
Perlahan Fatma menarik tangannya, tak kuasa menahan debaran jantungnya yang terus berpacu dengan cepat.
"Kenapa?" Arya menoleh dan mengunci genggamannya.
"Tidak lihat apa, aku gugup gini, malu." Lirih Fatma sambil menunduk.
Namun Arya tidak secepatnya mengindahkannya. Melainkan menarik dan mengecupnya punggung tangan Fatma dengan sangat mesra, walau yang pertama kalinya. Arya ingin menunjukan pada semuanya kalau sudah halal dia juga pasti bisa romantis dan perhatian sama wanitanya.
Lebih bucin (Budak cinta! malah. "Aku mau salat dulu ya? masih pms kan?" menatap syahdu sosok wanita kini sudah halal untuknya.
Fatma menggigit bibirnya, baru ingat dia masih pms. Kemudian mengangguk. "Aku juga mau ke kamar dulu."
Arya berdiri dan menarik pergelangan Fatma menuju kamarnya, dan kebetulan semua tamu sudah selesai memberi selamat dan belum ada tamu lagi.
Keduanya berjalan bergandengan dan lantas tertegun melihat kondisi kamar 99% sudah berubah. dalam waktu cepat kamar Arya menjadi kamar pengantin yang berhias bunga-bunga warna putih dan ping.
Di atas tempat tidur pun bertabur dengan kelopak bunga mawar merah dan berhiaskan sepasang angsa yang sedang berhadapan dan terbuat dari handuk putih bersih.
Langkah Arya memasuki kamar tersebut dengan tangan tetap menggenggam tangan Fatma sehingga mengikuti langkahnya Arya masuk ke dalam kamar.
"Tadi ketika keluar dari kamar ini belum di hias begini? sekarang sudah berhias indah seperti ini." Arya mengamati ruang kamar tersebut.
"Mungkin setelah kita keluar, mereka menghias nya, A." Balas Fatma. "Ya sudah, salat di sana? aku mau ke kamar mandi."
Arya malah menggenggam kedua tangan Fatma dan menatap wajahnya dengan sangat lekat. Fatma pun membalas dan menggerakkan kedua netra matanya. Mengunci tatapannya pada Arya.
"Apa kau bahagia menikah dengan ku?" tanya Arya sambil menatap mesra sang istri.
"Nggak, biasa aja!" balas Fatma sambil mesem.
"Benarkah tidak bahagia dan Baisa aja?" kening Arya mengerut dan menatap heran.
__ADS_1
"Haruskah aku jawab itu?" ucap Fatma balik tanya.
"Em, tidak perlu! sebab aku sudah tahu jawabannya kok." Tatapan Arya kian lekat dan bergerak pada benda lembab dan kenyal milik Fatma.
Semakin lama wajah Arya makin mendekat dan ingin mendarat di tempat yang jadi tujuannya. Dengan segala rasa yang bercampur aduk menjadi satu.
Dada naik turun bersama napas yang memburu. Jantung yang terus berdekup lebih kencang. Berdebar tak karuan. Apalagi bagi Arya, ini kali pertama pengalamannya yang berniat mencium bibir wanita yang sudah menjadi istrinya tersebut.
Begitupu dengan Fatma, walau ini bukan kali pertama untuknya. Namun tetap saja jantungnya seakan mau copot. Berdenyut lebih cepat apalagi ketika bibir Arya benar-benar mendarat di tempatnya jantung Fatma seakan berhenti bernapas.
Mulanya sekedar menempel saja diiringi napas yang terasa kasar melalui hidung. Namun lama-lama keduanya bergerak pelan menulusuri permukaannya yang terasa lembab dan manis.
Kedua kaki Fatma berjinjit untuk bisa mengimbangi tingginya tubuh Arya, yang menunduk untuk menjangkau wajahnya. Tangan Fatma melingkar di pundak Arya.
Sementara tangan kanan Arya menarik punggung Fatma agar menempel ke dadanya. Dan tangan kirinya menyentuh tengkuk Fatma serta menguncinya. Agar tak bisa bergerak, Arya begitu menikmati benda kenyal tersebut sehingga keduanya matanya sama-sama terpejam.
