
Sofi duduk di depan Fatma. Fatma cuma tersenyum dan akhirnya mengangguk.
"Boleh, aku ikut gabung di sini?" ulang Sofi sembari menyimpan tas di atas meja.
"Tentu boleh, mana Sultan nya?" tanya Fatma celingukan.
"Oh, Sultan sedang ngobrol sama Aa. Nanti nyusul." Sofi menunjuk ke arah luar.
Kemudian Fatma menerima telepon dari Arya, sekedar menanyakan mereka berada. Fatma pun memberi petunjuk.
"Em, gimana? aku lihat kalian sangat terlihat bahagia ya?" Sofi membuka percakapan sembari menunggu pesanannya datang.
Fatma menatap datar ke arah Sofi wanita cantik ini tampak sinis dengan perkataannya sendiri.
"Alhamdulillah. Kami sangat bahagia dengan pernikahan kami ini." Jawab Fatma set tersenyum bahagia.
"Syukurlah. Aku ikut senang!"
"Hi .... rupanya kalian di sini barengan?" Sultan berkata setelah berada di meja Fatma.
"Sayang, aku sudah di pesankan belum?" Arya duduk di samping Fatma.
"Sudah, yu makan?" Fatma mengangguk dan menunjuk ke arah piring Arya.
"Iih, Papa lama amat sih? Rania sudah selesai makannya, Papa baru datang. Ngapain sih sama om Tatan?" suara Rania sambil mengerucutkan bibirnya.
"Maaf sayang, Papa telat," Arya mengusap kepala Rania melalui belakang Fatma.
"Ngobrol sebentar, Nona cantik. Itu bahas terigu dan telor, kira-kira jadi apa ya?" Sultan nyeleneh.
"Tan?" mata Arya membulat melotot ke arah Sultan yang duduk di samping Sofi tepat di depannya.
"Terigu dan telor, maksudnya?" tanya Sofi penasaran melirik ke arah Sultan yang duduk di sampingnya.
Rania menatap ke arah Sultan. "Om Tatan. Bohong--"
"Bikin roti, Om Tatan!" Fatma memotong ucapan Rania, menatap Sultan dengan gerak matanya.
"Ooh, iya bener-bener, terigu dan telor buat bikin roti." Sultan mengangguk dan meralat omongannya.
"Om Tatan, Rania gak punya adek dulu lho. Mama dan papa menunda itu, iya kan Pah, Mam?" Rania menoleh orang tua nya bergantian.
__ADS_1
"Iya," sahut Arya di sela-sela makannya.
"Oya? ya ... Om Tatan dapat keponakan lagi dong ... gak seru kakao keponakannya cuma Rania, om Tatan mau ponakan cowok." Kata Sultan sembari meneguk minumnya.
"Mam, mau adik cowok? Mam mau punya adik," rengek Rania.
"Sayang, iya nanti waktunya." Fatma mengusap pipi Rania lembut.
Arya langsung mencondongkan kepalanya. "Sultan ... kau ini meracuni Rania terus?" pekik Arya, suaranya tertahan.
"Ha ha ha ... sorry?" Sultan malah tertawa.
Sofi menggeleng melihat kelakuan orang-orang disekitarnya itu. Dia menghela napas panjang menatap ke arah Sultan, sampai detik ini dia tidak merasakan perasaan apapun selain sebagai teman.
Sultan memang baik dan humoris. Tapi tetap belum mampu mengambil hatinya, malah saat ini seorang pria pengusaha yang sedang mendekati Sofi. Dan Sofi pun welcam pada lelaki tersebut.
Sultan sendiri masih menganggap kalau Sofi adalah kekasihnya. Padahal tidak dengan Sofi yang menganggap Sultan sebagai teman. Biarpun kata jadian pernah terucap tapi tidak serta hati.
Sofi ingin putuskan Sultan, tapi masih mencari caranya, sebab gak mungkin gak ada angin gak ada hujan begitu saja. Minimal harus ada sebab lebih dulu sebagai alasan untuk memutuskan Sultan.
Setelah makan. Rania mengajak jalan-jalan biasa ke tempat permainan. Sultan pun dari pada tidak ada tujuan ya bareng-bareng Arya, Sultan malah ikut bermain dengan Rania dan Arya. Fatma hanya melihat dari jauh bersama Sofi.
