Mencintai Ibu Angkatku

Mencintai Ibu Angkatku
Silakan pergi


__ADS_3

Semua mata memandangi pintu utama yang terbuka setengahnya. Lalu muncul seorang pria tanpa merasa berdosa ia menampakan hidungnya dengan seringai tanpa ekspresi apa-apa.


Netra mata Fatma dan ibunya begitu tajam pada menatap ke arah Aldian yang berjalan santai memasuki rumah mewah tersebut.


"Tunggu dan duduk di sana!" pinta Fatma ke Aldian yang hampir saja menaiki anak tangga.


Aldian berbalik dan duduk di sofa yang Fatma tunjuk. Matanya beralih pada sang Ibu mertua yang berdiri dan menatapnya tajam.


Fatma menoleh ke arah Mia. "Mia, tolong ajak Rania bermain di luar."


"Baik, Nyonya." Mia mengangguk dan langsung mengajak Rania bermain di luar Mension. Seperti yang Fatma perintahkan.


Setelah Rania tak lagi berada di sana. Fatma mendudukkan dirinya di sofa seberang Aldian. Mengikat rambut di atas sehingga mengekspos leher jenjangnya yang mulus.


"Bu ... baiknya Ibu naik saja, kali aja ayah bangun dan membutuhkan sesuatu," lirih Fatma menoleh sang bunda. Ia tak ingin melibatkan orang lain sekalipun itu sang bunda.


Bu Wati hanya merespon dengan anggukan dan kemudian berlalu ke kamarnya menemui sang suami.


Pandangan Aldian tertuju pada Fatma yang duduk di depannya mengenakan kaos pendek di atas lutut. Memperlihatkan sebagian pahanya yang halus mulus dan ada tanda merah bekas penganiayaan dirinya, tanpa sadar menelan saliva nya sendiri yang tercekat di tenggorokan melihat gaya duduk Fatma yang menggoda tersebut.


"Buat apa kamu balik lagi ke rumah ini?" tanya Fatma dengan tatapan yang tak bersahabat.


Bibir Aldian tersenyum sinis. "Bukankah ini rumah istri ku? anak ku! wajar dong kalau aku pulang ke sini!"


"Sebaiknya mulai sekarang! silakan kamu keluar jangan tinggal lagi di sini! Kerena aku sudah mengajukan gugatan cerai yang harus kamu tandatangani. Aku sudah tak tahan lagi berumah tangga dengan mu. Makan hati," ujar Fatma dengan santainya.


Aldian berdiri dan duduk di dekat Fatma. "Apa? sekali lagi kau bilang apa? mau gugat cerai aku?" memasang kupingnya ke dekat Fatma.


"Ya, aku sudah melayangkan surat gugatan cerai ke pengadilan agama." Jelas Fatma. Menggeser tubuhnya dari Aldian, ia merasa enggan berdekatan dengannya lagi.


"Mau bayar berapa talak ku ha? talak ada di tangan ku. Jadi hak aku mau menceraikan atau tidak juga." Balas Aldian tanpa ekspresi.

__ADS_1


Tangan Fatma mencengkram kerah baju Aldian. Ia kesal dengan sikap pria ini yang keras kepala walaupun salah. "Kamu boleh, terlalu percaya diri di sini tapi nanti di pengadilan kau tak akan mampu berkutik sedikitpun. Aku berani bayar berapa pun, tapi pengadilan lebih tau yang seharusnya." Pekik Fatma yang tertahan.


Aldian balik mencengkram tangan Fatma. Matanya melotot menatap ganas pada Fatma yang ketakutan, mendorong tubuhnya ke belakang dan menindihnya. "Kau tidak perlu mengancam ku Fatmala Aldian. Kau wanitaku dan selamanya akan menjadi wanita ku! wanita mata pencarian ku ha ha ha ...."


Fatma gugup, takut Alfian nekat dan macam-macam di sana. Ia berontak dan lagi-lagi mengangkat dengkulnya untuk menyodok benda pusaka Aldian. Namun tidak membuat tubuh Aldian beranjak mungkin dia sudah kebal. Sehingga bersikap biasa saja.


Plak!


Plak!


Tamparan hangat mendarat di kedua pipi Fatma, bukan cuma itu saja kepala Fatma di jeduk-jeduk kan ke ujung sofa. Untung empuk. Coba keras? pasti Fatma dibuat gegar otak.


Tangan Fatma meronta memukul-mukul dada Aldian. Kemudian Fatma menggigit lengan Aldian sekuatnya dan Aldian pun terperanjat menaikan tubuhnya memegangi bekas gigitan Fatma. "Sial."


