
Kini semuanya sudah berkumpul di meja makan. Untuk melaksanakan makan malam bersama.
"Ayo, makan malamnya jangan sungkan-sungkan." Kata pak Wijaya sambil memulai makannya.
Fatma mengambilkan buat Arya dengan beberapa menu kesukaannya. "Sayang, mau pake telur juga gak?"
"Nggak sayang, cukup." Arya mengambil piringnya.
"Jangan di kasih telur, Kak. Nanti bertambah gimana, sudah-sudah ada dua." Zayn nyeleneh dan menoleh ke arah Arya.
"Mana ada telur laki-laki bertambah? ngaco aja jadi orang," sambung Susi sembari mengambil piringnya.
"Dasar, kamu ini nyambung aja Markonah." Balas Zayn.
"Iih, makan?" Susi mencibir suaminya.
Semuanya berada di sana hanya tersenyum mendengar Zayn dan Susi bak kucing dan tikus.
"Nak, Susi. Perbanyaklah makan toge dan itu bis di jadikan obat penyubur lho." Umi Santi sembari menunjuk pada olahan toge.
"Em, penyubur apa Umi?" tanya Susi menatap penasaran ke arah umi Santi yang sedang memasukan sendok ke mulutnya.
"Penyubur tanaman," timpal Zayn. Di sela-sela makannya.
Susi menoleh dengan mengerucutkan bibirnya ke depan.
"Toge memang, bermanfaat untuk menyuburkan. Namun yang mengkonsumsinya adalah kaum laki-laki. Toge itu menambah ****** pria. Jadi, bukan si wanitanya yang konsumsi bila itu untuk kesuburan." Arya menjelaskan dengan jelas.
"Oh, tapi orang tua jaman dulu bilang, wanita lah yang mengkonsumsi toge tersebut." Tambah umi.
"Kalo doyan mah silakan. Tapi kalau perlu manfaatnya untuk penyubur, menurut medis. Pria lah yang harus mengkonsumsinya," sambung Arya.
Semua menganggukkn kepalanya. Dengan tetap menikmati makan malamnya. Arya menyudahi makannya dengan segelas air putih dan Fatma memang sudah sedari tadi selesai.
Kemudian Arya Fatma. Susi dan Zayn jalan-jalan mengenalkan semua isi Mension tersebut.
"Wah ... luas ya, berarti itu di bawah ya yang akan menjadi tempat acara resepsi besok lusa?" tanya Susi sambil melihat ke bawah, halaman yang sudah berhiaskan tenda dan dekorasi yang cantik.
Bunga-bunga di mana-mana, bernuansa putih dan hijau. tenda biru pastel dan warna putih bersih.
"Iya, di sana!" Fatma mengangguk. Dengan manik mata tertuju ke tempat tersebut.
"Abang gak ada tugas nih? tanya Zayn pada Arya.
"Tidak, sudah libur. Paling ikutan meeting saja." Tambah Arya.
"Oo! aku pengen lihat lokasi dong." Zayn minta turun ke lantai dasar.
Mereka pun berpindah ke belakang mension yang sudah ada dekorasi dan pelaminan.
Susi begitu antusias melihat dekorasi super mewah tersebut. "Aku suka sekali dekorasinya. Sangat cantik."
Fatma sendiri tersenyum-senyum mengagumi tempat tersebut yang sudah dipenuhi dengan kursi yang berjejer rapi.
Tangan Fatma menyentuh bunga-bunga indah yang melengkung di atas jalanan.
"Kamu suka sayang?" tanya Arya sembari merengkuh bahu Fatma yang wajahnya tampak berseri. Rautnya yang begitu sumringah.
Kemudian Fatma menoleh dan mengangguk. Di bibirnya terlukis sebuah senyuman yang tidak henti, begitu merekah pertanda betapa bahagianya saat ini. "Aku suka, tapi buat apa juga ya? kita mengadakan ini, toh kita sudah sah dan--"
"Dan apa? sering membuat anak. Yang belum lincing juga ya? ha ha ha ...."
"Setttt ... malu jangan keras-keras, nanti kedengaran orang." Fatma menempelkan telunjuk di bibir Arya. Matanya bergerak melihat kanan dan kiri.
"Biar saja, sama kok." Balas Arya sembari melihat ke arah Zayn dan Susi yang beberapa meter dari mereka.
"Malu saja." Gumamnya Fatma kembali.
