Mencintai Ibu Angkatku

Mencintai Ibu Angkatku
Ngapain cemburu


__ADS_3

Arya berbincang dengan salah satu aparat desa sembari menyodorkan kartu KK dan KTP, di tambah dengan data dari Fatma yang cukup mengakses internet, beres.


Setelah sekian waktu menunggu, kemudian urusan di sana selesai. Lalu sekarang ini yang menjadi tujuannya adalah kantor KUA untuk mengantar surat-surat barusan.


"Pah, sekarang menyusup Oma dan aunty ya?" tanya Rania sambil duduk di depan dengan riang.


"Papa mau ke kantor dulu sebentar, setelah itu barulah menyusul mereka, oke?"


"Oke, Papa." Rania mengangguk.


"Eeh, Abang tukang bakso, mari-mari sini Rania mau beli." nyanyian Rania setelah melewati tukang bakso.


"Sayang, mau bakso?" tawar Arya sembari memelankan roda duanya.


"Nggak mau akh, Rania cuma nyanyi aja kok." Anak itu menggeleng lantas meneruskan nyanyiannya.


"Sayang, mau beli gak?" tanya Arya pada Fatma yang berada di belakangnya.


"Nggak, Aa. Makasih, masih kenyang nih." Fatma pun menggeleng.


Setibanya di kantor KUA Arya turun dan membawa berkas-berkas masuk masuk ke salah satu ruangan bersama Fatma dan Rania juga.


Berbincang sebentar, kemudian keduanya beranjak lalu berpamitan, berjabat tangan dengan ramah.


"Terima kasih atas bantuannya. Pak?" ucap Arya seraya berjabat tangan.


"Sama-sama, nanti buku nikahnya di antar ke sana," balas pihak KUA tersebut.


Begitupun Fatma berjabat tangan dengan orang-orang yang ada di sana sembari mengangguk hormat.


Kini mereka sudah berada dekat motor seraya mengenakan helem arya berkata. "Sekarang kita meluncur kemana?"


"Tempat rekreasi, menyusul Oma dan aunty. Hore!" Rania bertepuk tangan.


"Aku haus," gumamnya Fatma sembari melihat-lihat tempat sekitar kali aja ada warung terdekat. Mau beli minuman mineral.


Kemudian Fatma ke warung membeli air mineral, lalu tidak lama Fatma kembali membawa dua botol mineral.


"Rania haus gak?" tanya Fatma mengusap pipi Rania.


"Mau, haus." Rania mengangguk. Dan Fatma langsung membuka satu, yang satunya ia gantung di bagian motor depan dekat setang.


"Aa, mau gak?" Fatma mengalihkan pandangan ke arah Arya yang bersiap membawa lari motornya.

__ADS_1


Setelah itu, Arya segera membawa lari motornya meninggalkan tempat tersebut. Dengan perasaan lega, sebab tinggal menunggu buku nikahnya saja.


Tujuannya sekarang yaitu ke tempat wisata yang sudah dijanjikan dengan keluarga. Selang beberapa waktu akhirnya tiba juga di tempat yang di tuju.


Orchid Forest adalah tujuannya Arya dan keluarga. Tempat wisata sekaligus tempat budidaya bunga anggrek, cafe dan kulinernya pun lengkap di sana.


"Oma, aunty?" Rania berlari menghampiri Omanya, meninggalkan Fatma dan Arya yang tampak mesra.


Arya merangkul pinggang Fatma sambil berjalan menikmati indahnya tempat wisata tersebut.


Tangan Fatma pun merangkul pinggang Arya yang sesekali mendongak dan tersenyum bahagia.


Ponsel Fatma berbunyi dan Fatma segera mengambil dari tasnya. "Zayn." Batin Fatma.


Kepala Fatma menoleh meminta ijin untuk menerima telepon sebentar. "Aa, aku angkat telepon sebentar ya?" mengayunkan langkahnya sedikit menjauh dari Arya.


Arya belum sempat menjawab. Fatma sudah berada jauh darinya. Kedua netra mata Arya menatap punggungnya Fatma.


"Huuh ..." Arya menghembuskan napasnya yang panjang.


"Iya, paling saya pulang besok." Kata Fatma di ujung telepon.


"Kan rencananya cuma tiga hari saja di bandung? ini sudah empat. Ditambah besok, jadi lima hari, Bu." Protes Zayn.


