
"Aduh, aku jadi gak enak. Gak enak kalau dilihat orang atau ketahuan sama Renata, takutnya salah paham." Batin Arya sambil bengong melihat makanan di meja.
Detik kemudian Sofi kembali membawa piring dan sendok di tangannya. Duduk kembali di tempat semula dan menuangkan ketoprak ke dalam piring lalu disuguhkan ke Arya.
Arya mengambil dan lantas mencicipinya sedikit. Hatinya tak dapat dipungkiri yang merasa gelisah. Khawatir dengan tanggapan orang, walau kehidupan di apartemen tak seperti di perkampungan. Namun tetap saja hati Arya gusar kalau saja datang orang yang menduga yang macam-macam ....
"Kenapa, kok dimakannya sedikit sih. Apa gak enak ya?" mengambil dan menyendok sedikit makanannya lalu ia icip-icip. "Enak kok."
"Enak, cuma aku masih belum lapar. Biar saja, nanti aku makan agak siangan." Timpal Arya sambil sesekali melihat pintu yang sengaja dia buka.
"Aduh, hati aku jadi gusar gini. Jujur aku takut Renata datang dan mencurigai atau apa. Semoga saja Sultan datang atau siapa kek yang datang. Agar tidak berdua saja di sini," gumamnya Arya dalam hati sambil menunduk menatap lantai.
Sofi menarik bibirnya ke samping. Ia suka melihat penampilan Arya yang cuma mengenakan setelan kaos singlet yang berwarna hitam plat putih itu. Sofi menggeser duduknya ke dekat Arya. "Kamu sedang olah raga ya? aku ganggu dong."
"Jelas! eh maksud ku nggak juga. Gak ganggu, Oya kamu gak ada jadwal kerja hari ini?" tanya Arya menatap ke arah Sofi dan sedikit menggeser posisi duduknya.
"Tidak, besok baru tugas lagi. Kamu kapten, hari ini ada kerjaan?" Sofi balik tanya dan menatap lekat.
"Aku sih lusa, sekarang mau bersantai saja." Balas Arya wajahnya tampak gelisah. Entah kenapa merasa risih berdekatan dengan Sofi yang malu-malu tapi agresif. Arya membuang napasnya dari mulut.
"Em ... gimana kalau kita jalan? ada acara sama tunangannya gak?" ajak Sofi yang diakhiri dengan sebuah pertanyaan, memandangi penuh harapan.
"Eh ... sorry, Sofi. Kebetulan aku ada acara." Balas Arya beralasan.
"Oh, gak pa-pa sih. Em ... boleh gak numpang ke toilet sebentar?" Sofi merasa kebelet.
"Boleh, boleh tapi di dalam." Arya menunjuk ke arah kamar mandi yang dekat dapur.
Sofi beranjak ke tempat yang Arya tunjukan. Mambawa langkahnya ke sana, ia sengaja main ke tempat Arya tidak mengajak temannya agar lebih leluasa berduaan tak ada yang mengganggu. Sofi sudah lama menyimpan rasa pada Arya meski tahu Arya sudah tunangan dengan Renata.
Dia tak perduli, apalagi akhir-akhir ini sering melihat Renata jalan dengan teman cowok nya. Membuat Sofi merasa ada sinyal kesempatan untuk nya mendekati Arya si pria idamannya selama ini.
"Aduh, siapa ke yang datang! kok gua jadi gelisah gini sih?" Arya bicara sendiri sambil menggaruk tengkuknya. Ia berjalan mondar-mandir seraya memeluk kedua tangannya.
"Lho, kok pintu terbuka gini? tumben. Nanti ada pencuri masuk gimana bro?" suara Sultan yang tau-tau sudah berdiri di depan pintu dan melangkah masuk.
"Akh ... kebetulan sekali kau datang." Tangan Arya menepuk bahu Sultan yang tampak heran.
__ADS_1
"Kenapa, kangen ya, ngaku deh? perasaan baru kemarin bertemu," ucap Sultan sambil menyeringai.
"Ih, amit-amit. Gatal-gatal jauh-jauh, kau pikir gua pecinta sesama jenis apa?" ketus Arya seraya menggeleng.
"Saya juga perjaka tulen nih," kemudian manik mata Sultan tertuju pada tas wanita yang berada di atas sofa. "Tas siapa, Renata bukan? saya ganggu dong."
Arya setengah berbisik sambil matanya celingukan ke arah toilet. "Itu, tas punya Sofi. Kebetulan kamu datang. Gua risih cuma berdua di sini takut di grebek scurity he he he ....''
"Ha? So--"
"Settt ..." Arya menempelkan jari telunjuknya di bibir. "Jangan keras-keras. Nanti dia denger."
"Emang dia dimana?" manik mata Sultan mencari keberadaan Sofi. Wanita yang memang ia incar.
