Mencintai Ibu Angkatku

Mencintai Ibu Angkatku
Pulang


__ADS_3

Setelah tiba di bandara, Fatma dan Zayn turun dan bergegas masuk, di sambut oleh Rania yang sudah berada di sana bersama Oma dan opanya.


"Mama?" Rania memeluk sang bunda lalu mendongak. "Papa mana Mam?"


"Em, papa belum pulang sayang." Tangan Fatma mengusap pucuk kepala putri kecilnya penuh kasih sayang.


"Kok, belum pulang? sudah lama juga." Rengek Rania dengan raut wajah yang sedih.


"Penerbangannya di kencel sayang ... cuacanya buruk. Doa kan biar cepat pulang ya?" ucap Fatma seraya berjongkok memeluk tubuh sang anak.


"Kok papa belum pulang sih? katanya mau bawakan Rania oleh-oleh!" gumam Rania dalam pelukan sang bunda.


"Sabar ya sayang." Fatma dengan begitu lirih.


Bu Wati dan sang suami saling melempar pandangan. Batin keduanya mencelos melihat sang cucu yang begitu merindukan papa nya.


"Apa kabar Om, Tante?" Zayn mendekat dan mengulurkan tangan pada om dan tantenya.


"Baik, mana istri mu? bukannya dibawa temui kami ini malah menghilang, gimana sih?" sahut Bu Wati dan pak Wijaya bergantian.


"Sibuk, Om. Tante, tadinya besok lusa mau ajak ke mension. Eeh ... Om dan Tante keburu pergi!" elak Zayn.


"Akh, kamu. Bicara doang, kami tunggu lama kamu gak ada juga datang." Pak Wijaya menggeleng.


"Ha ha ha ... sorry?" Zayn tergelak.


"Dasar keponakan mu itu, memang begitu, Yah." Timpal Bu Wati.


Kemudian Zayn melirik ke arah Rania dan Fatma yang masih berpelukan, Rania tampak sedih ingat seseorang.


"Ehem, gimana kalau Rania ikut jalan-jalan sama Om yu? kita lihat-lihat pesawat! mau gak?" tangan Zayn mengulur ke arah Rania.


Anak itu perlahan melepas pelukannya dan menoleh, menatap ke arah Zayn lalu ke tangan yang terulur. "Mau."


"Yu, kita jalan-jalan." Zayn menuntun tangan kecil Rania di ajaknya jalan-jalan di sekitar gedung itu.


"Emang Arya kenapa Balum pulang, Fat?" selidik sang ibu.


"Di sana sedang mengalami cuaca buruk, Bu. Semua penerbangan di tutup," gumamnya Fatma.


"Ooh, ya ampun ..." sambung Bu Wati.


"Semoga aja badai cepat berlalu. Dan semuanya selamat Tak ada halangan lagi tuk pulang," ucap pak Wijaya penuh harap.


"Iya. Yah, aku juga cemas dan khawatir." Lirihnya Fatma. Baru kali ini ia merasakan gimana khawatirnya pada suami.


"Sabar ya? doa kan saja." Bu Wati mengusap punggung Fatma yang tampak sedih.


Fatma mengangguk. "Oya, sudah cek-in belum? semua data."


"Sudah. Tinggal nunggu keberangkatan saja, jaga Rania ya? sebenarnya Ibu pengen tinggal di sini. Tapi ... gimana di sana yang lama kami tinggalkan." Bu Wati merangkul bahu Fatma.


"Nggak pa-pa, aku bisa menjaga Rania kok. Apalagi kalau ada Arya, aku merasa tenang ada dia bersama ku." Fatma meyakinkan sang bunda yang bagaimanapun mengkhawatirkan dirinya dan sang cucu.


"Iya. Kami pun tenang meninggalkan kalian kalau bersama Arya. Semoga Arya segera pulang dan berkumpul lagi." Tangan pak Wijaya mengusap pundak Fatma.


Kini saatnya pak Wijaya dan Bu Wati bersiap untuk memasuki pesawat.


Fatma memeluk erat sang bunda dan sang ayah bergantian. Manik matanya tak kuasa meneteskan air mata, sedih akan berjauhan dengan mereka.


"Kalau ada apa-apa bilang. Jangan di pendam sendiri, telepon kami. Bicarakan dengan kami," tutur Bu Wati sambil memeluk putri semata wayangnya.


Fatma mengangguk pelan. Lalu melepas pelukan ketika melihat Rania yang baru datang bersama Zayn yang nampak ceria lagi.


