
"Ta-tapi, baiklah kalau saya sudah tidak diperlukan lagi di keluarga nyonya." Mia pasrah. Kalau kekeh dan berkeras hati pun percuma.
"Maksud saya. Memindahkan kamu karena saya tidak ingin kamu berhenti bekerja, sementara saya tahu kalau kamu butuhkan pekerjaan."
Mia menunduk dalam. Dalam hatinya tidak terima kalau harus dipindahkan, namun jika protes juga percuma justru akan dapat kecurigaan dari Fatma yang jelas-jelas sepertinya mencium kebusukan hatinya. Kalau soal tidak memberikan lagi tenaganya untuk menjaga Rania, itu sangat tidak mungkin.
Apalagi Mia tahu kalau Bu Wati beserta suami akan kembali ke luar Negeri dan Rania mau sama siapa? sementara Fatma bagaimanapun dia wanita karier yang kurang ada waktu untuk mengurus anak selama 24 jam.
Mia yakin ini cuma permainan Fatma yang tidak ingin dirinya berada di tengah-tengah Fatma dan suami barunya. Dulu waktu ada Aldian tak ada sedikitpun terbesit ingin memiliki, toh jelas-jelas Mia tahu kalau Aldian psikopat yang ia sendiri merasa takut, beda dengan Arya yang pria baik-baik, lembut. Perhatian dan tanggung jawab, ditambah wajah yang rupawan semakin banyak wanita yang dibikin klepek-klepek olehnya.
"Karena kerabat ku inginnya hari ini juga kamu datang, jadi sepulang dari sini kamu akan di antar pak Dudin ke Bekasi," ucapnya Fatma sembari berdiri.
"Nyonya, secepat itu?" tanya Mia menatap heran pada Fatma yang tak membiarkan dirinya istirahat atau menginap bersama Rania barang sehari saja.
"Kerabat saya sangat membutuhkan kamu Mia. Suaminya sedang sakit dan tentunya butuh orang tuk menjaga baby nya." Jawab Fatma yang kemudian membawa langkahnya masuk ke dalam rumah Arya.
Mia termenung di teras sendiri, dan tak terasa menangis. Air matanya mengalir membasahi pipi.
"Mia, kamu kenapa?" tanya Bu Wati yang muncul dari balik pintu utama.
Mia menoleh dan tangisnya semakin tersedu. Wajahnya di banjiri dengan air mata. "Sa-saya di pecat. Hik hik hik."
"Di pecat?" Bu Wati menatap heran. "Maksudnya gimana? kamu kan sudah lama jadi pengasuh Rania! kenapa di pecat?"
"Saya tidak ta-tahu Nyonya, nyonya muda memindahkan saya ke Bekasi. Padahal Rania itu masih membutuhkan saya, kalau nyonya kerja dan sibuk Rania akan sama siapa? kasian. Sementara Nyonya besar kan mau ke luar Negeri. Apa tidak kasihan?" ungkap Mia sambil menangis.
"Betul itu, saya mau balik ke luar Negeri. Kalau kamu pindah Rania sama siapa? bener itu." Timpal Bu Wati menganggu-anggukkan kepalanya.
"Kasihan Rania, Nyah. Saya kasihan sama dia." Mia menunduk sambil menangis.
"Fatma, apa maksudnya pecat Mia, Rania mau sama siapa kalau Mia di pindahkan?" batin Bu Wati.
"Sebentar, saya mau bicara sama Fatma dulu. Mau menanyakan hal ini, kok bisa-bisa nya kamu di pecat?" Bu Wati beranjak dari duduknya, kembali ngeloyor ke dalam.
__ADS_1
Mia mengangkat wajahnya, mengusap pipinya yang basah menatap langkah Bu Wati.
Bu Wati membawa langkahnya mencari Fatma yang berada di kamarnya.
Tok ....
Tok ....
Tok ....
Daun pintu Bu Wati ketuk dan langsung mendapat sahutan dari dalam.
"Siapa?"
"Ibu, mau ada yang ingin bicarakan sama Fatma." Jawab Bu Wati berdiri di depan pintu.
"Buka saja, Bu. Tidak di kunci kok." Suara Fatma dari dalam.
Bu Wati mendekati sofa yang di duduki Fatma lantas duduk di dekatnya. "Fatma, apa maksudnya Mia kamu pecat?"
