Mencintai Ibu Angkatku

Mencintai Ibu Angkatku
Temaram


__ADS_3

Sesaat kemudian Arya menyalakan lampu temaram, brai! lampu nyala. Terlihat Fatma memeluk Rania dari balik selimut.


Arya kembali membaringkan tubuhnya, sebelum itu mengusap kepala Rania. "Sudah nyala sayang, bobo lagi."


Rania mengangguk dan memejamkan mata kembali.


Arya memeluk pinggang ramping Fatma dan dengan nakalnya bergerak ke bawah mengusap paha Fatma yang mulus itu.


Fatma menoleh pada Arya yang menempelkan dagunya di leher samping miliknya. Namun tangan Arya tak mau berhenti, terus saja mengelus-ngelusnya.


Bibirnya mengecup kecil bahu Fatma yang kian terangsang. Namun apalah daya pms nya masih deras. Sehingga tak memungkinkan ia memberikan yang seutuhnya pada Arya.


Tangan Fatma meraih tangan Arya dibawanya ke atas lantas dikecupnya mesra. Lalu mengarahkan untuk memeluk perutnya.


Malam terlewati begitu saja tanpa merasakan belah duren seperti yang Sultan bilang. Pria rese itu akan selalu menggoda Arya tentang belah duren.


Menjelang subuh, Arya terbangun dan berusaha membuka matanya yang terasa sepet sekali alias masih ngantuk berat. Netra matanya langsung mendapati wajah cantik wanita yang sudah halal itu baginya. Dia masih terlelap namun wajahnya mengarah pada wajah Arya.


Tangan Arya yang memeluk bahunya Fatma sedikit mengusapnya lembut. Tangan yang satu lagi menyelipkan rambutnya ke belakang kuping Fatma, rambut yang menghalangi wajah cantiknya itu.


Cuph!


Kecupan mesra mendarat di keningnya Fatma membuat tubuh Fatma bergerak sedikit memicingkan matanya. Arya pura-pura tertidur kembali.


Senyum Fatma mengembang melihat Arya pura-pura tidur. Jari lentiknya membelai rambut Arya dengan sangat lembut nan mesra. "Jangan pura-pura tidur! aku tahu kamu sudah bangun?" dengan suaranya yang parau khas bangun tidur.


"Hem, aku masih ngantuk." Gumamnya Arya, suaranya tak kalah beratnya.


"Bohong!" sambungnya Fatma sembari menempelkan pipinya di dada Arya.


"Beneran!" sahut Arya dengan suara sangat pelan. Takut suaranya membangunkan Rania yang masih tampak nyenyak.


"Peluk aku?" pinta Fatma tanpa ragu.


Arya pun lantas mengeratkan pelukannya. Kemudian mencium pucuk kepala sang istri. "Sebentar lagi subuh, sayang."


"Hem, siapa bilang duhur?" ucap Fatma sebentar mendongak lalu kembali ke posisi semula.


"Haus. Aku mau bangun, mau ngambil minum." Arya hendak melepas pelukannya.


"Itu, minum?" jari Fatma menunjuk botol minuman yang ada di meja kecil sebelah Arya.


"Ooh, iya." Arya meraih dan menyedotnya.


"Bangun akhh ... kita bersih-bersih dulu!" bisiknya Arya.

__ADS_1


Fatma sedikit mengangkat bahunya. "Mandi sana duluan."


"Berdua dong!" Arya menempelkan bibir di kening sang istri sangat lembut.


"Kamu saja duluan, nanti aku setelah kamu. Aa kan mau salat," ucap Fatma, duduk nyender ke bahu tempat tidur.


"Terus, kapan kita akan salat bareng?" tanya Arya yang juga bangun.


"Nanti waktunya, kalau sudah beres," akunya Fatma.


"Iya, kapan selesainya?" selidik Arya sambil menempelkan dagunya di bahu Fatma.


"Baru tiga hari," sahut Fatma, tangannya meremas rambut Arya.


"Emang biasanya berapa hari?" tanya Arya makin menyelidik.


"Lima sampai enam hari biasanya."


"Lamanya." Gumamnya Arya tampak sedih.


"Bentar lagi, kenapa hem?" ucap Fatma balik tanya.


"Kalau gini terus bisa-bisa gak tahan nih, sayang menggoda terus!" akunya Arya. Sangat pelan dan nyaris tak terdengar, matanya menatap intens ke tubuh sang istri yang masih mengenakan lingerie.


