
Sultan bengong, melihat punggung Arya yang memasuki kamar mandi.
Saat ini Arya dan Sultan tengah duduk berhadapan. Dengan minuman mineral di tengah-tengah nya.
"Aku, hanya bisa berharap, kamu akan menjadi suami yang baik untuk Dewi, adik ku." Arya menatap tajam ke arah Sultan yang juga menatapnya.
"Tentu, insya Allah aku akan berusaha untuk itu. Terima kasih kau telah mempercayai ku semoga Allah memberi jalan dan melancarkan urusan ini!" ucap Sultan penuh harap.
"Ya, Aamiin. Sekarang tentukan saja tanggal untuk melamarnya. Akan aku kabarkan pada Abah dan umi. Dan ... acara pasti akan dilakukan di Bandung." Tambah Arya kembali.
"Siap, aku di mana saja juga oke!" Sultan mengangguk.
"Oke." Arya pun kembali mengangguk.
Karena dirasa sudah waktunya untuk kembali bertugas, semua awak pesawat berkumpul di tempat.
Ditengah Arya berjalan. Menerima telepon dari pihak kepolisian bahwa anak yang Arya selamatkan itu sudah dijemput oleh orang tuanya.
"Alhamdulilah ... anak itu sudah kembali pada orang tua nya." Gumamnya Arya.
"Ada apa?" tanya Sultan penasaran.
"Itu, Anak yang jadi korban penculikan sudah di jemput sama orang tuanya."
Sultan dan Wisnu kaget. "Apa? penculikan, maksudnya?" berbarengan.
Arya menoleh ke arah mereka berdua. "Iya."
Kemudian Arya menceritakan yang terjadi tadi. Dari awal meninggalkan sahabat-sahabatnya ini. Sampai kembali lagi.
"Wah, hi ...la lu bro, kenapa gak ajak aku? pasti aku hajar deh orang itu sampai babak belur." Sultan gemas.
Mereka mengobrol sambil berjalan membawa bag nya masing-masing. Sehingga gak terasa mereka sampai dan bertemu dengan rekan lainnya.
Mereka langsung menyambut Arya dengan bangga, si kapten sudah menyelamatkan anak yang menjadi korban penculikan sehingga dalam waktu singkat penjahatnya pun sudah ditangkap beserta jaringannya.
Rupanya berita di medsos lebih cepat dari apapun sehingga dalam waktu cepat kilat berita tersebut tersebar.
"Hebat super Hero." Kata mereka dengan nada bangga.
Semua mengucapkan selamat pada Arya yang hanya terdiam dan sedikit menundukkan wajahnya sangat dalam.
Arya perlahan mengangkat wajahnya seraya berkata. "Itu cuma kebetulan saja. Dan mungkin penculiknya bukan ahli jadi bisa dengan mudahnya aku kibulin. Kalau saja orang itu sudah kawakan, pasti akan sulit buat ku. Dan mungkin aku yang kena sekap nya ha ha ha ...."
"Wa ... h. iya juga sih, tapi yang jelas, kau beruntung kapten.
Kemudian, mereka memasuki pesawat. Untuk bersiap-siap.
...---...
Fatma yang sedang duduk bersantai di taman, senyum-senyum sendiri membaca berita tentang Arya yang sudah menyelamatkan seorang anak laki-laki yang menjadi korban penculikan.
"Suami ku hebat," gumam Fatma sambil senyum-senyum.
__ADS_1
"Mam, Mama ..." panggil Rania sambil berlari menghampiri sang bunda.
"Apa sayang?" Fatma menatap sang putri.
"Mama, kenapa senyum-senyum sendiri seperti itu? " Rania heran.
"Ooh, Ini papa. Dia menyelamatkan anak laki-laki yang di culik--"
"Waw ... Papa hebat!" Rania memotong kalimat dari bundanya sambil bertepuk tangan.
Fatma tersenyum ke arah Rania, mengusap kepalanya lembut.
"Jadi anak-anak laki-laki itu selamat, kan Mam?" tanya Rania menatap ingin meyakinkan dirinya.
"Iya, Alhamdulillah selamat." Fatma mengangguk.
"Wieh ... papa hebat ya? jadi kangen papa." Gumamnya Rania sambil mendudukkan dirinya di dekat sang bunda.
"Mam, papa Aldian ingat Rania gak ya sama Rania? kok Rania gak pernah mendengar papa Aldian tanyain Rania, sekarang di mana ya, Mam?" seru Rania menatap sendu sang bunda.
Degh!
Hati Fatma mendadak mencelos mendengarnya. Bagaimanapun Rania dan Aldian punya ikatan batin sebab di Rania mengalir darah Aldian sebagai bapaknya.
"Mam, kok papa Aldian gak pernah nanyain Rania? gak seperti papa Arya yang selalu perhatian dan sayang sama Rania." Tambah anak itu.
Membuat batin Fatma menangis, Fatma mematung tak bergeming. Tak tahu harus menjawab apa, sementara memang saat ini Aldian berada di penjara.
Fatma mendongak sambil mengedip-ngedipkan matanya, agar tidak keluar buliran air bening yang memaksa keluar dari bendungan nya.
