Mencintai Ibu Angkatku

Mencintai Ibu Angkatku
Mimpi buruk


__ADS_3

Arya melepas rangkulannya pada sang istri. Kemudian membuka bajunya hingga bertelanjang dada lalu merebahkan tubuhnya di atas bantal, seolah tak ingin melakukan apapun.


Fatma menatap heran pada sang suami yang malah berbaring. Ada sekelumit rasa kecewa di benak Fatma. Dengan tatapan yang lekat, Fatma menelan saliva. Dalam hatinya bermonolog.


"Katanya mau itu, hingga minta ijin segala? tapi kok malah tiduran sih?" batin Fatma, matanya kini bergerak melihat tubuh sang suami dari atas sampai bawah Tak ada yang luput dari pandangannya.


Arya sengaja menggoda sang istri dengan cara bersikap dingin, seakan mau langsung tidur saja. Pengen tahu reaksinya seperti apa? Fatma malah mematung dan sesekali melihat ke arahnya.


"Masa sih, aku yang harus mulai duluan? malu lah! lagian sekarang sudah tahu yang harus dilakukan, ngapain aku yang duluan? malu dong." Gumamnya Fatma di dalam hati.


"Ayo dong mulai sayang? biasanya juga suka mulai. Kenapa sekarang diam saja?" monolog Arya dalam hati seraya menatap ke arah Fatma yang memunggunginya.


Namun Fatma malah tetap terdiam dan membaringkan tubuhnya di sebelah Arya, memiringkan tubuhnya memunggungi sang suami.


Menarik selimut menutupi tubuhnya yang cuma mengenakan lingerie. Dia malah bersikap dingin atau cuek, seolah tak ingin menginginkan dirinya.


Arya jadi bengong. Dia kira Fatma akan memulai ritualnya dengan ikhlas, eh ... malah cuek. Kemudian Arya mendekat merapatkan dadanya ke punggung Fatma, tangannya merangkul perut Fatma. Sedikit menariknya agar lebih rapat lagi dengan tubuhnya.


Fatma menyunggingkan bibirnya tersenyum, tangannya memegang tangan Arya. Napas Arya pun menyapu tengkuk Fatma memberikan sensasi yang mengairahkan, apalagi ketika kecupan kecil bertubi-tubi mendarat di area itu.


Arya tersenyum senang. Melihat reaksi Fatma yang diam dan welcam dengan sentuhan-sentuhan kecil yang dia berikan. Sekedar untuk menaikan libidonya yang masih rendah. Tangannya bergerak mencari sesuatu dari Fatma.


"Hem ..." suara Fatma ketika tangan Arya bergerilya di bagian atas, lembut. Bermain di puncaknya bergantian. Sebuah sentuhan lembut yang tidak Fatma dapatkan dari Aldian.


Arya memejamkan matanya merasakan setiap penjelajahan yang dirinya lakukan di tempat miliknya itu. Terhanyut dengan suasana yang hening dan mengasyikan. Serta bebas mau berfantasi apapun.


"Argh!" suara Fatma membuat darah di tubuh Arya semakin bergolak.


Darahnya berdesir hebat ke seluruh tubuh, mengalir deras dan kian memanasnya sampai puncak kepala. Fatma gegas merubah posisinya seiring tangan Arya yang menarik bahunya agar saling berhadapan.


Kedua pasang mata mereka bertemu pandang, saling tatap sejenak dengan tatapan yang sudah mulai berkabut, tatapan yang penuh keinginan yang menggebu.


Pandangan keduanya yang dipenuhi kelembutan dan keinginan, suaranya bergetar dan serak, tubuhnya menegang. Bukan karena amarah. Melainkan keinginan yang lumayan besar.

__ADS_1


Fatma semakin meremang, jantung dag-dig-dug. Napas yang bersahutan dari keduanya mewarnai suasana.


Kemudian dengan cepat, keduanya mendekatkan wajahnya masing-masing. Dan kecupan pun terjadi dengan sangat lembut serta penuh sensasi.


Suasana kian sepi, hanya suara napas yang bersahutan di antara keduanya. Tangan Arya meraih remote lampu dan menggantinya menjadi temaram. Menjadi saksi bahwa kedua insan ini tengah meluapkan rasa rindu dan hasrat yang ada.


Dengan satu tarikan saja lingerie Fatma sudah melayang entah kemana, beserta yang lainnya. Pemilik body bak gitar Spanyol itu hanya tersipu malu apalagi ketika melihat lawan mainnya yang sudah tampak tidak sabar. Membuat bibir Fatma tersenyum senang.


