
"Alhamdulillah ya? acaranya selesai." Wajah Fatma bersinar penuh kebahagiaan sambil mengusap perutnya yang buncit.
"Oya, Alhamdulillah." Balas Arya lirih, tangannya pun ikut mengusap perut sang istri.
"Kini tinggal menunggu kelahirannya si calon baby. Umi bahagia sekali. Sebentar lagi akan mempunyai cucu! tentunya yang kedua dari si neng geulis ini." Umi Santi memangku Rania dengan penuh rasa sayang.
Fatma tersenyum melihat keluarga besarnya sangat menyayangi Rania sepenuh hati.
Di Mension itu masih dalam suasana ramai. Hiasan pun masih belum di copot apapun pernak-perniknya, masih menghiasi Mension tersebut.
Saat ini. Arya dan Fatma sudah berada di kamar. Fatma tengah duduk bersandar dan mengusap-ngusap perutnya dengan lembut.
Arya baru keluar dari kamar mandi. Dengan handuk melilit di pinggang, mengambil pakaian yang sudah Fatma siapkan sebelumnya.
"Besok pagi-pagi, Aa akan berangkat tugas penerbangan internasional, hati-hati di rumah ya?" ucap Arya.
Fatma menatap dengan sangat lekat. Rasanya berat bila mau di tinggalkan, kendati itu cuma urusan kerja. "Berangkatnya kapan dari rumah?" lirih.
"Sekitar pukul tiga pagi. Aa, gak terlalu khawatir meninggalkan sayang, sebab ada keluarga kita yang akan menemani mu." Arya mendekat dan merangkul bahu sang istri di bawanya ke dalam pelukan.
"Tapi, aku ingin terus bersama mu!" gumamnya Fatma.
"Nanti akan ada waktunya. Untuk kita terus bersama!" menempelkan bibirnya kening sang istri.
"Cepat pulang ya?" pinta Fatma sembari mendongak sejenak. Lalu menenggelamkan wajahnya di dada Arya yang bidang dan menghangatkan. Dan bikin nyaman.
"Iya, sayang ... selesai tugas. Aa, pasti segera pulang. Emang kapan? Aa kelayapan sih? nongkrong sama kawan aja gak pernah. Apalagi macam-macam," ujar Arya sembari mengeratkan pelukannya.
"Iya sih. Kali aja jalan dulu sama yang muda!"
"Ha ha ha ... yang muda? banyak sambil jalan pulang kan? hem ada-ada saja." Arya menggeleng, bibirnya mesem-mesem.
Fatma hanya menunjukan senyumnya. Semakin mengeratkan pelukan pada tubuh sang suami.
Tidak butuh waktu yang lama untuk memejamkan pasang mata, sebab dalam waktu cepat rasa kantuk menyerang keduanya. Beberapa kali menguap pasangan suami istri itu terpejam.
Malam yang semakin larut, menjemput sang pagi. Dan waktu terlewatkan begitu saja tanpa melakukan sesuatu yang menjadi candu itu saking capeknya.
Sekitar pukul 02.30 Arya sudah terbangun dan sudah menyiapkan diri untuk berangkat kerja. Sebelum pergi, Arya menciumi sang istri dan calon baby yang masih di dalam perut itu.
"Hem ... mau berangkat sekarang apa? jam berapa ini?" gumamnya Fatma sambil menggeliat merasakan ciuman-ciuman mesra dari sang suami yang kini tengah memeluknya.
__ADS_1
"Aku pergi dulu ya? doakan semoga selamat dan kita bisa bersama lagi. Jaga putra kita ini." Mengusap perut Fatma dengan gerakan memutar.
"Iya, yang ... cepat pulang ya? I love you?" suara parau Fatma seakan berbisik.
"I love you too, aku akan segera pulang. Dan doa kan saja ya?" Arya memberikan kecupan kembali di pipi Fatma dan keningnya. Berakhir di bibirnya dengan lembut.
Fatma mengalungkan kedua tangannya di leher Arya sejenak menikmati kecupan lembut yang sensasi hangat. Menyebar ke seluruh tubuh.
Sebelum sentuhan itu menuntut lebih. Arya bangkit dan merapikan pakaiannya, beranjak dari tempat tidur menjauhi istrinya yang menatap sayu. Ada sekelumit rasa kecewa yang singgah di hati Fatma.
"Assalamu'alaikum sayang. Aku pergi dulu." Arya menarik kopernya berjalan mendekati pintu.
Fatma Bangun hendak mengantar. Namun segera Arya cegah, biar dia sendiri saja dan Fatma istirahat, tidak perlu repot untuk mengantar dirinya. Kasihan.
