Mencintai Ibu Angkatku

Mencintai Ibu Angkatku
Salah tingkah


__ADS_3

"Hahaha ... GR banget nih orang." gumamnya Sultan sambil menyiapkan mie nya ke dalam mulut.


"Aa! Om Tatan mau dong mie nya?" Rania membuka mulutnya.


"Boleh, tapi pedas tidak pa-pa?" tanya Sultan melirik Rania.


"Rania suka kok, pedas." Akunya anak itu.


Setelah Sultan selesai makan, mereka langsung meluncur ke rumah Fatma. Sekedar untuk mengambil mobil dan sesampainya di sana Rania merengek pada Omanya lalu dia ingin ikut jemput sang bunda dan akhirnya Bu Wati ijinkan.


Dengan tidak membuang waktu. Arya langsung melarikan mobil Alphard milik Fatma ke bandara.


Sultan memangku Rania. Duduk di depan. "Sudah berapa hari tidak bertemu?" melirik ke arah Arya yang sedang nyetir.


"Hem? beberapa hari ini." Balasnya Arya sambil tetap fokus ke depan.


"Berat dong ya?"


"Apaan?" Arya heran dan tidak mengerti.


"Berat rindunya. He he he ...."


"Ha? ada-ada saja." Kepala Arya menggeleng.


Sepanjang perjalanan, Rania terus berceloteh membuat ramai dalam mobil. Sebelum tiba di bandara, Arya menepikan mobil di depan sebuah masjid untuk salat isya terlebih dahulu bersama Sultan.


Rania pun tidak boleh jauh dari Arya sedikitpun selama mereka salat. Dan anak itu menurut pada Arya dan Sultan dia tetap duduk di antara keduanya. Sesekali netra matanya yang bening memperhatikan kedua pria tersebut.

__ADS_1


Seusai itu, Arya yang menuntun Rania dan Sultan melanjutkan perjalanan menuju bandara yang tidak jauh lagi dari tempat tersebut. Kini Sultan yang gantian pegang setir.


Selang beberapa menit akhirnya tiba di area bandara dan Arya bergegas turun dengan tetap erat memegang tangan Rania, Sultan berjalan di belakang Arya dan Rania.


"Mama mana sih? kok gak ada," Rania sudah tidak sabar untuk bertemu sang bunda yang belum juga nampak di sana.


"Sabar sayang, bentar lagi landing pesawatnya." Tangan Arya mengusap punggung Rania yang duduk di samping nya.


"Saya beli minuman dulu ya? Rania mau dibelikan apa?" Sultan berdiri.


"Terserah apa aja!" Arya melirik sekilas.


"Air comberan, mau?"


"Nggak gitu juga kali ah. Yang bener saja." Arya menggeleng.


"Rania beliin cimory ya Om?" pinta Rania pada Sultan.


"Mana sih, Mama mana sih?" Rania merajuk sebab sang bunda belum keluhan juga.


"Sabar sayang ... bentar lagi pulang," ujar Arya merangkul kepala Rania yang terus merajuk.


Tidak lam kemudian, Fatma muncul bersama penumpang lain membawa koper dan penampilan yang sangat anggun rambut terurai bergelombang. Kaca mata di kepala. Tangan yang satu menenteng blazer dan memakai dalaman gaun formal tanpa lengan.


Arya menatap intens wanita itu, sosok wanita yang masih tampak gadis dan belum memiliki putri tersebut. Arya terus memandangi ke arah wanita itu dengan debaran hati yang tak menentu. Dari bibirnya Arya terukir sebuah senyuman yang sulit di artikan.


Langkah Fatma terhenti ketika melihat Arya yang sedang menatap ke arah dirinya. Jantung Fatma terus berdegup begitu kencang. Dag dig dug bagai bedug yang terus di tabuh, Bergemuruh bagai deburan ombak yang di pesisir pantai. Sementara waktu keduanya saling pandang dalam jarak beberapa meter. Hingga akhirnya Fatma tertunduk malu dan mengalihkan pandangan ke lain arah.

__ADS_1


Fatma kembali mengayunkan kakinya menghampiri orang-orang yang menunggunya. Di belakang tampak dua bodyguard yang menjaganya selama di luar kota.


Arya menundukkan pandangannya ke lantai. "Astagfirullah ... anteng banget pandangan ku, dapatkah suatu saat dia halal untuk ku?" gumam Arya dalam hati.


"Mama? Rania kangen!" anak itu berhambur ke dalam pelukan sang bunda yang berjongkok menyambut Rania si putri kecil yang beberapa hari ini dia tinggalkan.


"Rania sayang. Mama juga kangen sama putri kecil Mama. Sama siapa aja di sini?" tanya Fatma sambil melihat ke arah Arya dan Sultan.


"Sama ... sama om ganteng dan om Tatan. Oma di rumah aja." jawab Rania sembari menunjuk kedua pemuda tersebut.


"Ooh gitu!" Fatma berdiri dan semakin mendekat pada Arya khususunya.


Sultan menyenggol tangan Arya sembari berkata. "Ngomong, Hi ... my love? bukan diam saja."


"Apaan sih?" bisik Arya pada Sultan.


"Iih ... ngomong! sambut kedatangan ibu Negara mu itu, bukannya diam saja. Aneh," lanjut Sultan.


Fatma menunduk menyembunyikan senyumnya dan seakan memberikan senyuman pada Rania. Melihat kedua pemuda itu saling bisik dan entah apa yang mereka bicarakan? yang jelas cuma terdengar kata my love dan kata-kata Ibu Negara saja dan itu yang membuatnya tersenyum lucu.


"Em, apa kabar Kak?" sapa Arya tampak nervous. Salah salah tingkah berhadapan dengan Fatma kali ini.


"Baik, gimana sebaliknya?" sahut Fatma yang di akhiri dengan balik tanya.


"Eh ... ba-baik!" balas Arya. "Aduh, Huuh ... kenapa mendadak jadi nevous gini sih?" batinnya Arya.


"Cek, tanya kabar! bilang rindu atau apa kek? Sultan berdecak kesal ....

__ADS_1


****


Kita bisa saling sama di grup chat ya🙏


__ADS_2