Mencintai Ibu Angkatku

Mencintai Ibu Angkatku
Mau pepsi


__ADS_3

Seorang pria tinggi besar berdiri menatap tajam ke arah mereka. Terutama pada Rania yang berada dalam pelukan Arya tampak begitu nyaman.


"Papa?" gadis kecil itu tampak kaget melihat sang ayah berada di sana, lalu meminta Arya menurunkannya.


"Sini sayang? Papa kangen sama kamu." Berjongkok dan merentangkan kedua tangannya.


Rania berhambur pada pelukan sang ayah. Memeluk erat betapa rindunya Rania pada sosok pria yang walau serumah jarang bertemu apalagi mendapat belai kasihnya itu.


"Kamu dari mana saja Al? anak mu selalu mencari mu. Sudah tahu istrimu sedang berada di luar kota, kamu malah kelayapan entah ke mana?" tegur Bu Wati.


"Saya banyak urusan, Bu." balasnya dengan sangat ringan.


Bu Wati tidak lagi berbicara, hanya diam menatap aneh pada mantunya. Ia merasa banyak perubahan yang terjadi pada Aldian sampai 90% kemudian Bu Wati mengalihkan pandangan pada Mia yang masih berdiri di dekat mobil.


"Mia, kita pulang sekarang!" ajaknya sambil membuka pintu. Namun ia urungkan niat tuk masuk dan melirik ke arah Rania yang masih dalam gendongan papanya.


"Rani mau pulang sama siapa sayang?" tanya Bu Wati pada Rania.


Anak itu menatap wajah sang ayah. Aldian menoleh pada sang ibu mertua. "Rania akan bersama saya!"


Bu Wati mengangguk dan tak bersuara lagi, memasuki mobilnya diikuti oleh Mia. Sementara Arya menaiki sepeda motor dan mengenakan helm.


Sementara Rania dibawa Aldian ke dalam mobil yang ia bawa. Kemudian mengitari mobilnya setelah menutup pintu.


Netra mata polos Rania menatapi gerak sang ayah. Sosok yang sering ia rindukan. "Papa, Rania mau Pepsi."


"Aduh, sayang ... mau jalan nih. Nanti saja ya? nanggung nih." Menyalakan mesin dan melajukan nya dengan cepat.


Si gadis kecil itu cemberut dan bahunya bergetar menahan kepengen Pepsi. Menggoyang kan pinggulnya mengalihkan rasa pengen Pepsi. "Papa. Rania pengen Pepsi!" rajuk Rania sambil memegangi tangan sang ayah.


Mata Aldian melirik ke arah sang putri yang terlihat gelisah itu. "Arrgh! bikin repot saja nih anak." keluh Aldian sedikit membanting setir dan memarkirkannya tepat di depan swalayan.


Rania tersentak kaget melihat reaksi sang ayah yang nampak kurang ramah. Membuat ia takut shock.


Aldian turun dan mengitari mobilnya untuk mengantar Rania yang katanya mau pipis. "Ayo, kita cari toilet." Menarik tangan Rania dituntunnya keluar mobil.


"Lain kali kalau jalan sama papa jangan macam-macam." Pekik Aldian yang tertahan.


"Papa ... Rani itu mau pipis bukan macam-macam. Tidak baik menahan pipis nanti sakit, kata dokter juga kalau mau pipis cepat-cepat keluarin." Celoteh anak itu. Lalu memasuki toilet.

__ADS_1


"Jangan lama-lama, papa tunggu di sini. Kalau lama-lama papa tinggalin." Kata Aldian sambil berdiri dekat pintu.


Rania yang pintar setidaknya sudah bisa merawat dirinya sendiri ketika di toilet. Kemudian ia keluar dan mendapati sang ayah sedang beradu mulut dengan seorang wanita seksi. Keduanya berpelukan di pojokan.


Anak itu termangu di tempat. Memandangi adegan yang seharusnya anak seusia dia tak melihat itu.


"Pa-pa?" gumamnya namun terdengar jelas oleh keduanya sehingga dengan sontak menjauh, kepala Aldian menoleh ke arah Rania yang berdiri depan pintu menatap ke arah sang ayah. "Papa sedang apa? siapa aunty itu?"


Aldian mengusap mulutnya yang lembab akibat barusan saling bertukar lidah dengan wanitanya, lalu melirik ke arah si wanita yang berada di sisinya. "Pergilah, putriku sedang bersama ku."


"Emangnya kenapa? apa kau tak ingin meneruskan permainan kita lagi?" suara wanita itu dengan manjanya dan tangannya bergelayut mesra pada tangan Aldian yang kekar.


"Saya bilang, pergi. Kita teruskan nanti atau lain kali." Jelas Aldian sambil menepis tangan Anita tersebut.


"Siapa aunty itu Pa?" ulang Rania menatap tajam pada sang ayah.


"Dia-dia ... kawan Papa. Ayo pulang?" meraih tangan Rania dan menuntunnya.


Keduanya sudah berada dalam mobil dan Aldian dengan gesit mengemudikan setirnya.


