Mencintai Ibu Angkatku

Mencintai Ibu Angkatku
Si burung besi


__ADS_3

"Bro, ini anak siapa nih? cari orang tuanya." Suara Sutan setelah berada di bawah menghampiri Arya dan yang lainnya termasuk Fatma yang berada di sana.


"Mama? Papa! aku dikasih banyak coklat dan permen dari aunty di dalam, baik-baik deh." Rania menunjukan coklat dan permen pada sang bunda.


"Oya, makasih gak? oya. Rania ganggu aunty dan om nya gak?" tanya Fatma sembari mengeluarkan tisu buat membersihkan tangan dan mulut Rania yang kotor.


Anak itu menggeleng. "Nggak. Tanya aja om Tatan, Rania gak ganggu kok. Ya Om tatan?" melirik Sultan yang berdiri dengan teknisi dan Arya yang sibuk dengan tugasnya.


"Ooh, Mama percaya kok." Fatma memegang tangan Rania takut pergi dan entah kemana? maklum lokasi yang begitu luas bisa-bisa hilang nanti. "Diem ya di sini? takut hilang nanti."


"Iya, Mama." Rania malah duduk bersila di lantai dekat sang bunda. Asyik makan coklat dan permen.


"Eeh sayang pindah yu? di sini menghalangi orang yang sedang bekerja. Yu ikut Mama?" Fatma membawa Rania jauh dari pesawat.


Setelah selesai dan memastikan mesin dan awak pesawat tak ada kendala apapun, Arya menjauhi pesawat sambil melihat jam yang berada di tangan kirinya.


Netra matanya mencari keberadaan anak dan istri yang tadi menjauhi tempatnya bekerja.


Setelah beberapa langkah akhirnya Netra Arya menemukan Rania dan mamanya. "Sayang?" Langkah Arya semakin lebar untuk segera sampai ke tempat sang istri berada.


"Papa?" panggil Rania ketika melihat papanya datang.


"Iya sayang. Maaf tadi Papa tidak bisa menemani Rania jalan-jalan di dalam pesawat lebih lama. Sebab tugas." Tangan Arya mengusap pucuk kepala Rania penuh kasih.


"Nggak pa-pa kok, Pah ... Rania senang kok dan di sana ada om Tatan dan aunty yang cantik-cantik dan baik-baik. Bagai terong di belah dua, sama cantiknya."


"Pinang di belah dua sayang." Timpal Fatma membenarkan kalimat Rania.


"Sekarang juga Papa mau bersiap berangkat. Kalian baik-baik ya, jaga diri dan hati-hati. Em doa kan Papa biar perjalanannya lancar." Arya memeluk Rania dan mencium pipinya kanan dan kiri.

__ADS_1


"Papa cepat pulang ya? Rania akan kangen Papa." Manik mata Rania bergerak menatap lekat ke arah Arya.


"Iya, Nona manis. Papa pasti cepat pulang. Doa kan ya!" sambung Arya. Lagi-lagi mencium pipi dan pucuk kepala Rania.


"Mau oleh-oleh apa hem?" tanya Arya pada Rania.


"Nggak mau ah, yang Rania mau ... papa cepat pulang aja." Sahut anak itu kembali memeluk Arya penuh haru. Sekilas tak ada yang menyangka kalau mereka berdua tidak ada ikatan apa-apa.


Setiap yang melihat pasti berpikir kalau keduanya punya ikatan darah aja.


Fatma tak kuasa melihat Arya dan Rania berpelukan. Membuatnya merasa haru matanya yang indah tampak nanar dan menunduk dalam.


Kemudian Arya menghampiri sang istri, Fatma. Mengangkat dagunya dengan jari Arya, membuatnya mendongak. "Kok sedih? malu dong sama Rania." Seraya melirik ke arah Rania yang memandangi mereka.


Fatma tersenyum getir lalu memeluk Arya. "Cepat pulang ya?" lirih dan bergetar.


Arya terdiam, hanya tangannya yang bergerak mengusap punggung sang istri. Hatinya pun merasa sedih bila mau meninggalkan keluarga kecil yang baru dibinanya itu.


"Nanti juga akan terbiasa dengan kepergian ku, jaga diri baik-baik. Aa pasti merindukan kalian berdua!" lalu Arya menarik kembali tubuh sang istri ke dalam pelukannya.


