
"Oh, makasih!" balas Fatmala. Dengan mengulas senyumnya ramahnya.
"Kau sungguh membuatku terpesona, Nona Fatmala dan saya jatuh cinta sama anda!"
Fatmala menjadi risih mendengar perkataan itu. "Jangan bicara yang aneh-aneh. Tuan gak enak di dengar anak-anak." Matanya bergerak-gerak.
"Itu, benar Nona Fatma. Gimana kalau kita dinner nanti malam? tak apalah kita sama-sama jauh dari pasangan." Ajaknya dengan santainya.
"Maaf ya? anda jangan kurang ajar. Saya di sini urusan kerjaan, bukan untuk senang-senang," sanggah Fatma sambil menatap tidak suka pada pria tersebut.
"Jangan sok suci. Suami mu juga hobinya bermain perempuan di luaran sana dan saya yakin yang sebenarnya kau itu wanita kesepian. Sebab suami mu itu lebih suka bunga liar ketimbang bunga yang terhormat seperti mu," Tegas pria itu.
Dengan tatapan tajam, Fatma lebih memilih menjauhi pria tersebut. Seraya menggeleng dan tidak suka dengan ucapan rekan bisnisnya itu.
Saat ini Fatma baru saja selesai dari meeting dan ia berjalan gontai menuju ruang kerjanya. Di atas meja sudah tersedia beberapa berkas yang menunggu sentuhan dari tangannya.
Baru saja ia mendudukkan dirinya di kursi. Sudah terdengar ketukan di daun pintu.
Tok .....
Tok ....
Tok ....
Fatmala menoleh ke arah pintu. "Masuk!"
Daun pintu terbuka dan muncul asistennya. Bersama pria yang tadi yang bernama tuan Zou, Fatmala mendengus malas namun tetap harus bersikap ramah pada rekan bisnisnya itu.
"Ada berkas yang harus anda tanda tangani." Asisten nya menyimpan sebuah berkas di meja tepat depan Fatmala.
"Oke." Fatmala mengangguk dan mengambil berkas tersebut. Kemudian mengalihkan pandangan pada tuan Zou. "Ada apa ya?"
Asistennya mundur dan keluar dari ruangan tersebut. Tidak lupa menutup menutupnya.
"Ada yang ingin saya bicarakan dengan anda Nona!"
__ADS_1
"Tentang apa?" tanya Fatmala menatap serius.
"Tentang kerja sama kita, saya ada penawaran kalau kita biar lebih merekatkan lagi bisnis kita. Gimana kalau kita berkencan?" sambung tuan Zou.
Fatmala tercengang. Lagi-lagi pria ini membuat ia canggung, Menatap dengan tatapan yang tidak menyukai. "Maksud anda apa ya?"
"Maksud saya, kita berkencan malam ini," sambung nya.
"Maaf, saya sudah punya suami dan itu anda tau, kan?" balas Fatmala.
"Tidak masalah. Saat ini kita sama-sama kesepian dan pasangan kita sedang berada jauh. Apa salahnya kalau kita menghabiskan waktu di sela kesibukan kita ini." Zou mendekati posisi Fatmala duduk.
"Sekali lagi, aku jelaskan ya kalau saya tidak ingin melakukan yang macam-macam." Fatma bergeser dari tempat semula hatinya risih dengan sikap Zou yang mepet-mepet dan matanya seperti singa lapar.
Zou yang terpesona dengan Fatma memang tampak buas dan ingin menikmati hidangan yang tersaji di depan mata. "Saya sangat terpesona dengan mu. Boleh lah saya--"
Tangan Zou berusaha merangkul tubuh Fatmala yang terus menghindar. Makin lama rasa risih kian meliputi benak Fatmala.
Fatmala berdiri. "Dengan tidak mengurangi rasa hormat saya harap anda pergi sekarang juga!" menunjuk ke arah pintu.
Fatmala segera menekan tombol pesawat telepon dan berkata. "Saya butuh scurity saat ini juga ke ruangan saya."
Pria yang kira-kira berusia sekitar 45 tahun itu berdiri tegak dan merapikan jas nya. "Tidak perlu memanggil scurity Nona. Saya bisa keluar sendiri, tapi tunggu waktunya saya akan menguliti tubuh mu sampai saya puas dan kenyang. Ha ha ha ...."
Helaan napas Fatmala terlihat. naik turun. Berusaha menenangkan hatinya yang gusar. Lagi-lagi menarik napasnya yang panjang dan membuangnya kasar.
Entah apa yang Fatma rasakan saat ini. Sehingga cairan bening meluncur di pipi dan jatuh ke punggung tangannya. "Huuh ...."
Jemarinya yang lentik mengusap air matanya di pipi. Jadi ingat akan nasib rumah tangganya yang tidak baik-baik saja.
