Mencintai Ibu Angkatku

Mencintai Ibu Angkatku
Pangling


__ADS_3

"Mau, ikutan dong ..." balas umi dan bu Wati serempak, membuat Rania berjingkrak.


"Hore ... mau foto-foto. Rania maut prewed mama da papa," anak itu tampak happy.


"Sekarang Rania mandi lalu berdandan yang cantik. Kemudian pakai bajunya yang barusan. Oke?" perintah Fatma pada sang anak.


"Oke, Mam." Rania langsung berlalu di ikuti oleh Dewi yang kini akan mengasuhnya.


"Ibu ikut bahagia dengan kebahagiaan kalian berdua. Semoga langgeng sampai bila-bila ya?" Bu Wati mendekati Fatma lantas memeluknya.


Umi Santi menatap haru ke arah Bu Wati dan sang mantu. "Umi suruh, Neng Fatma banyak-banyak makan toge biar subur. Biar cepat punya momongan."


Fatma dan Bu Wati melihat ke arah umi Santi. Bu Wati menatap dengan tatapan yang sulit di artikan.


"Aku sudah makan kok Umi, dan ini juga sedang usaha! doain saja sama umi ya?" tutur Fatma dengan lembut.


"Iya, Fatma. Ibu cuma punya anak satu. Dan berharap kamu memberikan banyak cucu sama Ibu dan ayah, biar rame ya Umi?" kata Bu Wati yang ditujukan pada Fatma dan umi, di pandangnya bergantian.


"Iya, bener. Besan, Umi pengen cepat-cepat Rania ada adek nya." Harap umi Santi terhadap Fatma.


"Saya juga berharap begitu, Umi. Pengen punya cucu lagi, laki-laki, pasti lucu dan ramai ya?" timpal Bu Wati.


"Itu pasti. Apalagi kalau laki-laki kembar, masya Allah ... seneng banget rasanya." Tambah umi Santi.


"Kapan, Aa pulang? kok belum pulang juga ya?" tanya Bu Wati yang ditujukan pada Fatma.


"Nggak tau, Mungin sebentar lagi." Jawab Fatma sembari menoleh ke arah pintu.


"Em, semoga Aa perjalanannya lancar dan cepat pulang ya?" timpal umi Santi.


"Aamiin ya Allah ..." balas Bu Wati.


Fatma kembali memfokuskan pandangan ke layar laptop. Serta jari-jarinya sibuk di papan kyboard nya yang bikin ia anteng.


Waktu semakin siang, namun Arya belum juga pulang. Membuat Fatma pegal leher melihat ke arah jalan, dan beberapa kali Fatma telepon tapi tidak juga di angkat bikin hati Fatma merasa gusar dan tampak kegelisahan dari wajahnya.


Kemudian ia beranjak dari duduknya dengan niat mau membersihkan diri. Terus di make up buat foto prewed nanti siang.


Ada sebuah mobil memasuki gerbang mension milik Fatma. Tidak lama kemudian keluarlah Sultan bersama orang tua nya yang katanya ingin bertemu dengan Arya, sahabat putranya.


Terlihat beberapa pelayan dengan tugasnya masing-masing di beberapa titik termasuk scurity.


"Emang, Nak Arya tinggal di sini?" tanya sang bunda sembari mengedarkan pandangan ke bangunan nan megah tersebut.


"Ini rumah istrinya?" kini giliran sang ayah yang bertanya.


"Iya, Yah. Istrinya di sini! dan sebentar lagi akan mengadakan resepsinya." Jawab Sultan lagi.


"Apartemen nya gimana? gak ditinggali lagi?" sang ayah bertanya lagi dengan mata tetap memandangi gedung tersebut.


"Masih, mereka masih suka tinggal di sana juga." Tambah Sultan. Kemudian netra nya Sultan mendapati seorang gadis yang berkerudung tengah bermain dengan Rania di taman bermain yang berada tepat sebelah mension.


"Siapa dia? perasaan tidak ada wanita bekerja di sini memakai kerudung?" Sultan bermonolog sendiri sembari mengengernyitkan keningnya."


Pandangan Sultan menjadi tertuju melihat gadis itu yang tampak teguh dan syahdu. Mungkin Sultan tidak mengenali Dewi sebab sewaktu di Bandung Dewi tidak berkerudung seperti sekarang ini dan sekarang tampak lebih bersih dan cantik.


