
Fatma terkesiap melihat kedatangan seseorang yang tiba-tiba berada di depannya.
"Kebetulan kau ada di rumah?" sapa Suci tanpa mengucap permisi terlebih dahulu selayaknya tamu.
"Iya, ada apa datang ke sini? ada perlu apa ya?" tanya Fatma dengan tatapan dingin seolah tidak suka dengan kedatangan Suci.
"Saya ... apa saya tidak dipersilakan duduk?" ucapnya dengan tatapan datar dan menghujam jantung.
"Oo! silakan?" tangan Fatma menunjuk ke arah kursi yang ad di depannya.
"Rania mana? libur diolah, kan?" matanya celingukan.
"Sedang bermain. Dengan papanya." Jawab Fatma dengan nada datar.
"Papanya?" tanya Suci seraya mengernyitkan kening.
"Iya, papanya. Kenapa? kaget atau tidak percaya kalau saya sudah menikah lagi?" balas Fatma dingin.
"Percaya, oo. Percaya dong, kau itu cantik dan kaya, pasti dengan mudahnya mendapatkan lelaki yang mau menikahi mu," ungkapnya sambil sedikit memajukan bibir bawahnya yang sangat merah merona.
"To the point aja lah. Sya tidak da waktu dan banyak kerjaan," ucap Fatma sambil menutup laptop yang di pangkuannya, ia simpan di meja.
Tatapan Fatma tertuju ke arah Suci yang berpenampilan dress bunga-bunga pendek selutut. Rambut terurai sebahu, wajahnya yang oval terlihat manis berhiaskan gincu merah merona. Wajar kalau dia pun laku di pasaran sehingga berani menjadi teman ranjang semalam.
Melihat Suci yang hanya diam sambil mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan yang dia duduki. Fatma kembali detak kan bibirnya. "Bicaralah, ada apa maksud dan tujuan datang ke sini?"
Suci mengalihkan pandangannya pada Fatma. "Oke, saya mau minta bantuan! saya butuh uang untuk keseharian saya, sebelum saya mendapatkan pekerjaan."
"Saya sudah berikan rumah, mobil, juga deposito yang lumayan lah. Apa itu gak cukup? seharusnya saya yang dapatkan itu semua lho." Balas Fatma dengan tatapan tak hentinya dari sosok wanita itu.
"Rumah, mobil itu masih lengkap. Tidak saya jual ataupun digadaikan, tapi untuk melanjutkan hidup saya gimana? setelah Aldian mendekam dipenjara. Jelas deposito habis lah," sambung Suci.
Fatma terdiam otaknya berputar. Ada benarnya juga kata Suci. Mungkin dia memang membutuhkan uang untuk kesehariannya, pantas dia mengambil jalan pintas.
__ADS_1
"Tapi kalau kehidupannya normal. Masa sih semalam dapat puluhan juta tidak cukup untuk satu bulan hidup?" pertanyaannya Fatma dalam hati.
"Saya harus bayar pajak. Dan harus dilunasi Minggu ini juga. Kamu pasti tau kalau itu nilainya tidak sedikit, Saya tidak tau harus mintai tolong siapa lagi selain kamu di sini, orang tua sudah ga ada, saudara juga kismin semua." Nanda bicara Suci sangat rendah dan sedih.
Fatma menghela napas panjang nan berat. Lantas mengedarkan pandangan ke lain arah, sungguh ia ikut haru.
"Kenapa kamu gak mencari kerja? dan itu lumayan untuk kehidupan kamu. Apalagi kalau kamu gak ada yang bekerja, sebagai perempuan yang punya kemampuan! tidak harus menerus menjadi beban pria. Sudah sewajarnya kita berusaha, setidaknya untuk diri sendiri. Agar tidak terlalu menggantungkan hidup pada suami," ungkap Fatma panjang lebar.
Suci menunduk dalam. Ia mengakui kalau omongan Fatma adalah benar. Dia merasa malu kalah telak dari Fatma, dirinya keenakan menerima dan menerima uang dan fasilitas Aldian dari Fatma. Padahal yang seharusnya Fatma dan putrinya juga sudah sewajarnya ya diperhatikan, bukan kebalikannya.
