
"Lebih-lebih, Wi. Auto paniknya lebih dari ini, lebih bikin spot jantung. Sebab kita yang besar di dalam sana, merasakan gimana cemas dan khawatirnya hati ini. Sebagai awak, kita di tuntut untuk bukan hanya memikirkan diri sendiri saja melainkan memikirkan orang banyak juga," ujar Sultan dengan serius.
Dewi terdiam seraya menarik napas panjang. Membayangkan jika dirinya ada di posisi tersebut, mengerikan.
"Apalagi seperti Arya, sebagai pilot. Dia bertanggung jawab penuh akan keselamatan para penumpangnya," tambah Sultan.
Dewi hanya menatap kosong ke arah Sultan, dalam pikirannya tergambar bayangan-bayangan yang kurang mengenakan.
"Aku tau hampir semua ada resikonya, cuma ... besar dan kecilnya. Kita kembalikan saja pada yang maha kuasa, sebab dia yang mengatur semuanya!" ucap Dewi seraya membuang napasnya kasar melalui hidung.
Sultan mengangguk-anggukan kepalanya, setuju dengan pemikiran calon tunangannya itu yang lebih memasrahkan segalanya pada yang maha pencipta.
kemudian Sultan memberikan minuman botol pada Dewi yang langsung di sambut dan di teguk nya.
Di persekian waktu kemudian. Arya dan Rania muncul. Dan Rania berlari ketika melihat Dewi dan Sultan berada menjemput.
"Om, Tatan ... aunty ... Rania pulang," menyeruak memeluk Dewi penuh rasa kangen.
"Hi ... Nona manis. Ponakan aunty sudah pulang? mamanya mana?" tanya Dewi sambil celingukan.
"Mama belum pulang. Masih di sana." Jawab Rania sambil memeluk Dewi.
"Ooh," Dewi membulatkan bibirnya.
"Halo bro, apa kabar nih? Istri mu mana. Belum pulang ya?" tanya Sultan sambil memeluk Arya.
"Baik, dia ... Masi ada urusan jadi gak bisa pulang sekarang." Jawab Arya sambil membalas menepuk pundak Sultan.
"Tapi meskipun gak pulang, sudah bawa bekal yang cukup dong," ucap Sultan seraya memukul ringan perut Arya.
"Akh, kau ini? bekal mah cukup atuh tapi tetap saja gak bikin kenyang ha ha ha." Arya tertawa, kepalanya menggeleng.
"Ha ha ha ... kurang terus ..." Sultan pun ikut tertawa lebar.
"Om Tatan?" panggil Arya sambil meraih tangan nya.
"Eh, Nona manis ku. Cantik ku, gimana betah di sana hem?" Sultan berjongkok dan memeluk gadis kecil tersebut.
"Betah, tapi gak ketemu om Tatan dan aunty. Dan gak gak ketemu teman sekolah." Keluh Rania dalam pelukan Sultan.
"Ooh ... jadi Rania kangen Om Tatan nih ceritanya? Dan sekarang sudah bertemu Om Tatan. Seneng dong?" Sultan memudarkan pelukannya.
"Seneng dong ... Om Tatan. Sekarang Rania bisa sekolah lagi bertemu teman-teman." Anak itu tampak riang.
"Aa, apa kabar?" tanya Dewi kepada Arya yang memandangi ke arah Rania.
__ADS_1
"Baik, kamu gimana selama, Aa. Nggak ada? apa dia jahat sama kamu Wi?" Arya melihat Dewi dan ke arah Sultan bergantian.
Dewi tersenyum manis. "Nggak atuh, Aa ... ada-ada saja deh. Aku baik-baik saja kok, dan orang-orang mension baik semua."
"Syukurlah." Arya mengangguk.
Sultan berdiri. "Emangnya saya mafia apa? Asal ya kalau ngomong. Yang ada paling yang enak-enak aku kasih ke dia bukan jahat. He he he ...."
"Apaan sih yang enak-enak, mau dong Rania, kue?" anak itu mendongak. "Oya tadi Om Tatan bilang kalau papa bawa bekal, bekal apa? papa gak bawa bekal apa-apa kok,"
Seperti biasa anak itu kritis. Cepo dengan apa yang dia dengar.
Arya dan Sultan saling bertukar pandangan dan sama-sama tertawa. Dewi tersenyum sambil menggeleng.
"Nah lho, tanggung jawab, hayo ..." kata Dewi pada Sultan.
"Ahk, kamu malah menyudutkan aku sih Wi!" balas Sultan sambil memutar otak.
"Oo! pulang yu? pak Harlan sudah menunggu sedari tadi," ajak Sultan mencoba mengalihkan pembicaraan.
