Mencintai Ibu Angkatku

Mencintai Ibu Angkatku
Mama baru


__ADS_3

Bibir Fatma bergetar ingin bicara, namun ia urung tak enak bila terdengar dengan nada kurang baik.


"Nggak sayang ... kita cari angin yu sama Mama?" ajak Fatma mengusap kepala Rania yang menyusup.


"Tidak mau. Mau sama papa aja." Rania menggeleng.


Sofi tersenyum sinis namun tidak nampak oleh siapapun senyuman sinis nya. Kecuali senyuman ramah yang menghiasi wajah cantiknya.


"Mama, gak suka Rania manja ya? nggak suka. Rania harus ngerti dengan omongan Mama, emang Rania mau kalau Mama sibuk di luar dan Rania banyak sama aunty, mau?" Fatma sedikit merasa kesal dan mengancam Rania.


Rania mendongak dengan manik mata berkaca-kaca. "Ah. Mam jahat, nggak sayang sama Rania, Mama gak sayang Rania." Anak itu turun dan berlari melipir orang-orang ke sana kemari. Di susul oleh Mia.


"Sayang?" panggil Fatma terkesiap.


"Rania?" panggil bu Wati seraya menatap Fatma.


"Aduh, Neng Fatma. Rania jangan di marahin atuh kasian." Umi menatap cemas dan hendak menyusul.


Fatma cuma menoleh ke arah kedua ibu paruh baya itu. Gegas Fatma beranjak dan menyusul kemana Rania pergi.


Rania berlari ke kamar Arya sambil menangis dan kebetulan Arya baru masuk untuk mengambil pakaian ganti, niatnya mau mandi. Dia baru saja turun dari motor bersama Sultan habis mengurus sesuatu.


"Papa? ngi-i-i ..." sambil menangis memeluk kaki Arya.


Arya langsung membungkuk dan memangku anak itu. "Kenapa sayang?"


"Papa dari mana? kok Rania cari tidak ada terus!" tanya anak itu sambil mengusap pipinya yang basah.


"Em, Papa baru saja datang sama om Tatan, langsung masuk kamar ini. Mau mandi gerah banget, mau Maghrib juga."


"Daria mana? Rania ikut," memeluk pundak Arya.


"Papa sibuk sayang, kenapa kok nangis?" ulang Arya.


"Mama, mama marah. Gak sayang sama Rania. Hik-hik, hik." Jawab Rania sambil menyembunyikan wajahnya di leher Arya.


Sejenak Arya terdiam dan melirik ke arah Mia yang berdiri di dekat pintu. Dan mengulas senyuman.


"Em ... Rania nakal ya? atau manja? jadi mama marah sama Rania. Jangan gitu sayang, kasian mama juga. Mama itu sayang ... banget sama Rania, masa enggak." Pada akhirnya Arya berkata dengan lembut.

__ADS_1


"Nggak, Rania gak nakal. Rania juga gak manja. Rania cuma mau jalan-jalan sama Papa, itu saja," ungkap Rania seraya menggelengkan kepalanya.


"Ooh, nah itu mungkin yang bikin Mama marah. Om sibuk sayang, banyak yang harus Om urus," sambung Arya terus memberi pengertian.


"Sayang?" Suara Fatma muncul dari balik pintu dengan napas yang sedikit naik turun.


"Mama gak sayang sama Rania lagi." Rania membuang wajahnya dari pandangan sang bunda.


"Rania kok gitu sih, marah sama Mama?" Fatma masuk ke dalam kamar lantas duduk di kursi yang ada di sana.


"Papa, gak suka ah, kalau Rania gitu sama mama, kalau begitu caranya. Rania yang nggak sayang sama mama, buktinya gak sopan gitu." Arya dengan tutur kata yang lembut dan mengusap punggung Rania.


"Oya, Pah. Tadi kata aunty Sofi, papa cari mama baru. Dan anak baru juga, Rania jadi sedih. Nanti Papa diambil sama orang lain, gak mau!" Rania sejenak menatap sendu wajah Arya kemudian memeluk kembali leher Arya menyembunyikan. wajahnya.


Hening!


Kedua netra mata Arya melihat ke arah Fatma yang tidak mau menatap dirinya, dia memilih melihat ke arah lain dan sibuk dengan pikirannya sendiri.


