Mencintai Ibu Angkatku

Mencintai Ibu Angkatku
Masih kecil


__ADS_3

"Tuan, bagaimana kalau dengan saya saja? jangan meragukan saya, sebab saya juga bisa enerjik seperti yang masih muda, anda dijamin bisa puas dan bila anda tidak puas dengan saya, tentunya akan saya carikan barang baru. Tetapi untuk saat ini kita coba dulu dan dengan gratis." Kata madam dengan gaya menggoda.


Wanita ini memang masih berpenampilan seksi dan masih terlihat segar. Tatapan nakal Aldian tertuju pada bagian dada yang menyembul dengan ukuran besar. Pria itu menyeringai mengalihkan pandangan pada area bawah sambil bergumam.


"Paling sudah peot, kau akan menyuguhkannya padaku? gak salah?" dengan nada dingin dan mencibir.


"Anda belum mencobanya, Tuan ... saya jamin! anda akan ketagihan dengan milik saya." Bisik nya sambil mengelus pipi Aldian lalu turun ke perut. Mampir di suatu tempat yang sudah berasa sangat ngilu.


"Alah, kau banyak bacot. Buktikan!" Jelas Aldian yang hasratnya sudah naik ke ubun-ubun.


Wanita tua itu tersenyum penuh kemenangan. Lalu beranjak menuntun tangan Aldian ke sebuah bilik. Hati wanita itu berbunga-bunga. Sudah lama tidak melakukannya dan sekarang akan melakukan dengan pria yang termasuk masih segar, muda dan kekar.


Setibanya di dalam bilik. Dada Aldian di dorong supaya duduk di tepi tempat tidur. Dan Aldian menuruti.


Wanita itu melucuti semua yang menutupi tubuhnya. Sehingga nampaklah semua yang ada di tubuhnya itu. Dua bukit yang besar dan lembah yang tersembunyi dia perlihatkan dengan sedikit melebarkan kakinya.


Membuat Aldian tambah kalap lantas langsung menarik wanita itu ke tempat tidur.


Bugh!


Tubuh wanita itu terjatuh dan berbaring pasrah. Aldian langsung mencumbu dengan buas dan tiba-tiba menggigit dada wanita tersebut.


Sehingga wanita memekik kesakitan. "Aaaaww ..." wanita itu kaget. Kenapa Aldian melakukan itu?


"Apa maksud mu melakukan ini?" tanya madam tidak mengerti.


Aldian tersenyum puas. Bahkan bukan cuma itu saja, tangan madam di tarik agar duduk dan plak-plak. Pipi wanita tersebut Aldian tampar bolak-balik.


Madam menjerit. "Aaaaww ...."


Pekikan wanita itu kembali terdengar, kedua tangannya memegangi kedua pipi yang terasa panas dan sakit itu.


Aldian kembali mencumbu bagian dada dan lagi-lagi di gigit puncaknya. Wanita itu kembali memekik kesakitan.


"Aaaaww ...."


Madam melonjak bangun tidak tahan dengan perlakuan Aldian. Tadinya ingin merasakan asiknya bercinta. Namun yang di dapat malah penganiayaan.


"Tolo--" Madam menjerit minta tolong berharap anak buahnya masuk dan menolong.


Tetapi Aldian dengan cepat membungkam dengan mulutnya sendiri. Lalu dengan memasukan ujung seprei ke mulutnya itu. Kedua tangan Madam terkunci di atas kepalanya dengan kedua tangan Aldian.


Bibir Aldian tertawa puas melihat lawan mainnya tersiksa. Kemudian Adian segera menggoyang tubuh Madam sampai terguncang hebat.


Wanita itu berusaha berontak dan ingin melepaskan diri dari Aldian, namun mana bisa? toh kini Aldian sudah menyatukan tubuh keduanya, Aldian terus menggoyang tubuh wanita tersebut untuk menuju nirwana.

__ADS_1


Mata wanita itu melotot sempurna pada Aldian. Tidak terima diperlakukan seperti ini oleh Aldian dan dia baru tahu kalau pria yang mulanya bikin penasaran itu ternya psikopat, sukanya menyiksa terlebih dahulu. Setelah itu baru dia pake dengan hasrat yang bergelora atau menggebu-gebu.


Aldian tertawa melihat reaksi wanita yang berada dalam kungkungan nya itu. "Akh ... ternyata walau sudah peyot. Namun enak juga ya?" hinaan bercampur memuji.


Aldian semakin mempercepat ritme yang dia lakukan itu. Membuat tubuh wanita yang montok itu pun semakin tergoncang hebat. Sehingga dua bola milik madam mengancul-ngacuk bagai bermain di trampolin.


Keringat pun bercucuran dari keduanya. Dan Aldian semakin liar dan garang dalam memacu permainannya.


Madam pun lama-lama menikmati permainan dan keperkasaan pria psikopat tersebut! walah pipinya terasa sakit, perih. Rahang tegang, ngilu akibat disumpal dengan ujung selimut.


Kedua dada juga sakit akibat gigitan yang tidak kira-kira. "Pria ini memang gila," batin madam. Tubuhnya meliuk-liuk menikmati aksinya Aldian. Permainannya menggairahkan memang, cuman sayang banget perlakuannya itu.


"Oh sayang. Ternyata walaupun kau sudah peyot tetapi membuatku puas malam ini." Lanjut, Aldian menghisap kuat balon-balon tersebut bergantian dan sangat kuat yang menimbulkan rasa sakit bagi pemiliknya, sebab ujungnya perih akibat gigitannya tadi.


