Mencintai Ibu Angkatku

Mencintai Ibu Angkatku
Merasa kesal


__ADS_3

"Kau ini, sudah dikasih lampu hijau juga masih jual mahal." Suara Sultan seraya mengambil helm dari motornya.


"Bukan jual mahal, aku tuh shock dengernya. Tidak menyangka kalau pak Wijaya akan bicara seperti itu." Balas Arya sambil memakai helm.


"Lah, keburu di ambil orang baru tahu rasa lho," ucap Sultan lagi.


"Ooh, kau ada minat juga kan? boleh! dengan senang hati ku persilakan. Kau maju," ucapnya Arya dengan tidak sungguh-sungguh.


"Gue, mau? lah siapa yang gak mau sama wanita macam kak Fatma? apalagi kalau dianya mau sama saya, gak akan ditolak deh. Aslinya," balas Sultan sangat percaya diri di atas roda dua nya.


Netra mata Arya menatap tajam pada Sultan, rahangnya mengeras. Merasa kesal dengan jawaban Sultan yang bikin hatinya terasa panas.


Sultan hanya mencibirkan bibirnya ke depan. Lalu melarikan kendaraan roda duanya mengejar Arya yang lebih dulu meluncur meninggalkan kediaman Fatma. Si janda anak satu itu.


...****...


"Ternyata kamu punya yang lain, makanya kamu putuskan aku." Teriak Renata di dalam kamarnya. Menangis tersedu dan terlihat sangat pilu. Dia sangat frustasi setelah melihat Arya menggendong seorang wanita di bandara tadi.


Rupanya Renata berada di bandara yang sama dengan Arya, dia berada di bandara karena mengantar orang tua Doni ke Luar Negeri dalam rangka urusan bisnis. Di sana, Renata melihat Arya tengah menggendong Fatma, tentu. Renata tau, kenal sih tida! kalau wanita itu adalah seorang wanita yang membantu Arya kuliah.


"Rupanya ada udang di balik batu, kedekatan mu dengan wanita itu mengandung arti yang lebih dari biasa. Tatapan mu begitu mesra pada wanita itu, kamu jahat. Jahat sama aku, kau tega Arya, tega." hik hik hik, Renata menyusupkan wajahnya ke dalam bantal. Air matanya terasa panas mengalir di pipi dan mengenai seprei juga bantal.


Hatinya terluka, kecewa. Beginilah rasanya di khianati oleh orang yang sangat di cintai. Waktu itu Renata mau menghampiri Arya, namun Doni menarik tangannya mencegah Renata untuk menemui Arya.

__ADS_1


Tok ....


Tok ....


Tok ....


"Sayang, buka pintunya?" pinta bunda Tita sembari mengetuk pintu yang tak beraturan.


"Aku mau sendiri, Bun." Jawab Renata dengan suara parau.


"Buka dulu? Bunda mau bicara sebentar." Bujuk bunda Tita kekeh ingin masuk.


Dan Akhirnya Renata bangun. Lalu menurunkan kedua kakinya menapaki lantai, mendekati pintu.


Pintu terbuka dan Renata terlihat sangat berantakan. Kacau, di dalam kamar seperti kapal pecah.


"Astagfirullah ... kamu kenapa sih?" bunda Tita keheranan. Ada masalah apa perasaan tadi pulang sama Doni baik-baik saja.


Renata memeluk sang bunda dan tangisnya pun pecah kembali.


Bunda Tita semakin bingung. "Katakan sama bunda, ada apa bertengkar sama Doni? itukan pilihan mu juga."


Renata menggeleng pelan sambil terisak. "Arya, Bun. Dia sama wanita lain mesra banget, ter-ternyata dia juga pu-punya wanita lain, Bun. Arya punya wanita lain." Suara Renata terbata-bata.

__ADS_1


Bunda Renata terdiam sejenak sambil mengusap punggung sang putri yang tengah kalut.


"Pantas saja dia putuskan aku, Bun. Dia sudah ada wanita itu, hik hik hik ..." tambah Renata terdengar sangat pilu.


"Sayang, mungkin kamu salah lihat Rena ... lagian dia bukan siapa kamu lagi." Lirih bundanya.


"Tidak, Bun. aku melihat dengan mata kepala sendiri tadi di bandara dia menggendong wanita itu, wanita yang dia panggil kakak rupanya cuma covernya saja, Bun di balik itu mereka ada main. Aku tidak menyangka kalau Arya mengkhianati aku juga, hik hik hik."


Bunda Tita mengajak Renata duduk di tepi tempat tidur. "Jangan menyalahkan orang, sebab kamu sendiri yang membuat dia menjauh dari kamu," ucap bunda dengan kedua tangan membelai kepala Renata dan mengusap air matanya yang terus berderai. bagaimanapun hatinya ikut mencelos melihat putri semata wayangnya menangis.


"Kok, bunda malah nyalahin aku sih, Bun? buktinya! dia juga begitu, Bun percaya sama Rena, Bun." Renata menatap nanar ke arah sang bunda.


"Bu-bukan nyalahin Rena ... itu memang kenyatannya. Gak mungkin Arya seperti itu kalau tidak didahului sama kamu dan Doni." Bunda Tita begitu yakin kalau Arya tidak sepeti yang Renata bilang.


Mendengar ucapan sang bunda yang justru menyudutkannya. Renata semakin sakit hatinya. Kecewa dengan kenyataan ini, Ia melempar tubuhnya ke atas tempat tidur dan menyembunyikan wajahnya di bantal. Menangis kembali tersedu di sana.


Bunda Tita mendekat dan mengusap lembut bahu Renata yang langsung ada penolakan dari Renata. Menggerakkan bahunya yang tidak ingin di sentuh. "Sayang, sabar ya? mungkin dia bukan jodoh mu, Nak."


"Aku pengen sendiri, Bun. Biarkan aku sendiri." pinta Renata sambil tersedu.


Sang bunda menatapi punggung putrinya. Renata, yang bergetar dengan tangisnya. Langkah sang bunda masih juga belum terdengar, membuat Renata bergerak melihat ke arah sang bunda yang masih berada di tempat tersebut ....


****

__ADS_1


__ADS_2