"Papa sibuk sayang, nanti juga kalau sudah tidak sibuk pasti menemui Rania kok," tangan Fatma merangkul kepala gadis kecil itu.
"Sekarang, Rania mandi sana? sudah sore nih Bentar lagian Maghrib lho." Fatma mencium kening Rania dan mengusap kepalanya.
"Oke, Mama." Anak itu berlari memasuki rumah mewah tersebut.
"Jangan lari sayang? takut jatuh." Pekik Fatma ketika melihat Rania lari-lari.
Kemudian Fatma sendiri. Bergegas masuk dan langsung ke kamarnya. Ditegur bu Wati pun Fatma cuma menoleh, setengah berlari memasuki kamar pribadinya.
Sudah tidak kuat, ingin menumpahkan rasa sakitnya di dada dengan perkataan Rania yang membuat perihnya luka. Fatma ingin menangis dan hanya di kamar tempat yang aman buatnya menumpahkan semuanya. Tanpa orang tahu apalagi Rania.
Setibanya di kamar. Fatma langsung mengunci pintu dan di sana ia tidak bisa lagi menahan ai matanya yang meminta keluar dari bareng Rania tadi.
Fatma menangis di atas tempat tidur. Dengan memeluk guling menundukkan kepala menyembunyikannya di balik guling, tangisnya pecah. Perih, sakit. Mengingat kata-kata Rania yang berkaitan dengan ayah kandungnya.
Namun ketika itu ponselnya berbunyi. Fatma biarkan begitu saja dengan tangis yang sedang menemaninya. Tetapi ponsel kembali berbunyi membuat pada akhirnya, tangan Fatma meraih ponselnya.
Ternyata kontak yang memanggil itu Arya yang tumben-tumbenan menelpon di saat bertugas.
Sejenak netra mata Fatma menatap layar benda pipih tersebut, lalu sebelum menggeser ikon ijo. Fatma mengusap pipi lebih dulu dengan tisu, berusaha agar bekas menangisinya tidak ketahuan.
Panggilan berubah menjadi Videocall. detik kemudian Fatma menerimanya.
__ADS_1
^^^Arya: "Assalamu'alaikum sayang? kok lama angkatnya?"^^^
^^^Fatma: "Ha? ini, aku dari toilet. Ada apa dan di mana?"^^^
Arya: "Aku sedang siap-siap buat take-up. Rania mana?dan kenapa habis kok sepertinya habis menangis, kenapa?"
Arya berkata dengan lembut, netra nya melihat wajah Fatma yang sepertinya habis menangis. Dari suara pun sedikit berubah.
Namun Fatma menggeleng serta menunjukan senyumnya yang manis.
^^^Fatma: "Nggak, aku habis mencuci muka."^^^
Arya menautkan alisnya, sedikit tidak percaya. Matanya yang tertuju pada wajah sang istri tidak bisa dibohongi bila memang tidak menangis.
^^^Arya: "Hem ... benarkah? ya sudah! Tidak lama aku pulang kok, nanti ceritanya. Oya! Rania gak pa-pa, kan?"^^^
Fatma menggeleng, menunjukan kalau gadis kecilnya baik-baik saja.
Setelah itu, sambungan Videocall pun terputus, Fatma menghela napas panjang. "Huuh ..." lalu menyimpan handphone ke atas nakas.
Fatma menurunkan kedua kakinya hendak melangkah, namun pusing kembali menyerang dan mual pun menghiasi. "Oo ..."
"Kalau gini caranya, aku harus segera periksa nih, apa mungkin aku hamil?" lirih Fatma sembari mengarahkan telapak tangannya ke perut yang rata itu.
"Ya, sudah. Aku akan test pack sendiri. Biar nanti hasilnya gimana gak riweh, ya ..." Fatma mengangguk-anggukan kepalanya.
Kemudian bergegas mengambil air wudu. Dan setelah itu dia ingin pergi untuk membeli test pack sembari mau menjemput sang suami.
Saat ini, Fatma sudah siap dengan setelan malam yang panjang. Menyambar tas nya, lalu gegas keluar dari kamar.
Langkahnya Fatma dengan menuruni anak tangga yang berpapasan dengan asisten yang mengangguk hormat.
"Mam? tunggu?" panggil Rania dengan sambil mempercepat langkahnya menyusul sang bunda.
Fatma menoleh dan hentikan langkahnya melihat sang putri kecilnya. "Sayang. Mama mau jemput papa dulu ya? Rania jangan ikut ya? sebab papa belum jelas mendaratnya."
"Akh ... Mama, kok Rania gak boleh ikut sih? Rania kan mau ikut Mama jemput papa!" Anak itu cemberut.
"Sayang, papa gak tahu jam berapa mendaratnya, pasti malam. Dan ... Mama mau setir sendiri, kasihan pak Harlan dari tadi ngantar kita terus." Fatma kekeh supaya Rania diam di rumah.
"Ah, Rania sama siapa di sini?" keluhnya dengan nada sedih.
"Lho, kan ada aunty. Ada Oma, opa juga." Dewi menghampiri. Berdiri di dekat Rania.
Anak itu mendongak pada Dewi dan ke sang bunda bergantian.
Fatma mengangguk sambil melihat ke arah Dewi.
Terdengar suara derap langkah yang mendekati mereka ....
.
.
__ADS_1