Kejadian itu tak diketahui orang-orang. Sebab Fatma dan Aldian tak bersuara kuat agar tak ketara oleh orang lain. Para asisten tengah sibuk menyiapkan makan siang di dapur.


Aldian makin emosi, Fatma yang sudah berdiri hendak pergi. Ditarik rambutnya dengan kuat oleh Aldian, membuat mata Fatma berkaca-kaca menahan sakit di kepalanya.


Jedugh!


Tendangan Aldian mengenai bokong Fatma, sehingga seketika tubuhnya tersungkur ke lantai. Aldian makin kalap emosinya meluap-luap melihat Fatma bersimpuh di lantai dengan mata mengeluarkan buliran air bening berjatuhan di pipinya. Bukannya merasa iba atau terenyuh melihat keadaan sang istri saat ini.


Fatma menggigit bibir bawahnya. menahan sakit semuanya, yang semalam saja belum hilang sakitnya ditambah lagi sekarang. kaki Aldian lagi-lagi menendang pinggulnya Fatma menjadikan ia mendesis kesakitan namun tertahan. Fatma memeluk kaki Aldian, ke kalapan Aldian makin berapi-rapi. Menyambar pas bunga yang terbuat dari keramik.


Aldian menyambar pas bunga dengan niat untuk dipukulkan ke kepala Fatma. Ia ingin puas dengan menyakiti sang istri.


Melihat pas bunga melayang dan hendak menghantam kepalanya. Mata Fatma terpejam kuat-kuat, pasrah kalau kepalanya saat ini harus mengalami luka mendalam dan dengan ini juga akan memperlancar proses gugatan cerainya. Walau tak bisa dipungkiri jantungnya seakan berhenti berdetak saat ini juga.


Dugh!


Prak!

__ADS_1


Pas bunga terjatuh jauh dan pecahannya berserakan di lantai bersama bunganya.


"Bangsat kau. Keparat, banci kau beraninya sama perempuan."


Suara itu membuat Fatma terkesiap, spontan Fatma membuka kelopak matanya dan langsung mendapatkan pas bunga yang berserakan di lantai. Memegangi kepalanya yang masih utuh tak ada darah sedikitpun seperti yang ia bayangkan sebelumnya.


"Jangan ikut campur urusan rumah tanggaku, kau siapa? Kau itu bukan siapa-siapa jadi gak usah macam-macam," sergah Aldian sembari melotot.


"Oo, ini urusan rumah tangga mu, dia istri mu! tapi kenapa kau sakiti dia lahir maupun batinnya? apa kau sadar atau sudah gila memperlakukan istri lebih dari binatang. Sudah jelas-jelas di luar sana kau bermain dengan wanita dengan bebasnya pula, di rumah. Kau masih juga menyiksa istri mu." Hardik si pria itu.


Fatma melotot dengan sangat sempurna mendengar perkataannya barusan. Tidak menyangka kalau pria itu tahu perilaku Aldian di luaran sana.


"Apa? apa kau bilang? jadi selama ini elo memata-matai saya ha?" tangan Aldian sembari mendorong dada Arya sampai mundur ke belakang.


Arya tidak terima di dorong Aldian dan dia balik dong dan akhirnya saling adu jotos.


Dugk! dugk! dugk! saling tonjok saling pukul saling tendang dan saling tindih. Berguling-guling di lantai. Scurity, supir dan para asisten berdatangan setelah mendengar ribut-ribut dari ruang tengah.


Bu Wati juga keluar dan menjerit. "Ada apa ini?"


"Sudah! hi ... sudah. Aku bilang sudah," teriak Fatma yang tak mereka pedulikan. Ia lebih-lebih khawatir pada Arya takut ke napa-napa.


Perkelahian mereka menjadi tontonan buat mereka semua. Buktinya bukan di lerai malah malah di lihat bak nonton acara yang seru. Sampai akhirnya Aldian yang kalah darah segar keluar dari sudut bibir dan hidungnya, sementara Arya tak sedikitpun kena luka di wajah melainkan di tempat lain.


Aldian duduk dengan tatapan penuh kebencian pada Arya. Punggung tangannya menyusut darah dari sudut bibir juga hidung, scurity mengangkat Aldian diajak duduk di sofa namun Aldian minta dibawa ke kamar saja.


Adian yang di papah oleh scurity berjalan tertatih sambil mengumpat dan sumpah serapah yang dia tujukan pada Arya. Fatma tertegun, bengong di tempatnya tadi duduk bersimpuh. Ia shock di ujung bibir terlihat bekas darah, badannya berasa remuk redam ....


****


Terima kasih bila masih ada yang menunggu Arya dan Fatma UPS 🙏

__ADS_1


__ADS_2