Mencintai Ibu Angkatku

Mencintai Ibu Angkatku
Rania ngambek


__ADS_3

Fatma tengah menikmati makan siangnya. Sesekali menyibakkan anak rambutnya yang mengganggu aktifitas makannya.


"Mbak?" pria itu melambaikan tangan pada seorang pelayan restoran.


Pelayan pun segera menghampiri serta mengangguk hormat. "Mau pesan apa Tuan atau ada yang bisa saya bantu?"


Pria tersebut menunjukan senyumnya yang ramah. "Tolong berikan bunga mawar putih ini pada wanita yang duduk di pojokan sana." Menunjuk pada arah Fatma yang tengah makan dan sendirian.


Berita mata pelayan wanita ini mengarah ke tempat yang Arya tunjuk lantas mengangguk mengambil buket bunga tersebut.


"Terima kasih sebelumnya Mbak?" Arya mengangguk penuh rasa terima kasih lalu mengeluarkan selembar uang yang berwarna merah diberikannya.


Seiring wanita itu berlalu untuk mengantarkan bunga pada fatma. Arya pun segera berdiri, menggeser kursinya lalu meninggalkan tempat tersebut dengan gaya jalan santainya.


"Permisi Nyonya, ini ada pemberian bunga untuk anda," ucap pelayan tersebut seraya menyimpan bunga tersebut di meja tepat bagian samping kanan.


Fatma mendongak dan tertegun melihatnya. "Ha? dari siapa? saya tidak merasa memesannya lho!" Fatma terheran-heran dengan tatapan ke bunga tersebut.


"Dari pria yang berpakaian pilot yang duduk di sana," menunjuk ke arah Arya duduk, namun tempat itu sudah kosong.


"Mana gak ada?" manik mata Fatma mencari keberadaan orang yang mbak itu maksud.


"Tadi ada kok, permisi?" pelayan mengundur diri.


Fatma mengambil bunga tersebut lalu menciumnya dengan bibir mengembang menunjukan senyuman. "Arya kali ya?"


Ting!


Tiba-tiba ada pesan masuk yang bernama kontak A. Dengan isi Pasan chat. "Semoga bunga itu menjadi teman dalam kesendirian mu disaat ini."


Senyum Fatma kian mengembang sembari memandangi bunga tersebut.


Sepulangnya dari kantor, Fatma mampir ke toko kue, kue kesukaan Rania dengan spontan teringat pada Arya dan secara kebetulan ada cake perasa durian. Fatma memesan satu dan langsung dipaketkan ke alamat apartemen Arya yang tertera di kartu namanya.


Setelah itu dia memasuki kembali mobilnya. "Jalan Pak," sambil menyandarkan punggungnya ke belakang jok sofa.


"Kemana lagi Nyonya muda?" tanya Harlan dari belakang setir.

__ADS_1


"Ke rumah saja, Pak."


"Baiklah," gumam pak Harlan seraya memutar kemudinya.


Netra mata Fatma beralih dari luar jendela ke Bunya yang tergeletak di sampingnya itu. Lantas dia ambil dan lagi-lagi mencium wanginya, wajahnya tampak bercahaya.


Pak Harlan yang sekilas melihat majikannya sedang berinteraksi dengan bunga, tersenyum sembari berkata. "Itu dari Den Arya ya Nyonya?"


Dengan cepat Fatma menoleh ke depan, dengan heran Fatma bertanya. "Ha? Pak Harlan tahu dari mana?"


Pak Harlan mengulas senyum di bibirnya, tak lantas berbicara sekalipun suara napasnya. Dia fokus dengan pandangan ke depan, melihat jalan yang kebetulan ada yang menyebrang.


Sementara Fatma tak sabar menunggu jawaban dari pak Harlan yang malah terdiam.


"Tadi saya sempat melihat Den Arya membawa bunga semacam itu masuk restoran. Saya kira buat ke kasihnya tapi ternyata ada di tangan Nyonya muda.


Fatma terdiam sejenak sembari memandangi bunga yang berada dalam pelukannya. "Saya, tidak bertemu orangnya. Saya dapatkan ini dari pelayan restoran dan katanya pria berbaju pilot gitu." Gumamnya Fatma sembari mengedarkan pandangan ke arah luar jendela.


