
Arya membawa langkahnya dengan sinar mata yang berbinar mau bikin surprise pada sang kekasih, tidak lupa membeli setangkai bunga tanda cinta. Ia selipkan di dalam jaket.
Dari jauh terlihat sang kekasih sedang biasa nongkrong mengobrol dengan kawan-kawannya. Namun ada sebuah pemandangan yang aneh dibawah meja, Samana ada sepasang tangan sedang bertaut satu sama lain. Bikin hati Arya mendadak terbakar namun ia berusaha tenang dan berpikir positif saja.
Ketika Arya menyeret langkahnya mendekati sang kekasih. Dari belakang ada yang memanggil.
"Om, Om ganteng?" suara anak kecil yang begitu nyaring.
Sontak Arya menoleh dan menunjukan senyumnya pada gadis kecil dengan tatanan rambut di kuncir dua dan berhiaskan pita tampak sangat cantik dan lucu. Pipi sedikit chabi mengenakan t-shirt warna ping dan celana pendek. "Hi ... gadis kecilku?"
Gadis kecil itu berlari ke pelukan Arya yang merentangkan kedua tangannya. ''Sedang apa di sini Om ganteng?''
Netra mata Arya bergerak melihat kanan dan kiri. "Em ... Om lagi jalan-jalan saja. Rania sama siapa ke sini?" celingukan mencari orang-orang yang bersama Rania. Namun netra matanya tak menemukan Mia si pengasuh Rania.
"Rania Sam Oma, Om ganteng. Aunty sedang libur jadi Rani sama Oma dan Opa." Jari kecilnya menunjuk pasangan pasutri yang berjalan mendekati mereka berdua.
"Sayang, siapa Om ini?" selidik wanita tua yang masih tampak cantik itu bertanya pada sang cucu.
"Ini Om ganteng, Oma ... kawan Rania, iya, kan Om ganteng?" kepala Rania mendongak pada Arya tangan nya memegang erat jari Arya.
"Iya, kenalkan. Saya Arya Saputra." Arya memperkenalkan diri.
"Saya Omanya Rania, Ibu Wati. Dan dia suami saya alias opanya Rania yang bernama Wijaya." Mereka saling berjabat tangan.
"Berarti mereka orang tua nya Fatmala?" batin Arya menatap keduanya dengan senyuman yang melekat di bibirnya.
Kemudian Arya mengajak Rania menjauhi tempat tersebut. Agar jauh dari kumpulan Renata dkk. "Gimana kalau kita tempat duduk atau beli es krim? mau gak?"
"Mau-mau!" Rania berjingkrak.
"Lho ... sayang, baru saja makan es krim," sela Omanya.
"Tapi kan belum dua kali Oma," wajah gadis itu berubah sedih.
Arya dan Omanya Rania saling pandang. "Yu, kita jalan beli es krim lagi." Menuntun tangan Rania diajaknya berjalan ke konter es krim.
__ADS_1
Mereka berempat duduk berhadapan, Oma dan opa Rania dari tadi memperhatikan Arya yang tampak dekat dengan Rania yang tak canggung bermanja-manja pada Arya.
"Ngomong-ngomong Nak Arya ini sudah lama kenal sama Rania?" selidik Omanya.
"Masih baru, Nyonya." Jawab Arya mengangguk.
"Hore ... es krim vanila nya dah datang ... Rania mau makan es krim. Makasih ya Om." Anak itu bersorak.
Arya dan Omanya tersenyum. Melihat reaksi Rania yang begitu heboh kaya gak pernah ketemu es krim aja.
"Kamu masih baru tapi ... Rania tampak sudah lama mengenal kamu. Bahkan lebih dekat dibandingkan dengan kami, iya kan Bu?" pak Wijaya menoleh sang istri yang dibalas dengan anggukan oleh sang istri.
Arya mengulas senyumnya. "Nggak tahu juga sih? saya juga bingung."
"Nak Arya gak kerja? atau kerja di mana?" selidik pak Wijaya kembali.
"Saya ... di ...."
"Om, Tante yang sama Om waktu itu mana?" tanya Rania sambil makan es nya.
Akhirnya mereka mengobrol hal lain dan mengajak Rania bermain sama-sama. Sampai malam dan anak itu begitu betah bermain dengan Arya sehingga tak mau pulang kalau tak Arya yang bujuk. Kebetulan besok Arya ada penerbangan.
Mulanya Rania kekeh gak mau pulang. Atau pulangnya bersama Arya, namun dengan bujukan Arya pada akhirnya Rania mau juga pulang bersama om opanya.
