
"Terus, Om Tatan harus seneng apa dong ..." Sultan mengetuk-ngetukan jarinya ke kening.
"Om, Tatan kan mau menikah sama aunty. Jadi seneng dong ... masa gak seneng?" celoteh Rania dengan gaya anak kecilnya.
"Oo! iya, lupa ... bener-bener. Om kan mau menikah jadi harus seneng." Rania memang pinter.
"Tapi, Om Tatan tidak naik pesawat, ih ... kasian." Tambah Rania lagi menunjuk ke arah Sultan.
"Ooh, tidak apa-apa. Yang penting Om Tatan bisa naikin aunty. Ha ha ha ....''
Plakh!
Paha Sultan ditepuk oleh Arya. "Ngomong apaan sih? asal mangap aja kau ini?"
"Naik apa? Om, masa aunty dinaikin?" Rania mengernyitkan keningnya.
Pak Wijaya dan istri menyembunyikan senyumnya. Menahan tawa dengan ucapan Sultan yang nyeleneh.
"Em ... itu, maksud Om mau naik andong. Iya andong," ralat Sultan sambil mesem-mesem.
"Mau dong ... Rania naik andong. Oma, Papa mau naik andong?"
"Oya nanti naik andong." Bu Wati mengangguk.
Arya menoleh pada Sultan sambil mendelikkan matanya.
"Ups, nanti sepulang dari luar Negeri. Kita jalan-jalan sama aunty ya? kita naik andong." Kata Sultan.
"Iya, sama adek bayi ya? ajak jalan-jalan ya? Om." Rania menyambut bahagia tawaran Sultan.
"Adek bayi?" Sultan melirik ke arah Arya yang ketukan juga menoleh.
"Sayang ... adek bayi itu masih lama lahirnya, bukan sekarang-sekarang," tutur Bu Wati dan pak Wijaya bergantian.
"Terus, kapan?" tanya Rania.
"Harus nunggu beberapa bulan dulu." Timpal Bu Wati kembali.
Mobil yang melesat cepat, akhirnya tiba di area bandara internasional. Mereka pun turun dengan hati-hati.
Pak Harlan dan Sultan membawakan koper dari bagasi. Langsung cek-in memberikan data-data lengkap.
Kemudian mereka duduk ruang tunggu, untuk menunggu waktu pemberangkatan Beberapa saat lagi.
"Om mau ikut kita ya?" tanya Rania memandangi ke arah Sultan.
"Nggak, Om cuma ngantar sampai di sini saja kok." Jawab Sultan dan menarik Rania agar duduk berdekatan nya.
"Terus, ngapain di sini?" Anak itu heran.
"Om mau pulang, kalau Rania sudah terbang. Baru om Tatan pulang." Sultan menjelaskan.
"Ooh, Om Tantan, Om Tatan? menikah itu apa sih?" tanya anak itu lagi.
"Em menikah itu ... itu, menyatukan dua insan yang saling sayang. Menyatukan dua hati dan pikiran yang berbeda." Sultan sedikit kebingungan untuk menjabarkannya pada Rania.
"Menikah itu, seperti mama dan papa sayang." Timpal Arya.
"Oh, nanti punya baby juga ya? seperti mama!" Rania mengedarkan pandangan pada Sultan dan Arya.
__ADS_1
"Iya, begitu kira-kira." Arya mengangguk ok.
"Berarti nanti Om punya baby seperti mama," baby sering ajak sini ya? main sama Rania!" anak itu kembali memandangi Sultan.
"Iya tentu, nona manis. Kita bermain bersama, oke?" Sultan mengangguk dan mengangkat tangan untuk tos dengan Rania yang langsung membalas.
"Tan, titip Dewi ya? sering tengokin maksudnya. Aku emang sengaja birkan di mandiri, sebab nanti juga bila kalian sudah menikah. Tentunya harus jauh dari keluarga lama, berganti dengan keluarga yang baru." Ucap Arya pada Sultan.
"Tentu bro, aku akan ingat itu, tapi gak janji ya? sebab aku juga punya kesibukan. Tapi insya Allah aku akan sebisanya perhatian dia." Balas Sultan sembari menepuk bahu Arya.
"Makasih bro, kau memang sahabat ku. Paling aku di sana 3-4 hari lah, setelah itu akan segera kembali." Sambung Arya kembali.
"Iya, puas-puaskan lah biar cukup dapat asupan gizi nya. Nggak kekurangan gitu." Sultan memainkan alis matanya seraya menunjukan giginya utuh bersih.
"Gizi apa Om? emang Papa kurang gizi ya? kan makanan di rumah 4 sehat lima sempurna kok, Om. Masa kurang gizi?" Rania sangat kritis.
Bukan cuma keluarga yang melihat dan tersenyum pada Rania, pasang mata yang berada dan mendengar pun melihat anak itu, yang terdengar inter dan kritis itu.
"Buset dah gue," gumamnya Sultan dalam hati sambil menggaruk tengkuknya.
Lain dengan Arya, dia malah memojokkan sahabatnya ini. "Jawab? jawablah. Resiko! bicara, asal-asalan saja."
"Ma-maksud Om ... itu, papa kan sibuk. Kerjanya berat, jadi butuh vitamin. Gitu maksud, Om." Sultan menjelaskan.
"Ooh, vitamin. Mau dong Rania vitamin? biar Rania tambah sehat dan kuat." Rania mengangkat kedua tangannya ke atas.
