
''Sayang. Rania senang gak kalau mama jemput ke sini?" tanya Arya sambil menuntun anak itu mendekati sepeda motornya.
"Seneng dong. aku seneng sekali kalau mama jemput aku, tuh seperti teman-teman aku yang selalu jemput anaknya sekolah." Rania menunjuk ke arah teman-temannya yang pulang sekolah sama mamanya.
"Mama, kan sibuk sayang. Lagian ada Papa juga yang temenin Rania." Arya menyimpan tas Rania di atas motor.
"Sibuk mulu. Kapan gak sibuknya? hari Sabtu sekolah, libur." Rania berkata lesu.
Arya berjongkok di depan Rania. "Em ... coba lihat ke arah sana?" menunjuk ke arah Fatma berdiri memegang permen busa berwarna ping.
"Mama?" suara Rania seiring menoleh ke arah Fatma.
Fatma melambaikan tangan sambil berjalan menghampiri Rania dan suaminya.
Mulut Rania menganga. Setengah tidak percaya kalau sang bunda ada di sana. "Beneran Mama ada di sini?"
Arya tertawa kecil. "Beneran sayang, kalau gak beneran, terus siapa dia?"
"Mama?" suara Rania pelan.
"Sayang, putri Mama?" Fatma memeluk tubuh mungil itu.
"Mama kok di sini sih? jemput Rania bukan?" suara Rania dalam pelukan Fatma.
"Oya dong ... Mama jemput Rania, Rania gak senang ya Mama di sini?" tanya Fatma sembari mengusap punggung Rania penuh kasih sayang.
"Senang, Rania senang Mama jemput Rania," gumamnya pelan, sepertinya anak itu masih belum percaya dengan kehadiran sang bunda.
"Sudah, ini permennya dimakan?" Fatma melepas pelukannya.
"Wah ... si Rania ada mamanya. Sekarang bukan papanya saja tapi juga mamanya yang jemput , tumben sekali." ucap seorang teman dari Rania yang melintas.
Rania menoleh. "Iya dong ... emang yang lain saja. Mamaku juga bisa dong. Mam sekalian kita jalan-jalan ya?" Rania juga mengedarkan pandangan pada mamanya.
Fatma tidak segera menjawab. Melainkan melihat ke arah Arya yang langsung mengangguk.
Pada akhirnya Fatma pun mengalihkan tatapannya pada Rania lantas mengangguk pelan. "Tapi jangan lama-lama ya? Papa kan mau kerja nanti sore."
"Hore! asyik ... jalan-jalan sama mama dan papa." Nak itu bersorak dan menunjukan kebahagiaannya pada teman-teman yang masih ada di sana.
__ADS_1
"Aku seminggu tiga kali jalan-jalan sama papa dan mama ku." Sahut yang lain.
"Jeng. Mari kami duluan ya?" kata ibu-ibu kawa-kawan Rania. Mengangguk pada Fatma dan Arya.
Yang di balas dengan anggukan ramah dari keduanya.
Kemudian ketiganya menaiki motor setelah Rania menghabiskan permennya.
Fatma dan Arya memutuskan membawa Rania ke taman bermain. Yang tidak jauh dari sana dan tidak jauh untuk pulang.
...---...
"Kamu kemana saja? kok gak bisa aku hubungi, waktu aku menikah pun kamu gak datang, Ndah. Aku kecewa sama kamu," ungkap Renata, matanya menatap tajam pada indah yang sedang menyesap minumnya.
Ya. Indah dan Renata sedang ketemuan di sebuah cafe. Setelah sekian lama mereka tidak bertemu, persahabatan mereka yang begitu akrab itu dengan seketika renggang tanpa Renata tahu penyebabnya. Indah bagai menghilang begitu saja dari Renata.
Di temui di rumahnya pun selalu tidak ada, yang Renata jumpai hanya ibunya saja. Nomor telepon pun tidak aktif dan baru kemarin mereka tidak sengaja bertemu.
"Aku sibuk, kerja. Sorry ya? aku gak datang waktu itu, dan ponsel ku pun raib begitu saja."
"Benarkah? seharusnya kamu temu aku. Bila ada kesulitan juga biasanya kamu bicara sama aku." Netra nya Renata menatap tak percaya.
