
Arya merogoh sakunya tuk mengambil ponsel dan ternyata kontak Renata yang memanggil. Dengan malas Arya menggulir ikon hijau dan langsung bertanya ada apa?
^^^Renata: "Kok gitu sih? emangnya gak boleh ya telepon calon suami?"^^^
Arya membuang napas kasar. sementara Sultan yang sudah jauh berbalik badan menoleh pada Arya yang sedang terima telepon.
^^^Arya: "Em, aku sibuk. ada apa katakanlah?"^^^
^^^Renata: "Kangen, ketemuan yu? lama tidak ketemu."^^^
^^^Arya: "Em ... malam ini aku gak bisa, tapi besok atau lusa aku akan datang bersama orang tua ku."^^^
^^^Renata: "Beneran?"^^^
Suara Renata terdengar sangat antusias. Mungkin dia pikir kedatangannya untuk membicarakan tentang pernikahan yang sebentar lagi akan digelar mengingat waktunya sudah semakin dekat.
^^^Arya: "InsyaAllah. Sudah dulu ya!"^^^
Kemudian Arya menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku seraya menarik napas yang panjang. Melanjutkan langkahnya menuju lift.
"Kenapa? ditekuk begitu bagai anak SD gak dikasih jatah jajan tau gak?" celoteh Sultan melihat muka Arya ditekuk.
"Ck. Mau bawa motor sendiri?" tanya Arya menoleh ke arah Sultan.
"Lah, bawa dong. Kasihan motor ku kalau gak dibawa nanti nangis, kaya muka mu yang di tekuk persis suami gak dapat jatah dari istrinya. Uring-uringan."
"Halah. Kaya tahu aja rasanya suami gak dapat jatah dari istri? nikah saja belum." Timpal Arya.
"Tahulah! gue kan cowok, suami juga sama cowok. Apa bedanya? sama aja." Suara Sultan pelan.
Keduanya menaiki motornya masing-masing, berlari saling kejar dan kebetulan jalanan agak lengah tidak terlalu padat. Ketika di jalan yang agak ramai keduanya lebih santai membawa motornya apalagi di depannya mobil-mobil besar. Semacam kontainer, truk dan mobil box lainnya.
Arya mengambil jalan pintas tuk segera sampai ke tempat yang di tuju. Sultan mengekor dari belakang hingga akhirnya tiba di depan gerbang yang langsung terbuka dengan lebar.
"Assalamu'alaikum?" Arya mengucap salam pada tuan rumah yang menyambutnya hangat depan pintu.
"Wa'alaikum salam ..." jawab bu Wati dan pak Wijaya dari depan pintu.
Dengan sopan dan hormat, Arya menyalami. Orang tua Fatma, diikuti oleh Sultan.
__ADS_1
"Yu masuk? silakan-silakan?" ajak pak Wijaya dan istri.
Lalu mereka duduk di sofa ruang keluarga dan mata Arya secara tidak sengaja bertemu dengan sorot mata indah dari Fatma yang menuruni anak tangga tuk menghampirinya.
"Apa kabar nya Kak?" tanya Arya basa-basi sambil berdiri, kemudian duduk kembali seiring permintaan Fatma yang juga duduk di seberang Arya, sehingga bisa dengan jelas memandangi wanita yang berpakaian setelan pendek itu, celana selutut warna ungu senada dengan atasannya.
"Baik," sahut Fatma sembari melirik ke arah Sultan dan melempar senyuman, lalu menundukkan kepalanya ke lantai.
"Ooh. Dimana Rania nya Kak?" tanya Arya tangannya agak gugup berhadapan dengan Fatma.
"Iya Fatma, Rania nya mana? apa masih tidur?" Bu Wati juga penasaran anak itu belum juga turun apalagi lari-lari.
"Masih tidur di kamar, barusan ku bangunin cuma bergumam saja, katanya mama bohong." Jawab Fatma, melihat ke arah Arya dan sang bunda bergantian.
"Hem ... merajuk dia." Kata pak Wijaya. Menimpali.
"Biasanya dia ceria dan lincah." Gumam Sultan.
Fatma berdiri. "Aku bangunkan dulu."
"Aku ga apa-apa bila ikut?" Arya menatap ke arah Fatma dan orang tua nya.