"Memang benar, Den Arya menggunakan seragam pilot. Pemuda itu semakin ganteng dan baik, yang bikin saya kagum lagi ... orang nya taat." pada akhirnya pak Harlan membuka suaranya.


"Pemuda yang taat insyaallah akan senantiasa menjaga tanggung jawabnya. Kalau saja saya punya anak perawan, pasti akan saya jodohkan dengan Den Arya, kalau Den Arya nya mau." He he he ....


Degh!


"Jangan gitu dong Pak. Jangan dulu mengenalkan dengan anaknya, aku cemburu nih Pak," batin Fatma sambil menggerakkan manik matanya ke lain arah.


"Sayangnya ... anak saya yang masih bujang, sebab si sulung sudah di boyong ke Garut alias sudah menikah," sambung pak Harlan.


"Ooh. Iya-ya, anak perempuan pak Harlan cuma satu, itupun sudah menikah. Kok aku bisa lupa sih?" gumam Fatma dalam hati, dan bibirnya mesem sendiri.


Setelah beberapa lama diperjalanan. Akhirnya mobil Fatma tiba di depan gerbang Mension Fatma. Menunggu dibukakan oleh scurity dan sebelum turun terdengar suara Rania menangis menjadikan Fatma bergegas turun menenteng tas dan bunga.


"Pak, tolong bawakan paper bag di mobil," pinta Fatma pada pak Harlan.


Fatma dengan cepat membawa langkahnya menuju mension. Setelah melintasi pintu, suara Rania semakin kencang dari dalam. "Assalamu'alaikum? Rania ... Rani sayang kenapa?"


Rania berhambur berlari memeluk sang bunda. "Mama? Rania mau ketemu om ganteng."

__ADS_1


"Lho ... kok nangis? kenapa nangis! masa anak Mama cengeng." Fatma berjongkok memeluk Rania sangat erat.


"Pokonya Rania mau ketemu om ganteng. Sekarang hik hik hik."


"Dari tadi Rania merengek terus, ngamuk-ngamuk minta ketemu om ganteng katanya Nyonya," ucap Mia sambil mengambil tas kerja Fatma.


"Kok Rania gitu sih? Mama gak suka Rania begitu." Fatma mengusap punggung Rania yang berada di dalam pelukannya.


"Habis, om nya gak datang-datang. Rania kangen Mam, kangen sama om ganteng.'' Pekik Rania sambil menghentakkan kakinya ke lantai.


"Sayang ... mungkin om nya sedang sibuk kerja, jadinya gak ada main--"


"Biasanya om, suka menemui Rania ke sekolah. Tapi sudah beberapa hari ini om gak ada, Rania mau ketemu om." Lagi-lagi Rania memekik, suaranya tinggi.


"Aduh sayang ... Rania ngerti gak? om lagi sibuk. Nanti kalau om nya gak sibuk pasti main ke sini." Fatma menuntun tangan Rania ke sofa.


"Benar, Non. Om gantengnya tadi juga ketemu sama Mama masih memakai pakaian tugas," ucap pak Harlan sambil menyimpan paper bag.


Rania bengong menatap sang bunda. "Jadi, Mama ketemu om ganteng?" netra matanya yang polos menatap intens.


"Eeh! tidak, Mama gak ada ketemu om. Pak Harlan yang melihat om, Mama nggak," ucap Fatma sembari menggeleng dan menoleh pak supir.


"I-iya, maksud Bapak, tadi ketemu om ganteng di resto. Kalau Mama sih gak lihat." Ralat pak Harlan.


"A ... h, hik hik hik Rania pengen ketemu Om." Rania kembali menangis.


Bu Wati dan pak Wijaya, menghampiri. "Telepon saja ya Om nya, mau?" tangan pak Wijaya mengusap kepala Rania lembut.


"Eeh. Sayang ... Mam bawakan kue kesukaan Rani lho. Ini?" Fatma menunjuk paper bag bawanya.


Rania menghempaskan bokongnya di sofa dengan melipat tangan di dada dan ekspresi yang marah. "Rania gak mau makan, nggak mau!" kepala menggeleng.


"Ya udah, kalau Rania begitu Mama juga bisa marah kok." Fatma beranjak dan mengambil bunga ... dibawa ke lantai atas, menuju kamarnya ....


****


Jangan lupa like, komen serta vote nya.

__ADS_1


__ADS_2