
Namun Arya malah tertegun menatap ke arah kue itu. Pada akhirnya tangannya bergerak mengibas-ngibas supaya api lilinnya mati. Sesungguhnya ia masih tidak habis pikir ide siapa ini? dan yang tadi itu soal Sultan nembak Fatma, beneran atau sebagian dari ide mereka? atau memang murni Sultan suka pada Fatma.
Sultan menyenggol bahu Arya seraya berkata. "Jangan melamun! makanya jujur sama diri sendiri. Jangan di pendam."
"Jangan di pendam apaan?" Arya tetap tidak mengerti.
"Teman-teman, dengar ya? Arya itu sebenarnya sedang jatuh cinta, namun dia masih malu-malu untuk mengungkapkannya. Dia mengagumi seseorang." Timpal Sultan.
"Sama aku ya?" gumam Sofi dalam hati, gede rasa. Kali aja dia yang disukai Arya.
"Aku sih tau itu, buktinya malam ini die jeles, tidak suka melihat aku dengan orang yang sangat dia kagumi. Dan dia adalah--"
"Gimana kalau kita makan kue nya sekarang?" Arya memotong perkataan Sultan, dia panik kalau Sultan menyebut nama Fatma.
"Yu, makan-makan." Wisnu menyambut ajakan Arya.
Fatma terdiam dan berpikir, siapa sih wanita yang Arya kagumi atau yang bikin Arya jatuh cinta? terus kenapa dia gak suka melihat dirinya dan Sultan! apa mungkin Arya menginginkan dirinya?
Arya memotong-motong kue tart nya. Dan potongan pertama Arya pegang seraya dipandangi.
Membuat semua bertanya-tanya dan harap-harap cemas. Mau diberikan sama siapakah potongan yang pertama kue tersebut?
Apalagi Sofi, sangat berharap kalau potongan yang istimewa itu untuknya. Arya berikan padanya.
__ADS_1
"Sayang, Aa ... buka mulutnya? sebab kamulah wanita yang teristimewa di hatiku." Arya mendekati Sofi.
Netra mata Fatma menatap lekat ke arah Arya, yang mengarahkan tangan pada dirinya dengan suapan pertama. Arya menyuapkan potongan kue itu pada Fatma.
Sofi tersadar dari lamunannya. Kalau ternyata itu cuma dalam hayalan semata dan kenyataannya Arya menyuapi Fatma.
Semua bertepuk tangan, ikut bahagia ternyata wanita yang istimewa itu adalah Fatma. Arya dan Fatma saling bersitatap, tatapan Arya begitu mesra dan intens ke arah Fatma.
Kemudian Fatma tersenyum seraya menundukkan kepalanya ke lantai. Jantungnya berdegup begitu kencang dan dadanya terlihat naik turun dan mulutnya mengunyah kue tersebut.
"Ayu mana nih kuenya? malah bengong," Sultan pun memotong sendiri lantas ia berikan pada Sofi.
"Selamat ya Arya? semoga makin sukses dan segera dapat jodoh," ucap Wisnu menjabat tangan Arya.
Fatma mengernyitkan keningnya. Selalu bikin penasaran siapa sih yang Sultan maksud? bukakankah Arya sudah putus dengan tunangannya. Persaan Fatma menjadi galau dan menciut adakah wanita lain yang Arya inginkan? sementara kenapa harus bersikap cemburu pada Sultan tadi. Netra mata Fatma begitu lekat memperhatikan ke arah Arya.
"Makasih kapten, doa kan sajalah. Semoga secepatnya." Balas Arya penuh harap.
"Tentu, tentu saya dan yang lain akan mendoakan yang terbaik buat kamu." Wisnu memeluk Arya seraya mengusap punggungnya. "Iya kan temen-temen?"
"Iya dong, pasti," sahut yang lainnya serempak lalu berjabat tangan dan berpelukan dengan Arya bergantian. Kecuali wanita-wanita nya, cuma berjabat tangan saja.
"A, selamat ya? pokoknya doa terbaik saja buat kamu." Sofi berjabat tangan dengan Arya dan sentuhan itu agak lama seolah terkunci.
__ADS_1
"Terima kasih banyak? doa dari kalian saja sudah lebih dari cukup kok," ucap Arya memandangi lawan bicaranya serta senyuman yang penuh kebahagiaan.
"Ehem," suara dehem Fatma dan manik matanya mengarah pada tangan Arya dan Sofi yang berjabat begitu anteng, jujur ia tidak suka melihatnya.
Arya sih santai saja, sebab yang mengunci tangannya Sofi bukan dia. Sofi menarik tangan dan tampak tersipu malu.
Setelah tangan Arya dan Sofi terlepas, Fatma mengeluarkan lagi sebuah paper bag dengan merk Gucci.
"Apa nih?" tangan Arya menerima pemberian dari Fatma, dengan penasaran mengeluarkan isinya yang rupanya sebuah topi berwarna coklat tua. "Buat aku nih?"
Fatma cuma menanggapi dengan anggukan dan tangannya meraih minuman lalu ia sedap sedikit hanya sebagai mengalihkan rasa gugupnya yang di pandangi oleh pemuda yang cukup lama ia kenal, namun belum lama ini hari ke hari semakin dekat.
"Terima kasih banyak Kak?" Arya terus mengulas senyumnya.
Lagi-lagi Fatma mengangguk, tak bisa berkata-kata lidahnya terasa kelu, yang dapat dia lakukan cuma memandangi saja. Sebatas mengagumi pria ini yang bukan cuma punya pesona yang luar biasa namun juga kebaikan dan perilaku yang sopan serta tanggung jawab yang luar biasa.
"Hadiah dari gue ntar nyusul." Suara Sultan mewarnai.
Arya mengangguk, dengan senyuman yang terus mengembang. Arya memakai topi tersebut sehingga menambah kegantengannya terpancar, Fatma bengong memandangi wajah Arya yang tampak teduh dan tampan itu. Begitupun para akhwat alias perempuan yang tampak cantik-cantik yang berada di sana semakin terpesona saja dengan sosok Arya ....
****
Jangan ketinggalan like komen dan vote nya ya🌹
__ADS_1