"Dulu, kita gak dirayakan seperti ini." Susi melihat ke arah Zayn.
"Salah siapa? aku sudah merencanakan resepsi juga. Kau yang gak mau! kini salahkan aku pula." Ketus Zayn.
"Siapa yang nyalahin kamu? aku cuma bilang aja." Susi menggeleng.
"Sama aja!" Zayn duduk di kursi pelaminan, menarik tangan Susi supaya duduk bersamanya.
"Apaan sih? pelaminan orang juga." Susi berdiri lagi.
"Nggak pa-pa, duduk aja." Fatma menyilakan keduanya.
Begitupun Arya yang mengambil foto Zayn dan Susi. Dia senyum-senyum melihat ekspresi Zayn yang bergaya mesra namun Susi nya malu-malu tidak mau di rangkul dan tidak mau di cium.
Mereka bergantian berfoto-foto di kursi pelaminan. Dengan wajah yang terlihat sangat bahagia. Berpose pelukan, pose saling cium kening. Bahkan tubuh Fatma Arya gendong.
__ADS_1
"Tuh, lihat. Kak Fatma dan Abang berpose mesra! kan hasilnya bagus," ucap Zayn sambil melihat hasil jepretannya.
"Aku, kan malu." Elak Susi, ikut melihat foto-foto Arya dan Fatma yang bagus-bagus.
"Malu? malu-maluin, emang kita pengantin baru apa? sudah lama juga kita menikah." Gerutu Zayn.
"Ayo, mau di ulang gak? foto-foto nya. Kalau mau! yu aku ambilkan lagi gambarnya." tawar Arya pada Zayn dan Susi yang di dengar-dengar debat dan debat.
"Ayo?" Zayn menarik tangan kembali ke pelaminan. Dan Arya bersiap mengambil gambar.
Fatma melihat dari kejauhan sambil memberi kode oke.
Sekarang Zayn membuat pose-pose yang lebih berani. Bahkan tidak kira-kira Zayn membuat pose gambar sedang mencium bibir Susi.
Membuat wajah Susi memerah menahan malu. "Kamu ini apa-apaan sih? mereka pun tidak seperti itu, malu dong." Susi memukul bahu Zayn.
"Biar saja, kita dan mereka harus berbeda, lagian kita ini juga sudah sah kok, bukan pasangan yang baru pacaran." Zayn membalas dengan nada datar.
"Tidak apa-apa, santai aja kita juga memahami kok, ya kan sayang?" Arya menoleh ke arah sang istri, Fatma. Di tangannya masih mengarahkan kamera ke arah Zayn dan Susi.
"Iya, tidak apa-apa lagi. Jangan sungkan gitu kaya sama siapa aja. Kita keluarga kok." Fatma mengangguk melengkapi perkataan sang suami.
Selesai foto-foto mereka duduk menikmati minuman hangat dan cemilan. Sampai akhirnya Rania pulang dari jalan-jalan dengan Sultan dan Dewi.
Rania menghampiri papa dan mamanya. Di dalam tenda besar dan mewah tersebut. "Mam, Papa? Rania pulang?"
"Eeh, Rania dah pulang ya? mana om Tatan dan aunty nya?" sambut Fatma sambil mencium kening Rania.
"Aunty ada. Itu, om Tatan ke sini." Rania menunjuk ke arah Sultan yang datang ke tempat itu.
Tangan Arya mengusap pucuk kepala Rania. "Happy nggak? jalan-jalan nya hem?"
"Happy dong, bermain perosotan dan banyak lagi," sahut anak itu sambil menggerakkan tangannya.
"Syukurlah kalau Rania happy, tidak nakal kan tadi?" selidik Arya lagi.
"Tidak, Rania tidak nakal. Kalau nggak percaya tanya aja sama om nya!" saran Rania meyakinkan.
"Iya, Mama percaya kok, papa juga." Fatma menarik bahu Rania ke dalam dekapannya.
"Papa percaya sayang. Rania kan pintar." Arya tersenyum pada Rania.
"Waw ... besar banget dan bagus sekali. Dekorasinya sangat mewah," Sultan mengedarkan pandangan ke seluruh dekorasi. Tangannya mengambil setangkai bunga dari kertas namun persis bunga asli.
"Ha, utuh lah. Emang gue makan habis? gigolo dong aku ini. Ada-ada saja," Sultan menggeleng lantas duduk ikut bergabung dengan mereka semua.
