
Setelah minum obat dari anjuran dokter. Rania langsung tertidur, Fatma selimuti dan beberapa kali memberi kecupan.
"Semoga anak Mama sehat selalu. Mama sayang Rania." Gumam Fatma.
"Ya Allah ... Alhamdulillah. Anak ku tidak apa-apa, hanya pilek saja." Fatma mendongak ke langit-langit.
Lalu Fatma turun dari tempat tidur Rania. Menoleh ke arah Dewi yang duduk tidak jauh dari Rania tidur. "Wi! tolong ya jagain Rania. Tapi jangan lupa kamu makan dulu."
Dewi yang masih merasa bersalah, memberanikan diri untuk meminta maaf lagi. "Kak, sekali lagi, aku minta maaf soal yang tadi."
"Sudahlah. Sekarang, yang penting Rania gak ke napa-napa, satu lagi, lain kali jangan sampai terulang lagi ya? kalau seandainya butuh sesuatu. Minta tolong saja sama asisten lain, Wi! kan di sini banyak orang, kecuali di tempat yang gak mungkin menyuruh orang lain!" Fatma menatap tajam ke arah dewi.
Dewi menunduk dalam, hatinya menyesali dengan apa yang sudah terjadi. "Dewi yang salah, Kak."
"Kakak sudah memaafkan kok. Kakak mau ke kamar dulu, tolong di jagain ya?" Fatma mengibaskan tangannya.
Dewi mengangguk. "Iya Kak."
Langkah Fatma lebih cepat menuju kamarnya. Tangannya menyampingkan rambut ke samping. Baru mendorong handle pintu, kepala Fatma berasa pusing.
"Au. Pusing." Sebentar berdiri dan memegangi keningnya.
Setelah sakitnya berkurang, Fatma kembali melanjutkan langkah nya ke dalam, netra nya mendapati Arya tengah membaca doa selepas salat.
Langkah Fatma langsung ke kamar mandi buat mengambil air wudu. Sesaat kemudian Fatma melakukan salat Maghrib sendiri.
Masih di tempat salatnya. Sehabis membaca doa, Arya mendekat dan langsung memeluk Fatma dari belakang.
"Hem ... pasti deg-deg-degan kan ketika tadi melihat Rania tenggelam." Gumamnya Arya.
"Asli, Aa. Sampai sekarang dada ku masih berdebar nih." Fatma mengarahkan telapak tangan Arya ke dadanya yang masih berdebar.
"Hem ... kasihan istri ku hampir jantungan. Dewi juga ngapain ngambil minuman segala sendirian? kan bisa nyuruh atau manggil asisten lain." Arya agak kesal sebenarnya.
"Iya, seharusnya Dewi panggil saja asisten untuk buatkan minum atau keperluan lain. Bukan meninggalkan Rania sendirian, ya mungkin Dewi pikir aku ada di situ sama ibu. benar juga sih. Jadi Dewi gak seharusnya di salahkan cuman dia gak ngomong ketika mau pergi." Keluh Fatma.
"Hem," gumamnya Arya dengan masih di posisi yang sama. Memeluk sang istri.
Heningh!
"Oya, Aa. Kok bisa tepat waktu gitu?" tanya Fatma melirik ke arah Arya.
__ADS_1
"Em ... Aa, datang ketika sayang lompat ke kolam, waktu itu lah, Aa. Datang dan langsung nyemplung ke kolam, jam tangan aja gak sempat buka."
"Terus jam nya mati?" tanya Fatma penasaran.
"Tadi sih nggak. Gak tahu sekarang, yang penting Rania selamat. Kemarin di laut gak ada insiden apapun." Tambah Arya.
"Waktunya di sini, Aa. Oya apa hasil penyelidikan polisi tentang mobil kemarin?" selidik Fatma tentang mobilnya yang terbakar itu, sehingga membuat pak Dudin shock sampai sekarang belum berani masuk kerja khususnya pegang mobil.
Cuph!
Sebelum memberi jawaban. Arya memberi kecupan di pipi Fatma dengan mesra dan penuh cinta.
"Itu murni kecelakaan, sayang. Mungkin akibat ke lalaian dan kerusakan di dalam pesawatnya. Tidak ada sabotase apapun." Jawab Arya sembari mengeratkan pelukannya.
"Ooh, gitu. Kasihan juga pak Dudin sampai sekarang masih trauma untuk membawa mobil." keluh Fatma kembali.
"Terus pak Dudin sekarang kerja apa?" selidik Arya.
