
"Seettt ... ngapain bengong? anak pinter gak boleh bengong, nanti pintarnya ilang." Arya berjongkok agar sejajar dengan gadis kecil itu yang melamun.
"Eh, Papa. Nggak melamun kok, udah pelukan sama mananya?" netra gadis kecil itu melirik sang bunda yang mengusap sudut pipinya.
"Sudah," balas Arya seraya tersenyum dan menggercapkan matanya itu.
"Mama, kenapa sedih? kan Papa cuman bekerja! bukan selamanya? ah Mama cemen, manja. Ditinggal kerja aja nangis." Celoteh anak itu sambil menggerak-gerakkan tubuhnya gak mau diem.
"Ha ha ha ... gak pa-pa, berarti mama sayang sama Papa. Emangnya Rania gak sedih? berarti gak sayang dong?" ungkap Arya sembari menangkupkan kedua tangan di wajah Rania yang gembul itu.
"Sayang kok," gadis kecil itu menjawab dengan suara nyaringnya. "Rania juga sayang, tapi bukan berarti harus nangis."
Arya tersenyum melihat gadis kecil tersebut. "Baiklah, jangan nakal, jangan bikin mama cemas. belajar yang rajin. Papa pergi dulu ya?" Arya memeluk Rania dengan erat.
"Pa, cepat pulang ya?" Rania menatap sendu.
"Iya sayang. Pasti." Arya berdiri lalu kembali menoleh pada sang istri.
Fatma menatap lekat dengan senyuman yang dipaksakan.
"Yu, Aa pergi dulu. Assalamu'alaikum?" ucap Arya sembari mengecup kening Fatma singkat.
"Wa'alaikum salam. Hati-hati." Gumamnya Fatma.
"Dah ... Papa?" Rania melambaikan tangan pada Arya.
"Yu, Pak? titip mereka ya?" Arya mengangguk pada pak Harlan yang juga memberikan anggukan hormat.
Arya terus membawa langkah ke lapangan di mana semua rekannya berkumpul untuk meeting sebentar.
Setelah Arya tidak ada dalam pelupuk mata. Akhirnya Fatma memutar tubuhnya dan menuntun Rania memasuki kembali mobilnya.
"Jalan, Pak?" lirih Fatma pada sang supir.
Rania mendongak dan bertanya. "Jadi gak, Mam ke rumah pak Dudin nya?"
"Jadi sayang, Rania mau belanjakan apa buat pak Dudin dan keluarga nya?" Fatma malah bertanya.
"Em ... yang banyak boleh?" tanya Rania ragu.
"Boleh, emang mau belanja apa? anak Mama ini hem?" tangan Fatma mengusap kepala Rania dengan lembut. Lalu pandangannya mengedar keluar jendela.
Pak Harlan terus memutar kemudi, melaju dengan cepat dengan tujuan ke rumah pak Dudin dan di tengah perjalanan berhenti di depan sebuah swalayan.
__ADS_1
Fatma dan Rania turun dan memasuki sebuah swalayan dan memilih belanjaan buat buah tangan buat pak Dudin dan keluarga.
"Mam, Ranai mau ngambil makanan ringan ya. Susu, cokelat. Wafer dan ... apa ya?" Rania tampak bingung.
"Biskuit, roti, buah-buahan dan apa aja boleh." Tambah Fatma sambil mendorong troli sambil melihat semua barang yang berjejer dengan sangat rapi.
"Iya, ya? kok Rania bisa lupa sih?" Rania menepuk jidatnya sambil mulai mengambil makanan dan yang lainnya.
Begitupun Fatma mengambil semua bahan-bahan dapur. Seperti telor, gula dan terigu. Minyak goreng dan ayam nugget.
Selesai belanja dan merasa cukup. Belanjaan pun pak Harlan masukan ke bagasi. Akhirnya mereka melanjutkan perjalanannya ke tempat yang menjadi tujuan.
Saat ini mereka sudah berada di dalam mobil dan rasa pusing kembali menyerang disertai rasa mual seperti tadi.
"Kok aku bisa lupa sih, padahal dari kemarin mau periksa dan mengajak, Aa." gumam Fatma dalam hati.
"Mam, kenapa sakit?" tanya anak itu terlihat cemas.
"Nggak ah, Mama gak sakit kok. Baik-baik saja. Pak agak cepat jalan mobilnya?" pinta Fatma ke supir.