Kemudian gegas dipeluk Bu Wati dan pak Wijaya sambil berpesan, kalau Rania tidak boleh nakal, harus menurut dan pinter. Rajin belajar juga, jangan bikin repot mama dan papanya.


Rania mengangguk dengan kedua manik mata yang nanar, merasa sedih saat mau berpisah dengan opa dan Omanya ini.


"Sampai jumpa lagi ya Oma dan Opa. Rania akan merindukan kalian." Rania memeluk keduanya.


"Iya sayang." Keduanya mengusap pucuk kepala Rania. "Nanti kalau liburan ke tempat Oma ya? Oma tunggu."


"Iya, Oma. Opa." Rania melambaikan tangan.


Bu Wati dan suami berjalan membawa langkahnya ke pintu dua, untuk menuju pesawat yang akan membawanya ke luar Negeri.

__ADS_1


Fatma, Rania dan Zayn terus melambaikan tangan sebagai salam perpisahan. Melalui jendela besar sampai mereka memasuki pesawatnya.


Fatma menghela napas panjang. Lalu ia hembuskan dengan perlahan, menoleh pada sang anak yang menatap pesawat yang mulai merayap bersiap terbang. Membawa sejumlah penumpang yang ingin melintasi pulau menembus langit.


"Yu, sayang kita pulang? Mama mau ke salon dulu. Lama gak perawatan." Ajak Fatma meraih tangan Rania.


"Iya dong, perawatan. Biar makin di sayang suami, jadi nanti suami pulang sudah segar dan wah. Tinggal tempur deh." Celetuk Zayn.


"Om Zayn, jangan tempur! perang itu kan gak boleh, gak boleh tempur atau perang. Nggak baik, mending damai itu lebih baik kata ibu guru juga harus saling menyayangi." Timpal Rania sambil berjalan yang mendengar kalimat yang Zayn ucapkan.


Mulanya Zayn bengong dan terhenti langkahnya begitu saja, mencerna maksud dan tujuan Rania, bertukar pandangan dengan Fatma sesaat. Lalu Zayn tertawa lepas. "ha ha ha ..."


Mungkin Rania pikir yang Zayn maksud berperang atau apalah. Membuat Zayn tergelak tawa, begitupun Fatma mesem-mesem.


"Iya nih, Om Zayn ada-ada saja ya? bukannya membangun perdamaian, malah main tempur-tempuran. Nggak boleh, Om," Manik Fatma mendelik ke arah Zayn yang masih tertawa.


Zayn hentikan tawanya. "Maaf. Maksud Om, itu ... main tempur-tempuran dengan alat kecantikan Mama." Menggaruk tengkuknya, kebingungan sendiri.


Kemudian mereka mencari restoran terlebih dahulu, belum makan siang. Sekalian memanggil pak Harlan untuk makan bersama.


Setalah itu semuanya bergegas memasuki mobil yang terparkir cantik di pinggir. Kini Fatma, Rania. Zayn dan pak Harlan sudah berada di dalam mobil tersebut dan langsung mengenakan seatbelt.


Barulah mobil yang dikemudikan pak harlan melaju dengan kecepatan sedang, tujuan ke kantor terlebih dahulu untuk mengantarkan Zayn ke sana.


Sementara Fatma mau langsung pulang saja. Apalagi Rania merengek-rengek, nanyain terus Arya yang bikin Fatma pusing.


"Anak manis, mending ikut, Om yu? ke rumah Om bertemu dengan tante Susi. Dia suka anak kecil seperti Rania lho." Ajak Zayn sembari membujuk Rania.


"Nggak mau. Pengen papa!" anak itu menggeleng. Kekeh pengen papa.


"Kan papanya belum Pulang sayang, gimana dong?" timpal Fatma sembari mengusap pipi bulat Rania.


"Papa cepat pulang? Rania kangen!" gumamnya bikin Fatma merasa haru.


Zayn terdiam begitupun pak Harlan yang fokus nyetir cuma mendengarkan perbincangan yang berada di belakang.


Setibanya di depan salah satu gedung tinggi pencakar langit tersebut. Mobil yang di tumpangi Zayn berhenti dan melambaikan tangan setelah berdiri samping mobil.


Sesaat kepala Zayn menunduk dan melihat ke arah Rania. "Gimana? mau gak ikut Om ke rumah? nanti Om jemput."


"Nggak mau," kekeh Rania.


Lalu pandangan Zayn beralih pada Fatma yang tampak melamun. "Bos. Aku masuk dulu ya, kau baik-baik saja kan?"