"Itu, tidak benar sayang--"


"Benar juga gak pa-pa kali." Gumamnya Fatma seakan memotong kalimat Arya.


Arya menoleh dan menautkan alisnya. Kemudian mengusap punggung Rania sambil mendudukkan dirinya di tepi tempat tidur. "Tidak benar sayang. Kebetulan, banyak yang harus Papa urus tentang acara syukuran ini. Om Tatan juga tahu, jadi jangan takut ya?"


Mendengar itu, Fatma mesem sambil menunduk menyembunyikan senyumnya.


"Sayang, bukunya terbalik." Arya memberi tahu buka yang Fatma buka itu terbalik.


"Ha?" Fatma melihat dengan seksama kemudian buku tersebut ia pakai untuk menutup wajahnya yang merasa malu.


"Sayang, sekarang minta maaf sama mama ya? janji, gak manja dan pengertian juga gak akan pernah nakal!" ucap Arya sambil menurunkan Rania dari pangkuannya.


"Tapi, Papa gak cari mama baru kan?" selidik Rania mendongak.


Arya menunjukkan senyumnya. "Nggak. Ini Mama baru ada di depan kita," menunjuk ke arah Fatma.


Fatma semakin dibuat malu dengan perkataan Arya. Kemudian Rania mendekat dan meminta maaf.


"Mam, Rania minta maaf ya? Rania sudah bikin Mama marah." Manik mata itu menatap polos ke arah sang bunda.

__ADS_1


Fatma menyimpan kembali buku ke tempatnya. "Iya, sayang. Maafkan Mama juga ya? Mama sayang, Rania." Fatma memeluk Rania penuh kasih.


"Rania juga sayang, Mama juga papa!" kepala Rania sekilas menoleh ke arah Arya yang tak berhenti tersenyum.


Fatma melirik ke arah Arya juga. Sesaat keduanya saling pandang dan terkunci di sana. Seakan mencurahkan isi hati masing-masing melalui pandangan mata.


"Mam, Pah?" panggil Rania yang memecah indahnya saling pandang di antara Arya dan Fatma.


"Iya sayang," Fatma menggercapkan matanya.


Arya tersadar kalau dia mau mandi, badan sudah berada lengket dan gerah. "Oya, aku mau mandi dulu."


"Sayang, keluar dulu yu?" Fatma menuntun Rania keluar. Meninggalkan kamar tersebut, gak enak. Arya nya mau mandi, lain lagi kalau mereka sudah terikat pernikahan. Lain cerita.


"Mam itu om Tatan," jari Rania menunjuk ke arah Sultan yang sedang ngopi.


Sultan yang sedang minum kopi dengan Abah dan pak Wijaya. "Kok kopinya hitam ya?"


Abah mengernyitkan keningnya. "Kalau putih mah bukan kopi. Tapi susu."


"Ooh, iya-ya? lupa ha ha ha ..."


"Om, Tatan! dari mana sih ngilang terus? sama papa?" tanya Rania setelah berada dekat dengan Sultan.


"Eh ... tuan putri. Iya nih, Om Tatan ngilang terus sama papa, sedang banyak urusan sayang. Ngurus ini dan itu, capek." Balas sultan.


"Ooh, gak cari mama baru kan?"


"Ha? siapa yang cari mama baru?" Sultan heran lalu melihat ke arah Fatma yang malah menaikan kedua bahunya.


Pak Wijaya dan Abah saling melempar pandangan mendengar ucapan dari Rania barusan.


"Nggak, siapa yang cari mama baru? Om ganteng? mana ada sayang." Sultan menggeleng.


"Kata aunty Sofi gitu." sambung Rania sambil memakan kue.


Sultan kembali menatap ke arah Fatma yang terdiam di samping anak itu. Terus mengingat Sofi. "Buat apa Sofi bilang gitu?" batin Sultan.


Setelah salat Maghrib, Arya mengajak Rania dan Fatma makan malam di luar, walau sekedar makan bakso ....

__ADS_1


****


Mana dukungannya nih? Selamat hari raya idul adha bagi reader ku yang merayakannya. Mohon maaf lahir dan batin🙏


__ADS_2