Dia sengaja menghindar sebab dalam hati kecilnya tidak rela sahabatnya ini menikahi Doni yang ia taksir.
"Ah, henymon apaan. Gue mau cerai, gue nyesel sudah menduakan Arya. Jadi gue memutuskan untuk berpisah dengan Doni," ucap Renata sambil mengaduk minumnya dan mata melihat ke arah sekitar.
"Baguslah kalau kau mau pisah." Celetuk indah.
Renata sontak menoleh kembali. "Apa? kau bilang apa, Ndah?"
"Em ... maksud ku ke-kenapa mau pisah? bukankah ... bukankah kalian saling cinta dan baru saja menikah." Ralat Indah sedikit gelagapan.
"Aku gak cinta sama dia. Aku dulu cuma merasa nyaman saja, semakin lama gue menyesali perbuatan gue." Renata menatap jauh dengan tatapan kosong.
"Jadi lu mau kembali sama Arya?" tanya Indah, menatap penasaran.
"Nggak tau juga sih. Arya sudah menikah dengan wanita anak satu."Renata menunduk sedih.
Tangan Indah bergerak mengusap punggung Renata. "Sabar ya? kalau jodoh kalian pasti kembali kok! Oya kalau memang kamu sudah tidak nyaman dengan pernikahanmu itu. Lepaskan saja." Indah malah memberi dukungan akan keputusan yang Renata akan ambil.
__ADS_1
Renata melihat ke arah Indah. "Aku, semakin lama merasa jijik Sama Doni. Entah kenapa melihatnya saja aku gak suka."
"Serius lu? masa sih kata gitu?" Indah menggeleng.
"Serius. Aslinya, aku muak banget pada Doni. Setiap lihat dia rasanya pengen rasanya ngebejek-bejek gitu," ujar Renata terlihat geram sendiri.
Indah menyembunyikan senyumnya. Entah apa yang sedang dia pikirkan. "Em ... emang Doni suka nyakitin lu Ren?"
"Eh ... nggak sih. Tapi gua benar-benar merasa muak saja sama dia. Euh ... benci gue."
"Syukurlah. Lepaskan saja dia, aku orang pertama yang akan mendukung Lo untuk berpisah dengan Doni. Gue orang pertama yang akan bahagia bila Doni menjadi duda. Hah ... gue punya kesempatan untuk mendekati Doni dan menguras hartanya." Batin Indah dengan senyuman jahatnya.
"Kalau kamu lebih happy untuk berpisah dengan Doni, aku dukung kok. Tapi kalau soal Arya gue gak berani komentar kalau memang sudah menikah dengan wanita lain." Tangan Indah menggenggam tangan Renata.
"Makasih, Ndah. Kamu yang paling mengerti aku, Kamu memang sahabat ku yang paling pengertian." Renata tersenyum bahagia pada Indah.
Setelah itu, Renata mengajak Indah untuk ke rumahnya. Dengan menggunakan taksi, di dalam taksi Indah bertanya.
"Kamu boleh kerja, gak balik lagi ke pekerjaan?" selidik Indah.
"Nggak, malas. Pikiran ku gak tenang di bawa kerja!" sahut Renata sambil memandang lepas dengan tatapan kosong.
"Ooh!" Indah singkat.
Pas melintasi taman bermain, netra nya Renata menemukan sesuatu. "Berhenti, Pak? Pak supir berhenti?" suara Renata terburu-buru.
Cekittt ....
Mobil rem mendadak. Dan mata Renata tertuju pada sepasang pria dan wanita.
"Kenapa sih?" tanya Indah namun tak Renata jawab melainkan dengan tajam melihat ke arah taman bermain.
Mata Indah pun mengikuti yang Renata lihat. Dimana kalau gak salah itu Arya dan seorang wanita sedang bergandengan mesra. Bahkan sesekali tangan mereka saling merangkul.
Manik mata Renata terasa panas dan menimbulkan rasa sakit. Memeras air bening yang keluar dari sudutnya. Renata menangis, hatinya sakit sangat sakit bagai pisau menusuk jantung, perihnya tak dapat digambarkan dengan kata-kata ....
****
Mohon doanya para reader ku semua! semoga yang Allah menguatkan kan hati ini๐ dan memberikan yang terbaik.
__ADS_1