"Papa, kok Papa cium aunty itu? kan muhrim Papa, mama. Kata Bu guru juga wanita sama laki-laki tidak boleh berpelukan atau cium, kan bukan muhrim." netra mata Rania melirik Aldian.


"Tapi. Papa ... itu juga kata Bu guru lho. Rania juga kata Bu guru, mama kapan pulang ya Pa?"


"Besok lusa juga pulang."


"Papa, malam ini Rania bobo sama Papa ya? Rania kangen deh. Lama tidak bobo sama Papa, boleh ya?" ucap Rania penuh permohonan.


Aldian hanya menoleh sebentar lalu kembali melihat ke arah depan. Mobil terus melesat menuju rumahnya Fatmala. Selang beberapa saat Mobil sudah terparkir manis di depan rumah. Aldian turun dan mengitari mobilnya. menggendong Rania yang tampak lelah di bawanya langsung ke kamarnya.


Aldian menyelimuti anak semata wayangnya itu, lalu ia keluar lagi meninggalkan kamar tersebut menuju kamar pribadinya.


"Rania tidur bukan?" tanya Bu Wati yang berdiri di tangga menatap sang mantu.


"Iya," sahut Aldian singkat.


Bu Wati kembali turun dan menghampiri Mia yang tengah membantu menyiapkan makan malam. "Anak itu belum mandi, belum makan juga."


Mia menoleh. "Iya, Nyonya."

__ADS_1


Kemudian Bu Wati dan suami makan malam berdua. "Rania mana Bu?" selidik pak Wijaya.


"Tidur, sejak pulang sama ayahnya tidur dia. Belum makan dan mandi." Jawab bu Wati.


"Aldian ada?" tanya nya lagi sambil mengunyah makan malamnya.


"Ada di kamar pribadinya. Kenapa Yah?" Bu Wati melirik di sela melanjutkan makannya.


"Kenapa gak diajak makan sekalian!" sambung pak Wijaya.


"Sudah, sudah dipanggil namun tak mau kali. Buktinya dia tak ada turun," lirih Bu Wati.


"Oh, biar saja kalau begitu! Kapan Fatma pulang?" selidik lagi pak Wijaya yang mengakhiri makan dengan meneguk minumnya.


"Katanya besok atau lusa. Baru rencana sebab itupun kalau urusannya selesai Yah." Balas sang istri.


"Oh, semoga aja lancar setiap urusannya." Timpal pak Wijaya.


"Yah, kok Ibu merasa ada yang aneh Aldian dan putri kita Fatma. Ibu merasa ... ada kejanggalan dalam hubungan mereka itu tak seperti dulu gitu," ungkap Bu Wati.


"Mungkin itu cuma pikiran mu saja! jangan berpikir macam-macam. Nanti kamu sakit," sambung pak Wijaya. Menatap lembut.


Bu Wati mengangguk walau tetap hati dan pikirannya dihantui rasa gundah dan gelisah.


Sekitar pukul sebelas malam. Bu Wati keluar kamar tuk ngecek sang cucu takutnya terbangun dan anak itu membutuhkan sesuatu.


Rettt ....


Tangan Bu Wati membuka pintu kamar Rania. Ternyata ada Mia yang menemaninya membuat hati bu Wati sedikit tenang, ia kembali menutup pintu dan berbalik arah namun entah kenapa ia terpancing pada kamar pribadinya Aldian.


Dengan sangat pelan, Bu Wati membawa langkahnya ke dekat kamar tersebut. Langkah yang ia ayunkan nyaris tak terdengar, ia berdiri tidak jauh dari daun pintu. Kok terdengar cekikikan? Bu Wati semakin dibuat penasaran. Tangannya sudah bersiap di udara tuk menggedor namun seketika ia urung. Ia hanya fokus menempelkan daun telinganya tuk mencari tahu suara siapa itu? sedangkan putrinya masih berada di luar kota.


Suara tertawa, terus rintihan nikmat. Suara de-sa-han yang bergema di dalam dan sama sekali tak mengenali suaranya. Bu Wati terus memfokuskan pendengarannya kali saja ia salah dengar tapi itu jelas-jelas nyata. Bahkan terdengar suara pria yang ia yakini itu Aldian yang meminta terus dan terus. Begitupun suara parau wanitanya yang merintih sakit atas tembakan yang terburu-buru.


Bu Wati menutup mulutnya. Dengan teratur wanita paruh baya itu mundur, kemudian bergegas turun dengan napas yang memburu. Heran dan penasaran juga sangat kecewa kalau iya itu Aldian. Dengan siap? soal yang mereka lakukan sudah bukan teka-teki lagi pasti yang mereka lakukan itu sesuatu hubungan intim. Gak mungkin lain.


Bu Wati segera masuk ke kamarnya semula. Mendekati sang suami yang meringkuk dibawah selimut, dengan napas yang masih memburu dan shock mendengar kejadian tersebut ....


****

__ADS_1


Ayo dong mana jempolnya? makasih dan teruslah dukung karya ku dengan cara like, komen dan vote nya.🙏


__ADS_2