Arya mengikuti langkah Fatma yang lebih dulu manapakan kakinya di anak tangga menuju kamarnya yang berada di lantai atas.
''Asslamu'alaikum?'' gumam Arya setelah berada di depan pintu kamar Fatma.
Fatma berjalan membawa langkahnya mendekati tempat tidurnya dimana Rania tertidur, naik dan mengusap kepala Rania. ''Sayang ... bangun, kita makan malam dulu dan coba lihat siapa yang datang?''
Rania tak lantas bergeming. Namun indera penciumannya menangkap bau wangi seseorang yang sangat dia rindukan. Perlahan tubuhnya bergerak memicingkan sebelahnya ke arah sang bunda yang memberikan ia senyuman, kemudian mengalihkan penglihatannya nya tampak sipit itu sosok pria yang duduk di sebelah lagi.
Rania melonjak bangun dan memeluk tubuh Arya seraya berkata. ''Om ganteng. Rania kangen deh, kenapa baru dateng? di sekolah Rania cari-cari nggak ada."
Arya balas pelukan Rania erat. "Om, sibuk sayang ... dalam beberapa hari ini om tugas."
"Om lupa ya sama rania?" dengan suara lirih dari dalam pelukan Arya.
"Nggak, gak lupa. Cuma sibuk aja," sambung Arya.
Melihat Rania menyeruak ke dalam pelukan Arya membuat hatinya terenyuh, pilu. Seperti layaknya seorang anak merindukan ayahnya.
__ADS_1
Tangan Arya membelai kepala anak itu yang berkeringat dingin. Merasakan ada hawa-hawa panas dari tubuh Rania, Arya menempelkan punggung tangan di bawah telinganya yang memang terasa panas.
"Kak, Rania panas, demam," ungkap Arya sembari menempelkan lagi punggung tangan di bawah telinga Rania.
"Ha?" Fatma menyentuhkan tangan peda pelipis rania. "Iya, sayang kamu demam, Mia ... tolong ambilkan obat penurun panas Rania." Pinta Fatma pada Mia yang secara kebetulan baru muncul di pintu, Fatma tampak panik sekali.
Mia bergegas berbalik arah setelah ada perintah dari sang majikan. Mengambilkan obat penurun panas.
"Om, jangan tinggalkan Rania ya?Rania mau ditemani om ganteng." Gumamnya Rania lirih. Dengan napasnya yang terasa panas mengenai pundak Arya
Arya menghela napas dalam-dalam lalu ia hembuskan dengan panjang. "Iya, Om ada di sini sama Rania, Rania harus minum obat dulu lanjut istirahat ya!"
Mia datang membawakan obat lalu diberikan pada Fatma untuk diminumkan pada Rania yang masih dalam pelukan Arya.
Arya memudarkan pelukan nya. Rania duduk diantara Fatma dan Arya.
"Minum obat dulu sayang," ucap Fatma dan Arya berbarengan membuat dipersekian detik netra mata keduanya bertemu. Dengan tatapan yang sulit diartikan.
Setelah meminum obat. Rania dibaringkan untuk istirahat, tangan Fatma mengusap kening dan menciumnya. "Cepat sembuh ya sayang, makan dulu ya sebelum bobo lagi?"
Kepala Rania menggeleng. "Rania mau bobo saja di sini sama Mama dan om."
Lagi-lagi Arya dan Fatma saling bersitatap. Detik kemudian keduanya mengalihkan pandangannya masing-masing.
Netra mata Rania bergerak melihat ke arah Arya. "Om, jangan pergi ya? temenin Rania."
Arya mengangguk dan menggenggam tangan Rania lembut. Lalu Rania tertidur.
Kemudian Arya menoleh ke arah Fatma. "Kak, besok pagi aku harus pergi ke Bandung ada urusan penting. Jadi tidak bisa menemani Rania di sini."
"Ooh. Nggak pa-pa, Oya ada urusan apa?" selidik Fatma. "Apa syukuran itu?"
"Bu-bukan, syukuran diundur waktunya, sebab mau sekalian nikahan adik ku. Nanti aku kabari lagi," balas Arya.
Fatma mengangguk mengerti. Ia terus membelai rambut si gadis kecil yang tengah sakit demam tersebut ....
****
Jangan lupa like dan komen serta hadiahnya ya! supaya aku tambah semangat🙏
__ADS_1