
"Nggak, gak ngantuk!" balas Arya sembari sedikit menoleh. Lalu kembali mengedarkan pandangan ke layar ponsel.
"Apa ... ada yang kau pikirkan?" selidik Fatma dia pun memegangi ponselnya.
"Em ... gak juga, tidurlah. Anda harus banyak istirahat biar lekas sehat," ucapan Arya diakhiri dengan kalimat menyuruh.
"Baiklah, aku akan istirahat kembali." Fatma merebahkan lagi tubuhnya mencoba memejamkan mata.
Waktu terus berputar namun manik mata Fatma tidak bisa di pejamkan lagi. Netra nya tidak pernah lepas dari gerak-geriknya Arya di atas sofa.
Melihat Arya menggelinjang bangun dan dengan cepat menoleh ke arahnya, Fatma segera memalingkan wajahnya ke lantai. Kalau sampai Arya tahu kalau dirinya memperhatikan, ia akan malu banget.
Sebab terdengar suara adzan yang mulai berkumandang. Arya menggelinjang bangun lantas melihat ke arah Fatma yang langsung memalingkan wajahnya. "Aku numpang mandi ya?"
"I-iya." Fatma menjawab dengan sangat singkat.
Arya meninggalkan ponselnya di atas meja. Lalu membawa langkahnya ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Sekitar sepuluh menitan Arya selesai mandi, keluar dengan sudah berpakaian lengkap kembali. Tubuh dan wajahnya tampak segar. "Aku ke mushola sebentar, apa butuh sesuatu?" suara Arya mengagetkan Fatma yang sepertinya melamun.
"Ha? ng-ngak. Makasih tawarannya, kamu boleh ke mushola. Aku gak pa-pa!" sahut Fatma.
Arya mengangguk dan melangkah pergi melintasi pintu. Di luar terdapat bodyguard Fatma dengan setia menjaga dan disaat melihat Arya keluar mereka mengangguk hormat seraya berkata. "Mau kemana Bang?"
Langkah Arya terhenti dan menoleh ke arah mereka. "Ke mushola, yu salat dulu?" ajak Arya.
Kedua orang itu saling pandang. Entah apa yang mereka pikirkan yang jelas terdiam dan hanya sorot mata yang berbicara.
Kapala Arya menoleh ke arah pintu kamar Fatma. "Kalau mau, bergantian saja, Jason di sini gak kosong." Saran Arya dengan tatapan yang mengajak.
Lagi-lagi mereka saling pandang. Kemudian salah satunya mengangguk pelan. "Saya duluan." Dan berjalan menghampiri Arya. Meninggalkan temannya yang berjaga.
__ADS_1
Arya dan satu bodyguard Fatma yang bernama Adi. Pria itu sekitar berusia 40 tahu berjalan beriringan dengan Arya menuju mushola tuk berjamaah subuh.
Selepas salat, Adi duluan mengundur diri dan memberi isyarat pada Arya kalau dia duluan dan Arya menanggapi dengan anggukan, sementara Arya berzikir sebentar.
Beberapa saat kemudian Arya beranjak dari mushola dan terlihat teman Adi masuk bersiap salat, bibir Arya tersenyum tipis ke arah pria tersebut. Sebelum kembali kamar fatma, Arya berniat mencari buat sarapan entah bubur atau apa.
Arya berjalan sambil menghirup udara yang masih bersih dan segar belum terlalu tercampur dengan polusi atau asap atau apalah namanya itu.
"Huuh ..." menarik napas lega. Setelah sepersekian menit berjalan akhirnya Arya menemukan yang berjualan bubur di sana dan langsung pesan 3 porsi. Lantas membawanya ke kamar inap Fatma.
langkah Arya kian melebar agar segera sampai di tempat tujuan, Tinggal beberapa meter lagi ke pintu Arya sudah menebar senyuman pada dua pria itu. Adi dan kawannya.
"Kang, sarapan. Aku bawakan bubur untuk kalian berdua, suka bubur gak?" tutur Arya dengan ramahnya.
"Oh suka, Tuan! suka. Aduh jadi ngerepotin," sambut Adi dengan nada gak enak.