Buru-buru mereka menutupi tubuhnya dengan selimut tebal dan memulai permainannya di sana. Arya kembali menghujani sang istri dengan kecupan kecil namun fungsinya amat penting bagi keduanya.


Bibir Arya turun menelusuri bagian-bagian tertentu. Meninggalkan jejak di setiap geraknya. Kemudian kembali menyatukan bibir mereka menikmati satu sama lain.


Arya menyentuh habis bibir milik Fatma yang merah merona tersebut.


Perlahan tapi pasti, pergulatan pun terjadi dengan penuh gairah. Namun di tengah ritualnya yang sedang asyik-asyiknya dan mendekati puncak.


Brugh! ....


Brugh! ....


Brugh! ....


Suara Rania membuat Arya dan Fatma terhenti sesat, saling tatap satu sama lain.


"Aa, rania?" gumam Fatma lirih. Namun terlihat panik, kemudian kedua telinganya menajamkan pendengarannya. Sebab dari balik pintu terdengar Isak tangis Rania.


''Aduh sayang, gimana nih sudah di ujung tanduk nih?" desis Arya. Menatap kecewa.


Fatma menjadi dilema, menjadi kebingungan. Dilanjutkan ritualnya gimana Rania? di tinggalkan juga sedang enak-enaknya. Fatma kelimpungan.


Namun pikirannya sangat mendambakan ini selesai dulu, walau di sisi lain khawatir dengan putri semata wayangnya. Kalau ia hampiri ini gimana? yang belum tuntas.


Hingga pada akhirnya, Fatma memutuskan untuk menyelesaikan dulu ini yang sudah tanggung. Ia yakin kalau Rania paling mimpi buruk, kemudian Fatma mengangguk pelan dan mengeratkan pelukannya di punggung Arya.

__ADS_1


Merapatkan diri ke dada Arya yang bidang dan itu, Menyatukan kembali bibir mereka mengecap manisnya bibir Fatma.


Kemudian Arya melanjutkan aksinya yang terjeda, dengan suara Rania. Di sela asyiknya bercinta. Pikiran Arya melayang mengingat Rania, khawatir kepada anak itu yang terdengar terisak di balik pintu.


Dengan gerakan yang cepat, Arya menyudahi ritualnya seiring tubuhnya yang menegang, menikmati pelepasannya.


"Alhamdu lillaahi Lladzii Khalaqa Minal Maa I Basyaraa."


“Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan manusia dari air, lalu menjadikannya sebagai keturunan."


"Aamiin," ucap Fatma.


Lalu tangan Fatma mendorong dada Arya. Sehingga tubuh Arya bergerak berbaring di sampingnya. Fatma buru-buru bergelinjang bangun meraih jubah lalu berjalan mendekati pintu.


Arya menatap sedikit kecewa ke arah Fatma yang berjalan menjauhinya itu. Kecewa sebab sebenarnya ia masih menginginkan sang istri, namun apa boleh buat. Kenyataan lagi tak berpihak kepadanya.


"Sayang, kenapa?" Fatma merengkuh tubuh Rania yang duduk di sisi pintu memeluk lutut, terisak pelan.


"Rania takut, Rania mimpi buruk," jawabnya sambil terisak, suaranya bergetar.


"Yu, Mama temenin, nggak kok cuma mimpi sayang. Tidak apa-apa." Fatma menggendong Rania dan membawa ke kamarnya.


"Bobo lagi ya? Mama temenin dulu. Jangan lupa membaca doa, biar mimpinya indah. Oke?" jari Fatma mengusap pipi Rania yang basah.


"Oke Mama!" sembari memeluk sang bunda sangat erat.


"Bobo ya?" cuph! ciuman mendarat di kening Rania dan pipinya.


Rania mengangguk dengan mata tetap terpejam, namun lama-lama Rania mengedus. Mencium bau parfum Arya di tubuh sang bunda. Rania membuka kelopak matanya dan mendongak.


"Kok tubuh Mama bau parfum papa sih?" sambil terus mendengus ke arah tubuh Fatma. "Iih ... Mama juga cuma pake jubah aja."


Mendengar perkataan yang keluar dari bibir Rania. Anak itu ngapain juga cepo. "Em-em ... itu, itu ... ta-tadi papa peluk Mama, dan Mama. Mau mandi, iya. Mau mandi." Elak Fatma gelagapan ....

__ADS_1


****


Terima kasih, kepada reader ku semua yang sampai detik ini masih menikmati karya ku.


__ADS_2