"Iya, aku baik-baik saja kok, santai aja." Jawab Fatma menyembunyikan yang sesungguhnya tidak baik-baik saja.


"Baiklah. Pak mata-mata ya jangan ngebut lho. Bawa majikannya sampai tujuan dengan baik." Pesan Zayn mengalihkan netra nya pada pak Harlan.


"Baik, Tuan." Pak Harlan mengangguk hormat dengan mengulas senyuman, mendengar ucapan Zayn. Orang lain itu bilangnya hati-hati, sementara Zayn mata-mata. Lalu pak Harlan bersiap tancap gas memutar kemudi meneruskan perjalanan untuk pulang ke mension.


"Sayang jangan galau gitu dong, atau Rania ngantuk? iya, ngantuk?" jemari Fatma mengusap kepala Rania lembut.


Anak itu tidak merespon hanya suara napasnya saja yang teratur. Pas Fatma lihat mata anak itu terpejam. Fatma menghela napas sangat panjang.


Fatma mencium pucuk kepala anak itu sembari ia benarkan posisinya. Dan disandarkan ke jok yang sebelumnya Fatma rebahkan sedikit. "Ngantuk rupanya."


Kemudian tangan Fatma mengambil laptop nya lalu ia buka di atas pangkuannya. Menyibukkan diri dan pikiran agar tidak terlalu mengingat sang suami yang belum bisa pulang.


Beberapa puluh menit tidak selang begitu lama, akhirnya mobil memasuk gerbang yang sudah terbuka, merayap ke dalam. BI Ina menyambut dan langsung mengambil Rania dibawa ke kamar pribadinya.


Fatma turun dan berjalan gontai ke dalam Mension melalui pintu samping. Menenteng tas yang berisi laptop dll.


"Nanti siapkan buah-buahan buat saya makan malam ya, Bi?" pinta Fatma ketika berpapasan dengan Bi Ina setelah menidurkan Rania di kamarnya.


"Baik, Nya. Apa ada yang lain lagi yang harus bibi kerjakan?" bi Ina menunggu perintah lainnya.


"Em ... nggak, Bi. Itu saja dulu." Fatma melanjutkan kembali langkahnya menaikan anak tangga dalam menuju kamarnya.


Setelah menyimpan tas. Fatma dan mengganti pakaiannya dengan kimono Lalu membawa langkahnya ke ruangan perawatan alias kecantikan dan kebetulan dua pelayannya sudah siap melayani Fatma.


Dari mulai wajah, rambut, kuku. Kulit tubuh sampai bagian kewanitaannya, diurus dengan baik agar terawat dan tampak segar juga sehat.


"Nyonya, maaf. Bagian area intimnya mau dibersihkan juga semuanya?" tanya seorang pelayan pada Fatma yang tengah berbaring.


"Em ... iya bersihkan aja semuanya. Cukur abis rambutnya," pinta Fatma seraya mengangguk dan memejamkan matanya.

__ADS_1


Pelayan tersebut mulai mengurus **** ***** Fatma agar lebih terawat dan sehat. Dan Fatma minta dikupas habis rambut yang keritingnya.


Selang sekian lama di ruangan tersebut. Akhirnya selesai juga dengan perasaan yang lebih ringan dan segar. Wangi dan fress. Barulah Fatma keluar dan menghampiri meja makan.


Namun ia ingat Rania, sehingga urungkan niatnya itu lekas mencari keberadaan Rania.


"Sayang, sudah makan malam belum sayang?" Blak! pintu kamar Rania Fatma dorong dan tampak Rania tengah bermain di temani BI Ina dan satu asisten lainnya.


Rania menoleh dan berkata. "Sudah, Mama. Sama bibi."


"Ooh, baguslah. Mama takut Rania belum makan, sebab tadi bobo," mendekat dan mencondongkan tubuhnya mencium kening Rania penuh kasih dan sayang. "Setelah ini bobo lagi ya? sudah hampir pukul 21.00 wib."


"Tadi sebentar, Non Rania bobo nya langsung bangun dan minta makan eskrim." Kata Bi Ina. dengan jelas.


"Ooh. Gitu ya? ya sudah, Mama mau makan malam dulu ya! met bobo lagi. Bi jangan terlalu malam Bobonya, Rania." Fatma mengedarkan pandangan pada kedua asistennya.


Mereka pun mengangguk, dengan perkataan sang majikan yang kembali berlalu meninggalkan kamar Rania. Diikuti oleh kepala asisten yaitu BI Ina. Mengikuti langkah Fatma yang menuruni anak tangga.