"Iya nanti, nanti Rania minum vitamin. Ayo habiskan ngemilnya? kita mau jalan sekarang." Arya mengusap pipi Rania.
"Oma, Rania pengen pipis dulu." anak itu pelan.
"Oh, Aa. Rania mau ke toilet sebentar! Bu Wati melihat ke arah Arya.
Bu Wati gegas membawa Rania ke toilet. "Jangan lama-lama sayang, nanti telat."
"Iya Oma, Rania gak lama-lama kok. Bentar!" sahut anak itu sambil memasuki toilet wanita.
Bu Wati berdiri menunggui di dekat pintu, takut Rania meminta bantuan.
Sesaat kemudian Rania kembali. "Sudah, Oma."
"Ayo, papa nunggu kita." Bu Wati menuntun tangan anak itu sambil berjalan cepat.
Arya dan pak Wijaya sudah bersiap. Dan sedang berpamitan dengan Sultan.
"Salam dulu dengan, Om Sultan." Titah Bu Wati pada Rania.
Rania langsung menyalami Sultan. "Om, Rania pergi dulu ya? doa'in Rania supaya selamat ya?" kata-kata itu bikin Sultan terharu.
"Iya, sayang ... Om doa kan semoga kita bertemu lagi." Sultan memeluk anak itu erat.
Mereka memasuki pintu sekian untuk menuju pesawat yang sebentar lagi take-off. Rania di tuntun oleh Arya yang membawa tas gendong nya.
Sultan melambaikan tangan ke arah mereka terutama Rania yang sesekali melihat Sultan.
Ketika mau berbalik. Sultan bertemu dengan Sofi yang masih mengenakan pakaian formal.
"Sultan?" sapa nya Sofi.
"Sofi!" gumamnya Sultan.
__ADS_1
"Apa kabar? lama kita gak jumpa! padahal kita satu maskapai." Sapa Sofi seraya mengulurkan tangan.
"Oh, iya. Apa kabar?" tanya Sultan.
"Baik, sebenarnya aku ingin bertemu kamu dari kemarin-kemarin." Tambah Sofi.
"Ada apa ya? baiknya kita duduk di sana saja?" Sultan menunjuk ke arah kursi.
Keduanya berjalan mendekati dimana kursi berada, kemudian duduk berhadapan.
"Sebenarnya ... aku mau minta maaf--"
"Buat apa ya meminta maaf?" tanya Sultan sambil terheran-heran.
"Em ... aku minta maaf, karena sudah menyia-nyiakan dirimu. Dan aku sesali itu." Sofi menunduk.
"Oh, itu. Ngga perlu minta maaf. Aku sudah maafkan kamu kok," Sultan berucap lirih.
"Makasih, Tan?" Sofi memegang tangan Sultan yang langsung menghindar.
"Sama-sama. Oya, aku harus segera pulang!" Sultan berdiri.
"Tan. Bolehkah aku meminta kesempatan?" lirih Sofi yang menatap lekat ke arah Sultan.
"Kesempatan? kesempatan buat apa? aku tidak mengerti." Sultan pura-pura gak mengerti.
"Tan, aku mohon sama kamu. Beri aku kesempatan untuk memperbaiki hubungan kita." Suara lembut wanita yang berparas cantik dan bertubuh langsing itu memohon.
Sultan menatap lekat pada lawan bicaranya. "He'em ... hubungan yang mana ya? bukan kah pertemanan kita baik-baik saja?"
"Hub-hubungan kita yang lebih dari teman." Timbal Sofi.
"Maaf. Aku sudah tak berminat lagi untuk melanjutkan hubungan kita yang itu, sorry?" Sultan membawa langkahnya meninggalkan Sofi yang langsung berdiri.
"Tan? Sultan?" panggil Sofi. menelan saliva nya yang terasa tersekat di tenggorokan, meremas dadanya yang terasa nyeri.
Sofi dihantui rasa penyesalan yang sudah permainkan hayo Sultan. Pria yang menjadi incarannya malah mencampakkan dirinya setelah menipu mentah-mentah sosok wanita yang smart itu.
Sultan membawa langkahnya yang lebar itu menuju mobil Fatma yang di supirkan pak Harlan tersebut.
Dia memang kecewa pada Sofi yang sudah permainkan keseriusannya. Padahal tak ada sekelumit pun niat untuk main-main dengan wanita yang satu profesi dengannya itu.
Namun kembali pada dua kata itu, bukan jodoh. Sultan menyandarkan punggungnya ke jok belakang. "Jalan Pak?"
"Baik, Den. Mereka sudah berangkat?" tanya pak Harlan.
"Ha? aku lupa!" Sultan menggaruk kepala yang tidak gatal. "Kayanya belum terbang deh. Jalan saja, nanti di depan berhenti tuk melihat pesawat mereka lepas landas," ujar Sultan.
Yang gara-gara bertemu Sofi, membuat dia lupa pada sahabat dan Rania yang belum lepas landas.
Setelah beberapa meter. Mobil berhenti dekat landasan, dan terlihat pesawat dengan awak 3xxx mulai take-off. Sultan melambaikan tangan sebagai salam perpisahan.
"Oma, opa. Papa? Om Tatan melambaikan tangan tuh dekat mobil kita." Rania yang penglihatannya tajam, menunjuk ke bawah ....
.
.
Jangan lupa juga ramaikan "Gadis Satu Milyar Ku" ya? terima kasih reader ku terkasih 🙏
__ADS_1