"Mama-Mama, aku besok pake baju sinderela ya? bareng-bareng sama Mama." Anak itu menatap lekat sang bunda.
"Iya dong ... Rania itu akan di dandani seperti Mama. Biar cantik." Kata Arya mengusap kepala Rania.
"Papa benar, sayang ... Rania akan di dandani seperti Mama." Timpal Fatma.
"Oke, hore ... aku mau di dandani seperti sinderela. Ye-ye, ye ... aku akan menjadi sinderela." Anak itu berjingkrak-jingkrak bahagia.
Semua mata tertuju pada Rania yang terlihat sangat bahagia, menyambut acara besok lusa.
"Aunty, tolong bawa Rania ke kamar, sudah malam ajak bobo! jangan lupa cuci kaki dan tangan juga cuci muka." Fatma menoleh ke arah Dewi dan Rania bergantian.
Dewi mengangguk. Dan mendekati Rania yang masih berjingkrak riang. "Yu, sayang bobo?"
"Sayang, bobo sana dah malam?" Fatma meraih tangan Rania lalu menangkupkan kedua tangan di pipi Rania.
"Iya, Mam." Rania mengangguk. Kemudian berjalan bersama Dewi. Namun sebelumnya mencium pipi Arya sekilas.
"Met bobo sayang." Suara Arya Pelan sembari mengacak rambut Rania.
"Wi, nanti kita jalan lagi ya?" Sultan memainkan matanya.
Dewi hanya tersenyum, pada Sultan yang sedang menunjukan gigi putihnya.
"Nanti? nanti dalam mimpi?" sahut Zayn.
"Bisa, bisa dalam mimpi atau dalam nyata juga bebas." Sultan melirik ke arah Zayn.
"Sekarang, kau pulang sana? bukankah besok mau terbang?" pandangan Arya tertuju pada Sultan.
"Lah, ngusir lagi. Suruh nginep ke, kali-kali napa? bikin gak nyaman nih punya Abang ipar. Terlalu mengatur." Sultan menghela napas berat.
"Ya, nginep saja kenapa sih?kamar banyak yang kosong kok!" Kata Fatma.
"Beneran boleh? boleh?" Sultan terperanjat mendengar Fatma membolehkan dirinya menginap.
"Eeh, tidak-tidak. Pulang sana? tidak menerima kau menginap! lagian besok mau bekerja." Jelas Arya sembari menunjuk jalan keluar.
__ADS_1
"Tobat ... tobat. Baru saja senang hati sudah dibikin susah hati. Ah ... nasib-nasib." Sultan menepuk jidatnya.
"Ha ha ha ... rasain lho," Zayn mencibir.
"Lah, tadinya kalau bisa menginap mau deketin Mbak Susi, kali aja kalau Deket sama aku akan cepat dapat momongan, ha ha ha ..." Sultan tergelak sambil berlalu dengan cepat meninggalkan tempat tersebut.
Setelah jauh baru bilang. "Dah ... aku pulang dulu ya?"
Arya menggeleng. lalu meneguk minumnya sampai tandas. "Oke, sudah malam. Baiknya kalian istirahat. Zayn besok ngantor kan? Kamu ngantor gak sayang?" melihat ke arah Fatma juga.
"Besok, saya masih ngantor dong," sahut Zayn sembari berdiri dan Susi menghabiskan dulu kue nya.
Mereka pun meninggalkan tempat tersebut. Menuju tempat peristirahatan nya masing-masing.
Arya, Fatma ke kamarnya. Sementara Zayn dan Susi ke kamar tamu yang sudah dipersiapkan.
Kini Arya sudah berbaring di tempat tidur yang dengan bertelanjang dada. Fatma baru keluar dari kamar mandi setelah berganti pakaian dengan pakaian tidur.
Netra mata Arya menyipit melihat ke arah sang istri yang datang menghampirinya. Naik merangkak dan terlihat jelas kalau ada yang menggantung buah segar dari pohonnya.
Membuat mata Arya enggan berkedip. Kalau sudah mendapati pemandangan seperti itu. Sebuah pahatan yang indah untuk dinikmati.
"Kenapa gitu amat lihatnya?" suara Fatma Pelang sembari menggantikan lampu menjadi temaram dari remote nya.
