
Doni terus berpacu, mempermainkan bolanya dengan ritme yang cepat. Sudah beberapa kali dia memasukan bola ke gawang tersebut, gawang yang tiada penjaganya tersebut.
Ketika permainan usai. Renata kembali merajuk dan marah-marah hingga akhirnya menangis. Doni yang yang masih merasakan buntut dari kenikmatan permainan tidak peduli dengan tangisan Renata yang penting dia sudah mereguk manis madu yang dia inginkan sehingga membawanya ke alam nirwana.
Lagian bukan tidak peduli dengan tangisnya. Toh buktinya sudah sama-sama menikmati permainan bersama.
Renata meringkuk di bawah selimut dengan sesekali terdengar isaknya. Dia semakin kesal pada Doni yang tidak peduli padanya yang marah, kesal dan menangis pun dia diam saja.
Doni yang masih mengontrol napasnya hanya menatap punggung Renata yang bergoyang karena tangisnya. Dia tidak mengerti apa sih maunya wanita ini yang semakin sulit difahami, padahal dulu tidak seperti ini.
Namun pada akhirnya Doni menarik tubuh Renata agar merapat dengan tubuhnya, di peluk erat dan memberi kecupan di bahu renats yang terbuka.
"Sudah ah jangan menangis, masih mau apa?" ucap Doni malah menggoda.
Renata malah semakin mengencangkan suara tangisnya. Doni tetap gak peduli dan dia memejamkan mata, yang penting tangannya memeluk erat, sudah. Gak mau ribet lagi.
Pada pagi harinya seperti biasa, Renata pun siapkan sarapan untuk Doni yang tidak mau dibuatkan oleh asisten.
Penampilan Renata pun sudah rapi dengan stelan untuk bekerja kantoran. Kemudian muncullah Doni dengan tas kerjanya juga sibuk dengan benda pipih di tangan, sehingga Renata ngomong pun tak terdengar.
Blak!
Prak!
Piring yang dijatuhkan Renata hancur di lantai dan isinya berserakan.
Membuat Doni sungguh terkejut. Melihat tingkah Renata yang tidak ia kira. "Sayang, apa-apaan nih?"
Pandangan Doni bergantian melihat Renata dan piring yang hancur berkeping, terutama sarapan untuknya yang berserakan di lantai.
"Kamu gak mau makan kan? ya sudah, aku buang biar puas! kamu bisa kan cari makan di luar kalau kamu gak mau di layani sama asisten." Teriak Renata tampak geram dan benci pada Doni.
"Saya heran. Makin ke sini kamu itu semakin aneh, kelakuan mu bikin saya muak. Seperti anak kecil, kamu selalu mencari-cari kesalahan orang, apa mau mu ha?" sergah Doni dengan tangan mengepal, rahang mengeras Renata selalu bikin ia marah.
__ADS_1
"Kamu marah, kan? sama aku, mau pukul? pukul!" tantang Renata. Dengan mata melotot sempurna ke arah Doni yang tampak sangat marah itu.
Doni mendekat ke arah Renata, Renata kira Doni benar akan berani memukulnya dan ini memang yang Renata inginkan sebagai sebuah alasan untuknya tinggalkan Doni.
Namun semarah nya Doni pada Renata, gak ada niat untuk menyakitinya dengan tangan atau melukainya dengan pisik. Dia hanya melotot menatap tajam ke arah seakan ingin menghujam jantung.
Namun Doni mengalihkan pandangan ke arah asisten yang mematung, kaget dengan yang terjadi di sana.
"Bi, bereskan ya? saya malas meladeni wanita ini." Titah Doni pada wanita paruh baya itu.
Kemudian Doni memilih pergi meninggalkan Renata begitu saja. Membawa hati yang dongkol mana belum sarapan.
Ingin rasanya tangan Doni memukul sesuatu, namun sampai detik ini Doni masih bisa mengontrol emosinya.
Yang di tinggal, Renata hanya menatap kepergian Doni dengan bibir bergetar dan mata berkaca-kaca. Perasaan yang bergolak di dalam hatinya bercampur menjadi satu.