"Asisten sih asisten. Kan saya masih baru gabung sama kamu. Belum begitu faham dan masih menyesuaikan diri Ibu CEO." Jelas Zayn terdengar tergelak.


"Sudah dulu ya? aku di tunggu suami ku."


"Suami? suami dalam mimpi? bukannya belum lama ini kalian. bercerai?" Zayn terdengar terheran-heran.


"Sudah ku bilang, ceritanya panjang." Fatma menutup teleponnya. Seraya tersenyum dan menggeleng.


"Kenapa? ada yang membahagiakan kah?" Suara bariton tersebut bikin Fatma kaget bukan main.


"Aa ke sana yu?" meraih tangan Arya di tariknya untuk berjalan.


"Sayang, sebentar?" suara Arya menghentikan langkah Fatma.


"Kenapa?" tanya Fatma.


"Siapa yang telepon? orang yang bernama Zayn ya?" menatap lekat ke arah Fatma yang wajahnya tampak sumringah itu. Dan mata pun berbinar.


Fatma menarik tangannya yang memegang pergelangan Arya. Seiring dengan tatapan Arya yang seakan menghujam jantung. "Ooh, dia dari kantor. Asisten sekaligus sepupu ku."

__ADS_1


"Benarkah?" selidik Arya sembari mengerutkan keningnya.


"Bener, Aa ... lain kali aku kenalkan. Cemburu ya? ngaku?" goda Fatma menunjuk hidung Arya.


Arya menyilang kan kedua tangan nya di dada, seraya menggeleng. "Nggak. Ngapain cemburu? sudah jadi istri kok."


"Hem!" Fatma sedikit mencibirkan bibirnya ke depan.


Geph!


Tangan Arya menangkap tangan Fatma. "lapar nih, kita cari makan dulu yu?"


Fatma tersenyum ke arah sang suami dan mengikuti langkahnya untuk mencari makan, kebetulan sekali sudah waktunya makam siang.


Setelah menemukan tempat makan keduanya duduk lesehan. Dan memesan menu kesukaannya masing-masing.


Keluarganya yang lain memilih makannya di tempat yang agak jauh dari Fatma dan Arya. Sehingga Arya dan Fatma cuma berdua saja di sana.


Membuat keduanya leluasa bermesraan. Makan saling suap-suapan, sesekali Fatma bermanja-manja dengan suami barunya itu.


"Sayang, boleh gak? kalau aku memakai kontrasepsi dulu biar kita lebih leluasa menikmati masa-masa pacaran." Fatma menatap lekat ke arah Arya di sela-sela makannya.


"Boleh kok, lagian Rania juga masih manja dan memerlukan perhatian yang lebih dari kita," ungkap Arya sembari melihat ke arah Rania yang bersama Omanya dan yang lainnya. Sama menikmati makan siangnya.


"Terima kasih atas pengertiannya, Aa. Memang benar, Rani masih manja dan sangat memerlukan perhatian dan kasih sayang kita." Fatma sedikit melamun pandangannya kosong.


"Aku, tidak keberatan kok, silakan saja. Yang penting tidak minta untuk pisah ranjang saja." Arya mesem-mesem sendiri.


Tangan Fatma mengusap pipi Arya. "Apaan sih? nggak lah, kecuali Aa sendiri yang maunya kaya gitu."


"Hem, mana ada aku mau seperti itu. Sudah jarang di rumah, tugas lah. Di rumah jauh dari istri? rugilah aku! buat apa punya istri?" Arya menggeleng sambil menghabiskan makannya.


Manik Fatma memandangi sang suami yang kalau lebih diperhatikan lebih ganteng juga, "Terus kita mau tinggal di mana?"


"Di mana? maunya sih di apartemen tapi paling cuma bisa ajak Rania dan Mia saja. Secara di sana cuma ada dua kamar saja," sambung Arya.


"Ya, gak pa-pa, sesekali kita di sana, kalau kamu tidak tugas, tinggal di sana tapi kalau sedang bertugas kami tinggal di mension, gimana? kalau supir mah gampang, mereka bisa istirahat di Mension kok. Kalau butuh saja baru ke apartemen."


Fatma mengedipkan sebelah matanya yang indah, yakin kalau idenya akan Arya setujui ....


****


Jangan lupa kasih hadiah dan tonton iklan juga di karya ku🙏

__ADS_1


__ADS_2