Hening!
Sekian lama tak di sentuh, akhirnya Fatma dapat merasakan lagi sentuhan dari seorang pria yang statusnya sama pria sebagai suami dan kali ini sentuhan Arya begitu lembut dan masih sedikit malu-malu. Beda dengan yang dulu yang sering grasak-grusuk hingga menimbulkan paksaan.
Fatma sangat menikmatinya. Tangannya yang melingkar di pundaknya Arya sedikit mencengkram punggung Arya. Lalu tangan Fatma bergerak naik meremas rambut Arya sampai acak-acakan tak karuan.
Khawatir nafsunya makin naik ke ubun-ubun. Gegas Arya mengehentikan aksinya dan menjauhkan dirinya dari Fatma. "Aku bersih-bersih dulu ya? mau salat," ucap Arya dengan suara bergetar sembari mengusap bibir Fatma yang basah dengan ibu jarinya.
Fatma mengangguk dan berusaha mengontrol perasaannya yang riuh dengan gemuruh yang hebat di dadanya. Lalu menunduk merapikan penampilannya terutama di bagian yang ada tanda merahnya satu. Ia bubuhkan bedak untuk menutupi tanda itu dengan rapi.
Arya yang melenggang ke kamar mandi merasa ada kepuasan tersendiri. Sehingga senyumnya mengembang ia tatap dirinya di cermin yang ada kamar mandi tersebut, mengusap bibirnya dengan sangat lembut.
Kemudian segera mengambil air wudu. 5 menit kemudian Arya keluar dari kamar mandi lalu bersiap salat, sementara Fatma segera masuk kamar mandi gantian dengan membawa sebungkus pembalut.
''Mam? mama. Papa? ada di dalam kan? Rania mau kencing." Suara Rania dari balik pintu.
__ADS_1
Fatma bergegas membukakan pintu tersebut. "Iya sayang sebentar!"
"Mama dari mana sih? lama ...."
"Dari toilet sayang, sett ... jangan berisik! papa lagi salat," ucap Fatma sambil menempelkan telunjuknya di bibir.
Anak itu menoleh ke arah Arya yang masih salat. "Oo! iya Rania gak lihat, hi hi hi." Rania segera ke kamar mandi sendiri.
Sultan dan Sofi sedang menunggu kedatangan kapten Wisnu dan mereka menunggu di tepi jalan yang menuju rumah Arya.
"Rasanya aku pengen juga secepat itu menikah. Seperti Arya dengan mudahnya menikah, Hem ... ternyata kau beruntung juga meski di tinggal kawin! Eeh dia sendiri juga kawin di hari yang sama." Gumam Sultan merasa ikut bahagia dengan pernikahan Arya.
"Emangnya mantan dia nikah juga hari ini?" tanya Sofi menoleh ke arah Sultan.
"Iya,"
"Mungkin saja dia selingkuh, karena Arya yang banyak di luar kali jadinya kurang perhatian atau apalah. Bisa jadi." Sofi berekspektasi sendiri.
"Mungkin. Tapi dasarnya aja ceweknya gak setia, pasangan itu tidak wajib setiap saat bersama. Adakalanya terpisah karena ekonomi, pekerjaan. perempuan juga gak mau kali cowok nya tak berduit, ini hidup! gak cukup dengan cinta tetap aja ada perut yang harus di isi." Nada bicara Sultan menggebu-gebu.
"Itu benar, dan itu realita." Sofi mengangguk. Membenarkan ucapan Sultan.
"Kamu juga gak bakalan mau punya cowok pengangguran apalagi kerek, ya pasti ogah."
"Iya dong, apalagi aku tuh tulang punggung keluarga, Tan. Jelas aku butuh pria mapan dan tugas ku cuma membantu nantinya," ungkap Sofi.
"Hi ... kapten akhirnya sampai juga?" sambut Sultan pada kapten Wisnu yang bersama istri dan kedua anaknya.
"Alhamdulillah ... tiba juga!" Wisnu turun dan berjabat tangan dengan Sultan dan Sofi ....
****
__ADS_1
Jangan lupa like komen dan dukungannya dari kalian semua reader ku🙏