Mencintai Ibu Angkatku

Mencintai Ibu Angkatku
Bagus dong


__ADS_3

Selang beberapa puluh menit akhirnya Renata sampai di kantor Doni, dengan di antar oleh sekretarisnya Doni. Kini Renata sudah berdiri di dalam ruangan tempat Doni bekerja. Melihat Renata datang tentunya disambut senang oleh Doni.


Doni melirik ke arah sekretarisnya memberi kode supaya keluar dan menutup pintunya, yang langsung di iya kan oleh sekretarisnya itu. Wanita itu berlalu dengan segera menutup rapat pintu ruangan kerja doni.


Doni mendekati Renata yang betah berdiri di depan pintu sambil mengamati ruangan tersebut. Sebuah ruangan yang luas dan nyaman, sofa panjang buat terima tamu. Meja kerja yang antik. Lukisan orang-orang ternama di Indonesia, hiasan-hiasan yang cantik. Jendela kaca yang besar tuk melepaskan pandangan keluar.


Renata terkejut mendapat pelukan mesra dari Doni yang secara tiba-tiba. Doni menyambut hangat dan pelukan mesra gadis yang mengenakan gaun Sabrina yang mengekspos bahunya itu.


"Kemana saja kamu sayang? Lama tidak bisa aku hubungi, datang pun gak boleh. Aku sangat merindukan mu cinta. Aku merindukanmu." Doni memeluk erat dengan suara berat dan ingin mencurahkan rasa rindu yang menggebu memenuhi dadanya terhadap Renata.


Tangan Renata berontak melepaskan pelukan dari Doni. Doni menatap heran, pria yang berwajah tampan tidak kalah dari dari Arya itu menatap lekat.


Renata menatap nanar ke arah Doni.."Aku ke sini, sebab aku marah sama kamu, gara-gara kamu pernikahan ku batal--"


"Lho, bagus dong," ucapnya Doni langsung senyum mengembang, bahagia kalau benar itu terjadi.

__ADS_1


"Bagus apanya ha? Arya putuskan aku, dia membatalkan pertunangan kami, itu semua karena perselingkuhan kita. Kalau saja kamu tidak mengajak aku pacaran! tentunya gak mungkin terjadi seperti ini." Nada bicara Renata meninggi.


Doni dengan cepat berjalan mendekati pintu dan menguncinya. Doni kembali mendekati Renata yang menangis.


"Semua ini gara-gara kamu, aku sangat mencintainya. Kamu tahu itu!" kedua tangan Renata memukul dada Doni yang langsung Doni tangkap.


"Kalau saja kamu gak terus mengajak pacaran! dia tidak mungkin putuskan aku, kamu jahat sudah menghancurkan masa depanku dengan Arya, sekarang harus gimana coba? Arya tidak mau memaafkan ku, apalagi melanjutkan rencana itu. Hik hik hik." Air matanya tumpah ruah membasahi wajah yang cantik dan mulus itu.


"Sayang-sayang. Dengar aku, kita akan menikah dan hari pernikahan itu tidak perlu dibatalkan tinggal ganti mempelai saja."


Doni mengusap pipi Renata yang basah dengan linangan air mata. "Sayang dengarkan aku, aku akan segera melamar mu dan menikahi mu secepatnya. Percayalah padaku?" Menangkupkan kedua tangan membingkai wajah Renata yang sendu lalu mengecup pipi dan keningnya bertubi-tubi.


"Aku akan membuktikan kalau aku akan berusaha lebih baik dari sebelumnya. Demi kamu cinta." Doni mengecup benda tipis Renata berulang-ulang dan malah keasikan. Ketagihan sehingga akhirnya terjadi sangat lama penyatuan itu dan Renata tidak memberi penolakan seolah dia juga sangat menginginkannya.


Tubuh Doni menyeret Renata ke sofa panjang dan mendudukkan diri di sana. Tanpa melepas sentuhan penyatuan ***** keduanya.

__ADS_1


Setelah puas, Doni melepaskan dan menurunkan wajahnya ke bahu putih bersih milik Renata lalu bergerak ke area leher yang jenjang dan mulus. Memberi kecupan kecil namun menimbulkan rasa yang cukup dahsyat bagi yang menerimanya. Bikin panas dingin merinding ke sekujur tubuh.


Renata terhanyut dengan setiap sentuhan Doni yang makin memanas sehingga kedua matanya terpejam terbawa suasana. Doni yang melihat Renata terbuai dengan setiap sentuhannya tersenyum puas dan berpikir kalau saat ini dia akan melancarkan aksinya yang sudah lama ia pendam dan inilah saatnya untuk memanjakan adiknya yang sudah lama mendambakan belaian dari Renata.


Doni mendorong pelan bahu Renata berbaring di sofa dan langsung membungkam mulutnya dengan bibir ganas milik Doni, kedua wajahnya menyatu. Tubuh Doni menindih, membuat Renata terkesiap, apalagi tangan Doni menurunkan gaunnya ke bawah sehingga mengekspos buah segar yang menggantung di pohonnya.


Dengan liar tangan Doni menjamahnya sangat rakus dan buas Doni menikmati kesegaran buah tersebut.


Renata sadar kalau ini salah. Namun ia terlalu hanyut untuk mengatakan tidak. Atau menampik yang Doni lakukan, lidahnya terlalu kelu untuk di gerakkan ataupun mengatakan tidak.


Doni merasa berada di atas angin dengan pasrah nya Renata dan dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini begitu saja. Tentunya dengan memantapkan hati bahwa dirinya akan menikahi Renata, itu pasti.


Semakin lama keinginan itu makin meningkat dan kian menuntut lebih. Dengan napas yang memburu dan gairah yang terus memuncak, Doni semakin menggencarkan serangannya pada Renata ....


****

__ADS_1


Mau tau kelanjutannya? kira-kira menurut kalian Doni akan mendapatkan kesucian Renata seutuhnya atau tidak? komen ya?


__ADS_2