ngapain lagi coba, kalau bukan butuh asupan gizi yang itu? benarkan? orang yang sudah menikah itu pasti kesepian bila berjauhan, ngaku aja?" Sultan dengan yakin.
__ADS_1
Pak Wijaya mengacungkan jempolnya pada Sultan. "Bener itu, Nak Sultan. Kita berjauhan sama istri itu sepi. Sepi benget. Apalagi kalau sudah ada yang bangun. Rasanya pengen marah tapi sama siapa? pengen juga, gak ada orangnya. Wah nanti kalau kau sudah menikah! pasti rasain lah."
"Beneran itu, Makanya dimana Ayah jauh dari Ibu? Aa, Nak Sultan. Kebanyakan kita selalu bersama, Kemana pun selalu bersama. Apalagi bobo, nempel terus lho." Bu Wati menambahkan perkataan sang suami.
"Iya sih, Ibu dan Ayah selalu romantis dan tampak awet muda. Tidak terlihat atau terdengar cekcok sedikitpun, selalu rukun." Arya perlihatkan rasa kagum sama mertua nya.
"Berarti berumah tangga itu harus seperti om dan Tante yang rukun dan romantis ya bro?" Sultan melempar pandangan pada Arya dibarengi dengan senyuman.
"Yaps. Ayah dan Ibu, patut di contoh lah." Arya acungkan jempol.
"Setiap rumah tangga, pasti ada ada aja. Percekcokan, pasti ada. Cuman besar atau kecil nya saja, yang kecil diperbesar ya repot. Apalagi yang besar?" sahut pak Wijaya.
"Tak ada rumah tangga yang adem ayem selamanya. Pasti masalah itu akan selalu mendera. Cuman bagaimana cara kita menghadapi nya saja." Tambah Bu Wati.
Semua mengangguk-anggukan kepalanya masing-masing. Menyimak perkataan dari Bu Wati.
"Itu benar, bahkan pria muda dan sukses itu godaannya banyak khususnya dari wanita-wanita di luaran sana." Tambah pak Wijaya.
Sultan mengangguk seraya berkata. "Itu pasti Om. Banyak godaan nya itu pasti dan wajar--"
"Wajar kalau tidak tergoda, tapi kalau sampai tergoda? itu namanya kurang ajar." Timpal Arya menatap Sultan.
"Eat ... jangan lihat ke sini dong bro, aku belum menikah nih dan aku gak bakalan begitu! tenang saja bro aku tipe pria setia." Kata Sultan sambil nyengir.
"Terus, Dewi biar di sini saja mewakili Fatma ya, Aa? biar dia bersama Bu Ina mengawasi pekerja lainnya." Tambah Bu Wati.
"Kalau soal Dewi sih, ada Sultan nih, ohuk-ohuk." Sultan menepuk dadanya hingga terbatuk-batuk.
"I-iya ... maksud ku biar Sultan yang menjaganya. Gitu!" ucap Sultan.
"Dewi bukan anak kecil. Lagian selama aku pergi, Dewi tidak ku ijinkan pergi selain di rumah ini. Kalau kamu mau sesekali ke sini sih boleh," ungkap Arya. "Tapi jangan macam-macam!"
"Aduuh ... macam-macam apa sih? paling pandang gitu, pandang-pandang selayang pandang." Elak Sultan.
"Iya, Dewi di sini saja jangan kemana-mana. Lagian kalau sudah menikah kan Dewi gak di sini lagi," Bu Wati berpendapat.
"Iya, aduh ... kayanya lamaran nanti Om dan Tante gak bisa hadir nih, nanti saja pas menikah pasti kami hadir," ucap pak Wijaya menghela napas panjang.
"Nggak pa-pa, Om. Mohon doa nya saja, Supaya semuanya lancar." Sultan mengangguk.
"Tante doa kan kok, semoga semuanya lancar sampai menjadi suami istri. Ya kan Yah?" wanita paruh baya itu menoleh ke arah pak Wijaya.
"Iya, kami akan mendoakan kalian." Timpal pak Wijaya.
"Eeh Om Tatan ... mau ngajak jalan-jalan Rania sama aunty ya? gak bisa, sekarang Rania harus bobo dulu, kan nanti sore mau ke mama sama Papa." Suara Rania yang cempreng menghiasi gendang telinga.
Dia berlari dari tangga setelah melihat kehadiran Sultan di sana.
Semua mata menoleh ke arah Rania yang ngos-ngosan. dan matanya berbinar ceria.
__ADS_1
"Eeh ... Nona cantik. Dari mana? Om Tatan tadinya mau nyari, eh dah nongol duluan."
Rania mencium tangan Sultan. "Rania dari tempat bermain sama aunty. Om mau jemput jalan-jalan bukan?"
"Bukan, Om cuma mau main saja." Lalu mata Sultan melirik ke arah Dewi. Menunjukan senyumnya yang manis.
Sawi mengangguk seraya membalas senyuman dari Sultan.
"Ooh, Rania kira mau ngajak jalan. Habis Rania mau ikut papa, sementara kalian gak boleh jalan berdua lho ... kalau jalan berdua, yang ketiganya setan." Anak itu dengan jelasnya.
"Ha ha ha ... nggak, gak jalan. Di sini saja kok." Sultan tertawa mendengar perkataan Rania, begitupun yang lain ikut tersenyum pula.
"Ya udah, sekarang aunty antar dulu Rania ke kamarnya? nanti ke sini lagi. Sayang bobo siang dulu ya?" titah Arya melihat Rania dan Dewi bergantian.
"Iya, sayang bobo dulu, nanti kita pergi sama-sama." Kata Omanya Rania.
Rania bengong. "Oma mau ke luar Negeri juga?"
"Iya, Oma mau pulang, tapi mahu mampir ke mama dulu. Mau bertemu calon baby." Timpal Bu Wati dengan wajah yang sumringah.
"Asik ... hore ... mau ke mama sama Oma, opa. Papa yey ...."
Semua masang mata menatap lucu pada Rania yang berjingkrak-jingkrak kesenangan. Lalu berpamitan untuk tidur siang terlebih dahulu.
Dewi pun mengangguk pada Sultan sebagai minta ijin mau mengantar Rania sebentar.
Kemudian semua yang berada di sana melanjutkan perbincangan mereka.
"Ayah, gimana dapat tiketnya?" tanya Arya melirik ke arah pak Wijaya.
"Sudah, Alhamdulillah dapat. Siapkan semuanya, Bu. Kita jadi berangkat." Pria paruh baya itu juga menoleh pada sang istri.
"Iya. Ibu mau mau menyiapkan dulu semuanya." Bu Wati beranjak dari duduknya berjalan menuju arah dimana kamarnya berada.
Tinggallah tiga pria yang masih berkumpul di sana. Melanjutkan lagi obrolan.
"Berarti Om dan tante, tadinya gak pergi sekarang ya?" tanya Sultan menuju kan pandangan pada pak Wijaya.
"Tadinya mau lusa. Dipikir-pikir ya sekarang ajalah bareng-bareng."
"Tapi gak niat ganggu kan Om?" goda Sultan sambil melirik ke arah Arya yang menoleh dengan tatapan dingin.
"Ha ha ha ... nggak lah, kami pun mengerti kok. Masa mau mengganggu?" ucap pak Wijaya.
Arya menggeleng sambil senyum simpul ....
.
.
__ADS_1
Jangan lupa dukung juga "Gadis Satu Milyar Ku" ya🙏 terima kasih.