Fatma dan Rania dipersia kan oleh Aldian. Sebagai suami dari mereka berdua.
Suci menarik napas berat. Lalu ia hembuskan dengan kasar, perlahan mendongak menatap ke arah Fatma yang entah melihat kemana.
"Saya sadar. Selama ini saya cuma menikmati semua yang kamu fasilitasi, dan Aldian yang lebih mementingkan saya serta dirinya sendiri.''
Lagi-lagi helaan napas Fatma pun terdengar berat. "Kamu cantik dan berbakat, tapi bukan berarti menjadikan dirimu seperti itu. Pemuas nafsu pria hidung belang, kamu bisa bekerja yang halal."
"Hem, tidak perlu tahu juga. Nggak penting juga, kan? saya cuma bisa berharap kamu bisa menjadi istri yang terhormat. Sudah jelas-jelas suami kaya gitu kan? lebih bijaklah dalam melangkah untuk hidup tenang di masa depan," sambung Fatma kembali.
"Maksudnya apa nih? seolah kau menuduhku yang bukan-bukan," tanya Suci dengan tatapan kembali tajam ke arah Fatma.
"Sudah, saya tidak ingin berdebat dengan mu, saya akan kirim uang sebagai pinjaman dan suatu saat harus kau kembalikan." Fatma mengambil ponselnya lalu membuka m banking.
Bagaimanapun Fatma masih punya hati untuk membantu Suci yang notabene nya istri dari mantan suami yang ia jebloskan ke penjara.
"Sudah, saya transfer 15 juta. Saya harap dapat bermanfaat," ucap Fatma dengan nada rendah.
Suci beranjak setelah meneguk minumnya. "Terima kasih. Aku janji suatu saat akan kembalikan uang itu, dan saya akan mencari pekerjaan seperti yang kau bilang."
"Baguslah." Fatma berdiri dan mengantar Suci ke depan.
Di pintu utama, mereka berpapasan dengan Arya yang baru masuk, sesaat M
__ADS_1
tatapan meraka saling bertemu namun setelah itu Suci nyelonong ke luar menghampiri mobilnya. Tanpa senyum ataupun menyapa.
Arya cuma mengangguk dan menatap kepergiannya Suci, lalu mengalihkan pandangan ke arah sang istri, Fatma.
"Ada apa dia datang sayang?" tanya Arya sambil meraih tangan Fatma diajaknya ke dalam.
"Biasa. Butuh sesuatu!" sahut Fatma seraya berjalan berbarengan dengan Arya.
"Ooh." Arya tidak perpanjang pagi pertanyaannya. Ia duduk di sofa ruang tengah bersama Fatma.
"Aku bikinkan minuman segar ya? panas banget." Fatma berdiri dan membawa langkahnya ke dapur.
Arya mengambil remote televisi menyalakan nya mencari acara yang bagus.
Tidak lama kemudian, Fatma kembali membawa dua gelas minuman buah segar buat dirinya dan suami.
"Rania mana? dan sama siapa juga mainnya?" tanya Fatma sembari menyimpan nampan di meja.
"Sama anak-anak dan ada bibi juga yang jagain, barusan bibi bawain minuman buat mereka sama cemilannya juga."Balas Arya.
"Ooh, ya udah. Minum?" Fatma pun mengambil gelasnya lalu meneguknya sampai tersisa setengahnya.
Arya pun begitu. Ia menyesap minumnya dan begitu menikmati sehingga Fatma memandangi dengan sebuah senyuman.
"Panas banget ya cuaca hari ini? aku mau naik ah." Arya menghabiskan minumnya lalu mau mengantar ke dapur, namun keburu ada asisten rumah tangga yang siap mengerjakan segala sesuatu yang keperluan orang rumah.
Fatma cuma memandangi punggung Arya yang melebarkan langkahnya melewati anak tangga. Menuju kamarnya.
Kemudian Fatma menghabiskan minumnya lalu mengambil laptop dibawanya ke lantai atas. Untuk menyusul Arya. Fatma sedikit berlari dengan menenteng laptop di tangan, baru sampai pertengahan terdengar suara bi Ina dari bawah ....
****
Jangan lupa dukungannya ya🙏
__ADS_1