"Eeh ... ada Nak Sultan. Masuk? kenapa berdiri saja di sini?" sambut Bu Wati yang muncul dari balik pintu utama.


"Oh, Tante sehat?" Sultan langsung menyodorkan tangannya pada Bu Wati.


"Sehat, Alhamdulillah. Ini siapa?" Bu Wati mengalihkan pandangan pada wanita dan pria paruh baya tersebut.


"Assalamua'laikum?" ucap salam dari Bu Syasa dan suami.


"Wa'alaikum salam ..." balas Bu Wati dengan ramahnya.


"Kenalkan, Tante. Ini ibu dan ayah aku, Tan." Sultan mengenalkan orang tua nya pada Bu Wati.


"Ooh, saya Wati. Mertua Arya, temannya, Nak Sultan. Senang bisa mengenal anda," ucap Bu Wati dengan sangat ramah.


"Kami orang tua nya, Sultan. senang juga bisa berkenalan dengan anda, menambah teman." Mereka pun bersalaman dan cium pipi kanan dan kiri.


"Ayo, masuk? masa mau di sini terus?" ajak Bu Wati mengajak tamunya untuk masuk.


Sultan pun mengikuti langkah tuan rumah, sambil melihat sosok wanita berkerudung tadi yang kini hilang entah kemana?


''Silakan duduk?" dengan sikap yang ramah, bu Wati menyilakan tamunya untuk duduk. Lalu memanggil asisten rumah tangga agar menyuguhkan minuman dan makanan.


Sultan duduk dengan sedikit mencondongkan tubuhnya bertumpu pada kedua siku di paha. "Arya nya ada gak Tante? aku hubungi dia gak aktif. Padahal semalam sudah janjian."

__ADS_1


"Ooh, Aa. Belum pulang tuh," balas Bu Wati yang duduk di sebrang tamunya itu.


"Oo! belum pulang?" Sultan mengernyitkan keningnya. Heran. "Apa mungkin ke apartemen pulangnya ya?"


"Kurang tahu juga, Tante gak tahu. Tapi gak mungkin sih. Orang tuanya ada di sini kok." Bu Wati seraya menggeleng.


"Hem," Sultan singkat.


"Ya ampun ... Nak Tatan? ketemu lagi di sini! Lama kita gak jumpa." Suara Abah dari ruang sebelah bersama pak Wijaya.


Sultan berdiri dengan reflek menyalami kedua pria tersebut, lalu mengenalkan kedua orang tuanya.


"Kenalkan, Om. Abah, ini ayah dan ibu aku yang kebetulan sedang berkunjung di kota ini." Sultan menunjuk dengan ibu jarinya pada ayah dan bundanya.


Mereka pun bersalaman, lalu mereka kembali duduk bersama lantas berbincang-bincang. Sementara Sultan beranjak mau menemui Fatma yang katanya berada di lantas atas, di ruang make up.


Sultan mengayunkan langkahnya menaiki anak tangga, netra nya bergerak seolah mencari sesuatu yang hilang dari pandangan. Setelah menginjakan kaki di lantai atas sejenak dia berdiri.


"Dimana sih ruangannya? Banyak sekali ruangan, jadi bingyung. Alias bingung." Gumam Sultan.


Kebetulan netra nya melihat seorang asisten rumah tangga yang sedang bersih-bersih.


"Mbak-Mbak, maaf mau tanya nih--"


"Saya mau jawab," timpal wanita yang masih muda itu.


"Iya, saya mau tanya," sambung Sultan.


"Iya, saya juga mau jawab." Timpal asisten tersebut sembari tersenyum simpul.


"Si Eneng bisa saja. Itu ... ruang kecantikan di mana? saya pusying-sing, sing-sing. Ruangan di rumah ini banyak banget, jadi takut salah ruangan. Gimana coba kalau saya masuk ke toilet cewek? bisa berabe dong! he he he ...."


"Mas, bisa aja. Itu, sebelah sana," kata asisten tersebut menunjuk sebuah ruangan yang sebenarnya sudah Sultan duga.


Sultan melihat tempat yang mbak itu tunjukan. "Ooh ... itu. Makasih ya Neng? jadi saya tidak akan salah masuk kamar orang, he he he ...."


"Tidak, Mas. Tidak akan salah kamar," sambung wanita tersebut.


Sultan mulai melangkah lagi menuju ruangan tersebut yang setelah di dekati terdengar ramai terutama dengan suara Rania yang sedang berceloteh.