"Iih ... siapa yang menggoda? ini mah biasa aja," lanjut Fatma.


Fatma hanya tertawa tanpa suara seraya menyampingkan rambutnya.


Lagi-lagi tangan Fatma menyentuh pipi Arya lalu mengucupnya mesra. "Mandi sana?"


"Em ... ini dulu!" seraya menunjuk bibirnya, meminta sesuatu pada Fatma.


Fatma yang mengerti yang Arya maksud langsung menuruti dan memberi kiss pagi di bibirnya.


"Akhirnya ... dapat juga, makasih sayang?" sembari bergegas turun dari tempat tidur.


Fatma tersenyum merekah sembari menggeleng pelan. Lalu mengedarkan pandangan ke arah jendela, lantas menurunkan kakinya membuka jendela tersebut. Membawa langkahnya menuju lemari untuk mengambil kaos. Atau pakaian ganti.


"Aduh, kebelet nih." Jalan Fatma agak sempoyongan menahan pengen pipis.


Bergegas mendekati pintu kamar mandi yang memang tidak Arya kunci.


"Aa ... aku pengen masuk ya? kebelet nih." Sambil mendorong pintu yang langsung terbuka.


Arya yang sudah memakai handuk menoleh dan memberikan senyuman. "Kenapa sayang?"

__ADS_1


"Pengen pipis!" sahut Fatma segera masuk toilet.


Sementara Arya keluar dari kamar mandi lantas mengambil pakaian yang sudah Fatma siapkan.


Selepas salat. Arya menoleh ke arah Fatma yang berbaring kembali di balik selimut.


"Kok bobo lagi?" Berdiri dan melipat sajadah, mendekati sang istri.


"Mau ngapain? mau aku bikinkan sarapan?" Fatma bergerak bangun.


"Mandi dulu sana? nggak ah, gak boleh keluar dengan mengenakan baju kurang bahan itu, kecuali di dalam kamar saja." Mata Arya menatap intens ke arah Fatma.


"Tapi malas mandi, dingin di sini gak ada air hangat." Kata Fatma dengan nada manja.


"Mau, aku mandikan hem?" bisik Arya sambil memainkan matanya.


"Iiy ... nggak. Bisa sendiri."


"Ya, sudah." Arya singkat sambil meraih ponsel dari meja. banyak chat yang masuk khususnya dari Sultan yang menanyakan belah duren.


"Sial! si Tatan bikin panas aja." Gumamnya Arya sambil menyunggingkan bibirnya. "Memang rese tuh orang."


Fatma mengalungkan tangan di leher Arya. Di tatapnya dengan sangat lekat. "Kenapa?"


"Itu, si Sultan nanyain making love kita gimana? ada-ada saja dia," sahut Arya menggeleng sambil mesem.


"Nggak, gimana-gimana ya? biasa aja," kata Fatma seraya mendekatkan wajahnya menantang tuk di sentuh.


Melihat itu, Arya tidak tinggal diam. Dan langsung membungkam mulut Fatma dengan penuh gairah. Telapak tangan Arya pun tak luput bergerilya ke tempat yang kini jadi favoritnya. Buah segar tanpa biji.


Suasana sepagi ini memang waktu yang tepat juga untuk saling menghangatkan satu sama lain. Dengan perlahan Arya menyeret tubuh Fatma ke dekat lemari supaya kalau Rania terbangun gak langsung melihat mereka berdua.


Keduanya saling memuaskan satu sama lainnya di beberapa titik bagian tubuh atas mereka.


Arya terus membungkam dan me***sap penuh gairah benda kenyal milik Fatma tersebut.


Begitupun Fatma membalas setiap gerakan Arya yang terus mengeksplorasi bibirnya yang rindu sentuhan Arya yang kini semakin intens menjamah nya.


Punggung Fatma menempel ke dinding. Matanya sesekali bergerak melihat ke arah Rania takutnya bangun secara tiba-tiba. Arya sejenak menjauhkan wajahnya seiring napas yang sangat memburu antara keduanya. Darah yang mengalir di tubuh semakin deras mendesir ke seluruh tubuh.


Jantung yang berdegup lebih kencang, dag-dig-dug bagai bedug yang di tabuh, suaranya yang tak karuan. Menghiasi gerakkan tubuh mereka berdua.


Arya menautkan kembali bibirnya setelah memberi jeda agar sejenak menghirup udara. Tubuh Arya semakin menempel dengan tubuh Fatma yang seakan kehabisan napas ....


.

__ADS_1


.


__ADS_2