Namun bukan Rania namanya bila segampang itu dikecoh kan begitu saja. "Om tatan? kok gak jawab sih? akh ... gak asik! sudah baik-baik bertanya juga."
"Kenapa sayang?" tanya Arya menoleh ke arah Rania yang di tuntun oleh Sultan.
Sultan menuntun Rania yang langsung nempel dengan dirinya. "Itu, Papa bawa bekal makanan kecil di sakunya, rasanya enak."
"Ooh. Om Tatan, makan?" tanya Rania lagi.
"Makan, sudah habis malah." Balas sultan kembali.
"Kok, Rania gak di kasih, Papa?" Rania menoleh pada Arya yang berjalan di samping Dewi.
"Ha? itu makanan buat orang dewasa sayang. Anak kecil di larang makan." Akunya Arya sembari melirik sekilas.
"Oh, gitu. Oya Om Tatan, Rania Rania seneng deh bisa pulang ke sini. Bisa bertemu orang-orang yang Rania sayang."
"Em ... Om Tatan termasuk gak?" tanya Sultan sambil berjalan.
"Termasuk dong ..." sahutnya.
Setelah sampai di parkiran dan menemukan mobil Fatma yang dibawa pak Harlan langsung mereka pun memasuki mobil tersebut.
"Apa kabar Pak Harlan?" sapa Arya dengan ramah dan mengulurkan tangan.
"Baik, Den. Selamat datang di indo lagi." Pak Harlan mengangguk hormat.
__ADS_1
"Iya, Pak!" Arya pun menyandarkan punggungnya ke belakang.
Cuaca mendung dan gerimis mulai turun lagi. Roda empat itu melaju dengan cepat meninggalkan bandara melesat menuju mension yang beberapa hari ini Arya tinggalkan.
"Pah, lama ya kita gak ke apartemen Papa? main yu ke sana, Pah?" Rania mengarahkan pandangan pada Arya yang duduk di depan.
Arya menoleh sebentar. "Hem? iya, nanti lah kalau ada waktu senggang. Nanti malam, Papa mau tugas, jadi Papa butuh istirahat sayang." Sembari melirik jam tangannya.
"Ooh, ya sudah lain kali aja deh." gumamnya Rania sambil mendongak pada Dewi yang membelai rambutnya.
"Aunty, sepi gak? Rania gak ada di indo?" tanya Rania pada Dewi.
"Em ... sepi. Tapi gimana ya? kan Rania nya sedang liburan sama papa dan mama." Dewi berucap lirih.
Sementara Sultan sedang sibuk dengan tabletnya. "Aku kayanya di pindahkan ke penerbangan lain deh bro. Malam ini aku jadi bagian awak pesawat xxx tidak bareng kamu."
"Oya? Tidak apa! emangnya kita harus jadi Upin dan Ipin Mulu. Sama-sama terus. Orang bosan kali lihat kamu terus, ha ha ha ..." Arya tertawa lepas.
"Ah, sial. Aku kira kau akan kehilangan orang seperti ku. Tetapi tidak seperti itu, sedih aku hik hik hik ..." Sultan bergaya nangis.
"Ha ha ha ... buat apa merasa kehilangan dirimu? tidak berarti apa-apa. Lagian malas aku dibilang Upin,Ipin." Lagi-lagi Arya tergelak.
"Akh, bagus juga sih. Biar kalau aku selingkuh juga gak ketahuan. Wak-wak-wak." Balas sultan.
Dewi melirik dengan lirikan dingin, sementara Arya menoleh ke belakang khususunya pada Sultan. Dan Sultan hanya nyengir dengan ekspresi yang sulit di artikan.
"Bercanda brader, Beb. Bercanda! jangan masukan dalam hati." Sultan menyatukan kedua tangannya.
"Om, aunty. Jangan marahan ya? kalian itu harus seperti mama dan papa yang selalu rukun dan berpelukan. Sehingga kadang lupa deh sama Rania! tapi gak lupa-lupa amat sih!" Rania nimbrung.
"Ooh, jadi Om harus peluk aunty ya? oke siap." Sultan sudah merentangkan tangannya, pura-pura hendak memeluk Dewi.
"Eeh ... jangan!" Dewi nyender.
"Nggak, cuman bercanda kok." akunya Sultan.
Selang beberapa puluh menit kemudian, mobil yang di tumpangi oleh Arya dan yang lainnya. Tiba dan memasuki halaman mension.
Rania disambut para pegawai di sana dengan bahagia. Mereka senang melihatnya anak yang menggemaskan tersebut ada di tengah-tengah mereka.
Di luar, tampak sebuah mobil mewah memasuki ke dalam halaman ....
.
Ayo mana dong dukungan buat author nya nih?
__ADS_1