Aldian mengakhiri permainannya dengan beberapa kali hentakan. Membuang sesuatu hingga banjir.


"Huuh ... leganya ... enak, pulen dan nikmat." Aldian meracau, berbaring di samping madam yang langsung menarik ujung selimut yang menyumpal mulutnya itu.


Mau teriak, namun malu. Toh dia juga turut menikmati permainan Aldian yang sungguh perkasa itu menurutnya.


Wanita itu langsung duduk dan menatap pria tersebut dengan perasaan aneh. Kok ada ya? pria macam dia, bahagia melihat lawan mainnya menderita.


Kedua tangan meraba kedua balon yang masing-masing, terasa lumayan sakit puncaknya dan memerah. "Gila! perih."


"Wanita tua, kau sudah memberi ku kepuasan. Hah ... lain kali aku pakai lagi." Dengan kurang ajarnya Aldian bilang Peyot dan panggilan wanita tua.


"Apa? kau bilang aku gila? Ha ha ha ... kau benar, aku gila! gila dengan hasrat yang sangat bergelora ini." Timpal Aldian lalu tertawa lepas membuat madam merinding mendengarnya.


Aldian buru-merapikan dirinya. lantas memberikan sejumlah uang pada madam. "Ini wanita tua, uang mu. Aku gak mau memakai wanita dengan gratisan, walaupun kau tua dan Peyot, tapi aku suka! lumayanlah ... dari pada ku sakit kepala."


Aldian pergi begitu saja, setelah menyimpan sejumlah uang di atas tempat tidur.


Pria itu tersenyum puas. Berjalan meninggalkan bilik cinta yang barusan dia pakai. sambil jalan bertemu beberapa wanita yang pernah dia pakai. Tidak berani menawarkan diri. Sebab mereka tahu watak Aldian bila di atas ranjang.


...---...


"Ih, belum kelihatan ya adek baby nya? perut Mama masih rata." Kata Rania sambil mengelus perut Fatma yang masih rata itu.


"Iya sayang ... kan masih kecil ... banget." Balas Fatma sambil mengusap pipi Rania.


Anak itu tampak tidak sabar menantikan adik baby nya.


"Nanti lahirnya kapan?" tanya Rania kembali.


"Iya, nanti waktunya. Tunggu sembilan bulan dulu, setelah itu barulah lahir." Timpal Fatma kembali.

__ADS_1


"Ooh ... lama juga ya?" lalu anak itu mencium pipi Fatma dengan lembut.


"Iya, sembilan bulan lamanya. Jadi sabar ya! kakak Rania harus sabar," tambah Fatma kembali.


"Iya deh. Rania harus sabar menunggu adek baby lahir." Rania mengangguk-anggukan kepalanya.


"Pinter, Rania sangat pinter." Puji Fatma sambil mencium kening Rania dengan sangat lembut. Hatinya merasa bangga memliki anak sepintar Rania.


"Papa mana sih? kok gak Rania lihat sih?" tanya anak itu menanyakan papanya.


"Oh, papa sedang membeli buat makan malam. Rania juga pasti lapar ka?" Fatma menyelipkan rambut Rania ke belakang.


"Iya, Mam ... Rania lapar nih, kok lama sih? papa pulangnya?" Rania celingukan menoleh ke arah pintu.


"Belum lama kok," sambung Fatma lagi.


"Mam, gimana caranya bikin adek baby sih? kok bisa tumbuh di perut Mama?" tanya Rania tampak penasaran.


Dan Fatma sendiri kebingungan untuk menjawabnya. "Em ... dia tumbuh, sebab ada benih papa yang masuk ke dalam sini." Menunjuk ke perutnya.


"Terus cara masuknya kaya gimana Mam?" pertanyaan Rania semakin mendalam.


Fatma menghela napas panjang menatap anak itu yang bikin ia kelimpungan.


"Rasanya sulit untuk di ungkapkan sekarang sayang, Oya Rania selalu berdoa kalau adek baby nya laki-laki bukan?" Fatma berusaha mengalihkan pembicaraan itu.


"Iya, Mam. Aku selalu meminta pada Allah agar memberikan kakak Rania Dede baby laki-laki. Eh kira-kira Allah akan kabulkan gak ya?" kenang anak itu menatap sang bunda.


"Insya Allah kok, Allah pasti akan kabulkan doa seperti yang Rania pinta." Fatma meyakinkan.


"Terus Mama sama papa maunya baby laki-laki atau perempuan?" tanya Rania lagi.


"Em ... apa ya? kalau Mama dan papa sih apa saja, boleh, mau perempuan atau laki-laki sama saja. Yang penting sehat Soleh." Jawab Fatma kembali.


"Assalamu'alaikum ... Papa pulang ... bawa makanan." Arya yang baru muncul dari pintu menjinjing sebuah kantong.


"Wa'alaikum salam ... kok lama sih, Pah ... Mama sudah lapar nih, iya kan sayaang?" Fatma menoleh sang putri kecilnya.


"Papa beli makanan apa sih?" tanya Rania dan langsung membukanya. "Wah ... masakan kesukaan Rania nih! Asik ...."


Arya tersenyum melihat reaksi Rania, ketika dia membawa masakan kesukaannya. Lalu mendekati sang istri duduk begitu rapat dengan Fatma ....


.


.

__ADS_1


Jangan lupa dukungan pada karya yang baru aku ya🙏


__ADS_2