Tok ....


Tok ....


Tok ....


"Siapa?" tanya seorang wanita yang tidak jauh dari balik pintu. Seiring dengan derap langkah yang semakin mendekat ke daun pintu.


Blak!


Pintu terbuka dan Tampak di dalam ada beberapa orang termasuk umi Santi dan Farma. Pekerja kecantikan, Rania dan wanita itu lagi. Namun kali ini Sultan terdiam dan daya ingatnya seakan kembali, berasa kenal namun entah siapa? ingat-ingat lupa.


Sementara Dewi hanya menunduk tidak sedikitpun melihat wajah Sultan. Namun ia cukup mengenal suara Sultan sebagai kawan Arya apalagi kemarin juga bertemu di Bandung, ketika tadinya ia mau menikah itu. Dan yang jadi menikah adalah Arya dan Fatma.


"Sultan?" gumam Fatma yang sedang berada di depan cermin.


"Nak Sultan kapan datang? sama, Aa gak?" tanya umi Santi sembari menerima tangan Sultan yang mengajak salaman.


"Baru saja. Apa kabar Umi? justru aku mau bertanya Arya mana? di telepon gak aktif dia!" Jawab Sultan di akhiri dengan sebuah pertanyaan.


"Nggak tahu. Belum pulang nih, iya juga ponselnya tidak bisa dihubungi." Keluh Fatma.


Wajahnya tampak gusar. Cemas memikirkan sang suami yang tidak ada kabar.


Sultan menelpon kawan lain untuk menanyakan keberadaan Arya. Namun mereka bilang, kalau selesai meeting. Arya juga pulang.


Suara telepon pun di loudspeaker, tentunya dapat di dengar oleh yang ada di sana.


Semakin membuat fatma khawatir dan begitupun umi Santi ada sekelumit kecemasan dari wajah umi Santi terlihat jelas.


"Om Tatan? gak kerja bareng Papa ya?" Rania mendekati Sultan dan duduk di dekatnya.


"Eeh, Nona cantik. Om Tatan kangen deh sama Rania." Tatan memegang kedua pipi Rania lantas diciumnya.


"Rania juga kangen. Om Tatan kemana saja? Oya, Om Tatan belum jawab pertanyaan Rania?" tanya ulang anak itu.


"Ada, Oya tidak cantik ... kebetulan lagi beda jadwal. Oya. Di bawah ada orang tua aku, Umi. Kak Fatma." Sultan seakan menunjuk ke arah pintu.


"Oya? mana? Umi mau ketemu." Umi sangat antusias mendengar Sultan datang bersama orang tuanya.

__ADS_1


Umi Santi dan Sultan yang menuntun Rania pun keluar dari ruang tersebut. Sementara Fatma melanjutkan make up yang sebentar lagi selesai.


"Dewi. Tolong ambilkan pakaian ku yang peket tadi. Di kamar?" titah Fatma pada Dewi yang sedari tadi hanya terdiam.


"Em, di kamar Kakak bukan?" tanya Dewi sambil berdiri, merapikan kerudungnya.


"Iya, di kamar." Fatma singkat. Hati dan pikirannya terus mengingat Arya yang belum juga pulang.


Dewi membawa langkahnya ke kamar pribadinya.


"Kemana sih kamu, Aa? kok belum pulang, mana gak ada kabar atau dihubungi juga gak bisa." Pikir Fatma sembari di tata rambutnya sangat cantik.


Kemudian Dewi kembali dengan membawa beberapa pakaian untuk pemotretan, Fatma langsung kenakan. Namun matanya tertuju pada pakaian buat Arya. "Dimana kamu Aa?" batinnya lagi.


Setelah siap. Penampilan nya sangat cantik anggun. Fatma turun untuk menemui tamunya, yaitu orang tua Sultan.


"Ini siapa? sangat cantik sekali?" selidik ibunya Sultan yang menunjuk ke arah Fatma yang baru menginjakan kaki di tempat tersebut.


"Ini putri saya!" jawab Bu Wati.


"Istrinya Arya, Bu." Gumamnya Sultan yang turut mengagumi kecantikan Fatma yang tampak sempurna.


Saat ini Fatma mengenakan Dress putih panjang, semacam gaun pengantin, rambut di sanggul biasa. Di sisakan depan nya sebagai pemanis, dan semakin dibuat gelombang. Menambah kecantikan wajahnya.