"Nggak, emang gak boleh lihat istri sendiri?" balas Arya sembari mendekat dan mengecup kening sang istri dengan sangat lembut.
Fatma terpejam ketika bibir Arya mendarat di keningnya. Lalu turun ke pipi kanan dan kiri.
Melihat kedua kelopak mata Fatma terpejam membuat bibir Arya tertarik membentuk senyuman. Lantas melepas tangannya untuk traveling ke tempat-tempat wisata yang yang tersedia di depan matanya.
Di bawah sinar yang temaram, Arya dan Fatma memadu kasih. Melepas hasrat yang kian menggebu. Di luar hujan gerimis menambah syahdunya suasana di dalam kamar untuk bercinta.
Arya terus mencumbu sang istri yang tampak pasrah, tatapan matanya yang sendu seolah berkata aku sudah siap. Bibirnya yang berdetak namun tidak bersuara hanya tatapan mata yang berkata.
Fatma yang merasa jantungnya dag-dig-dug tidak karuan dan berdebar begitu kencang. Tangannya melingkar di leher sang suami yang berada di atasnya.
"Di luar hujan!" ucap Arya setengah berbisik.
"Emang kenapa kalau hujan?" Fatma heran.
"Suasana yang sangat mendukung buat kita ikutan hujan-hujanan dengan keringat, he he he ...."
"Aku kirain apa!" gumam Fatma seraya bergerak menyentuh bibir Arya.
Dan akhirnya saling gigit, mereguk manisnya benda tipis nan ranum itu. Lalu turun ke leher yang jenjang tak luput dari kecupannya Arya.
Makin lama desiran hangat dan berggolak di tubuh keduanya kian naik ke ubun-ubun dan ingin segera memainkan bola yang sudah siap membobol gawang yang sudah siap pula menerima bolanya.
Dengan tidak membuang waktu. Arya langsung bereaksi, bermain dengan sangat lincah di sekitar gawang milik lawan mainnya. Membuat penjaga gawang kewalahan untuk mempertahankan gawangnya tersebut.
Sampai berkali-kali kebobolan juga. Sehingga si pembuat gol kelelahan dan bercucuran keringat saling bertukar dari keduanya. Malam yang dingin dan diiringi dengan hujan malah terasa panas bagi keduanya.
Sejuknya AC tak mampu mengalahkan rasa panas yang mereka buat sendiri.
Sementara di kamar Zayn dan Susi yang masih juga terjaga. Zayn gedebag-gedebug tidak bisa tidur. Merasakan kegelisahan yang teramat itu.
Juniornya yang bangun sedari sore gara-gara Susi sementara Susi tidak mau bertanggung jawab. Dia malah berbalut selimut dan bersikap dingin pada Zayn.
"Haduh ... gimana bisa punya anak? kalau gak mau bikinnya?" rintihan Zayn.
Susi anteng aja berbaring dengan selimut tebalnya menutupi tubuhnya sampai kepala.
"Apaan? bikin mulu? tadi pagi juga bikin. Punya anak nggak." Gumamnya Susi.
"Iya, makanya bikin yu? sebentar saja?" Zayn menoleh ke arah Susi dan berhadapan langsung dengan Susi yang menutupi kepalanya.
"Nggak mau." Jawab Susi tanpa membuka selimutnya.
Zayn merasa geram. "Mau ku paksa? oke." Zayn menarik paksa selimut yang Susi pakai untuk menutup tubuhnya.
"Ja-jangan? lep-lepas." Susi dan Zayn saling tarik-menarik selimut.
"Aku gak akan melepaskan mu! titik. Nggak pake koma." Arya tetap menarik paksa selimut tersebut, sampai selimut pun tertarik semuanya membuat Zayn tersenyum merasa puas kalau istrinya terkalahkan.
Susi yang sok jual mahal, pada akhirnya mau juga melayani hasrat Zayn yang sudah hampir meledak-ledak. Kini keduanya menikmati penuh dengan kekhusuan.
Mereka melewati malam yang kian larut dan dingin. Keduanya menyatukan satu sama lain. Merapatkan tubuhnya seakan menjadi satu. Sampai rasa kantuk pun menyerang, dan beberapa kali mulutnya menguap.
Susi dan Zayn pun tidur sambil berpelukan mesra tanpa terhalang satu kainpun selain selimut ....
****
Ayo mana yang suka? terima kasih banyak ya🙏
__ADS_1