"Hah! aku nggak bisa konsen nih bekerja." Menggelengkan kepalanya kasar.
Fatmala beranjak ke toilet lantas membasuh wajahnya dan pantulan diri di cermin ia pandangi dengan lekat. Kemudian membawa langkahnya kembali ke tempat semula.
Waktu terus bergulir dan Fatmala kini sudah berada di kamar hotel tempatnya menginap. Berjalan gontai lalu menghempaskan tubuhnya ke sofa. Detik kemudian beranjak dan membuka pakaiannya dengan niat membersihkan diri dan membawa langkahnya ke kamar mandi.
__ADS_1
Dua puluh menit kemudian, Fatmala keluar dengan menggunakan kimono nya. Langkahnya tertuju ke lemari. Namun tiba-tiba ada yang meraba bagian tubuhnya dari belakang membuat Fatma kaget bukan main, di kamar ini cuma ada dia sendiri tak ada yang lain lagi. Dengan spontan Fatmala menghindar serta membalikan badannya.
Mundur beberapa langkah, alangkah tersentak nya Fatma. Ternyata pria itu berada di kamar hotel Fatma yang rupanya ia lupa mengunci pintu sehingga pria tersebut masuk dengan mudahnya.
"Bu-buat apa anda masuk? tanpa ijin saya lagi! Keluar anda sudah tidak sopan masuk ke kamar orang tanpa ijin dan melakukan yang tidak-tidak." Menunjuk ke arah pintu.
Namun Zou mengukir senyuman yang menyeringai dan mendekati tubuh Fatma yang terus menghindar. "Saya terobsesi dengan tubuhmu yang persis gitar Spanyol itu." Dengan intens menatap ke arah tubuh Fatmala dan berkali-kali menelan saliva nya yang tercekat di tenggorokan.
Ucapan Zou membuat Fatmala merinding, bulu kuduknya meremang. Ingin rasanya menendang pria tersebut sehingga mental ke udara, kalau saja pria tersebut sebuah bola. Fatma berlari ke arah pintu tuk kabur namun kalah cepat dengan langkah lelaki itu yang lebar dan menghadang.
Laki-laki itu terus mendekat dengan tangan bersiap menangkap tubuh Fatma yang masih mengenakan kimono. "Mau kabur kemana cantik? mendingan kita bersenang-senang!"
Heph!
Mencoba menangkap tubuh Fatma namun yang ia dapat ujung kimono nya saja jelas Zou menarik. Dan akhirnya adegan tarik-tarikan pun terjadi, Fatmala Sekuat tenaga mempertahankan Kimono nya yang jelas cuma itu yang menutupi tubuhnya.
"Lepaskan!" pekik Fatmala. Matanya melotot dengan sangat sempurna mengarah pada laki-laki itu yang tak mau melepas kimono nya.
"Lepaskanlah bila kau mampu cantik, saya yakin tak ada yang bisa mengganggu kita malam ini." Kata Zou dengan sangat percaya diri dengan tatapan tajam dan intens pada bagian depan tubuh Fatmala yang membuat air liurnya ngeces.
Fatmala semakin was-was dan ketakutan. Berharap bodyguard nya datang menyelamatkan dirinya. "Apa mau mu, katakan?" Fatmala berusaha tidak terlalu panik.
"Tubuh mu cantik, tubuh mu yang saya mau dan serahkan dirimu padaku! kita sama-sama kesepian." Suaranya pelan dan tubuhnya mendekati tubuh Fatmala yang mentok ke dinding.
Dada Fatma kian bergemuruh serta mencari cara agar ia mampu lepas dari buaya darat tersebut. Masalahnya kimono tak dilepaskan pria ini dan jika ia lari otomatis tubuhnya yang polos akan terekspos begitu saja.
Napas Fatma tampak berat. "Baiklah. Tapi aku risih kalau di paksa, jadi tolong lepaskan tanganmu dari kimono ku. Aku akan melayani mu dengan senang hati." Rajuk Fatmala semakin membuat Zou gemas namun percaya begitu saja dengan kalimat yang Fatma ucapkan. Apalagi dengan tatapan mata yang sayu.
Zou melepaskan tangannya dan langsung menggenggam lengan Fatma. Netra mata Fatma bergerak-gerak menatap wajah pria beristri itu, Fatma mulai beraksi dan memposisikan tubuhnya dengan tepat. Niat hati akan melakukan sesuatu.-
Seringai senang terlihat dari wajah Zou, pria berdarah indo Jepang itu merasa bahagia ia tak perlu membuang-buang energi lagi tuk memaksa sebab Mangsanya menyerahkan dirinya sendiri. Ekspetasi Zou dengan tatapan yang tajam dan seakan menghunus jantung ....
****
Mohon dukungan dari kalian ya? reader ku semua jangan lupa like, komen dan Vote nya, makasih sebelumnya🙏
__ADS_1