"Cantik sekali!" gumamnya ibu Sultan, jangankan ibunya Sultan.


Bu Wati, umi Santi dan para wanita yang berada di sana pun amat mengagumi kecantikan Fatma.


Fatma mengulas senyuman pada orang-orang yang berada di sana dan berterima kasih atas kekagumannya.


"Nyonya muda, fotografer nya sudah datang bersama kru-nya juga." Kata Bi Ina menghadap ke Fatma.


"Ooh, suruh nunggu aja, lagian belum waktunya kok. Kan perjanjiannya juga pukul satu, ini masih satu jam lagi. Aa juga belum pulang," ujar Fatma sambil menempelkan bokongnya di sofa.


"Terus kemana, Aa. Kok belum pulang?" pak Wijaya mulai gelisah.


"Mungkin masih di jalan, besan. Semoga secepatnya pulang." Timpal abah.


Sementara yang lain saling bertukar pandangan. Dengan pikirannya masing-masing.


Apalagi Fatma yang kepikiran yang macam-macam lantas menatap ke arah Sultan yang seakan mengerti akan maksud Fatma.


Sultan berdiri dan mengeluarkan ponselnya menghubungi kawan lain untuk mencari informasi tentang Arya. Yang sampai detik ini belum terlihat batang hidungnya juga.


"Ck, kemana nih orang? bikin cemas saja!" gumamnya Sultan sembari menyimpan handphone nya ke saku.


"Em ... mendingan kita makan siang dulu yu? sudah waktunya makan nih. Perut juga sudah keroncongan nih." Ajak pak Wijaya sembari berdiri.


Yang lain pun berdiri mengiyakan ajakan pak Wijaya, dan mengikutinya ke ruang makan yang panjang itu. Dan di meja tersebut sudah tersedia dengan bermacam menu.


Namun tidak dengan Fatma, Rania dan Sultan. Mereka bertiga masih betah berada di ruang tamu.


"Om, kok papa belum pulang sih?" suara Rania lirih dan tatapannya tertuju pada Sultan dan sang bunda yang sangat tampak gusar tersebut.


"Sabar ya Nona yang cantik. Papa pasti pulang kok, kan mau pemotretan. Pulang dong. Oya Rania mau foto-foto juga ya? bajunya cantik." Sultan membingkai wajah anak itu, berusaha menghibur.


"Tapi kapan? kok belum muncul juga, mana? mana?" tanya lagi Rania, lalu Rania berjalan mondar-mandir ke dekat pintu yang terbuka.


"I-iya sabar aja. Oya Rania makan dulu yu?" ajak sultan pada Rania lalu mengalihkan pandangan pada Fatma. "Tenang saja. Arya pasti pulang."


Fatma sejenak tetap terdiam, kemudian beranjak dari duduknya. Berjalan menuju meja makan, orang-orang sudah berkumpul di sana.


Fatma duduk berbarengan dengan Rania, anak itu meminta Fatma yang mengambilkan piringnya.


"Oke. Tunggu ya? Mama ambilkan." Fatma mengambil piring serta menu kesukaan sang anak.


Sultan yang berhadapan dengan Dewi mendadak menjadi salah tingkah dibuatnya. "Kalau gak salah dia Dewi yang? adiknya Arya." monolog Sultan, sembari menatap ke arah Dewi yang tampak teduh tersebut.


Kemudian Sultan mendengar ada yang memanggil nama Dewi yang ditujukan pada gadis tersebut. Membuat Sultan merasa yakin Kalau gadis yang berjilbab itu Dewi adiknya Arya.


"Kok aku jadi pangling ya? waktu itu tidak se anggun sekarang. Dulu berasa biasa saja, namun sekarang sudah banyak berubah." Batin Sultan sambil menatap ke arah Dewi yang terus menunduk.


"Sebentar-sebentar? aku mau tanya nih! dia Dewi kan?" menunjuk pada Dewi yang langsung melempar lirikan.


"Iya? ini Dewi. Emang Nak Sultan tidak kenal?" sahut Abah di sela-sela mengunyahnya.


Sultan menggaruk tengkuknya. "Aduh, saya jadi malu. Saya pangling dan hampir tidak mengenalinya ha ha ha ...."


"Assalamu'alaikum ... met siang semuanya? apa kalian merindukanku?" tanya tamu yang baru datang ....

__ADS_1


****


Jangan lupa like komen dan vote nya ya? biar aku tambah semangat.


__ADS_2