Mencintai Ibu Angkatku

Mencintai Ibu Angkatku
Jaga mulutmu


__ADS_3

"Ngapain anda datang, tidak sopan banget main masuk tanpa permisi keruangan orang." Fatma berdiri dan menunjukan tatapannya yang begitu tajam dan muak melihat Suci berada di situ.


Suci masuk berjalan gontai mendekati Fatma dan menatap sinis. "Oh, ini yang dilakukan seorang Fatmala di kantor berduaan dengan pria asing. Di luar anaknya dengan pria muda yang dipanggil papa, dan di sini ibunya tengah asik berduaan."


"Kamu ini ngomong apa sih ha? saya di sini sedang bekerja! bila ada pertemuan dengan rekan bisnis yang mayoritasnya pria, itu tentang kerjaan bukan macam-macam. Jaga mulut mu itu ya?" peringatan dari Fatma. Dia tak terima dengan omongan Suci yang asal nyaplak saja.


"Oya, rekan bisnis ya, namun berselubung pria nikmat sesaat!"


"Kau?" telunjuk Fatma menunjuk ke arah hidung Suci yang seenak nya aja mengatainya.


Zayn memilih terdiam, sebab ingin tau omongan apa saja yang mereka perbincangkan. Membuat dia sendiri mengerti dari inti permasalahannya.


"Apa bedanya dengan pelacur?" lanjut Suci yang tak gentar dengan tatapan Fatma yang seakan ingin mematikan tersebut.


"Jaga mulut mu ya? aku tak serendah itu!" pekik Fatma yang tertahan.


"Aku tahu, kamu akan dengan mudahnya mencari pria baik maupun hidung belang. Pria sesaat pemuas napsu mu itu, Di luar papa baru di sini juga akan jadi papa baru," ucap Suci sambil menggerakkan jarinya.


"Saya tidak serendah itu, Rania memang dia sedang bersama calon papanya, itu benar. Tapi saya tidak terima dengan tuduhan mu yang merendahkan ku!" Fatma menatap Suci penuh kemarahan.


"Rania Anaknya Aldian dan akan selamanya menjadi anak Aldian. Tapi kenapa anak itu gak mau mengakui Aldian papanya? kenapa apa kalian sudah meracuni isi otak anak itu? pertalian anak dan ayah tidak akan pernah putus sampai kapanpun, camkan itu?" jelas Suci.


"Saya tidak pernah meracuni otak Rania. Dia juga tentunya bisa memilih mana yang tulus dan mana yang modus? dan sebaiknya kau tanyakan pada suami mu itu, pernahkah bersikap tulus dan penuh kasih sayang pada putrinya?" ucap Fatma tidak mau kalah.


"Hem, pelacur tetaplah pelacur yang suka menggoda pria lain yang akan dijadikan sebagai mangsanya--"


"Pergi? pintu masih terbuka. Bila tak ingin aku panggilkan scurity, pergi?" ungkap Fatma seraya menunjuk pintu keluar.


Zayn berdiri. "Sebaiknya anda keluar ya sebelum saya sendiri yang menyeret mu dari sini. Dan harap Anda tahu ya? kalau saya ini sepupu dia bukan seperti yang kau pikirkan." Jelas Zayn dengan tenangnya.


"Saya ke sini mau meminta kamu, bebaskan suami ku. Ayah dari anak mu. Dan satu lagi jangan racuni anak mu, bagaimanapun Rania anak Aldian." Tatapan Suci seakan ingin menghunus ke dalam jantung Fatma.

__ADS_1


"Sudah saya bilang, saya bisa. Silahkan urus sendiri, Karena itu hasil dia menuai. Saya tidak ingin berurusan lagi dengan suami mu! jelas? silakan pergi!" ucap Fatma tak kalah jelasnya.


Membuat Suci lagi-lagi dibuat bungkam. Dan tak mampu lagi berkata-kata selain tatapan muak terhadap Fatma, kemudian membalikan badan keluar dari kamar tersebut.


Fatma menghela napas lega setelah Suci tiada bayang-bayang nya lagi di tempat tersebut.


Hening!


Sementara waktu keduanya memilih terdiam dengan pemikirannya masing-masing sehingga suasana begitu hening. Hanya suara helaan napas yang mewarnai.