"Ada di toilet sana." Menunjuk dengan dagunya. Kemudian Arya pamit untuk mandi dan menyuruh Sultan memakan ketoprak yang Sofi bawakan untuknya.
Sofi kaget melihat Sultan yang ia temukan, bukan Arya lagi dan Sultan sedang memakan makanan yang ia bawa buat Arya. "Lho, kok kamu ada di sini sih? terus itu makanan Arya kok kamu makan?"
Sultan menoleh lalu nyengir memperlihatkan giginya yang putih. "Iya, aku baru datang Sofi. Enak nih makasih ya makanannya?"
"Itu punya Arya, kok dimakan kamu sih?" ulang Sofi sambil mengernyitkan keningnya.
Bugh!
Sofi memukul pundak Sultan dengan bantal sofa. "Sembarangan kau ini, dukun-dukun. Musyrik!"
Sultan berekspresi sakit. "Habis seolah tidak boleh ku makan. Jangan-jangan pake dukun gitu, ya udah aku habiskan lagi saja tidak baik membiarkan makanan mubazir."
"Terserahlah." Sofi merasa kesal, sudah ganggu kenyamanan ditambah makan makanan orang lagi. Namun Sofi berusaha menutupi perasaannya.
"Kamu ke sini sama siapa Sofi?" selidik Sultan setelah menghabiskan ketoprak sampai ludes.
"Sendiri, kamu sendiri sendiri juga?" jawab Sofi sambil balik tanya.
"Nggak, aku bersama malaikat penjaga ku," balasnya santai.
"Kalau gitu, aku juga sama!" sambung Sofi sambil menaikkan bahunya.
__ADS_1
"Sama apanya, apa kau sama seperti ku yang mencintai mu?" tanya Sultan meski serius namun tampak bercanda.
"Apaan sih? sama-sama berpijak di muka bumi ini." Timpal Sofi sambil menggeleng.
"Oh, aku kira--"
"Kalian ngobrol apa sih? kalian itu serasi lho." Suara Arya menjeda obrolan antara Sofi dan Sultan.
"Apa? aku sama dia. Serasi?" Sofi menunjuk Sultan dan hidungnya bergantian.
"Iya, kalian berdua sangat serasi. Semoga kalian berdua berjodoh ya?" sambung Arya sambil merapikan jaketnya.
Sultan tersenyum merekah mendengar ucapan dari Arya yang bilang ia dan Sofi serasi. Lain lagi dengan Sofi dia merasa kesal jelas-jelas yang Sofi kejar itu Arya bukan Sultan.
"Eh, Sorry bro. Aku ada janji sama tunangan ku dan aku harus jemput dia di rumahnya. Aduh bukannya gak sopan nih." Arya memainkan matanya pada Sultan yang mengerti dari maksud Arya.
"Ah, kau ini. Aku baru datang dan pengen main GEMS. Tapi ... baiklah." Sultan berdiri berdiri berniat pergi.
Sofi terdiam ada rasa cemburu yang menghinggapi nya. Kenapa bukan dirinya yang Arya ajak pergi? menghabiskan waktu bersama, kemudian berdiri meraih tas nya. "Ooh. Oke kalau begitu ... aku pulang dulu, sampai ketemu lain waktu."
"Aduh. Sorry ya bukan aku mengusir kalian berdua tapi gimana lagi." Arya tampak gak enak hati.
"Tak apa bro, mungkin kedatangan kami berdua waktunya kurang tepat. Iya, kan Sofi?" Sultan menoleh ke arah Sofi yang pada akhirnya mengangguk.
Arya, Sultan dan Sofi berjalan memasuki sebuah lift yang akan membawa mereka bertiga ke lantai dasar yaitu lobby.
"Sultan, baiknya kamu antar Sofi pulang. Kasihan lho?" saran Arya sambil menggerak alisnya pada Sultan.
Sultan menyambut bahagia saran dari Arya itu. Seakan diberi angin segar di kala kepanasan. "Aku sih, siap aja kali Sofi nya tak keberatan."
"Em ... nggak usah merepotkan, aku bisa pulang sendiri kok. Naik taksi." Tolak Sofi.
"Antarkan saja pulang, oya Sofi dari pada naik taksi, mendingan diantar oleh Sultan dengan gratis. Jangan takut! dia sudah jinak kok." Kata Arya kembali sambil mengulum senyumnya.
"Soalan. Kamu pikir aku binatang apa? tega, kamu bilang seperti itu!" keluh Sultan.
Akhirnya Sofi bersedia diantar oleh Sultan membuat hati Sultan bersorak dan berterima kasih pada Arya. Mereka berpisah di area parkiran, Sultan membawa Sofi dibonceng dengan motornya. Sedangkan Arya menaiki motornya sendiri menuju rumah Renata ....
__ADS_1
****
Sudah membaca kan? jangan lupa meninggalkan jejak ya reader ku semua, tanpa kalian aku bukan siapa-siapa. Terima kasih🙏