Mencintai Ibu Angkatku

Mencintai Ibu Angkatku
Kepala pusing


__ADS_3

Sesaat, tangan Fatma berada di atas benda tumpul itu. Sedikit mengelus, sehingga sang pemiliknya me*d*** nikmat. Netra mata Fatma bergerak melihat wajah Arya yang tetap terpejam.


Fatma segera menarik tangannya. Kalau saja Arya terbangun alangkah malunya dirinya ini, buru-buru membaringkan diri dan menyamping memunggungi Arya.


Seiring waktu yang beranjak semakin malam dan suasana pun kian dingin, Arya menggerakkan tubuhnya mencari yang bisa ia peluk dan mencari kehangatan, tubuhnya sudah mulai kedinginan.


Tangan Arya menarik tubuh sang istri yang memunggunginya. Karena merasakan pergerakan dari tua, Fatma pun berbalik berhadapan dengan arya. Pelukan Arya begitu kuat sehingga tubuh keduanya menempel dan tak ada celah untuk angin pun menyelinap di sela-selanya.


Fatma pun yang merasa kedinginan menikmati pelukan sang suami. Walau dengan mata terpejam wajah Arya menelusuri wajah sang istri, beberapa kali memberi kecupan hangat pada bibir Fatma yang lembut.


Beberapa saat pergerakan berlangsung. Namun pada akhirnya mereka terdiam dalam satu posisi tidur berpelukan di bawah selimut bermotif yang tebal.


Keduanya kembali tertidur dengan nyenyak, tik tik tik suara detik waktu yang tak pernah lelah berputar. Tak perduli malam ataupun siang terus saja bergulir hingga membawa seluruh penghuni alam ini ke sebuah suasana menjelang pagi.


Arya menggerakkan kepalanya dan sedikit memicingkan sebelah matanya. Melihat ke arah jam yang sudah menunjukan pukul 03.30 wib, tangannya berasa keram yang memeluk tubuh Fatma, Sementara Fatma masih nyenyak tidur di atas dada Arya.


Kedua mata Arya terpejam sembari mengumpulkan kesadarannya. Mengingat-ingat ada kejadian apa semalam? kelasnya terasa sakit dan pusing.


Tapi bukan pusing biasa. Melainkan pusing yang mungkin dikarenakan tidak tersalurkan hasratnya. Miliknya yang tegang dari semalam berasa sakit dan ngilu.


Perlahan menggerak tubuhnya, bergeser lantas memindahkan kepala Fatma ke atas bantal di sebelah. Arya duduk sambil memegangi keningnya yang pening. Memijat batang hidungnya.


"Akh, kepalaku pusing sekali nih." Gumam Arya lalu menurunkan kedua kakinya ke lantai.


Fatma mulai terbangun dan melihat Arya tengah duduk dengan tangan bertumpu di atas kedua pahanya. Kemudian Fatma bangun dan mendekat, memeluknya dari belakang seraya berkata. "Hem ... sudah bangun sayang?" suara beratnya Fatma khas bangun tidur.


Arya menoleh dan lalu mendekap tangan Fatma yang melingkar di perut sixpeks nya. "Hem."


"Baru jam berapa nih? gak mau tugas juga," tanya Fatma sembari menempelkan pipinya di punggung sang suami. Memejamkan matanya yang masih terasa mengantuk.


"Aku gak bisa tidur lagi sayang, Kepalaku pusing nih." Gumamnya pelan.


"Apa, pusing? aku carikan obat ya? ada gak?" ucap Fatma dengan masih betah di posisi yang sama memeluk sangat erat.

__ADS_1


"Entah, mungkin pusing karena--" raya tidak melanjutkan kalimatnya.


Bibir Fatma tertarik ke samping. Ia tahu benar kalau pusingnya Arya bukan karena penyakit. Tetapi karena sesuatu yang tertahan.


Beberapa kecupan kecil Fatma tinggalkan di punggung Arya. Dan itu rupanya mampu membuat menaikan rangsangan pada pria yang berada dalam dekapannya.


Arya membuka matanya yang terpejam itu, tubuhnya terasa bergetar, aliran darah yang berada memanas mendidih naik ke kepala. Dengan pelan melepas rangkulan tangan Fatma. "Aku, mau bersih-bersih sayang."


Namun Fatma tidak mau melepaskan. Tangan Fatma menepis tangan Arya dan tidak sengaja malah menyentuh sesuatu dan meremasnya.


Membuah Arya mendesis panjang. "Ooh ...."