Di tengah seru-seruan. Arya menoleh ke arah sang istri yang cuma melihat ke arah mereka. Arya beranjak menghampiri sang istri.
"Sayang turun yu?" meraih tangan Fatma yang terdiam mematung.
"Asik banget ya bermain bersama?" ucap Fatma dengan nada dingin.
"Kenapa, cemburu? yu kita main jepit boneka, siapa yang kalah harus memberi kecupan berkali di sini." Arya menunjuk bibirnya.
Fatma mengerucutkan bibirnya. "Boleh, siapa takut? aku pasti menang. Dan yang menang harus boleh minta apa saja sama yang kalah."
"Boleh, Aa pasti menang kok." Arya sangat percaya diri.
Keduanya berjalan ke tempat permainan jepit boneka.
"Aa, yang itu-tu, Aa. yang warna putih." Fatma menunjuk boneka panda putih nan lucu.
"Boleh, masukan dulu koinnya?" Arya mengeluarkan uang koin dan memasukan ke dalam kotak.
Kemudian mereka bergantian menjepit boneka yang Fatma inginkan.
__ADS_1
"Ayo-ayo, ayo semangat-semangat." Fatma memberikan semangat pada sang suami.
Namun pas sudah di atas si boneka terlepas begitu saja. "Ah ... lepas deh." Arya lesu.
"Hem ... gak bisa dia, aku dong ... lihat ya?" Fatma menyingsingkan lengan bajunya lantas bersiap memulai permainan.
Dengan fokus, Fatma menjepit boneka yang ia inginkan agar berpindah posisi ke jalan keluar namun pas tegang-tegangnya hampir masuk ke tempat pengambilan. Si boneka terguling lagi ke bawah tempat semula.
"Arggh!" gumam Fatma kesal. Kesal namun bikin penasaran sehingga setelah merasakan gagal satu kali pengen mencoba lagi dan lagi.
Begitupun Arya. Dia beberapa kali mencoba dan hasilnya nihil. Fatma juga sama, coba lagi dan lagi. Hasilnya lagi dan lagi gagal, bikin BT namun seru! happy.
Apalagi setelah Rania datang bikin suasana lebih ramai, heboh. Geregetan sendiri melihat orang lain bermain dengan fokus menjepit boneka, dia yang riweh dan menunjuk, Pah Boneka yang itu. Mam yang ini, begitulah Rania.
"Gak dapat itu juga gak pa-pa kan? kita bisa beli aja ya?" Arya menoleh ke arah sang istri.
Fatma menoleh bersama senyum manisnya. "Nggak pa-pa, seru aja."
Kini Rania heboh memberikan semangat pada Sultan dan Sofi. yang giliran menjepit boneka-boneka tersebut. Sampai akhirnya Sultan mendapatkan sebuah boneka kecil bergambar love.
"Hore ... Om Tatan dapat. Om Tatan dapat." Rania berjingkrak-jingkrak senang. "Om, buat Rania ya?"
Sultan terdiam sejenak, tadinya boneka kecil itu akan ia berikan pada Sofi, namun mendengar Rania yang heboh dan memintanya. Sultan jadi gak tega pada akhirnya dia berikan pada Rania.
Rania girang mendapatkan boneka tersebut. "Akh ... Mama sama Papa gak pinter. Seperti om Tatan dong." Anak itu terus berjingkrak bahagia.
"Iya, Papa kalah. Mama juga kalah." Arya mengakui kekalahannya.
"Hem ... Papa, mama cemen. Kalah sama om Tatan." Tambah anak itu lagi.
Fatma melirik jarum jam yang ada di tangan Arya. "Sayang, pulang yu? sudah malam nih, besok kan sekolah sehari lagi."
Arya pun melihat jam di tangannya. "Iya nih, sudah malam."
"Iya ... emang dah malam bro. Kan datangnya juga sudah malam. Kalau saja datangnya pagi so pasti lanjutannya siang--"
"Nggak bicara dengan mu, Tan. Kamu terserah, mau pulang pagi juga tapi ingat bawa anak orang yang harus dipertanggung jawabkan?" ujar Arya pada Sultan seraya melirik Sofi ....
****
Hanya dukungannya yang aku harapkan🙏
__ADS_1