Fatma menoleh dan menutup handphone nya. "Bu, bukan di pecat. Tapi di pindahkan ke Bekasi."
"Apalah namanya itu? kan Mia pengasuh Rania, nanti Rania Maya sama siapa ketika kamu sibuk bekerja?" tanya Bu Wati terheran-heran, bisa-bisanya memberhentikan Mia yang selalu menemani Rania.
"Bu, Rania sudah mulai dewasa dan mampu belajar mandiri, Aku juga akan lebih banyak menjaganya," sahut Fatma.
"Ibu gak habis pikir, kenapa kamu pindahkan? Rania masih membutuhkannya, terus ibu kan mau kembali ke luar Negeri. Gak ada yang jagain dia." Lanjut Bu Wati.
"Bu ... Rania sudah besar dan mampu mengurus dirinya sendiri asalkan dikasih kepercayaan. Ck soal kenapa? sulit di ucapkan nya," kata Fatma sembari melirik sang suami yang kebetulan juga meliriknya.
"Rania itu masih pantas di asuh, dijaga ekstra. Sementara kamu sibuk di kantor belum di lapangan juga. Rania gimana?" sambung Bu Wati menatap cemas.
"Ck, Ibu tenang saja, aku akan banyak menjaga Rania, Bu. Bila itu perlu. Aku yakin kalau Rania itu bisa mandiri dan pak Dudin ada, Bu. Jangan khawatir, Mia sudah waktunya mencari pengalaman di tempat lain." Fatma kekeh dengan pendiriannya.
__ADS_1
"Mia sudah lama kerja sama kamu, apa gak kasihan sama dia?"
"Kasihan gimana, Bu? aku gak pecat dia, cuma memindahkan nya saja, tolong dong. Ibu mengerti kalau ini keputusan yang paling terbaik, Aa. tolong dong jelaskan sama Ibu." Fatma melirik sang suami meminta ikut menjelaskan pada sang bunda.
Bu Wati pun menoleh pada Arya yang turun dari tempat tidur dan menutup laptopnya.
Sebelum menjelaskan Arya menghela napas dalam-dalam. "Bu, tolong mengerti akan keputusan putri Ibu, dia tidak ingin kalau ada duri dalam rumah tangga kami. Mungkin fatma rasa inilah yang terbaik, jadi tolong Ibu mengerti."
"Sebenarnya Ibu, gak mengerti, tapi oke lah kalau memang itu yang terbaik. Asal cucu ku ada yang jagain saja." Bu Wati beranjak kembali meninggalkan Fatma dan Arya.
Fatma menghela napas panjang. Begitupun Arya menatap punggung sang ibu mertua. Lalu mengalihkan pandangan ke arah Fatma.
"Kita berangkat sekarang ya?" Arya berdiri meraih semua barangnya termasuk laptop miliknya dan Fatma.
"Yu," Fatma pun meraih tas dan ponselnya. Juga boneka kesayangan Rania yang pemberian dari Arya.
Keduanya berjalan beriringan dan Arya yang menarik koper milik Fatma dan Rania.
"Umi, Abah. Kami pulang dulu mohon doa nya," ucap Arya pamit pada kedua orang tuanya.
"Em, padahal kami masih ingin berkumpul. Hati-hati ya? bawa kendaraannya jangan ngebut." Balas umi memeluk Arya dan Fatma bergantian.
"Iya, hati-hati, Aa. Jangan ngebut, dan ingat sekarang. Aa sudah punya istri dan anak yang berarti tanggung jawab Aa bertambah. Jadilah suami dan ayah yang baik." Pesan Abah menepuk punggung Arya.
"Iya, Bah. Insya Allah, tadinya aku mau bawa Dewi. Tapi Dewi nya masih berkabung dan nanti saja kalau Dewi sudah agak membaik datang ke Jakarta," ungkap Arya sembari mengangguk lantas memeluk sang ayah dan mencium tangannya penuh hormat.
"Neng, titip Aa ya. Dia belum pengalaman dalam hal berumah tangga." Umi menatap penuh harap.
Fatma mengangguk pelan sambil tersenyum simpul ....
****
Mana nih like komen dan vote nya, sebelumnya makasih ya🙏
__ADS_1