"Syukurlah, kalau kalian suka, maksud saya kalau seandainya kalian gak suka bubur kalian cari aja yang lain--"
"Sama-sama, makan ya? jangan di bikin mubazir. Minumnya di dalam aja," sambung Arya sambil melangkah memasuki kamar inap Fatma.
"Assalumu'alaikum?" ucap Arya namun kedua matanya tak mendapati Fatma di tempatnya. "Kemana dia?" pandangan Arya menyapu semua ruangan.
Mendekati jendela dan membuka semua gorden agar sinar matahari dapat masuk. Terdengar suara air keran dari kamar mandi membuat Arya berpikir berarti Fatma berada di sana.
Benar saja, pas Arya melihat ke arah pintu. Fatma muncul dengan mengenakan handuk yang membalut atas dada sampai di pertengahan paha mulusnya. Arya seketika menelan saliva nya, jiwa lelakinya yang normal tak dapat dipungkiri dan terpesona dengan keindahannya.
Fatma terkesiap melihat Arya berdiri dan menghadap ke arahnya. Disaat dua pasang mata bertemu sontak Arya melemparkan pandangan ke lain arah dan Fatma sontak mundur menutup pintu kembali. Dia pikir Arya belum kembali sehingga ia berani mengenakan handuk keluar kamar mandi.
Dada keduanya bergemuruh hebat. Dag dig dug bagai bedug yang di tabuh, berdebar tak karuan. Jantung berdegup begitu kencang dan sulit tuk menetralkan. Fatma berusaha menarik napas dengan dengan teratur Huuh ... Huuh ... mencoba menetralkan perasaan.
Arya jadi gugup sendiri. Masih untung Fatma tidak berteriak! kalau saja berteriak bisa-bisa suasana riuh dan orang-orang menganggap Arya penjahat wanita.
__ADS_1
Setalah merasa agak lebih tenang. Fatma membuka pintu sedikit dan keluarkan kepala melihat Arya yang sekarang berada dekat tempat air minum tengah meneguk segelas air. "Maaf, bisa minta tolong?"
Arya menoleh sebentar. Lalu melihat ke lantai. "Boleh!" dengan dada masih tak menentu.
"Em, itu. Tolong ambilkan paper bag." Sambung Fatma menunjuk paper bag di atas ranjang sebelah.
Arya mengangguk dan bergegas berjalan mengambilnya. Lantas dibawa ke dekat pintu namun jalannya melipir agar agak tidak tepat di depan pintu.
Fatma mengulurkan tangannya untuk mengambil barang yang dia pinta. "Jangan ngintip!" pinta Fatma.
"Nggak Kak," sahut Arya yang memang terus menunduk dan membelakangi, takut melihat lagi. Walau dalam hati berbunga-bunga merasa dapat rejeki banyak nih.
Arya menyajikan buburnya di meja. Menunggu Fatma keluar dari kamar mandi dan Akhirnya Fatma keluar dengan mengenakan dress tangan pendek, panjang selutut. "Sarapan Kak? aku beli bubur dari depan."
"Em, kamu aja! aku nanti saja nunggu sarapan dari suster." Fatma naik ke ranjang pasien lagi.
Arya beranjak membawa buburnya ke dekat Fatma lantas duduk di dekatnya, seperti biasa Arya menyodorkan sendok ke mulut Fatma.
Fatma bengong matanya bergerak melihat ke arah Arya menatap wajah dan tatap mata keduanya pun bertemu.
Ser!
Darah dalam tubuh keduanya mengalir deras. Namun pada akhirnya Fatma membuka mulutnya dan menyambut asupan bubur dari Arya. Pria itu menunjukan senyumannya yang sangat menawan.
"Enak, kan? makan yang banyak. Biar cepat sembuh, cepat pulang!" ucap Arya.
"Iya, aku mau minta pulang hari ini itupun kalau di ijinkan. Kamu juga sudah bosan ya di sini?" balas Fatma di sela mengunyah.
"Sebagus apapun. Yang namanya Rumah sakit ya gak betah lah, kan?" sambung Arya.
"Banar! semoga aja diijinkan ya?" lanjut Fatma selepas menarik napas panjang.
__ADS_1
"Aamiin ya Allah. Oya nanti sore aku harus bertugas," ungkap Arya ....