Perlahan menggeser posisinya duduk di kursi dengan tatapan yang kosong. Kepalanya menunduk ke meja bertumpu pada kedua tangan, bahunya bergetar. Menangis.
Renata tidak merespon. Dia berdiri segera membawa langkah nya berjalan menuju kamar, Saat sudah berada di dalam. Renata membuka lemari dan mengambil pakaiannya ia masukan ke koper.
Sesaat kemudian, Renata keluar menarik kopernya dan ya di tangan, Bibi bengong ketika melihat Renata berjalan membawa koper seperti mau keluar rumah.
"Mau kemana, Non? jangan bilang mau pulang, pamali pergi tanpa ijin suami." Kata bibi yang tak dihiraukan Renata samasekali.
Wanita itu terus berjalan menuju jalan raya, menghentikan taksi lalu masuk dengan kopernya. "Jalan xx Mas!"
Supir mengangguk. Lantas melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Untuk mengantar penumpangnya sampai ke tujuan dengan selamat.
Renata terus menangis. Tataannya kosong ke depan hatinya merasa sedih, dan yang paling besar adalah rasa penyesalan terhadap Arya. Menyesal sudah menikah dengan Doni. Pria selingkuhannya yang menjadi penyebab hancurnya hubungan dengan Arya.
"Aku ingin bercerai." Gumamnya dalam hati.
Suara mesin yang menghiasi perjalanan ini. Ini kali pertama Renata keluar rumah membawa koper pakaian menuju rumah bundanya. Setibanya di depan rumah sang bunda, Renata tak segera turun melainkan menatap rumah itu yang tampak sepi bagai tak berpenghuni. Namun tetap terlihat asri.
__ADS_1
Seraya membuang napasnya. Renata membuka pintu lantas turun menarik kopernya. Mengambil dompet dari tasnya. "Ini Mas. Uang ongkosnya, makasih ya?"
"Sama-sama, Nona." balas sang supir.
Renata mengayunkan langkahnya mendekati pintu. Dan lagi-lagi Renata berdiri mematung di depan pintu, berasa ragu untuk mengetuknya.
Namun terdengar derap langkah kaki dari dalam mendekati pintu utama dimana dia berdiri.
Blak!
Pintu pun terbuka tampak asisten rumah tangga yang tak asing baginya. "Non? sama siapa?"
"BI, bunda ada?" tanya Renata sendu.
"Ibu, sedang keluar. Bekerja," sahutnya asisten tersebut dengan langsung menarik koper yang dibawa Renata, kendati heran kenapa harus bawa koper segala.
"Nona, sendiri. Mana aden?" ulang bibi yang masih merasa aneh.
"Sendiri. Bawa koper itu ke kamar saya. Dan bikinkan saya jus tomat!" pinta Renata sambil berjalan dan matanya mengamati rumah yang selama menikah ia tinggalkan.
Kemudian terus berjalan menaiki anak tangga menuju kamar nya. Berpapasan dengan bibi. "Nanti. Bawakan jus nya ke kamar saja, Bi."
"Baik Non." Asisten mengangguk.
Langkah Renata memasuki kamarnya yang terlihat rapi dan tak ada yang berubah sedikitpun. Semua barang-barang miliknya masih tertata rapi di tempat semula Taka ada hilang satu pun, termasuk barang-barang dari Arya yang masih tersimpan degan baik.
Kemudian menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur yang ukuran king size itu. Memejamkan matanya sesaat lalu membuka kembali menatap langit-langit dengan pikiran melayang jauh entah kemana?
Dalan hatinya tetap ingin memantapkan hati untuk bercerai dari Doni. Dia lebih baik bercerai dari pada tiap hari bertemu namun menimbulkan rasa benci dan akhirnya bertengkar. Walaupun pertengkaran kecil namun selalu terjadi disebabkan oleh hatinya yang memang merasa muak. Padahal Doni baik-baik saja tidak melakukan suatu yang aneh pun ....
****
Jangan lupa like komen vote nya. Dan jangan lupa tonton iklannya 🙏
__ADS_1