"Mau makan malam apa lagi, apa ada yang harus saya tambahkan?" tanya Bi Ina. dari belakang Fatma.


"Buah-buahan sudah di siapkan bukan?" Fatma malah balik tanya.


"Sudah, di meja sudah siap!"


"Oke," Fatma menarik kursinya. Mendudukkan diri tepat depan sepiring potongan buah.


Bi Ina menuangkan air putih buat Fatma yang mulai menyuapkan buah ke mulutnya.


Seiring habisnya buah di piring. Fatma beranjak dan membereskan kursinya. "BI, aku naik dulu. Nanti kalau ada hal yang penting atau apa gitu panggil saja."


"Akh, Nyonya malam-malam gini emang akan ada apa sih? sudah waktunya istirahat juga." Balas Bi Ina.


"Ya, kali aja. Siapa tahu," sambung Fatma. Kemudian mengayunkan langkahnya kembali menaiki anak tangga.


Derap langkah dari kakinya terdengar begitu teratur. Dengan jalan yang teratur juga, mendekati pintu lalu mendorongnya perlahan.


Sesekali hatinya dihinggapi rasa was-was yang tiada terkira mengingat suaminya yang masih belum pulang.


Menatapi cincin yang melingkar di jari, ia dekatkan dengan wajahnya dan lantas mencium cincin tersebut penuh kerinduan.


"Aku kangen kamu Aa." Gumamnya sembari menyentuh cincin itu.


Kemudian berjalan melintasi pintu balkon, sesaat dia berdiri di sana menatap langit yang hitam pekat, hanya terlihat satu bintang yang bersinar. Sang rembulan pun belum menampakan sinarnya yang indah itu.


Ia tatapi langit dengan mata yang berkaca-kaca. Kedua tangan memeluk dadanya, menutupi salah satu bagian tubuh yang terhalang baju lingerie.


"Sudah beberapa kali aku hubungi. Nomor mu gak aktif, dimana kamu sekarang? sebenarnya kita berada dibawah langit yang sama, namun hanyalah terhalang jarak saja." Monolog Fatma masih anteng menatap sang langit.


Setelah terasa dingin, Fatma masuk dan lantas mengunci pintunya. Berbaring di atas tempat tidur, menarik selimutnya untuk menutupi seluruh tubuhnya.


Trek!


Manganti lampu kamar, menjadi temaram. Kedua netra nya berusaha terpejam. Tidak ingin terus terjaga sebab tidak ingin terus memikirkan suaminya, Arya.


Akhirnya setalah sekian lama berusaha terpejam. Rasa kantuk pun mulai menyerang mata Fatma yang langsung terpejam dengan mulut beberapa kali menguap.


Derap langkah kaki yang terdengar pelan tapi pasti mendekati pintu kamar Fatma yang tidak terkunci.


Cklek!


Handle di putar dan di dorong ke dalam. Berdiri seorang pria berpakaian formal, seragam putih pilot. Menenteng bag dan koper, sorot matanya yang tajam tertuju pada sosok yang meringkuk di atas tempat tidur.


Perlahan melangkahkan kakinya dan mengunci pintu. Setelah melintasinya, menyimpan koper dan bag di dekat sofa. Kemudian melanjutkan langkah ke dekat Fatma, namun sebelumnya membuka sepatu dan kaos kaki ia simpan di bawah meja.


Arya mendekat mencondongkan wajahnya, metatap wajah cantik Fatma yang tampak lelap itu, tak tega rasanya kalau harus membangunkan.


"Assalamu'alaikum, sayang. Aku pulang!" suaranya sangat lirih dan nyaris tak terdengar saking pelannya.


Jemarinya membelai anak rambut Fatma yang halus dan baunya wangi semerbak. Kulitnya pun berbau sangat segar.


Ingin rasanya memeluk dan menciumnya, namun niat itu ia urung mengingat dirinya belum bersih-bersih. Arya sengaja pulang ke Mension sebab dia tahu kalau Fatma berada di mension malam ini.


Arya gegas bangun dan turunkan kakinya menapaki lantai, membawa langkahnya ke kamar mandi sembari membuka kancing pakaiannya satu/satu. Ia ingin membersihkan diri terlebih dahulu sebelum istirahat dan bersentuhan dengan sang istri yang sangat ia rindukan ....


****

__ADS_1


Apa kabar reader ku semuanya. Semoga kabar baik ya? jangan lupa dukungannya juga dan makasih sebelumnya🙏


__ADS_2