"Om, janji kalau Om gak sibuk akan main ke istananya Rania oke?" ucap Arya sambil berjongkok agar sejajar dengan gadis kecil itu yang berwajah murung akibat gak mau pulang.
"Om ganteng janji kan?" Rania ragu. Bola matanya yang polos menatap ke arah Arya.
"Iya, janji. Kapan-kapan lalu Omnya gak sibuk, pasti akan main ke sana!" Arya meyakinkan, tangannya membelai kepala anak itu yang tampak sedih.
Kemudian mereka berpisah di area parkiran. Rania bersama Oma dan opanya. Sementara Arya mengendari motornya. Mata gadis kecil itu terus memandangi ke arah Arya.
"Sayang ... lain kali kan bisa bertemu lagi, kok sedih sih?" Rania dibawa ke dalam pelukan Omanya. Sehingga lambat-laun tertidur juga dalam pelukan sang Oma.
Arya terus melajukan motornya dengan cepat supaya segera sampai ke apartemennya. Selama bersama Rania pikiran Arya tentang Renata terlupakan sudah. Dan tak mau memikirkannya biarlah kalau jodoh gak bakalan kemana. Meski yang terbayang menjadi pengantinnya itu adalah sosok wanita lain dan bukan Renata.
__ADS_1
Arya berjalan menuju lift yang akan membawanya ke lantai di mana apartemennya berada. Ketika pintu lift terbuka ia berpapasan dengan pria yang menggandeng pinggang wanitanya dengan mesra. Sementara waktu mereka bersitatap, saling pandang seolah ingin menyapa namun bibir terasa kelu.
Arya mengernyitkan keningnya, merasa heran kenapa Aldian sama wanita lain. Tampak mesra lagi?
Walau pikirannya. Terus beradu argumen tentang Aldian yang jelas-jelas mempunyai istri namun kali ini menggandeng perempuan lain.
Saat ini Arya sedang di kamar berganti pakaian yang bersiap istirahat namun sebelumnya ia menunaikan kewajibannya sebagai muslim.
Pikirannya melayang dan pandangan pun menerawang. Teringat Aldian yang menggandeng perempuan lain. "Kalau gak salah sih wanita itu penghuni apartemen ini. Apa wanita panggilan atau apa sih?" batin Arya.
Lalu menggelengkan kepalanya. "Ah buat aku pikirkan mereka! masa bodo ah." Detik kemudian matanya terpejam menjemput mimpi.
Malam semakin larut dan suasana semakin dingin. Arya terbawa ke alam mimpi dia memasuki hiruk-pikuk sebuah suasana yang ramai dan ia sendiri menjadi seorang pangeran di dampingi seorang putri cantik yang persis seperti di dalam dongeng.
Arya dan putri raja yang cantik duduk berdampingan saling bercanda ria disaksikan para tamu yang ikut bahagia menyaksikan mereka berdua berbahagia.
Tangan Arya menggenggam dan meremas jemari lentik sang putri. "Aku sungguh bahagia adinda ku. Kini kamu sudah menjadi milik ku dan tak ada satupun yang dapat memisahkan kita. Selain maut yang memisahkan kita."
"Aku juga kanda, aku sangat bahagia bisa berdampingan dengan mu dan kini aku sudah menjadi milik mu sayang ku." Membalas tatapan sang pangeran yang begitu lekat.
Seakan tidak sabar lagi. Sang pangeran menggendong sang putri ala bridal style. Dan membawanya ke kamar yang sudah berhiaskan bunga-bunga nan indah, tempat tidur pun tak luput dari taburan kelopak bunga mawar merah. Setelah berada di dalam kamar yang tidak lupa dikunci.
Sang pangeran menurunkan sang putri di atas tempat tidur yang bertabur kelopak bunga dan sepasang hiasan angsa putih. Dengan tidak membuang waktu sang pangeran langsung nyosor hendak mencium sang putri yang tampak gugup itu.
Gubrak!
"Au ..." pekik Arya ketika tubuhnya terjatuh ke lantai. Mengusap kepalanya yang terasa nyeri.
Menggoyang kepalanya sambil bergumam. "Ya Allah ... cuma mimpi!" bibirnya mesem-mesem sendiri.
Tanpa sadar tangannya menyentuh alat suntik yang bangun. "Lho. Kok saya baru nyadar ya kalau bangun, jadi berdua gini? tidur loh tidur! ngapain bangun? ha ha ha ...."
Akhirnya Arya tertawa sendiri. Menertawakan kelakuannya sendiri yang ia anggap lucu itu ....
****
__ADS_1
Semoga dengan membaca cerita ini kalian semua terhibur, tapi apanya yang terhibur 🤔 nggak ada yang lucu!