"Jarang masuk, atau kalau masuk paling di taman. Belum berani bawa mobil katanya," ucap fatma lagi.
"Em ... nanti juga pak Dudin pasti berani lagi." Kemudian Arya berdiri dan menarik Fatma untuk beranjak juga.
"Gimana ke adaan Rania sekarang?" tanya pak Wijaya ketika Fatma sudah sampai di meja makan.
"Tidur, Rania tidur, Yah. Cuman pilek saja." Kata Fatma sambil duduk di kursi yang Arya sediakan.
"Kalian juga yang lalai, sudah jelas-jelas kalian berada di situ, kok gak bisa lalai juga tidak tidak melihat Rania terjatuh," ujar pak Wijaya.
"Iya, sih. Yah ... kami berdua ada di sana tapi kan kami tidak fokus untuk itu, toh ada Dewi Ayah, coba kalau Dewi bilang atau kami melihat! ya kami pastinya turun tangan dari awal juga." Akunya bu wati.
"Aku gak bisa membayangkan gimana jadinya bila terjadi sesuatu pada Rania.Tapi Alhamdulillah Rania baik-baik saja, ya sudah. Sebaiknya kita jangan bahas itu lagi, kita makan aja." Fatma megambil piring but Arya yang sedari tadi bengong mendengarkan topik pembicaraan tentang Rania.
Dalam hati kecil Arya juga merasa kurang enak hati dengan kejadian itu, sebab berkaitan dengan sang adik, Dewi. Namun bukan hal yang mengenakan bila dirinya harus membela atau menyalahkan Dewi.
Apalagi Rania sudah membela Dewi agar mereka tidak terlalu menyalahkannya.
"Ayo sayang, makan?" suara Fatma membuyarkan lamunan Arya.
"Oh, iya." Arya mengangguk, lantas menyantap makannya dengan sangat lahap.
"Bi, bawakan makan buat Dewi di kamar Rania. Pasti belum makan ya?" titah Fatma pada bi Ina.
__ADS_1
"Baik, Nyonya." Bi Ina langsung mengangguk dan mengambilkan makanan buat Dewi.
"Kapan kamu berangkat?" tanya pak Wijaya.
"Lusa, aku berangkat. Titip Rania ya, Yah. Ibu, Aa. Kebetulan juga sibuk." Fatma sekilas melirik ke arah sang suami.
"Iya, tenang saja. Ayah dan ibu ada. Paling kami kembali ke ke luar Negeri setelah kamu balik saja." Jawab pak Wijaya di sela-sela mengunyahnya.
"Tapi seandainya ada waktu. Ya ... sekitar beberapa hari misalnya, Aa akan bawa Rania menyusul Fatma, Yah. Ibu, rencananya." Tambah Arya setelah menelan makanan yang ada di mulut.
"Ooh, begitu juga bagus. Lagian Fatma di sana bukan sehari dua hari kan? ya ... itung-itung temu kangen ya?" timpal pak Wijaya sambil tersenyum.
"Ehem, begitulah kira-kira." Arya mengangguk sambil tertawa kecil.
Fatma dan sang ibu hanya senyum simpul mendengarnya. Mereka mengerti yang di maksud oleh pak Wijaya.
"Yang itu jangan sampai terlupakan tuh, sangat penting. Untung berlangsungnya kehidupan. Di biarin bisa mati rasa nanti, he he he ..." lanjut sang mertua.
Membuat Arya lagi-lagi tersipu dibuatnya. "Penting ya, Yah?"
"Ooh, penting banget. Kedua dari urusan perut." Tambah pak Wijaya kembali.
"Sudah ah, bicara gituan. Makan abisin!" protes Bu Wati.
Selesai makan, semua bubar. Fatma ke kamar Rania untuk melihat kondisinya sekarang.
Fatma mengayunkan langkahnya ke kamar putri kecilnya. Tampak Dewi sedang makan.
"Wi! kalau masih kurang. Ambil saja lagi. Lagian sekarang Kakak ada di sini."
Dewi mengangguk. "Iya Kak."
Tangan Fatma mengusap kening Rania yang berkeringat dingin. "Sayang. Bangun? belum makan lho?" lirihnya Fatma sambil mengecup pipi Rania.
"Tadi setelah, Kakak pergi Rania minta susu. Dan setelah di bikinkan diminum habis, setelah itu bobo lagi." Kata Dewi.
"Oo! ya gak apalah. Kalau sudah minum susu," ucap Fatma menatap lagi sang putri kecil ....
.
.
__ADS_1