Kemudian Zayn melirik ke arah Fatma yang masih tak bergeming. "Sudah belum?"


"Ha! apanya?" tanya Fatma seketika menoleh ke arah Zayn yang menatap ke arah dirinya.


"Sudah baik-baik saja?" selidik Zayn kembali.


"Aku, baik-baik saja kok." Akunya Fatma walau yang sebenarnya hatinya tidak baik-baik saja di saat ini.


"Baguslah. Kalau kau baik-baik saja," ucap Zayn sembari menatap curiga.


Setelah sesaat, Fatma mengecek laptopnya. Kemudian menatap ke arah Zayn yang langsung menghampiri dan duduk tepat di depan Fatma.


"Oke, selamat bergabung di perusaan ini. Mulai sekarang kamu yang akan menjadi asistenku untuk mengurus dan menggantikan urusan di saat aku tak ada atau halangan," ucap Fatma dan berdiri mengulurkan tangan untuk berjabat tangan dengan Zayn.


"Terima kasih? sudah terima saya bekerja dengan mu." Zayn tersenyum bahagia.


"Sama-sama, tapi jangan samakan aku dengan Malik Ibrahim ya? sebab aku wanita dan dia laki-laki," sambung Fatma dengan senyuman manis.


"Nggaklah, aku tahu kamu perempuan dan beda karakter, tenang saja." Zayn mengedipkan sebelah matanya.


"Ya sudah. Ruangan mu ada di sebelah ruangan ini." Fatma beranjak dan mengantar Zayn ke ruangan sebelah.

__ADS_1


Keduanya berjalan beriringan, karyawan dan sekretaris mengangguk hormat pada Fatma dan Zayn. Sebelumnya Fatma mengenalkan Zayn sebagai anggota baru di dalam perusahaan.


...--...


Susi Baru datang ke Mension dan langsung menemui khsatria, yang sedang bermain habis pulang sekolah.


"Tuan muda khsatria. Susi datang ..." gegas memeluk anak laki-laki usia 4 tahun itu.


"Mbak Susi. Aku pengap nih! nggak bisa bernapas, Mbak Susi kenapa sih?" ucap anak itu sembari meronta sebab merasa pengap.


"Habis Susi kangen." Susi melonggarkan pelukannya terhadap khsatria.


"Kangen sih boleh. Peluk juga boleh, tapi kira-kira dong ... aku ini masih kecil dan belum kuat. Kalau nanti aku sesak napas gimana coba. Napas aku habis gimana?" polosnya khsatria menambah ekspresi nya yang lucu.


"Aish ... Tuan muda makin pinter saja," Susi duduk ikutan bermain.


"Pinter dong ... kan di sekolahin." Jawab khsatria. Meneruskan bermainnya, main mobil-mobillan dan pesawat.


"Mammy dan pappy gak ada ya?" tanya Susi celingukan.


Yang ada cuma para asisten yang tengah beraktifitas seraya menjaga khsatria.


"Mammy sedang ada acara sosial dan pappy pastinya bekerja lah, Mbak Susi ini gimana sih! sudah temenin aja aku bermain jangan banyak tanya ah." Jawab khsatria.


Kemudian mereka anteng bermain, dengan cara Susi sering bermain bersama khsatria, dapat mengusir rasa sepi yang selalu menghantui dirinya tentang kehadiran seorang anak.


Dirinya sangat merindukan kehadiran sang buah hati. Namun Tuhan belum juga menitipkan kepercayaan pada dirinya. Usaha ya usaha tapi tetap saja hasilnya masih kosong dan harus tetap bersabar.


Terkadang merasa sedih namun ia harus sabar dan ikhlas. Menerima semua ini, Susi sering kali kesepian dan sunyi apalagi kalau Zayn sedang tidak ada di rumah dan bekerja.


Susi terlihat happy bermain dengan khsatria yang memang juga anteng bila ditemani Susi. Dia tampak dekat dengan Susi mungkin dari ketika masih baby pun diasuh sama Susi. Jadi maklumlah.

__ADS_1


...--...


Hari Kamis sore. Arya masih bertugas di sebuah bandara dia sedang dalam keadaan landing. Arya dan rekan pilotnya sedang mengadakan meeting bersama pramugara dan pramugari, perihal adanya sedikit kendala yang bikin jantung seakan berhenti berdetak ....


__ADS_2