Fatma tersenyum puas. Mendengar suara Arya yang beberapa kali mendesis dan menggelinjang kecil atas perbuatan Fatma yang makin berani.


Fatma semakin berani meluapkan hasratnya dan berniat ingin membuat suaminya terpuaskan, rasanya tak tega banget melihat Arya tersiksa dan menderita, daripada nanti nakal di luar mendingan dirinya yang mencoba berani. Bodo amat lah malu juga, dihadapan suami ini, pikirnya.


Arya yang sudah mulai terangsang dan terbakar, akhirnya mereka kembali mencumbu berniat menuntaskan kehendak yang selalu menggantung dan tak berujung itu.


Dalam Jangka waktu sekitar satu jam lebih keduanya menikmati keintiman yang menggelora tersebut. Walau tanpa terjadinya penetrasi.


Lelah, capek, lemas. Namun setidaknya merasa puas apalagi melihat pasangannya pun terpuaskan juga. Walau belum sampai ke intinya yang masih harus bersabar.


"Akh ..." Arya berusaha mengontrol napasnya yang terengah-engah. Menelan saliva nya teras kering di tenggorokan.


Tubuhnya di banjiri keringat yang tadi bertukar dengan keringatnya Fatma. Ada rasa bahagia dan lega setelah merasakan pelepasan tersebut, rasanya benar-benar plong. Tidak berasa berat lagi di kepala maupun yang lainnya.


Sebab adzan subuh sudah mulai terdengar. Arya bangun meraih pakaian dalam yang berada di lantai, sekalian mengambil pakaian Fatma juga.


Arya memiringkan tubuhnya mendekati Fatma yang menjepit selimut di tubuhnya, seraya berbisik. "Terima kasih sayang?"


"Hem," Fatma mengangguk dan mengusap rambutnya Arya.


Cuph! kecupan singkat mendarat di bibir Fatma dan bukan cuma itu saja, dengan nakalnya tangan Arya meremas balon alam yang mengembang.

__ADS_1


"Aw! apaan sih? nakal." Pekik kecil Fatma refleks memegang balonnya.


"Ha ha ha ..." sembari berjalan menuju kamar mandi.


"Ketawa, sebelum mengeluh sakit," gerutu Fatma sembari menatap punggung Arya yang cuma mengenakan celana pendek saja. Bibir Fatma tersenyum simpul mengingat barusan dia yang agresif. Sesekali bergidik.


"Iiy, kok aku bisa sih, segarang itu? Iih ... jadi malu sendiri!" menutup wajah dengan kedua telapak tangannya.


Sekitar 15 menit kemudian. Arya keluar dari kamar mandi, dengan handuk melilit di pinggang.


Fatma yang sudah berpakaian lengkap. Turun melangkah maju dan ketika melintasi Arya tangannya dengan jahilnya menarik handuk Arya sehingga merosot.


"Sayang, jahil amat sih?" Arya meraih handuk yang hampir jatuh ke lantai.


"Hi hi hi ... sorry. Wew," Fatma menjulurkan lidah sambil berlari ke kamar mandi.


Arya menggeleng pelan. Lalu mengambil pakaian yang sudah disediakan oleh Fatma, sekarang pakaian ada sediakan.


Setelah selesai mandi, dan beres-beres di kamar langsung meluncur ke dapur, menyiapkan sarapan. Buat bertiga.


Sementara Arya mencuci semua pakaian mereka. Dan menyapu lantai di ruangan tengah dan tamu. Fatma tersenyum ketika melirik ke arah Arya.


Setelah sarapan siap, Fatma bergegas ke kamar Rania untuk membangunkan dan memandikannya. Namun pas pintu terbuka, Rania sudah mandi tinggal dandan saja.


"Pagi sayang? bobo nya nyenyak?" Fatma dengan cepat mendekati jendela lebih dulu serta membukanya.


"Nyenyak ... sekali, Rania sudah mandi Mam." Balas anak itu yang masih mengenakan handuk.


"Anak Mama pinter banget y sekarang?" ucap Fatma penuh bangga lalu mengambil pakaian Rania buat sekolah.


Biasanya pagi-pagi Fatma paling olah raga sebentar lanjut memandikan Rania. tapi sekarang di apartemen ini justru Fatma harus menyiapkan sarapan terlebih dahulu.


Arya yang sedang menyapu terganggu dengan suara ponselnya. Ia segera membuka pesan singkat dari seseorang ....

__ADS_1


*****


Jangan lupa like komen dan vote nya🙏


__ADS_2