Fatma akhirnya menatap punggung sang suami. Jam segini berangkat untuk kerja mencari nafkah buat keluarga.
"Hati-hati yang, semoga Allah menjaga mu selalu dan membawa kembali segera padaku." Gumamnya Fatma sambil turun mengambil minum, tenggorokannya terasa haus.
Saat ini Arya sudah berada di atas sepeda motor kesayangannya. Motor itu meluncur dari kawasan Mension setelah menggunakan helmnya.
"Ya, Allah. Lindungi keluarga ku dan satukan kami kembali segera. Aamiin." Gumamnya Arya dalam hati.
Arya menganggukkan kepala kepada pak scurity yang membukakan pintu pagar. "Pak, titip keluarga ku ya?"
Roda dua milik Arya melesat, melaju dengan sangat cepat meninggalkan Mension dan meninggalkan anak dan istrinya.
Pagi-pagi Rania sudah riweh nanyain papanya. "Mam, papa mana sih kok gak ada? gak sarapan juga?"
"Em, papa kerja sayang. Ada apa?" tanya Fatma sambil memasukan buah ke mulutnya.
"Kerja? kok gak bilang dulu sama Rania sih? biasanya suka pamitan dulu sama Rania." Gerutu anak itu.
"Lho, kemarin sudah bilang lho ... kalau hari ini papa mau bekerja! lupa ya? sayang lupa ya?" Fatma menyuapi Rania buah.
"Gak ingat." Rania mengingat-ingat itu.
"Lagian papa itu perginya dini hari. Mama aja sedang bobo." Tambah Fatma kembali.
"Rania doa kan saja, semoga papa selamat sampai tujuan pulang lagi dengan selamat." Kata pak Wijaya dan Abah saling bergantian.
"Bener itu, biar kita semua dapat berkumpul kembali." Umi Santi menatap lembut cucu sambungnya itu.
__ADS_1
"Iya. Semoga papa Arya cepat pulang lagi." Timpal Bu Wati.
Mereka pun menikmati sarapannya dengan lahap. Di tambah lagi makan bersama keluarga besar menambah nilai plus-plus.
...---...
Suatu hari Fatma sepertinya mulai kontraksi. Sesekali meringis, namun masih bertahan di Mension sebab sepertinya masih lama mau lahirannya juga.
Semua barang sudah dipersiapkan di koper tanggal kalau mau berangkat, tinggal jinjing saja.
Bu Wati dan umi menunggui di kamar tersebut. Wajahnya mulai tampak tegang dan cemas. Melihat wajah Fatma meringis terus.
Sementara Arya sedang ada penerbangan domistik. Berangkatnya tadi siang, saat ini waktu sudah menunjukan sore hari. Wajah kedua wanita paruh baya itu, tampak tegang. Cemas dalam menghadapi yang mau lahiran itu.
Plak plak plak ....
Suara sepatu yang mengarah ke tempat tersebut, dan langsung.
Blak .... pintu terbuka dan tampak seorang menyeruak masuk. "Gimana keadaan kak Fatma?" tanya Dewi sambil langsung menghampiri Fatma yang berwajah pucat ini.
"Ya seperti itu," jawab umi Santi.
"Kakak, mau ke RS sekarang gak?" selidik Dewi sambil memegangi bahu Fatma yang tengah duduk di tepi tempat tidur.
"Masih jarang-jarang sakitnya. Nanti saja lah." Fatma menggeleng pelan sambil meringis. Menahan sakit.
"Sini, biar Umi usap pinggang Neng geulis." Umi mendekat dan mengusap pinggang Fatma yang bagian belakang yang terasa panas sekali itu.
Seiring waktu yang berputar. Air ketuban pun mulai keluaran dan membuat Fatma semakin panik. Cemas dan merasakan sakitnya yang luar biasa, mulas berasa pengen bab. Berat bagai menahan mau pipis.
Abah dan pak Wijaya, melihat keadaan Fatma yang terlihat meringis menahan sakit. "Ke rumah sakit aja ya sekarang?"
Dua pria itu tampak cemas, melihat ke arah Fatma yang tampak tersiksa dengan menjelang lahirannya itu.
"Bawa aja, Yah. Biar di sana kan dikasih obat," timpal Bu Wati tampak cemas juga.
Atas pertimbangan, Abah dan pak Wijaya memangku Fatma di bawanya ke dalam mobil yang sudah siap sedia, dengan sigapnya pak Harlan untuk meluncurkan mobilnya ke rumah sakit ....
.
.
__ADS_1
Mohon doa nya ya? tadi padi aku kena insiden sehingga kaki ku mengalami pembengkakan🙏🙏