Fatma tidak bisa berkata-kata, hanya tangannya memeluk erat seakan tak ingin lepas.


"Sudah ya? Aa pergi dulu. Nggak enak sama anak-anak bila telat." Arya melepas pelukannya.


Fatma cuma mengangguk pelan dengan tatap mata yang nanar. Tangan Arya meraih kepala Fatma lalu diciumnya mesra. Lanjut turun ke pipi. Sejenak menoleh ke arah Rania yang kebetulan lengah.


Arya dengan segera mengecup singkat bibir sang istri. Mumpung Rania lengah, sibuk dengan permennya. "Jangan sedih ah, senyum dong?" mengusap bibir Fatma.


Fatma menunjukan senyuman yang dipaksakan. "Hati-hatilah."

__ADS_1


Arya mengangguk. "Assalamu'alaikum," ucap Arya. Kemudian membawa langkahnya sembari melambaikan tangan ke arah Fatma dan Rania.


"Wa'alaikumus salam ..." balas Fatma sembari memegang tangan Rania, yang sebelah lagi membalas lambaiannya. Manik mata mereka berdua menatap kepergian sang sosok pria yang belum lama ini memasuki kehidupan mereka.


Arya membawa langkahnya yang lebar memasuki pesawat. Tugasnya adalah bersiap membawa si burung besi ini ke tempat tujuan dengan selamat. Tanpa halangan apapun.


Arya memejamkan kedua netra matanya seraya membaca doa dalam hati. "Ya Allah, yang maha besar dan yang maha tinggi, sang penguasa alam beserta isinya. Kami mohon perlindungan mu. Jaga dan bantu perjalanan kami, jangan sampai ada suatu kendala apapun. Sesungguhnya kami memasrahkan segalanya padamu ya Allah."


Kedua tangan Arya mengusap wajahnya. Diikuti oleh rekannya yang lain, dan mereka mulai memegang tugas nya masing-masing.


Hari sudah berganti malam, senja merah berangsur menghilang dari barat. Berganti dengan warna langit yang hitam pekat. Menyambut sang bulan bila kah sudi menerangi sang malam.


Para penumpang sudah memasuki pesawat. Tentunya dengan data yang sangat lengkap, selengkap-lengkapnya. Mereka duduk dengan nyaman dan pelayanan yang ramah tamah dari pramugari dan pramugara.


Bahkan harus mampu memberi hiburan bagi orang yang memiliki kecemasan yang tinggi atau bagi yang mempunyai trauma perjalanan di udara.


Suasana semakin gelap. Dan pesawat pun mulai merayap meninggalkan landasan tinggi-tinggi dan semakin tinggi. Melesat menembus awan hitam dan membelah kegelapan, melintasi langit yang suhunya melebihi dinginnya di permukaan bumi.


Arya sebagai penanggung jawab atau pengendali pesawat yang membawa hampir 150 awak itu di tuntut harus mampu membawa semuanya selamat sampai tujuan.


Dia yang di temani seorang kapten lain, bukan kapten Wisnu seperti biasanya. Arya tampak begitu fokus dengan tugasnya.


Si burung besi itu terus melayang di udara tanpa hambatan atau kendala sekecil apapun. Melayang-layang dengan tujuannya menuju kota xx mengantar orang-orang yang mau menjalankan bisnis. Bertemu kekasih, bertemu keluarga atau kerabat. Serta urusan-urusan lainnya.


"Silakan di makan sajian dari kami, Ibu?" Sultan dengan ramah melayani seorang ibu yang tampak tegang dengan perjalanan nya ini.


"Gimana saya bisa makan, Mas! saya sangat tegang, ketakutan. Ini kali pertama naik pesawat, takut tidak turun lagi." Raut wajah Ibu itu terlihat pucat. Sepertinya dia bersama putranya yang tampak santai aja.


"Tenang saja, Bu. Insya Allah pesawat ini akan mengantarkan Ibu ke tempat tujuan dengan selamat ya? Minumlah. Biar lebih rileks." Sultan menyodorkan segelas air putih pada ibu tersebut ....

__ADS_1


****


Mana dukungannya nih? jangan lupa ya like komen dan vote nya jangan lupa juga tonton iklannya🙏


__ADS_2