
Saat ini Abah dan umi sudah berada di dalam kamar, pasutri itu terus mengobrol sebelum sambil berbaring di tempat tidur yang besar dan empuk.
"Masya Allah ... meni empuk begini, tempat tidurnya nyaman, beras. Aduh begini enaknya ya orang yang banyak duit. Barang-barang mewah dan bagus, jadi malu umi mah. Malu sadar diri kita itu cuma orang biasa, sementara Neng Fatma itu orang kaya raya, Bah."
"Nggak perlu malu yang berlebihan, Umi. Semua derajat manusia itu sama di mata Allah. Cuma manusia saja yang membedakannya. Jangan terlalu minder ah, kita serahkan saja sama Gusti yang maha agung. Manusia hanya bisa berencana dan Allah lah menentukan," ujar Abah sambil membaringkan tubuhnya di tempat itu.
Tok ....
Tok ....
Tok ....
"Assalamu'alaikum?" suara dari balik pintu setelah beberapa kali mengetuknya.
Umi bangun. Turun menampakan kakinya di lantai berjalan mendekati pintu.
Blak!
"Permisi Nyonya, ini baju gantinya. Tuan dan Nyonya tidak membawa baju ganti, jadi saya bawakan ini." BI Ina memberikan lipatan pakaian.
"Tapi, Ooh terima kasih atuh, aduh panggil saja saya Umi dan suami saya Abah. Jangan panggil Tuan atau Nyonya, gak enak." Kata umi sambil menerima pemberian bi Ina yang lantas membalikan badan mengayunkan langkahnya pergi dari depan pintu kamar tersebut.
__ADS_1
Umi, menutup dan menguncinya, membawa lipatan baju menghampiri sang suami. "Abah ini buat Abah. Ganti dulu bajunya. Itu buat pulang dan ini buat tidur, kalau orang kaya mah. Baju tidur lain, baju santai lain. Sedangkan kita mah, santai itu, tidur itu. ke pasar itu dan ke masjid juga itu masih ha ha ha," umi akhirnya tersenyum sendiri.
Abah juga berganti pakaian sebelum berniat tidur. "Orang lain mah gak kaya kita, Umi ... teratur hidupnya." Timpal Abah.
Arya yang tertidur di sofa perlahan membuka matanya. Memicingkan sebelah melihat tempat sekitar. Menutup mulutnya yang menguap lalu menggosok kedua matanya. Melihat ke samping di mana tadi Rania bersamanya, kosong.
Kemudian mengalihkan pandangan matanya yang sipit. ke arah Fatma yang manik matanya anteng ke layar laptop. Mengintip sebentar lalu pura-pura tertidur kembali.
"Jangan pura-pura tidur kembali. Aku tau kamu capek benget makanya pindah sana ke kamar tamu," ucap Fatma yang akhirnya memberi perintah untuk pindah.
Arya melonjak, teringat pada Abah dan uminya. Baru sadar kalau dia datang bersama kedua orang tuanya. "Abah, umi?"
Arya berbalik menatap intens pada Fatma yang fokus dengan layar laptopnya. "Maksud kak Fatma?"
"Abah dan umi. Menginap dan sekarang sudah berada di kamarnya." Fatma sedikit menaikan kedua alisnya.
"Ooh," Arya mendudukkan kembali tubuhnya di tempat semula. "Ah ... lelah banget sehingga tertidur di sini. Rania sudah bobo kah?"
"Sudah, tadi tertidur di paha kamu." Jawab Fatma, dengan pandangan ke layar laptop.
"Oh, aduh capek banget! enak kali kalau sudah punya istri ada yang mijit," ucap Arya sembari meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku.
__ADS_1
"Ya ... nikah saja, calon kan sudah ada, tinggal nikahin." Balas Fatma menoleh sekilas lalu kembali mengedarkan pandangan ke lain arah.
Netra mata Arya mencuri-curi pandang pada Fatma yang kadang-kadang menghindari bertemunya kontak mata. "Iya, sebentar lagi aku akan menikah."
Hening!
Fatma menoleh ke arah Arya, sebentar menatapnya tanpa Arya tahu. Ada sesuatu yang aneh Fatma rasakan saat ini. Entah kesal atau cemburu, pun Fatma tak tahu. Yang jelas ada rasa sesak yang memenuhi ruang dada, Fatma kembali menunduk lalu berusaha mengalihkan pandangan dan perasannya dengan cara membuka fail yang sesungguhnya tidak ia baca dengan serius.
Sesaat mereka terdiam, lalu keduanya saling menoleh dan akhirnya kontak mata pun lagi-lagi bertemu. Dan dipersekian waktu keduanya menunduk dalam.
"Kapan resminya? Nanti aku datang dan jangan diusirnya kalau aku menghadiri pernikahanmu." Fatma lirih, berusaha menyembunyikan perasaannya.
Tubuh Arya berbaring di atas sofa. "Resminya kapan? entah tidak tahu. Mungkin secepatnya atau ... mungkin juga bisa sebaliknya."
Fatma dengan spontan menoleh. "Kok gitu? heran! tak habis pikir aku ya, sama pria yang suka menggantung seseorang. Padahal tinggal resmikan aja. Apa lagi?" dengan nada kesal.
"Saya yang mau jalani. Saya yang mau nikah. Kok kak Fatma yang sewot sih? apa cemburu ya?" bibir Arya mesem-mesem dan matanya kembali terpejam dengan tangan melipat di dada.
"Eeh, siapa yang sewot? siapa juga yang cemburu? aneh deh ... sebuah pertanyaan yang tidak masuk akal--"
Arya menggerakkan kepalanya dan membuka mata melihat fatma. "Tidak masuk akal gimana?" Sembari menunjukan giginya yang putih itu ....
__ADS_1