"Oh, iya, Bu." Pak Harlan mengangguk.
...---...
Terus setelah memastikan semua alat atau mesin mulus tidak ada kendala sedikitpun, mekanik keluar dan tinggallah Arya dan kapten lainnya.
Tiba-tiba Sultan datang menghampiri. "Bro, apa kabar?"
Arya menaikan alisnya tidak dengan cepat menjawab. "Baik. Kau terlambat? kenapa?"
"Ha, siapa bilang terlambat? cuma ... telat doang. He he he ..." Sultan nyengir.
"Sama aja dodol, cuman beda kata." Kapten Wisnu menggeleng.
"Iya, ya? sorry?" Sultan kembali ke belakang meninggalkan kedua kapten yang bersiap mengendalikan si burung besi tersebut melanglang di udara.
Arya memejamkan kedua matanya sambil berdoa dalam hati semoga sang maha pencipta dan alam semesta menyertai perjalanan ini.
"Bismillah ... ya Allah meridhoi perjalanan kami ini. Selamatkan kami," sejenak mendongak.
Kemudian Arya dan kapten Wisnu bersiap untuk take-up. Si burung besi perlahan bergerak naik ke udara membelah langit menuju tempat tujuannya.
Langit yang begitu cerah dan burung-burung bernyanyi riang. menyaksikan si burung besi melintasi cakrawala.
__ADS_1
Para awak pesawat melayani penumpang dengan baik dan ramah. Membuat nyaman para penumpangnya.
Selang beberapa lama. Si burung besi mengudara akhirnya perlahan landing menapakkan roda kecil nya dipermukaan landasan yang luas tersebut.
Arya dan para awak lainnya mencari tempat singgah, setelah melakukan pertemuan dengan para pihak terkait di bidangnya itu.
"Tan, gue mau tanya sama lu?" tanya Arya di sela meneguk minumnya.
"Soal apa? pasti tentang Dewi, kan?" jawab Sultan dengan nada bertanya.
"Iya. Tanya dalam waktu dekat ini kau akan melamar dia?" seru Arya sambil memicingkan matanya. "Masalahnya kau sendiri belum mengatakan apapun padaku."
"Justru itu, aku mau bicara sama lu bro, namun belum sempat. Sebenarnya aku mau sengaja mau ajak ku pertemuan entah besok lah, gitu rencananya." Sultan tampak serius.
Wisnu yang berada di sana cuma menyimak, sesekali melihat ke arah Sultan dan Arya yang tampak serius itu.
"Sepertinya ... aku gak ada waktu. Besok mau nganterin istri ke luar Negeri." Kata Arya menatap ke arah Sultan.
"Aku sudah bicara dengan keluarga ku dan mereka setuju. Kalau akhir bulan ini aku akan melamar Dewi buat menjadi istri ku, aku rasa kau sebagai sahabat ku akan merestui niat ku," ungkap Sultan penuh keyakinan.
"Kau yakin itu?" tanya Arya sembari menautkan kedua alisnya.
"Yakinlah. Seratus persen, gua yakin." Sultan tersenyum penuh kemenangan.
Bibir Arya menyungging, lalu mengedarkan pandangan ke suasana sekitar.
Manik matanya melihat sesuatu yang aneh. Netra nya tertuju pada dua orang pria yang satunya menuntun anak laki-laki sekitar usia empat tahunan yang tampak gusar, mencari sesuatu.
Kedua pasang mata Arya terus tertuju ke dua orang tersebut yang tampak mencurigakan. Karena samakin lama semakin menjauh, akhirnya Arya memutuskan untuk mengikuti dari jauh.
Sultan heran dan celingukan melihat Arya yang tampak anteng melihat sesuatu. "Ada apa bro?"
"Sebentar-sebentar," gumamya Arya sambil beranjak dengan mata tidak lepas sedikitpun dari mereka. Tidak lupa menyambar jaketnya lantas dipake untuk menyamarkan kalau dia sebagai pilot salah satu maskapai penerbangan.
Langkah Arya kian lebar membuntuti kedua orang tersebut. Melipir melewati orang-orang yang berada disekitar.
Semakin lama semakin ketara kalau dua orang tersebut bukanlah orang baik-baik, anak itu mulai merengek dan mereka terus membawa anak tersebut ke sebuah bangunan yang tampak sepi ....
.
.
Terima kasih reader ku yang selalu menantikan kelanjutan kisah Fatma dan Arya 🙏
__ADS_1